MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 110 (KENAPA BISA BEGINI?)


__ADS_3

“Ah yang bener bu, itu kan rumah pak Handoko. Orangnya seperti orang china bu, tapi beragama islam” jawab Novi kebingungan


“Disini tidak ada yang namanya Handoko nduk. Begini nduk, eeh tujuan nduk ayu ini kesini apa sebenarnya kalau saya boleh tau?” tanya ibu itu mulai kepo


“Teman saya bu, teman saya bersama pak Handoko, teman saya kemarin diajak pak Handoko masuk ke rumah itu bu, rumah yang disana itu, yang halamannya besar dan lebar itu. tapi sampai sekarang mereka berempat tidak ada kabarnya bu” kata Novi lagi


“Ah mosok se pesarean itu minta mangsa sih nduk. Begini saja nduk ayu, coba kamu ke rumah yang itu, yang pagarnya dari kayu dan bercat putih itu, dia adalah juru kunci pesareran itu nduk, bisa ditanyakan saja ke beliau. Nama beliau adalah pak Warsidi atau panggil saja dengan sebutan mbah War nduk”


“Inggih matur nuwun bu, saya tak kesana sekarang bu, terima kasih banyak atas saranya bu. Monggo” kata Novi kemudian buru-buru ke rumah yang ditunjuk ibu tadi


“Ayo mas Saeful  kita ke sana mas, keadaan kok semakin aneh saja mas disini” kata Novi


“Sabar mbak, jangan kesusu, pelan pelan saja mbak, karena kita bermasalah dengan mahluk ghaib yang jelas tidak bisa sembarangan mbak” kata Saeful yang kemudian menyalakan mesin motornya untuk bersama Novi menuju ke rumah mbah Warsidi atau biasa dipanggil dengan nama mbah War saja.


Di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar dari kayu yang dibuat sekedarnya itu motor matik Saeful yang membonceng Novi berhenti.


“Biar saya dulu saja yang bicara mbak, karena kadang penduduk desa itu akan lebih familier dengan yang model kayak saya gini dari pada yang berpenampilan seperti mbak Novi ini” kata Saeful


“Assalamualaikum…. Mbah Warsidi” teriak Saeful di depan pintu rumah itu


“Waalaikum salam..ada apa ya mas. Ada yang bisa saya bantu?” kata laki-laki tua yang memakai kopiah yang sudah lusuh itu sambil membukakan pintu kepada kami.


“Kami kesini mau minta tolong kepada mbah War, karena ada empat orang teman kami yang diajak oleh orang masuk ke pesarean itu kemarin, dan sampai sekarang mereka belum keluar dari sana mbah” kata Saeful


“Hmmmm, ayo masuk nak, ceritakan bagaimana kejadiannya, dan siapa yang mengajak teman kalian ke dalam sana. Karena pesarean itu harusnya tidak pernah meminta apa-apa semenjak kejadian belasan tahun lalu”


Mereka berdua masuk ke dalam rumah mbah War yang tidak bisa dikatakan besar, rumah ini memang kecil tapi nyaman dan ayem rasane.


“Benar saya adalah juru kunci pesrean itu nak, dan karena juru kunci pesarean itu keluarga turun temurun mbah juga nak, jadi mbah tau apa yang diminta dan siapa yang sering berbuat aneh-aneh disana itu” kata mbah War


Novi menceritakan pada kejadian waktu mereka diajak pak Handoko untuk melihat dokumen berharga yang katanya disimpan pak Handoko di brangkas rahasianya itu.


“Hmm Handoko. Laki-laki keturunan china yang sering mbah temui, dia orang baik, dia sama sekali tidak jahat nak. Tapi apa yang menyebabkan dia berbuat seperti itu?” kata mbah War sambil manggut manggut


“Begini saja nak, kita tunggu hingga siang hari saja nak, apabila belum ada yang keluar dari sana, maka mbah akan masuk ke sana nak, kalian tunggu saja di depan pintu masuk makam itu.


