
“Saya yakin pacar Trimo itu memang sengaja dikorbankan, jadi meskipun dia dan Trimo tidak melakukan apapun, tetap saja iblis perempuan itu meminta tumbal atau korban nyawa kepada Trimo, Jadi siap ndak siap Muryati akan mati juga di tangan Mak Nyat Mani” kata pak Handoko
“Benar katamu Handoko, memang dia itu sudah diniatkan untuk dijadikan tumbal atas kerjasama Trimo dengan Mak Nyat Mani” tambah mbok Ju
Sekarang kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ada kata-kata Muryati harus mati di tangan Mak Nyat Mani
*****
Muryati tidak bisa berkata apapun dia hanya diam dan terpaku dengan omongan Trimo yang mempersembahkan dirinya untuk diambil nyawanya kepada Mak Nyat Mani, harusnya dia lari begitu Trimo berkata bahwa akan menumbalkan Muryati.
Tapi apakah dengan lari maka tidak akan terjadi pembunuhan yang akan dilakukan oleh Trimo dan mak Nyat Mani?
“Bunuh dia untukku Trimo dan ini adalah awal dari kesepakatan denganku, jadi jangan sampai kamu membuatku kecewa” kata Mak Nyat Mani dengan suara yang jauh berbeda dari sebelumnya. Suara perempuan iblis itu sekarang lebih mengerikan
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Trimo, dia hanya berdiri mematung ketika Mak Nyat Mani menyuruh untuk membunuh pacarnya yang bernama Muryati.
“Ka…kamu tega membunuh aku mas?” suara lirih Muryati membangunkan diamnya Trimo yang masih bingung bagaimana cara membunuh kekasihnya itu
“Akan saya kasih waktu hingga adzan subuh terdengar, apabila tidak kamu bunuh, maka kamu yang akan mati Trimo” Mak Nya Mani hanya berkata seperti itu, dan kemudian dia pergi dari hadapan Trimo dan Muryati yang masih berdiri di depan vila putih
Trimo terdiam beberapa saat, hingga kemudian dia menghampiri Kekasihnya, dia merangkul Muryati dan menciumnya.
*****
Kita harus bergerak, jangan sampai di depan vila ada pembunuhan atas tumbal yang diminta oleh Mak Nyat Mani, saya kok merasa kalau sampai ada tumbal di depan vila maka akan mempermudah mereka dalam menguasai vila ini” kata pak Handoko
“Saya yang akan menyerang Trimo sekarang juga pak, Mbok Ju tolong lindungi saya” kata Wildan yang kemudian berlari menuju ke arah Trimo yang sedang menciumi Muryati dengan rakusnya
“LEPASKAN PEREMPUAN ITU ATAU KAMU AKAN SAYA HAJAR” teriak Wildan yang sudah ada di jalan yang menuju Vila dan berlari kencang ke arah mereka berdua
Trimo kaget dengan kedatangan Wildan yang mendadak, dia melepas rangkulan di tubuh Muryati dan reflek Trimo mencekik Muryati ketika Wildan masih beberapa belas meter dari mereka berdua.
“Arrghghhh kqqqqk….qqqrrkkk lepaskanhh aku Trimoooqqrrkk” cekikan Trimo semakin kuat di leher Muryati
Wildan yang tinggal beberapa meter lagi di hadapan mereka kemudian melompat dan menerjang Trimo hingga mereka berdua berguling guling.
Cekikan di leher Muryati pun terlepas, Muryati terjatuh di aspal dengan aman, tetapi sayangnya wajah dia terluka karena menghantam aspal dan batu yang berserakan disana, sementara itu Wildan masih memegang Trimo yang makin beringas.
“Bangshad kamu!.... beraninya dengan perempuan!, ayo lawan aku kalau kamu memang jantan!” teriak Wildan yang kemudian memukul rahang Trimo dengan keras hingga Trimo terpental dan jatuh dengan bagian wajah menyentuh aspal yang kasar
Wajah Trimo bagian kiri berdarah darah karena terkena aspal yang sudah hilang dan menyisakan batu yang tajam di sekitar situ.
