MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 181 (PENJELASAN SUMARTI )


__ADS_3

Perjalanan mereka sudah sampai di sekitar telaga tempat kekuasaan dari Sekar. Mobil yang mereka tumpangi melambat untuk mencari tempat untuk parkir yang tepat di sekitar sana.


“Nah mbok Ju, mbok Ju ketemu dengan Sekar dimana mbok?”


“Di dalam sana pak, kita ke sana saja kalau memang ingin ketemu dengan Sekar” jawab mbok Ju


“Mobil ini harus kita amankan dulu pak agar tidak mencolok, siapa tau ada manusia yang lewat sini dan lihat mobil ini, dipikir mobil curian hehehe” kata Saeful


“Kita lihat sekitar sini dulu saja, dimana tempat yang aman untuk memarkir mobil” jawab pak Tembol


Akhirnya mereka menemukan sebuah tempat tanah yang agak lapang, tapi tetap ada dipinggir jalan itu.


“Ayo kita ke sana pak, Novi penasaran dengan bentuk telaga waktu kita dulu kesini bersama dengan tiga mahasiswa itu pak” ajak Novi


Akhirnya semua pun turun, mobil diparkir di pinggir jalan yang aman, jalan di sini luar biasa gelapnya setelah lampu utama mobil dimatikan.


Tetapi untungnya masih ada bayangan dari bulan yang bisa dijadikan patokan aman tidaknya jalan yang mereka lewati.


“Mbok Ju kamu di depan sana, dan tolong carikan jalan yang baik untuk kita mbok” kata pak tembol


Kini hanya ada hutan yang di depan mereka, dan memang untuk masuk danau itu harus masuk berapa puluh meter ke dalam hutan,  dan itu yang sekarang sedang mereka kerjakan, masuk ke hutan yang sangar!


“Dari sini apa masuknya jauh mbak Novi?” tanya Saeful


“Duh Novi lupa mas, soalnya dulu itu kan siang hari, jadi masih bisa lihat suasana di sekitar sini, lha ini malam hari jeh hehehe”


Mbok Ju membimbing mereka masuk ke hutan,  dan mencarikan jalan yang aman bagi mereka.


Sudah sekitar lima belas menit mereka jalan, tapi belum menemukan juga telaga yang dihuni oleh Sekar dan para bawahannya.


“Sebentar lagi, di depan sana sudah nampak telaganya, dan tolong dijaga tindak tanduk kalian, karena kita akan bertemu dengan puteri Sekar penguasa daerah sini yang merupakan  adik dari Mak Nyat Mani” kata mbok Ju


Tidak lama kemudian mereka tiba di telaga yang airnya memantulkan cahaya bulan, telaga yang tidak begitu besar, tempat anak-anak sutopo dan pak Widodo mancing pada waktu jaman dulu itu.


“Kalian tunggu disini, saya akan panggilkan Sekar dulu, dia ada disana dibalik batu ujung sana ini, disana merupakan istananya dia” kata mbok Ju yang kemudian pergi meninggalkan mereka di sisi telaga.


Tidak lama kemudian mbok Ju muncul bersama dengan seorang perempuan yang cantik dengan pakaian jawa berwarna  hijau tua. perempuan mendatangi mereka yang sedang menunggu di pinggir telaga.


“Teman-teman ini putri Sekar” kata mbok Ju memperkenalkan Sekar kepada mereka yang ada disana


“Selamat malam, eeh mana mas Daninya?” tanya Sekar langsung setelah melihat tidak ada Dani diantara mereka


“Dani belum bisa ikut, karena dia harus bantu mahluk halus yang bernama The KIe Pho” jawab pak Tembol


“Oh begitu, ternyata di jaman ini mas Dani masih menjadi orang baik hehehe, kapan-kapan sekar mau main ke vila sana boleh?”


“Ya tentu saja boleh” jawab pak Tembol


“Nak Sekar saya boleh tanya sesuatu tentang Suharto?”