“Baik mbah, kami sekarang kesana ya mbah, kami tunggu di depan pintu masuk makam saja ya mbah?” tanya Saeful


“Iya nak, sekarang saja kalian tunggu disana, biasanya pada waktu pagi hari, yang diajak ke sana oleh penghuni makam akan berjalan keluar dari  makam itu nak” kata mbah War


Setelah mengucapkan salam, akhirnya mereka berdua menuju ke arah makam, mereka menunggu di bawah pohon sono yang sangat rindang yang ada di luar makam.


“Mas Saeful, Novi kirim kabar kepada pak Tembol ya mas, agar dia tau apa yang sedang terjadi disini mas”


“Iya mbak Nov, bukanya pak Tembol menyuruh mbak Novi untuk berkabar apabila ada sesuatu yang sedang terjadi kan mbak” jawab Saeful


“Iya mas, sebentar Novi sms dulu saja mas Petronya, Novi gak berani kirim Wa, takutnya wanya gak sampai mas, kalau sms kan pasti sampai” kata Novi yang kemudian mengetikan kata-kata pada ponselnya


Mereka berdua tetap dengan sabar duduk di depan pemakaman umum yang luas hingga siang hari, karena menurut mbah War yang tersesat di dalam sana akan keluar sebelum siang hari. Namun tiba-tiba mbah War mendatangi mereka berdua.

__ADS_1


“Ayo ikut mbah, kita cari teman kalian yang ada di dalam sana” kata mbah War yang kemudian membuka pintu gerbang pemakaman umum itu


Suara berderit sangt keras ketika mbah War membuka pintu gerbang makam yang terbuat dari kayu. Memang keadaan makam ini tidak terlihat dari luar, karena selain pagar yang tinggi juga karena pintu gerbang makam yang lebar itu terbuat dari kayu yang rapat sehingga keadaan di dalam tidak bisa dilihat dari luar.


“Ayo anak-anak masuk kedalam. Kita cari temanmu yang ada di dalam sini”ajak mbah War


Posisi di dalam makam ini sama dengan keadaan waktu mereka diajak ke rumah pak Handoko. Jadi begitu pintu dibuka yang ada adalah jalan yang terbuat dari semen yang sudah tidak bisa dikatakan bagus lagi, jalan yang bisa dimasuki mobil karena cukup lebar juga jalanya.


Disebelah kanan jalan berjajar ratusan batu nisan dan juga puluhan pohon kamboja yang besar-besar dan subur, saking suburnya daun-daun tiap pohon saling besentuhan hingga batu nisan  yang dibawahnya hanya sedikit terkena sinar matahari.


“Jalan ini ujungnya kemana mbah War?” tanya Novi


“Di ujung ada rumah kosong nak, tempat kami menaruh semua alat alat kematian, memangnya ada apa nak kok tanya bangunan di ujung sana?”


“Kami sebelunya pernah kesana mbah,  karena disana ada rumah mewah dan indah milik pak Handoko” jawab Novi


“Selama yang kalian temui itu Handoko, dia akan menyelamatkan kalian nak, dia orang baik, mbah sudah lama kenal sama dia. Dia meninggal karena dia dan kelurganya dibunuh oleh orang yang mencari pesugihan di daerah Prgn sana” jawab mbah Warsidi


“Maaf kalau mbah boleh tau, sebenarnya apa hubungan kalian dengan Handoko nak. Karena aneh juga lho nak sampai handoko mau berhubungan dengan kalian nak” kata mbah War


“Eh nanti akan kami cerittakan mbah, yang penting kami harus bertemu dengan teman kami dulu mbah” kata Novi dengan wajah khawatir


Tidak lama mereka jalan menyusuri jalan yang ada di sebelah makam tiba-tiba Novi, Saeful, dan Mbah War mendengar suara mesin mobil di starter. Suara mesin itu berasal dari bagian ujung pemakaman ini.