“SIAPA KAMU!, JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!” teriak Trimo kepas Wildan
“TIDAK PEDULI SIAPA AKU, CARILAH LAWAN YANG SEIMBANG, JANGAN PEREMPUAN BAIK BAIK KAMU BUNUH DISINI!” teriak Wildan yang siap menabrak Trimo yang mulai bisa berdiri
Muryati hanya bisa duduk di aspal sambil menangis sesenggukan. Dia tidak membela Trimo yang saat ini sedang dihajar oleh Wildan hingga berkali kali terjengkang.
“Sudah…. sudah stop..stop..saya tidak kuat, stop!” kata Trimo dengan suara menghibanya
Wildan menghentikan pukulannya, dia menghampiri Muryati yang masih terduduk dan hanya bisa menangis.
__ADS_1
“Ayo mbak, jangan takut mbak, saya penduduk desa sini ayo saya antar ke Gebang dan laporkan ke petugas yang berwajib atas teman mbak yang tadi mau membunuh mbak itu” kata Wildan kemudian menuntun Muryati untuk berjalan ke arah bawah
Muryati tidak berkata apa-apa, dia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Wildan. Wildan sengaja berkata bahwa dia penduduk desa disini agar Trimo merasa bahwa apa yang dia lakukan sudah diketahui penduduk desa.
“STOOOP JANGAN BAWA PACARKU!” teriak Trimo yang masih terduduk di tengah jalan
Secara mengejutkan ada penduduk desa yang kok ndilalah lewat di depan vila putih pada pagi menjelang subuh ini. Dua orang tua dan muda yang sedang membawa karung dan sabit, yang berjalan dari bawah menuju ke atas.
“Ada apa ini?!” tanya orang yang lebih muda yang sedang membawa karung kosong
“Pak Tolong bawa perempuan ini ke kantor pihak yang berwajib, karena pacarnya yang sudah saya hajar itu ingin membunuhnya, dan tolong bawa petugas itu ke sini segera, akan saya jaga dulu laki-laki jahanam itu” kata Wildan yang menunjuk ke arah Trimo yang sedang duduk di jalan dengan mulut penuh darah
“Kamu siapa pak” tanya orang yang lebih muda
“Saya tinggal di Bs Pak, ayo cepat pak, saya jaganya orang laki-laki ini agar tidak melarikan diri” kata Wildan menyerahkan Muryati kepada dua orang itu untuk dibawa ke kantor polisi
“Mbak, nanti mbak ceritakan apa saja yang dilakukan pacar mbak, agar orang itu segera ditangkap mbak” kata Wildan
Muryati hanya mengangguk lemas dengan wajah berdarah. Kemudian dia bersama dua orang desa itu menuju ke arah Gebang secepatnya.
“Kamu siapa, dan apa yang kamu kerjakan di depan vila kosong itu?” tanya Wildan kepada Trimo yang masih memegang kepalanya yang nampaknya sakit sekali itu
“BUKAN URUSANMU! PERGI KAMU DARI SINI PENGACAU!” bentak Trimo
Tidak menunggu lama Wildan tiba-tiba menendang tubuh Trimo hingga terpelanting, Trimo mengeluh kesakitan, kemudian dia duduk kembali di tanah seperti sebelumnya.
“Aaaarggggh aku akan mati sebentar lagi, pecuma juga aku ada disini, ayo bunuh saya cepat!” kata Trimo kepada Wildan yang masih berdiri memperhatikan Trimo apabila dia berbuat aneh-aneh lagi
“Buat apa membunuh kamu, aku yang rugi dan berdosa, lebih baik kamu tunggu disini saja hingga ada petugas penegak hukum yang akan datang dan menciduk kamu, saya akan ada di sekitar sini untuk melihat kamu” kata Wildan yang masih berdiri di depan Trimo
“BUNUUUH..BUNUHHH AKU SEKARANG JUGAAAAA!!!!!” teriak Trimo sambil menangis
“Tenang saja gak usah nangis segala, sebentar lagi ada polisi yang akan mengambilmu dan kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu tadi itu” kata Wildan yang kemudian berjalan menjauh dari tempat Trimo sedang duduk
Karena pada saat ini mbok Ju mendekati Wildan dan membisiki agar Wildan segera pergi dari sana, karena sebentar lagi ada beberapa petugas yang berwajib atau penegak hukum yang akan datang setelah mendapat laporan dari Muryati yang tadi hampir dibunuh oleh Trimo.
