
“Jangan paksa aku keluar dari tubuh ini atau orang ini akan mati hahaha”
“Oh ya sudah tidak masalah. orang itu mau mati atau tidaknya Novi tidak peduli” jawab Novi
“Karena kamu mbok Ginten juga akan binasa setelah Rochman datang kesini, jadi mbok Ginten tetap saja akan binasa juga nantinya hahaha” kata Novi yang makin berani
“Dulu memang kita pernah melawan Dimas bersama-sama, tapi setelah itu saya tidak mendapat apa-apa, bahkan saya tidak tau harus kemana”
“Lho mbok Ginten ini kok malah curhat sih mbok, wis tidak usah kebanyakan nyocot, ayo cepat keluar dari ini dan pergi dari sini!”
“Hahahaha tidak akan!”
“Ya sudah kalau begitu, Novi akan paksa kamu untuk pergi dari raga itu, meskipun nanti raga itu mati ya tidak masalah bagi Novi”
Mbah Sarijemb makin menarik keluar mbok Ginten yang masih ngotot ada di dalam tubuh Suharto.
Setelah beberapa kali hentakan… mbah Sari berhasil menarik keluar mbok Ginten dari tubuh Suharto.
Akibatnya sekarang Suharto semakin lemah dan lemah….
“Apa mbok Ginten sudah keluar dari tubuh orang itu mas” tanya pak Bowo
“Sudah pak, buktinya sekarang orang itu makin melemah. coba bapak kasih cahaya senter wajahnya pak” kata Blewah
“Sekarang mbok Ginten sudah ada di tangan mbah Sarijemb. Nanti di luar akan dilepas agar ditangkap oleh penjaga ghaib disini dan akhirnya dimasukan ke kamar 6+ hehehehe” kata Novi
Suharto sekarang tergeletak di pojokan kamar mandi, dia tidak mampu berdiri karena Ginten sudah ada di tangan mbah Sarijemb yang jelas lebih tua daripada mbok Ginten.
“T…tolooong….” Suara laki-laki yang terdengar lemah itu terdengar dari mulut Suharto
“Lho… kok masih hidup, berarti rohnya masih ada di dalam tubuhnya” kata Blewah keheranan
“Sa…saya masih hidup..tolong saya”
“Mas Blewah ..coba mbak Mirah suruh lihat dulu apa yang ada di dalam tubuh Suharto itu, jangan-jangan hanya suruhan Ginten saja!” kata Novi
“Sudah Nov, yang ada di dalam tubuh Suharto adalah pemilik asli raga itu” jawab Blewah
“T..tolong….” suara lemah itu terdengar lagi
“Kita tolong saja mbak Novi, bagaimana menurutmu mbak?” tanya pak Bowo
“Ayo mas Blewah kita angkat dia keluar dari sini” kata pak Bowo
“Pak Bowo, mas Blewah… ayo kita keluar dari sini saja….”
“Perasaan Novi kok tidak enak gini mas” ajak Novi
__ADS_1
“Lha gimana dengan mbok Ginten mbak, apa sudah bisa dikondisikan?” tanya pak Bowo
“Sudah pak, sekarang ada di tangan mbah Sarijemb dan akan dibawa keluar dari sini secepatnya” jawab Novi
Mereka menuntun Suharto yang terlihat lemah, namun ternyata masih hidup, sedangkan Novi masih melihat dan mengawasi mbah Sarijemb yang sedang membawa mbok Ginten keluar dari kamar itu.
“Pak Han, mas Saeful… ayo kita pergi dari sini secepatnya” ajak Novi di kamar pertama
Saeful membantu pak Bowo dan Blewah agar mereka berjalan lebih cepat, sementara itu pak Han ada di depan mereka, untuk mengawasi jalan yang akan mereka lewati.
“Ayo terus anak-anak, kita sudah dekat dengan pintu besi yang ada di bagian belakang hotel….”
“Mas Blewah, tolong suruh Mirah lihat di luar apakah masih aman atau tidak?”
“Iya pak, ini Mirah baru datang dari luar sana pak…. kata Mirah karyawan hotel ini masih sibuk memadamkan api yang makin membesar karena sekarang bangunan pos yang terbuat dari kayupun mulai terbakar”
“Dan ini sudah menjelang tengah malam, kita harus cepat pergi dari sini atau Rochman akan memergoki kita pak” kata Blewah lagi.
Mereka berlima plus Suharto yang masih lemah sudah ada di selasar ruangan utama hotel, beberapa penghuni hotel yang ada di bangunan utama keluar untuk melihat aksi pemadaman pos penjagaan.
Tentu saja hal Ini sangat membantu mereka dalam upaya melarikan diri dari bangunan utama menuju ke kamar 5+ dan 2+.