“Eh mbah, apakah di ujung sana yang tertutup oleh pohon-pohon itu ada mobil yang sedang nyala mbah?” tanya Novi


“Ndak ada nak, disana hanya bangunan tua tempat kami menaruh peralatan pemakaman nak, dan disana ada sebuah garasi dan pintu yang mengarah ke bagian luar pemakaman nak”


“Oh gitu ya mbah, ayo mbah kita kesana mbah, saya kok penasaran karena suara itu mirip dengan suara mobil Novi yang dibawa kesini kemarin Mbah” kata novi yang kemudian berlari menuju ke arah belakang yang ditumbuhi oleh pohon pohon


Mereka bertiga berjalan agak cepat menuju ke arah bagian belakang makam, bagian belakang ini harusnya adalah rumah pak Handoko yang luas itu, tapi ternyata kata mbah War bagian belakang ini adalah bangunan tua  tempat menyimpan peralatan pemakaman.


Dan benar saja, ketika mereka sampai disana ternyata ada mobil Novi yang sedang dipanasi untuk sebuah perjalanan, disana ada juga empat orang remaja yang merupakan teman Novi , mereka sedang bersantai sambil duduk duduk di sekitar area bangunan tua itu.


“WOOOOOIII… MAAAASSS!!!!” teriak Novi kemudian berlari ke arah mobil dan keempat remaja yang ada disana


“Bagaimana kabar kalian mas, dan apa yang sedang terjadi disini!” tanya Novi yang keheranan melihat mereka santai santai


“Heheheh Biarkan pak handoko saja yang cerita, kami semalam dicekam kengerian disini Nov, oh ada Saeful juga to” kata WIldan


“Eh sedangkan bapak ini siapa ya?” tanya Ali  dengan sopan


Ketika Ali sedang menanyakan siapa bapak tua itu, ternyata mbah War sedang ngobrol bersama pak Handoko yang kini hanya berupa bayangan saja.


“Mbah War, sugeng mbah” sapa pak Handoko sambil mencium tangan mbah War meskipun hanya bayangan saja”


“Ono opo iki Han, kenapa mereka kamu tahan disini?” tanya mbah War


“Ceritanya panjang mbah, pada intinya saya sudah menemukan siapa yang telah membunuh keluarga saya dan saya, sedangkan mereka pemuda-pemuda ini adalah pemilik resmi vila tempat saya dan keluarga saya dihabisi mbah” kata pak Handoko yang masih berupa bayangan itu

__ADS_1


“Handoko, rubahlah wujudmu menjadi nyata saja, jangan menjadi hantu seperti ini” suruh mbah War


“Jadi benar kata mbah War, suatu saat nanti ada orang yang akan membantu saya untuk menemukan siapa pembunuh keluarga saya mbah, dan ternyata yang akan membantu ini adalah mereka ini, mereka adalah pemilik sah vila itu mbah” lanjut pak Handoko


“Nah nak ayu, sekarang sudah jelas ya, teman kalian ada disini dan sedang bersama dengan Handoko yang selama ini menjaga pesarean ini dari mahluk jahat yang berusaha merusak tatanan alam ghaib pesarean ini” kata mbah War


“Jadi kalian semua bisa melihat lelembut yang ada disini dan bisa melihat Handoko juga?” tanya mbah War heran


“Iya mbah kami semua bisa melihat, dan kami semua adalah pemilik resmi vila itu atas dasar pemberian dari pemilik sebelumnya, dan atas persetujuan leluhur yang ada disana” kata Ali


“Lalu mas itu kenapa, kenapa dari tadi kok mbah lihat sepertinya sedang kesakitan begitu” kata mbah War kepada Gilank yang memang kuntilanya semakin membesar akibat keisenganya”


“Hehehe tadi dia mu ngencingin tali pocong mbah, kemudian dia ditendang demit yang ada disni


“Eh Novi, ada apa kamu kok nyusul kami disini?” tanya Ali


“Nanti saja mas Ali….panjang ceritanya, pokoknya kalian semua tidak akan mengira deh mas” kata Novi


“Saya tau apa yang menyebabkan mbak Novi kesini. Karena orang tua yang berkepala gundul itu kan mbak hehehe” tebak pak Handoko


“Lho  bagaimana pak Handoko tau, iya memang pak Tembol yang curiga dengan pak Handoko” jawab Novi