“Mas Wildan, selesai sudah tugasmu, sekarang saya yang akan ke sana dan berbicara kepada pihak yang berwajib” kata pak Handoko yang kemudian merangkak naik menuju ke jalan setelah dia tadi sembunyi di sisi jurang
Dari jauh terlihat lampu dua sepeda motor yang sedang menuju ke atas vila, sementara itu pak Handoko akan siap menuju ke arah Trimo begitu pihak berwajib sudah ada di tempat kejadian perkara.
Perlahan-lahan dua sepeda motor dengan empat orang yang berboncengan sudah semakin terlihat mendekati vila putih, dan kini saatnya bagi pak Handoko untuk muncul di hadapan mereka.
Dua motor dengan tiga laki-laki berseragam dan memakai helm bercorak sebuah instansi berseragam coklat turun dari sepeda motor, sementara itu perempuan dengan luka di kepala masih duduk di atas boncengan motor dengan wajah yang ketakutan.
“Selamat pagi, apa betul anda saudara Trimo?” kata salah satu polisi yang ada disana
“Iya saya Trimo pak, dan itu pacar saya yang saya sayangi, kenapa dia ada di boncengan bapak” kata Trimo yang entah dia sedang berusaha untuk berakting
“Atas laporan ibu ini, bapak telah melakukan percobaan pembunuhan, maka dari itu silahkan ikut kami ke kantor ” kata petugas yang tadi berbicara kepada Trimo
“Bu, maaf tadi katanya ada orang yang menyelamatkan ibu, sekarang mana orang itu bu?” tanya petugas yang mendampingi Muryati
__ADS_1
“Entah lah pak, memang tadi ada pemuda yang mengaku dari desa Bs dan dia menolong saya ketika Trimo sedang mencekik saya pak” jawab Muryati
“Hahahahah buat apa mencekik kamu Muryati sayangku, bukanya tadi ada yang berusaha merampok kita , dan kita terjatuh berguling guling di sana , hingga aku dan kamu terluka luka seperti ini?”kata Trimo yang merasa mendapat angin segar dengan tidak ada nya Wildan sebagai saksi mata dan sebagai orang yang melerai ketika Trimo akan membunuh Muryati
Tiba-tiba pak Handoko muncul dari atas dan berjalan santai menuju ke arah petugas yang sedang menangkap Timo
“Selamat pagi bapak-bapak, maaf saya mengganggu. Perkenalkan saya Handoko dan saya melihat dengan mata kepala sendiri, dan berani disumpah bahwa orang itu sedang berusaha membunuh dengan cara mencekik lehernya ibu itu” kata pak Handoko
“Handoko….. apa yang kamu lakukan disini?” teriak Trimo yang mulai panik karena ada saksi mata yang melihat dia sedang mencekik Muryati
“Maaf saya tidak kenal dengan kamu, kamu itu bajingan yang beraninya mencekik perempuan tidak berdosa!” kata pak Han menunjuk Trimo yang sedang duduk di jalan dengan bibir penuh darah karena dihajar oleh Wildan
“Mari pak petugas, saya akan menceritakan seluruh kejadian yang ada disini , karena kebetulan saya ada di sekitar sini setelah saya dari hutan, yah bapak tau kan kebiasaan penduduk desa kalau malam di hutan sana itu ngapain kan pak” kata pak Handoko
“Hmm ya saya tau. Ayo kita ke kantor saja.. Eh Ndan, sampeyan bawa mobil tersangka bersama korban dan saksi mata ya” kata petugas yang berwajib yang dari tadi berbicara kepada Trimo kepada rekannya yang dia panggil dengan Ndan
“KAMU HANDOKO KAMU KENAPA ADA DISINI , KAMU JEBAK SAYA BERSAMA MAK NYAT MANII AARRGHHH!” teriak Trimo
Tetapi sayangnya teriakan Trimo itu sama sekali tidak digubris oleh para petugas penegak keadilan itu, mereka akhirnya bersama-sama menuju ke kantor mereka yang ada di Gebang.
