MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 125 (ABOOOOH )


__ADS_3

“Lhoooo pak, kok jatuh sik pak” teriak Saeful yang dengan sengaja teriak keras agar teman dia yang ada di rumah Supardi akan mendengarkanya


“Athooooohhh…… tolong saya mas, anu saya kena batu nih” kata Kaswadi yang mengerang kesakitan


Kaswadi dalam keadaan tertelungkup di jalan yang berlubang sambil memegang sekitar alat reproduksinya yang nyut-nyutan


“Sampeyan bisa jalan atau tidak pak” tanya Saeful yang berusaha mengangkat tubuh Kaswadi yang telungkup di jalan sambil mengerang kesakitan”


“Gak bisa mas…eeerrghhhh tolong panggilkan teman saya yang tadi yang bersama saya tadi mas” kata Kaswadi yang masih mengerang kesakitan


Mbok Ju yang sedang melayang agak jauh dari posisi Kaswadi sedang tertawa melihat Kaswadi kesakitan.


“Bentar, saya akan panggilkan temanmu yang namanya siapa tadi pak…Tejo ya pak…Tejo ya namanya” kata Saeful yang mulai beraksi sinting


“Trimo mas…namanya Trimo, ayo panggilkan dia mas cepat…, saya ndak kuat sama sakitnya ini” kata Kaswadi yang mulai naik darah


“Oooh orang yang agak gemuk itu namanya Triman yo…., bentar saya panggilnya yang namanya Triman pak” kata Saeful yang pura-pura akan jalan menuju ke rumah Supardi


“TRIMOOO, NAMANYA TRIMOOOO…AYO CEPAT PANGGIL DIAAAA!” teriak kaswadi semakin naik darah


Kaswadi kemudian berusaha untuk duduk, tapi tetap ndak bisa, dan akhirnya dia telentang di jalan yang berlubang itu


“Oh iyaaaa, saya lupa…, Namanya Trimo ya pak, betul namanya Trimo ya. ndak salah nih pak, bukanya Sutrimo?” kata Saeful sambil jongkok menunggu jawaban Kaswadi dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali


“IYAAAA NAMANYA TRIMOOO..NAMA LENGKAPNYA SUTRIMOOOO!, AYO CEPAT PANGGILKAN DIAAA!” teriak Kaswadi yang makin emosi dan mulai menggaruk  benda yang katanya sakit itu


“Lho kok digaruk pak, tadi katanya sakit. Lha ini saya jadi panggil teman sampean apa tidak pak” kata Saeful yang tetap jongkok di hadapan Kaswadi yang kini mulai garuk-garuk gak karuan


“Sudah gak usah ikut campur urusanku, cepat sanaaa!” Kaswadi mulai meringis dan mulai garuk sana garuk biji garuk sini garuk tongkat sakti


“Ya sudah kalau tidak boleh ikut campur, saya pergi saja pak”  Saeful pun pergi meninggalkan Kaswadi  yang masih merasa kesakitan plus gatal enyak-enyak


“LHO HEEEE, KAMU ITU SAYA SURUH PANGGIL TEMAN SAYA KOK MALAH PERGIIIII” teriak Kaswadi yang makin emosi


“Tadi katanya saya gak boleh ikut campur urusan sampeyan, gimana sih sampean ini pak. Terus saya sekarang disuruh panggil teman sampeyan, nama teman sampeyan siapa lagi yang harus saya panggil pak?” tanya Saeful yang sekarang wajahya semakin terlihat nggamblesi


“AAAAARRGGHHH PANGGILKAN TRRIMOOOO SAJAAA SEKARANG!” teriak Kaswadi yang sudah kehilangan kesabaran


“Ooooh Trimo, saya pikir teman sampean yang lainnya, kalau seumpama Trimcok ndak ada gimana pak, apa ada teman sampeyan  yang lainya?”  Ipul masih tidak beranjak dari posisinya berdiri dari tadi sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal


“AAAAHH JANCHOOOK RAIMU ASYUUUU!... PANGGILKAN SIAPAPUN YANG ADA DI  RUMAH ITU SAJA!!!” teriak Trimo yang makin getol menggaruk bagian tubuhnya yang selalu terlindungi dari apapun itu


“Yang ada di rumah itu nanti siapa pak, saya makin bingung sama omongan bapak. Berarti bukan Trimo ya?"