“Dia itu sudah melampaui beberapa masa dengan selamat, termasuk menyelamatkan desa seperti yang diceritakan pak Pho itu, sehingga indera keenam dia semakin peka mbak, dia bisa merasakan adanya manusia atau bukan manusia” kata pak Handoko


“Untuk kalian ketahui, saya tidak bisa meninggalkan mbak Novi, mas Broni, mas Saefu, mas Ukik dan mas Dani disana dengan banyaknya arwah jahat disana, sehingga saya panggil teman saya untuk mengawasi kalian. Apabila kalian bisa atasi masalah, maka suruhan saya tidak perlu membantu kalian hehehe”


“Dan saya tau dari suruhan saya apabila laki-laki yang berkepala botak itu mencurigai saya, karena saya sebenarnya adalah arwah, saya bukan manusia mbak” kata pak Handoko dengan suara pelan


“Lho Nov kamu ketemu pak Tembol ta Nov. dimana dia sekarang?”


“Astaga, Novi harus hubungi mas Petro lagi ini, agar pak Tembol tidak kesini. Tadi Novi sempat minta bantuan pak Tembol untuk datang” kata Novi yang kemudian buru-buru menelpon Petro


“Jadi sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan dengan mereka ini Handoko, kenapa mereka kamu kasih ilusi mata dan kamu kurung disini? Tanya mbah War


“Jadi gini mbah, setelah kami bersama sama ada di vila itu, kemudian saya merasa ada yang berbahaya di makam ini, makam tempat saya menyimpan barang berharga milik mereka ini mbah. Saya mendapat laporan dari jin kuning yang ada di pohon itu kalau tempat kita ini sedang diserang oleh sekawanan iblis suruhan”


“Tapi ketika saya dan keempat anak ini sampai disini, semua sudah sepi, ….”


“Eh… sebentar mbah heheheh. Sebelumnya mereka ini tidak saya perlihatkan makam ini mbah, saya rubah banguanan tua ada disini menjadi sebuah rumah yang indah, saya rubah makam yang ada didepan ini menjadi sebuah taman yang  luas”


“Hal itu saya lakukan agar mereka tidak takut dengan saya mbah, untuk proses ketemu dengan mereka nanti saja mbah War akan saya certakan kapan-kapan saja. Pokoknya yang paling penting kediaman ini sedang didatangi oleh ghaib suruhan”


“Dan pastinya mereka sedang mencari dokumen yang saya simpan di bawah tanah dan dilindungi oleh ribuan teman-teman saya yang ada disini mbah”


“Ooooh pantesan..kemarin lusa itu mbah merasa ada yang aneh dengan makam ini, rasanya panas sekali kalau lewat di depan makam ini. Terus… lanjutkan dulu ceritamu Han” suruh mbah War


“Nah kemarin siang saya dan keempat anak-anak ini sampai disini dan keadaan memang berantakan, tapi bukan berantakan di alam kalian lho anak-anak. Yang berantakan itu ada di alam ghaib, tepatnya area rumah ghaib kami ini yang berantakan


“untungnya teman-teman masih bisa melindungi benda yang saya simpan, dan mereka berhasil mengusir para demit suruhan itu mbah. Kemudian saya punya pikiran untuk membuka kedok saya mbah, saya suruh mereka untuk ketengah sana dengan alasan untuk menyalakan lampu taman”

__ADS_1


“Nah pada waktu itu saya buka kedok saya mbah, kembalikan taman indah ini menjadi kuburan yang sangat luas hehehe. Dan saya datangkan pocong-pocong yang ada disini untuk menakuti mereka, agar mereka kuat mental. Tapi ternyata mereka ini tidak ketakutan, mereka malah melawan pocong itu”


“Eh mas Wildan, tolong kasih ke mbah War tali pocong yang tadi malam kamu lepas itu mas, kasihan lho dia mas kalau tidak ada talinya meskipun memang sebenarnya talinya itu memang dilepas waktu dikuburkan heheheh” suruh pak Handoko kepada Wildan


__ADS_2