“Nanti di luar bangunan ini mbah Sarijemb akan melepas mbok Ginten, karena disana, di dekat parkiran mobil sudah ada penjaga ghaib yang tentu saja sama sekali tidak mengenal mbok Ginten” kata Novi
Karena beberapa penghuni kamar sedang bergerombol di depan bangunan utama untuk melihat upaya pemadaman yang sia-sia …
Maka keadaan ini mereka gunakan untuk kembali ke kamar mereka bersama Suharto yang masih terlihat lemah.
*****
Di kamar 2+ mbok Ju yang merupakan saudara dari mbok Ginten menanyakan Novi apa yang terjadi dengan saudaranya itu.
“Mbok Ginten sudah bukan mbok Ginten yang dulu mbok Ju, dia beringas dan lebih jahat” kata Novi
“Untungnya mbah Sarijemb lebih tua daripada mbok Ginten, jadi dia bisa langsung dibawa dan dibuang di depan bangunan utama”
“Dan kayaknya sekarang dia ada di kamar 6+ mbok Ju” kata Novi
“Saya heran kenapa Ginten bisa berubah seperti itu, dia dulu kan selalu membantu kalian nak Novi?”
“Wah saya tidak tau mbok Ju, pokoknya dia sudah bukan mbok Ginten yang dulu Novi kenal”
“Dan lebih baik dia ada di kamar 6+ dari pada di ada disana dan bertemu dengan Rochman, Novi yakin nanti pasti dia akan dibinasakan Rochman, dan akan diambil energinya saja”
“Begitu juga Suharto yang merupakan anak dari Marwoto dan Suparmi, pasti juga hanya akan diambil sari-sari dari turunan Marwoto dan Suparmi saja” lanjut Novi
*****
__ADS_1
Sementar itu jauh dari sana, di vila putih, di ruang tengah vila putih…
Dimas sedang duduk di sofa.. dia bersama mas Nang yang masih mengawasi bagian bawah Vila.
Wildan dan Tifano sedang ada di kamar atas, seperti biasanya tugas mereka untuk mengintai apa saja yang akan datang ke vila putih.
“Wil… sekarang keadaan vila putih iki sepi ya, kita bisa males-malesan” kata Tifano
“Iya Tif, kayaknya mereka-mereka sekarang ada di hotel sana” jawab Wildan.
“Tapi menurutku tidak gitu jugak Wil, soale Trimo kan sudah tidak ada, Suharto juga gak ada… sekarang tinggal Djatmiko saja kan, dia ini mungkin masih mengincar vila iki”
“Sik Tif… itu di depan pintu gerbang vila ada sosok yang sedang berdiri… cepat kamu ke bawah laporkan ke Dimas!”
Tiffano segera menuju ke bawah…ke ruang tengah.
Dimana di ruang tengah itu masih ada Dimas, Petro yang sudah dari tadi ngorok di sofa dan Sinank nang yang masih bersama Dimas.
“Dimas…. didepan pintu gerbang ada sosok yang sedang berdiri dan menghadap ke dalam vila”
“Biar saya lihat dulu saja mas Tifano” kata Sinank nang yang kemudian melayang menuju ke pintu gerbang vila”
“Siapa lagi itu ya. Trimo kan sudah mati, sedangkan Suharto ada di hotel sana, Rochman pasti juga sedang ada di sana, karena ada Suharto disana”
“Kalaupun Trimo sudah mati… masak yang ada di depan itu adalah Djatmiko?” kata Dimas
“Pikiran saya dan Wildan tadi juga kayak gitu Dim. sudah sana kamu temuin dulu orang yang ada di depan itu” kata Tifano
“Sebentar Tif, tunggu Sinank Nang datang dulu” kata Dimas yang ada di dalam tubuh Gilank
Tidak lama kemudian Nang datang…
“Yang ada di depan sana itu Marwoto, dia bilang mau ketemu dengan kamu pak Dimas”
“Ada apa Marwoto tiba-tiba datang ke sini, bukanya selama anaknya gila dia tidak mau datang dan tidak mau menolong keadaan anaknya” kata Dimas
“Ayo temani saya bicara dengan Marwoto Nank”
Dimas dan Sinank Nang menuju ke depan vila putih, dimana Marwoto sedang menunggu Dimas.
Ketika Dimas sudah ada di depan pagar vila yang tertutup, Marwoto masih ada disana dan masih menghadap ke arah vila….
“Ada apa Marwoto…. kenapa kamu ada disini, harusnya kamu bantu anakmu”
“Bukan saya tidak mau menolong Suharto Dimas, tetapi itu yang memang diinginkan oleh Ginten, Ginten memang menginginkan saya datang menolong Suharto dan juga menolong Sarinah”
“Ginten tau kalau Suharto dan Sarinah itu kelemahan saya”
__ADS_1
“Sehingga apabila saya datang menolong mereka, pasti Ginten akan menukar keselamatan anak saya dan cucu saya dengan apa yang dia inginkan, atau dia akan dengan leluasa bisa merusak anak dan cucu saya….”
“Saya tidak mau anak dan cucu saya mati sia-sia hanya karena Ginten yang gila itu” kata Marwoto