*****
“Nak Wildan masuk saja ke vila putih, saya akan ikuti mereka nak, saya akan lindungi Handoko apabila ada serangan dari Mak Nyat Mani” kata Mbok Ju
“Ok Mbok, saya akan melaporkan kepada semua yang ada di vila putih, dan nanti apa yang akan mereka lakukan untuk pak Handoko ya terserah dengan pak Tembol mbok” kata Wildan
Wildan sedikit berlari menuju ke arah dalam vila putih, sementara itu mbok Ju mengikuti mobil dan dua motor yang menuju ke kantor petugas yang tadi menangkap Trimo yang posisinya ada di Gebang.
“Tolong kasih tau Sinank nang untuk ke kantor petugas yang menangkap Trimo juga nak WIldan, karena mbok Ju merasa akan ada sesuatu di sana nanti” kata mbok Ju yang melayang menuju mengikuti mereka yang menuju ke kantor petugas yang berwajib
*****
Wildan menceritakan apa yang terjadi di depan vila putih dengan detail, dan kemudian dia juga bilang kepada Sinank nang untuk mengikuti mbok Ju yang sekarang mengikuti mereka ke kantor pos… eh kantor petugas yang berwajib di Gebang.
“Ok mas Wildan, saya ke sana sekarang” kata Sinank nang
“Hmmm makin mengerikan saja Mak Nyat Mani, dia sekarang sudah mulai minta korban tumbal. Ternyata dia harus darah juga” kata Dimas
“Bagaimana Dimas, apakah kita tunggu disini atau kita susul Handoko?” tanya pak Tembol
“Hmm bagaimana ya, ada baiknya kita kesana juga, tapi pihak yang berwajib itu pasti mengira yang tidak-tidak dengan kehadiran kita, pasti akan banyak pertanyaan sehubungan dengan siapa itu Handoko, dan apa hubunganya dengan kita, pokoknya banyak pertanyaan yang akan muncul nantinya” kata Dimas
“Saya yakin pak Handoko akan bebas juga pak, tapi setidaknya ada keluarganya yang menjemput pak handoko, agar terlihat bahwa dia juga punya keluarga di sekitar sini” kata Novi
“Hehehe ndak segampang itu Nov, aku lho sering ditangkap polisi karena kasus demonstrasi, dan kalau ada yang menjenguk pasti akan ditanya tanya, meskipun kita bukan tersangka dan hanya saksi mata saja. Itu pengalamanku waktu dulu aku jadi aktivis mahasiswa” kata Ali
“Betul nak Ali, lebih baik kita biarkan saja pak Handoko disana, kita hanya ada dekat kantor pihak yang berwajib itu saja untuk memantau dan melindungi Handoko. Karena jadi saksi atas sebuah kasus itu cukup bahaya juga nak” kata pak Tembol.
“Iya betul Mbul, ayo kita kesana saja dan tunggu di luar saja, takutnya ada anak buah Mak Nyat Mani yang tidak terima dengan saksi mata yang akan membuat Trimo masuk kurungan” kata Dimas
“Nah itu juga bisa terjadi, bukanya Mak Nyat Mani sudah bicara akan membunuh Trimo apabila dia gagal membunuh Muryati sebagai permintaan dari Mak NYat Mani. Dan kalau gagal maka Trimolah yang akan menjadi penggantinya” kata pak Tembol
__ADS_1
“Dan disaat Trimo ada di dalam kurungan maka mungkin…mungkin lho ya, mungkin Mak Nyat Mani agak susah untuk membunuh Trimo, dan sasaran berikutnya adalah saksi mata atas kegagalan Trimo membunuh Muryati, dan itu adalah Handoko!” kata pak Tembol
“Tapi itu kan masih perkiraan saya saja” tambah pak Tembol