“Hehehe gimana pak, dia lari ya, kok bisa lari sih pak, bukanya dia tadi sudah ada di tangan kalian?” kata Sekar dengan tersenyum


“Iya, tadi kami ceroboh dengan membiarkan dia istirahat dan menenangkan diri, kemudian dia bisa lolos dan lari dengan cepat”


“Apa nak Sekar tau siapa yang ada di dalam Tubuh Suharto?”


“Tentu saja Sekar tau pak, dia adalah bekas prajurit Sekar yang membelot karena dia sudah merasakan nikmatnya tumbal yang berasal dari manusia”


“Tapi tenang saja pak, Sekar bisa tau kok dia dimana dan sedang apa, nanti pak Tembol bisa tangkap dia waktu di suatu tempat yang dekat dengan kalian”


“Pokoknya pada saat ini dia sedang sembunyi dulu dari kalian, nanti kalau dia bergerak pasti kalian akan tau kemana dia akan gerak”


“Eh maaf nak Sekar, sebenarnya dia itu ada masalah apa dengan bapaknya?”


“Kalau masalah dia tentu saja Sekar tidak tau pak, karena Sekar hanya tau siapa yang masuk ke tubuhnya saja,  yang tau tentu saja mbah To dan Suharto saja” jawab Sekar

__ADS_1


“Begini saja, kalian semua pulang dulu saja nanti kalau ada berita tentang Suharto, Sekar akan ke sana, sekalian Sekar mau ketemu dengan mas Dani”


“Sekar sebenarnya tidak mau ikut campur urusan kalian, hanya saja tadi Sekar lihat mobil yang berjalan terburu-buru, sehingga Sekar memanggil mbok Ju yang tadi ada di depan mobil”


“Ternyata ini adalah masalah yang ditimbulkan oleh Suharto yang sudah dikuasai oleh mahluk halus yang berasal dari sini” tambah Sekar


“Dan harus kalian ingat, tubuh Suharto sudah dikuasai oleh iblis itu, dan kalian tidak bisa melupakannya begitu saja, karena Suharto sudah menumbalkan dirinya sendiri kepada makhluk itu”


“Jadi lebih baik panggil bapaknya saja biar bapaknya yang menyelesaikan masalah dia, karena sebenarnya masalah dia itu berawal dari bapaknya” kata Sekar lagi


“Sudah, hanya itu yang bisa Sekar infokan kepada kalian, dan semoga kalian bisa mengungkap permasalahan dari Suharto”


“Terimakasih banyak nak Sekar, kami undur diri  dulu, kami akan kembali ke vila putih untuk tetap mempertahankan  vila itu” kata pak Tembol


“Oh iya, salam untuk kakak nak Sekar yang bernama Mak Nyat Mani ya” kata pak Tembol


Setelah pamitan, akhirnya mereka pergi meninggalkan area telaga  dan meneruskan perjalanan menuju ke vila putih.


Setelah Beberapa lama perjalanan, kini saatnya mereka tiba di pertigaan Gebang. Dan pada saat itu mbok Ju ada di pertigaan itu untuk melihat apakah pertigaan itu sedang dijaga oleh aparat atau tidak


“Ayo cepat, pertigaan itu sedang kosong, sekarang terserah kalian mau ke mana, kalau mau ke Masjid juga ndak papa, karena keadaan masjid masih kosong” kata mbok Ju lagi


“Kita taruh mobil ke masjid dulu saja nak Petro”


Ternyata malam menjelang pagi ini tidak ada apapun yang menghalangi mereka hingga mereka tiba di vila putih dengan selamat.


*****


Keadaan vila sepi, hanya ada pak Handoko dan Sinank nang saja yang ada disana, sedangkan yang lainya sudah tidur.