"Oh iya.... tadi bapak bilang di rumah itu, maksudnya rumah yang mana? rumah siapa?alamatnya mana?” kata Saeful yang masih jongkok dan memainkan batu yng ada disana


“YA ALLAH NGIMPI OPOO AKU SEMALAM, KENAPA AKU HARUS KETEMU SAMA ORANG TOLOL GINI!” teriak Trimo yang sudah mulai menyerah dengan keanehan Saeful


“Tolong panggilkan siapa saja yang ada di rumah itu mas. Siapapun yang ada disana suruh dia kesini cepat!” kata Kaswadi yang mulai menyadari bahwa yang dia ajak bicara itu benar-benar tidak bisa memahami omonganya


“Ok, saya paggilkan siapapun ya pak. Kalau tidak ada siapapun lalu adanya Trimo gimana pak, apakah Trimo itu yang saya ajak kesini pak?” tanya Saeful dengan mimik wajah serius sekali


"Saya ini takut salah panggil pak. siapa tau nanti yang saya panggil ternyata genderuwo yang banyak di sini , gimana pak, sampeyan bisa mati pak" kata Saeful yang wajahnya tetap tenang, damai, Tampa ekspresi sama sekali


"HAHAHAHAH ASYUUUU, HAHAHAHA SANA HAHAHA PANGGIL SIAPA SAJA YANG ADA HAHAHAH. AKU SUDAH TIDAK KUAT LAGII HAHAHAHAH”Kaswadi sudah kalah mental menghadapi Saeful yang di setel kendo itu


“Aah sampean ini sukanya mengada ada pak, sekarang ketawa, tadi kesakitan, sebenarnya bapak ini kenapa si, atau sampean ini termasuk ODGJ?” kata Saeful lagi


“Apa itu ODGJ” tanya Kaswadi dengan raut wajah yang sekarang berubah serius tapi tangan dia tidak lepas dari garuk-garuk bagian alat reproduksinya.


“ODGJ itu singkatan pak, ah masak sampeyan itu ndak tau sih pak. Sampeyan ngetes saya atau purak purak ndak tau hayooooo” jawab Saeful sambil meringis


“BNGSHAD!!!!… CEPAT PANGGILKAN TEMANKUUUU” teriak Kaswadi yang urat sabarnya putus akibat meladeni Saeaful yang memang gak karuan.

__ADS_1


Tiba-tiba mbok Ju datang ke samping Ipul….


“Nak, Trimo akan datang ke sini, kamu hati-hati saja nak, dia bawa senjata api yang berbahaya nak” bisik mbok Ju yang kemudian pergi meninggalkan Saeful ke pinggir jurang lagi


“Heh pak, gak perlu manggil temanmu, dia sebentar lagi akan datang kok, dia sedang perjalanan kesini” kata Saeful sambil melempar lempar kerikil


“HAAAAH GAK USAH MAIN-MAIN SAMA SAYA, CEPAT PANGGILAN TEMAN SAYA SAJAAAAAA!!!”  teriak Kaswadi dengan intensitas garukan yang makin menjadi-jadi


“Bentar lagi juga akan kesini teman kamu pak, yang sabar ya pak, namanya juga ujian dari Tuhan pak, ya harus dijalani pak, ndak boleh dilawan pak” kata Saeful


“Pasti sampeyan suka fu fu fu skidipap wadikap sama perempuan ya, atau sama banci hayoooo. Makanya Tuhan kasih bapak ujian ini hihihih.


“Ujian Tuhan ndasmu chok!, gak da ujian Tuhan itu” jawab Kaswadi yang masih menggaruk dengan nikmatnya sampek merem melek gitu


“Ada apa ini, kamu kenapa Kas, kenapa kamu meringis gitu” tanya Trimo yang tiba-tiba sudah ada disebelah Kaswadi


“Iki lho Mo..Trimooo aku jatuh kepleset kerikil yang ada di jalan iki lho. Lha tadi aku teriak karena anak ini aku suruh panggil kamu kok malah mbulet ae nang kene” jawab Kaswadi


“Ayo tulungono aku berdiri Mo, dan kita langsung balik hotel ae, sudah sore iki Mo” kata Kaswadi yang masih garuk-garuk daerah selempitannya.


“Tadi saya ndak berani ninggal bapak ini pak, soale dia aneh, tadi kesakitan, kemudian dia tertawa mengerikan, ndak lama kemudian sakit lagi, saya kan bingung pak” kata Saeful dengan raut wajah yang serius tapi megendeng


“Wis gak usah kebanyakan nyocot kamu Kaswadi. Ayo kita balik ke rumah Supardi, malam nanti baru kita balik ke hotel, ayo berdiri gak usah manja minta gendong gitu. Kalau Kurni aku mau gendong tapi nek awakmu males Di Kaswadi” kata Trimo


“Asyu Mo, gak usah ngganggu Kurni Chok, nek sampek ganggu Kurni, Muryati tak santed!” bentak Kaswadi yang asik merem melek garuk-garuk daerah yang lembab itu


“Janchok raimu Di, wegah aku karo Kurni, aku setia karo Muryati chok!” kata Trimo yang berlalu dari Kaswadi yang masih tergeletak di jalan


