
“Jangan sampai dia pergi dari sana abah Fuad, karena kekuatan penjara ghaib itu sekarang semakin melemah” kata pak Han
“Iya pak Han… saya juga bisa merasakan dinding ghaib ini semakin menipis” kata abah Fuad
“Bagaimana kalau Ginten saya bawa saja pak Han?”
“Saya bawa ke suatu tempat yang dia tidak bisa pergi ke mana mana dan Rochman juga tidak bisa menemukannya?”
“Akan abah Fuad bawa kemana?”
“Saya amankan di rumah saya”
“Tadinya saya kesini hanya ingin menanyakan dimana dia menyembunyikan jiwa Suharto, tetapi setelah melihat keadan ini saya jadi ragu apabila hanya menanyakan saja”
“Ada baiknya saya bawa saja sekalian, agar dia tidak bisa lepas dari pantauan kita” kata abah Fuad
“Tapi apakah memungkinkan untuk membawa dia pergi dari sini abah?” tanya pak Han
“Karena penjaga ghaib disini masih kuat, meskipun mereka bisa saya ajak bicara untuk mengamankan Ginten” kata pak Han
“Nah itu lebih baik Pak Han…. kalau bisa ajak kerjasama mereka untuk menyerang Totok apabila disini dia akan melakukan sesuatu kepada kalian” jawab abah Fuad
“Tetapi mereka minta imbalan bah, mereka sekarang sedang kelaparan, apakah abah Fuad tadi sudah bertemu dengan mereka?” tanya pak Han
“Belum pak Han, saya tadi kan tidak masuk lewat pintu gerbang, tapi sebentar lagi pasti saya akan bertemu dengan mereka, dan pasti mereka akan menangkap saya dan mas Ali”
“Lebih baik saya ke Ginten dulu saja pak Tembol, kalau perlu akan saya amankan dulu Ginten dari sekitar sini”
“Pak Han, apabila seumpama mereka para penjaga datang kesini, pak Han pasti tau apa yang akan pak han lakukan sementara kami akan lakukan sesuatu kepada Ginten”
“Ok abah Fuad, akan saya tahan mereka semampu saya” jawab pak Han
Setelah sedikit perbincangan dengan pak Handoko, Ali dan abah Fuad mulai masuk ke dalam kamar 6+ mereka masuk melalui dinding samping kamar itu.
Mereka yakin bahwa di kamar itu berisi ratusan bahkan ribuan Jin yang terpenjara disana.
__ADS_1
Dan akan digambarkan sesuai dengan mata penglihatan abah Fuad dan Ali yang sekarang dalam keadaan ngerogoh rempelo eh.. ngeraga sukma.
“Bah… kita siap masuk ke sana?”
“Ya siap dong mas Ali, jangan takut, kan mas Ali sudah terbiasa dengan keadaan setan macam yang nanti akan kita temui”
“Ya bah, tapikan tidak dalam keadaan ngeraga sukma gini hehehe”
“Tenang saja, ikuti abah saja, dan nanti yang akan mas Ali lihat di dalam sana itu adalah macam penjara di alam nyata, ada sel dan kamar-kamar nya” kata abah Fuad
“Pokoknya tidak beda dengan yang ada di alam kita, mungkin bedanya hanya tidak ada penjaganya saja”
“Bah, ini kan kita bisa masuk ke dalam sana, dan keluar dari sana juga kan”
“Lalu kenapa yang ada di dalam tidak bisa keluar?”
“Hehehe, nanti kamu lihat saja keadaan disana mas, dan apa yang mengakibatkan mereka tidak bisa keluar dari sana. Ayok kita masuk sekarang”
Ali dan abah Fuad masuk ke dalam kamar nomor 6+..
Mereka berdua menembus dinding kamar…
“Inilah dunia mereka yang sebenarnya mas, dan kamu bisa lihat hal seperti ini setelah kita berubah wujud seperti ini” jawab abah Fuad
Yang dilihat Ali merupakan gambaran sebuah penjara yang sama dengan penjara manusia pada umumnya,
Mereka menembus tembok kamar, dan tiba di ruangan yang mirip dengan sebuah aula yang tidak terlalu besar, dan kosong.