“Gimana keadaan disana pak Tembol?” tanya pak Han


“Suharto berhasil meloloskan diri ketika kita sedang lengah” jawab pak Tembol yang sedang duduk di sofa setelah seharian mereka ada di desa sebelah


“Saya yakin ia akan datang kesini untuk mencari anak dan istrinya, Mereka bertiga ada di kamar belakang yang masih kosong, tetapi tetap kita harus datangkan pak Marwoto” kata pak Han


“Iya Handoko, itu sudah saya pikirkan juga, karena masalah Suharto ini berasal dan bermula dari hubungan dia dengan ayahnya”


“Kalau tidak segera diselesaikan maka akibatnya akan makin meluas ke mana-mana’’ kata pak Tembol


“Itu yang saya takuti Tembol, sekarang musuh kita sudah tiga orang, dan masing- masing masih bermain sendiri. Yang saya takutkan apabila mereka bergabung untuk melakukan tujuan masing-masing. maka jelas kita tidak akan mampu”


*****


Pagi yang cerah matahari bersinar terang, Saritem yang sedang memangku Sarinah dan duduk di sofa, sedang  ibu Saritem  sedang ada di dapur bersama dengan tiga orang mbak-mbak yang sedang menanak nasi dan masak makanan seadanya.


“Selamat pagi nak Saritem dan aduuuh adik yang cantik Sarinah sudah mandi nih hihihih” kata pak Tembol


“Iya mbahkung, Badan Sarinah bau semua, udah beberapa hari ni Sarinah ndak mangi, eh mbahkung Tembol, tante cantik ada dimana ya” tanya Sarinah yang memanggil pak Tembol dengan sebutan mbah kung


“Oh nak Novi, dia ada di ruang bawah tanah sedang bicara dengan kawan kita yang juga ada di bawah tanah, nanti kapan-kapan nak Sarinah akan mbahkung ajak ke rumah yang ada di bawah tanah ya” kata pak Tembol


Kemudian Sarinah pergi dari ibunya dan pak Tembol, dia menghampiri neneknya yang merupakan ibu dari Saritem.


“Bagaimana nak Saritem, agak lega ya sudah bisa bertemu dengan Sarinah, meskipun Soeharto melarikan diri sewaktu sedang kami interogasi.”


“Sebenarnya ada masalah apa sih diantara kalian itu, padahal waktu saya ke sana sebelum Sarinah lahir, Suharto baik baik saja kan” tanya pak Tembol


“Iya pak, semua baik baik saja, dan perubahan itu terjadi ketika mbah kung Woto mulai sakit-sakitan. Waktu itu di  kamar mereka berdua sedang bicara serius, Saritem tidak dengar apa yang sedang mereka bicarakan”


“Saritem hanya dengar kalau suami saya Suharto menyebut nyebut  soal harta” kata Saritem


“Aduuuh  kenapa lagi dengan harta ya nak Saritem, lalu apa lagi yang nak Saritem dengar?”


“Selain harta, Suami Saritem juga sebut-sebut soal lokasi harta yang katanya akan diberitahukan oleh mbak To pada waktunya”

__ADS_1


“Tetapi pada saat itu mbah To sudah tidak bisa bicara, dia sudah terlalu lemah untuk bicara lagi, dia hanya bisa berbaring saja dengan suami Sari yang ada di sampingnya”


“Lalu apa yang terjadi selanjutnya nak Saritem?


“Suharto terus menerus menanyakan harta yang pernah dibicarakan kepada nya, hanya itu saja yang dia katakan pak, tentang harta dan harta saja” jawab Saritem lagi


“Coba nak Saritem ingat-ingat, apakah ada kata kata lain yang pernah secara tidak sengaja nak Saritem dengar dari Suami nak Saritem itu” kata pak Tembol


Saritem  berpikir keras, dia tampaknya sedang mengingat ingat apa saja yang pernah dibicarakan oleh Suaminya itu, hingga beberapa menit dia belum menjawab pertanyaan pak Tembol


Tiba-tiba pak Han datang dan ikut duduk bersama mereka berdua.


“Eh, teman kita sampai pagi gini kok ya belum datang ya pak Mbul?”