“Ndeh Mooooo!, bantu aku berdiri chok!” teriak Kaswadi


“Berdirio dewe Chok kamu lak sudah sehat sih, dasar manja” teriak Trimo yang jalan menuju ke rumah Supardi


“Pak.. jangan pergi dulu pak, teman bapak itu benar-benar sakit” kata Saeful yang masih ada disana


“Tolong aku Mo, ada yang gak beres ini sama barangku. Tadi setelah aku jatuh, tiba-tiba sakit dan gatal sekali iki batang knalpotku” keluh Kaswadi


“Ayo cepat berdiri, gak usah kakehen cangkem kamu Di, ayo cepat hari sudah sore iki!” bentak Trimo yang ada di sebelah Kaswadi


Kaswadi mencoba berdiri namun tiap dia mancoba berdiri selalu jatuh lagi, begitu berulang kali hingga dia minta tolong Trimo untuk memeganginya.


“Mo.. tolong pegangi aku Mo, aku gak bisa berdiri iki chok, rasanya ada yang ngganjel di tengah-tengah iki” kata Kaswadi lagi


“Heh mas, ini temanku tadi jatuhnya kenapa, kok bisa dia sekarang gak bisa bangun gitu” tanya Trimo kepada Saeful yang masih ada disana untuk menyaksikan hasil karya dari mbok Ju


“Wah saya ndak tau pak, wong tadi saya jalan di sebelah kiri dia pak, kemudian dia jatuh sendiri di situ” tunjuk Saeful pada jalan yang berlubang dan banyak kerikil dan batunya


“Hmmm kamu terpeleset ya Di?” tanya Trimo sambil mengulurkan tanganya membantu Kaswadi yang berusaha bangun dan berdiri


“Iyo.. aku ndak tau kalau di situ banyak kerikilnya. Tapi tadi cuma kepleset aja Mo, cuman kok sakitnya itu sampek di sini ya?” kata Kaswadi menunjuk bagian kuntila plus ndoooog nya


“Berdirio dulu aja, nanti kita lihat di rumah Di” kata Trimo


“Lho kalau yang liat Kurni gak masalah, tapi nek yang liat kamu yo maleees Mooo Trimoooo” teriak Kaswadi


“Ndeh Yo wis berdirio dewe, ayo cepet gak usah koyok anak kecil Chok” kata Trimo


Kaswadi berusaha berdiri tapi tetap saja ndak bisa, lalu apakan memang kakinya juga bermasalah akibat dari mbok Ju? Tapi ndak ah, pasti itu karena kuntila dia saja yang bermasalah.


“Ayo Di, gak usah koyok arek cilik Di ayo kita balik ke rumah Supardi” kata Trimo


“Eh pak, apakah bapak ndak mau lihat orang-orang yang menyelinap ke vila itu” kata Saeful


“Halah…biarin saja, paling mereka itu mau cari rumput buat makan ternak, sudah sana, kamu pulang sana. Ndak usah iku campuur urusan kami” hardik Trimo

__ADS_1


“Ya sudah, kalau gitu saya akan lapor polisi saja ah” kata Saeful lansung jalan menuju ke arah Gebang


“Eiiitsss ngapain kamu lapor polisi segala, kan gak ada hubunganya dengan kamu, apa kamu disakiti oleh mereka pencari rumput yang ada di dalam vila itu?”


“Iya, tadi yang namanya Broden yang bentak-bentak saya, akan saya laporkan mereka yang ada di  dalam vila itu kepada polisi, siapa tau mereka adalah penjahat yang lari dari penjara” kata Saeful seperti biasanya tanpa rasa bersalah sama sekali


“Bagaimana kamu tau nama salah satu dari merka mas” kata Trimo dengan heran


“Ndak cuma satu, saya juga tau nama mereka lainya, ada yang Sokran, dan ada yang namanya Sarmidi juga kan hehehe, saya tau semua. Dan sekarang saya mau ke pak Polisi” Saeful berjalan lagi menuju ke arah bawah


“B..bagaimana kamu tau nama mereka!” tanya Trimo dengan kebingunan


“Oh… ternyata sampeyan ya yang kirim mereka kesini dan bayar mereka dengan uang satu dos Indomie Heheheh, tapi kenapa mereka tidak tau kalau yang suruh kesini adalah sampeyan? Pasti ada udang dibalik wajan ini” kata Saeful yang kemudian berjalan ke arah Gebang lagi sebelum Trimo tersadar


Tapi tidak jauh kemudian Saeful berhenti, dia kemudian kembali ke arah Kaswadi dan Trimo yang sedang bingung karena Saeful tau banyak tentang apa yang jadi rencana Trimo.