Di depan mereka ada lorong panjang yang di kanan kirinya ada kamar dengan jeruji besi.
Tapi karena mereka berdua ada di aula dan belum berjalan menuju ke lorong, maka mereka belum tau apa isi masih-masing kamar dengan dinding jeruji besi itu.
“Nah sekarang mas Ali tau kan apa yang menyebabkan merek tidak bisa pergi dari sini” kata abah Fuad
“Ternyata penjaranya seperti di alam kita ya bah”
__ADS_1
“Sama mas, hanya saja khusus penjara ini memiliki kekuatan ghaib yang berasal dari Totok atau Rochman, apabila energi Rochman melemah, maka kekuatan dinding disini pun akan dengan mudah dirobohkan”
“Maka dari itu menurut abah, kita harus segera mencari Ginten dan melepaskan dari sini, tetapi akan abah pegang dulu dia agar dia tidak bisa lari dari kita”
“Lalu apakah yang lainya tidak ikut keluar bah?”
“Kita lihat dulu saja mas, abah akan bicara dengan mereka yang ada disini tujuan dan keinginan mereka apa” kata abah Fuad
“Ayo mas… kita jalan-jalan dulu ke sana, abah penasaran dengan penghuni penjagar gaib ini”
Mereka berdua yang awalnya ada di aula kemudian berjalan menuju ke lorong yang di kiri kanannya ada ruangan dengan dinding terali besi.
Mereka sampai pada kamar pertama yang paling dekat dengan aula.
Kamar tahanan yang pertama ini berisi perempuan berdaster putih dengan wajah pucat.
“Lihat mas, ruangan pertama ini kan berisi kuntilanak, kemungkinan besar mereka ini tinggal di sekitar sini… sebentar aba ingin bicara dengan mereka dulu” kata abah Fuad
Ali tidak merespon omongan abah Fuad, karena dia sibuk dengan pengamatanya pada tante tante kunti yang memakai daster kedodoran itu.
“Selamat malam tante tante…” sapa abah Fuad
Kunti kunti itu hanya melotot dan tidak merespon sapaan abah Fuad
“Tante kunti jangan melotot dong, saya kan menyapa kalian semua dengan sopan… jangan sampai saya bikin kalian menderita karena tertawa dan tidak bisa berhenti tertawa lho ya”
Tidak ada respon dari sekitar lebih dari sepuluh kunti berdaster yang semakin melotot dan menyeringai dengan memamerkan giginya kepada abah Fuad dan Ali.
“Oh jadi kalian nantang saya, baiklah tante tante kunti, sekarang kalian semua akan tertawa dan tidak akan bisa diam hingga mulut kalian semua robek dan memohon maaf kepada saya”
“Eh mas Ali, setelah ini akan ada suara tertawa dari puluhan kunti ini, dan mas Ali harus bisa konsentrasi untuk tidak terganggu dari suara tertawa para kunti itu”
“Akan abah siksa mereka hingga mereka akan melakukan apa yang abah suruh, dan tidak hanya kunti ini saja mas, kita akan lakukan hal yang sama kepada seluruh penghuni penjara ini”
“Abah tidak mau mengiming imingi mereka dengan makanan seperti yang dilakukan oleh pak Han, yang akan abah lakukan adalah melawan mereka hingga mereka bertekuk lutut kepada kita mas”
__ADS_1
“Dan nanti Ginten akan kita siksa. Dia akan abah siksa dengan cara memasuki pikiran dia, dan merubah pendengarannya menjadi lebih sensitif, sehingga hal sekecil apapun dia akan mendengarnya”
“Sehingga dia akan tersiksa dengan suara tertawa kunti dan suara-suara mengerikan dari demit yang ada disini, tapi sebelumnya abah minta mas Ali untuk konsentrasi agar mas Ali tidak terganggu dengan keadaan disini”