“Mungkin ada pekerjaan tambahan, yah seperti biasanya kan, kita sedang melakukan sesuatu kemudian ada saja masalah lainnya”


“Tapi untungnya yang ikut bersama Dimas itu nak Dogel, nak Wildan dan nak Ali. mereka cukup handal kalau untuk urusan duniawi” tambah pak Tembol


“Yah memang sih pak Mbul, tapi untuk urusan dengan Totok itu berbeda, dia penuh tipu daya dan sangat mengerikan, kita tunggu sajalah, saya yakin mereka pasti baik baik saja”


“Eh pak Tembol…eh Saritem ingat sesuatu……


“Ketika itu ada laki-laki yang tersesat, kalau tidak salah bernama Kaswadi. Yah itu awal dari semuanya. karena setelah laki laki itu pergi kemudian mbahkung cerita kepada Suharto apa yang dicuri oleh laki laki itu”


Seketika pak Tembol dan pak Handoko terdiam, mereka tau arah pembicaraan dari Saritem itu…


“Ya Tuhan.. kenapa lagi ada musuh kita yang sedang mencari harta yang ada disini. Saya kira hanya dua orang Trimo dan Totok, ternyata anak dari pak Marwoto juga ikut mencarinya” gumam pak Han


“Lalu setelah mbah Woto cerita kepada Suharto selanjutnya bagaimana nak Saritem?”


“Mbah Kung sudah bilang itu bukan urusan mbah kung, karena urusan mbahkung hanya menyatukan dua Wilayah ghaib saja, tetapi setiap waktu suami saya selalu bertanya kepada mbah kung soal itu”


“Sampai kemudian besoknya orang itu datang lagi tetapi tidak sendirian, karena dia datang bersama rombongan yang disebut Sutopo kingdom”


“Nah untuk yang kedua kalinya mereka juga membicarakan tentang benda yang hilang itu, hingga kalau tidak salah sore harinya laki-laki kurus itu ditelpon oleh seseorang”


“Kata yang telepon, dia sudah menemukan posisi orang yang mencuri peta atau apa gitu. Malamnya Setelah mereka pergi, Suharto merengek kepada mbah kung untuk ikut mencari peta”


“Suharto kalau tidak salah punya nomor telepon salah satu dari mereka itu, dan berniat untuk membantu mencari peta yang hilang itu”


“Tetapi mbahkung tidak mengijinkannya, malah mbah kung agak marah”


“Tapi dasar suami saya itu orang yang tidak mau menyerah, dia terus menerus meminta izin mbahkung untuk ikut mereka mencari peta yang ada harta karunya itu”


“Hingga dua hari kemudian mbah kung jatuh dan tidak sadarkan diri, selama sehari dia hanya tidur di tempat tidurnya, Tetapi Suharto tetap memaksanya untuk mengatakan dimana harta itu berada”


“Karena mbah kung pernah keceplosan bahwa mbah kung sedikit tau dimana harta itu berada, ketika dipaksa oleh Suharto untuk memberikan ijin ikut bersama anak-anak Sutopo mencari harta itu”


“Hingga mbah kung menjelang ajal pun Suharto ada di sebelahnya dan terus menerus berteriak dimana harta itu!”


“Setelah mbah kung meninggal, yang terjadi adalah dia menjadi pemurung dan seperti yang saya ceritakan itu selanjutnya pak” Saritem mengakhiri ceritanya


“Ternyata harta itu semakin kesini semakin membawa korban, kita belum tau siapa lagi yang sudah tau tentang harta itu Handoko” kata pak Tembol


“Pusing kepala saya, satu belum selesai, timbul satunya, dua duanya belum selesai muncul lagi Suharto anak dari pak Woto”


“Kayaknya hal ini tidak bisa dibiarkan Mbul, pak Woto harus tau dan harus ada disini untuk mengurusi anaknya sementara kita urusi Totok dan Trimo”


“Nanti kita bicarakan dengan pak Pho dulu saja, kita harus mencegah agar tidak ada lagi orang yang datang kesini untuk mencari harta karun itu” kata pak Tembol


Ternyata masih ada orang tamak, orang yang berasal dari keturunan pilihan macam Marwoto dan Suparmi, ternyata keturunan mereka ini adalah masalah bagi mereka sendiri di masa depan.


Lalu apakah dengan adanya Suharto ini akan menambah beban mereka?


Tentu saja tetapi kembali lagi, disini ada  Mbah Woto yang siap dipanggil oleh pak Pho, dan tentu saja mbah Wo sendiri yang akan menyelesaikan masalah dengan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2