“Ada apa lagi!, kenapa kamu balik kesini lagi, apakah kamu mau bicara tentang orang yang menyelinap di dalam vila lagi?” tanya Trimo


“Nggak, saya ndak mau ngapain-ngapain, saya cuma mau liat temanmu yang jatuh itu dulu, sebenarnya apa sih yang sakit, saya penasaran” jawab Saeful


“Arek iki Gendeng Mo, dari tadi dia itu nunggu aku disini tapi utegke rodok gak beres” kata Kaswadi


“Yo Wis lah, ayo Di kita balik ke rumah” ajak Trimo yang berjalan mendahului Kaswadi yang sedang berusaha berdiri


Kaswadi sekarang sudah bisa berdiri, tetapi ada yang aneh dengan bentuk tubuhnya, ada sesuatu yang mengganjal dan selalu digaruk Kaswadi.


“Pak, itu ndog sampean dua-duanya kok bisa aboh gitu pak, lah terus itu ****** bapak juga kenapa berdiri terus?” tanya Saeful dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali


Kaswadi yang terus-menerus menggaruk bagian bawahnya kaget ketika dia melihat bagian bawah tubuhnya yang bentuknya tidak seperti biasanya.


“AAAAAAHHHHHHH TRIMOOOOOOO TOLONG AKUUUU!!!” teriak Kaswadi yang melihat kuntilanya ndangak agak bengkak dan menatap langit, sementara ndognya membesar hingga dua kali lipat alias aboh!


“Opo maneeeh Diiii, aku lama-lama jengkel sama awakmu chok! Tau gini kamu gak tak ajak cari harta karun disini” teriak Trimo kepada Kaswadi yang masih berdiri sedikit bungkuk dan melihat ke arah bawah itu.


“Ooooh ternyata kalian kesini mau cari harta karun yang tidak pernah ada itu. kalau gitu saya akan laporkan ke polisi aaaah. Karena saya dipeseni pak pol suruh lapor kalau ada orang yang bongkar-bongkar vila ini heheheh” kata Saeful yang kemuian lari menuju ke arah bawah


Tapi Saeful tidak sebodoh itu, dia tentu saja kembali secepat mungkin ke tempat Kaswadi dan Trimo yang sedang bingung dengan tingkah laku Saeful tadi.


Secepat kilat Saeful sudah ada di sisi jurang, kini dia sedang merangkak melalu sisi jurang menuju ke tempat Kaswadi dan Trimo yang masih ada disana.


“Hati-hati nak, Trimo keliatanya sudah jengkel sama kamu, kamu jangan menampakan diri dulu saja, ngomong-ngomong polisi yang tadi kamu laporin itu akan datang kesini kapan?” tanya mbok Juriah


“Hhihihi kapan-kapan mbok, katanya mereka ndak mau urusan dengan vila ini dulu untuk sementara waktu, karena mereka ada tugas lain dari komandanya”


“Mbok kira mereka akan kesini dan menangkap orang-orang ini nak, kalau begitu ada baiknya kamu balik saja ke ruangan biru, sampaikan kepada teman temanmu apa yang terjadi sini”


“Iya nanti mbok, saya mau lihat Kaswadi dan Trimo dulu, saya penasaran apa yang akan dilakukan oleh mereka dengan kondisi kuntila Kaswadi yang membesar dan ndangak itu mbok”


Perlahan-lahan namun cepat juga eheheheh, Saeful sudah ada di sisi jurang tepat dimana Kaswadi dan Trimo sedang eker-ekeran tentang apa yang akan mereka lakukan dengan keadaan Kaswadi yang ngawur itu.


“Kas, tadi waktu kamu jalan ke arah sini, apa kamu ndak nginjek sesuatu gitu? Jangan-jangan kamu nginjek sesuatu yang menjadi milik jin disini atau apa gitu. Aku soalnya pernah baca, ada orang yang mengalamai bengkak alat kelameenya karena menginjak benda halus gitu” kata Trimo.


************


terima kasih atas support dan sarannya. saya ini tidak menutup mata pada kritikan dan saran.


bahkan saran beberapa teman pembaca disini saya lakukan..dan tidak masalah bahkan sangat membantu saya.


hanya saja yang agak sopan sedikit. saya ini ibu rumah tangga dan umur saya sudah hampir setengah abad, dan saya belum pernah dikata katai kasar seperti itu. ini pengalaman saya pertama Kali heheheh.


saya sebagai orang tua cuma bisa ngelus dodo saja, kasihan kalau ada anak bisa berkata kasar seperti itu, saya anggap dia anak yang kurang perhatian


kalau teman teman pembaca pingin tau apa yang dia bicarakan . bisa lihat di novel konser berdarah bab 73, dan saya sudah lega karena bisa balas Komen dia meskipun hanya seadanya saja.

__ADS_1


terimakasih kasih atas perhatian para pembaca semua dan maaf saya belum bisa balas satu persatu karena saya agak sibuk lagi menjelang lebaran, dan semoga kita menjadi orang yang beriman dengan manata kata-kata dengan lebih baik.


__ADS_2