MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 114 (SAEFUL DAN ALI)


__ADS_3

Pak Tembol bersama Petro dan Gilank sedang duduk-duduk di terasa masjid sambil menunggu waktu isya datang, kesempatan itu digunakan oleh Gilank untuk curhat kepada pak Tembol, sedangkan Petro hanya sebagai pendengar setia saja.


Sementara itu Ali, Wildan, Tifano, Dogel, Novi dan ketiga cewek sedang ngobrol di dalam rumah. Nampaknya mereka sedang terlibat sebuah pembicarakan yang serius


“Mas-mas dan mbak-mbak, kayaknya sih kita ini sedang dipermainkan oleh Totok” kata Novi dengan serius


“Kenapa kamu bilang gitu Nov?” tanya Ali


“Gini mas, Kita yang ada di masa ini kan sedang menjaga vila putih dari penjarah kan, sedangkan di masa lalu Totok mengincar mbak-mbak ini, nah sekarang mbak-mbak ini dan yang lainya bergabung dengan kita di masa ini, benar ndak mas?” tanya Novi


“Iya bener Nov, terus apa hubunganya dengan maksudmu Nov?” kata Dogel


“Sekarang teman mas Dogel yang bernama Blewah dan siNank nang masih tidak diketahui di mana mereka kan mas, sedangkan menurut penuturan pak Tembol kedua orang itu terjebak di sebuah demensi, yang menurut Novi sih memang dibuat demikian oleh Totok”


Kemudian mbak-mbak ini beserta lainya entah bagaimana caranya mereka ada di masa kita kan, dimana apabila mereka ada di masa kita otomatis mas Blewah dan mas Sinank nang sudah lost dengan posisi mbak-mbak ini”


“Padahal kedua orang yang bernama Blewah dan Sinank nang itu adalah yang mempunyai ilmu tinggi dibanding yang ada disini kan” lanjut Novi


“Nah kenapa kok sampai mbak-mbak dan mas-mas ini dikirim di masa kita, dan siapa yang mengirim kalian kesini. Menurut Novi yang mengirim kalian kesini adalah Totok atau sesuatu, lalu kenapa kok kalian dikirim ke masa ini?”


“Agar focus kita terpecah mas, karena kita harus melakukan dua hal yang bisa saja berbarengan, antara melindungi mbak-mbak ini dari buruan Totok, dan melindungi vila putih dari suruhan Totok dan lainnya” kata Novi lagi


“Jadi seolah-olah kita dan kalian mas Dogel dan mbak-mbak masuk dalam permainan Totok atau Rochman. Dan yang menjadi pertanyaan Novi, bagaimana bisa Totok sepintar ini mas. Apakah dia berpikir sendirian atau tidak?”


“Pertanyaan Novi tidak perlu mas-mas jawab, karena Totok atau Rochman tidak mempunyai otak sepintar otak Dimas. Novi tidak bilang dibalik Totok itu ada Dimas lho mas, hanya saja kita kan tau Totok itu tolol. Dan yang pintar itu Dimas”


“Kemudian ada lagi orang yang bernama Haris. Pertanyaannya siapa Haris itu, dan kenapa dia mau membersihkan rumah-rumah tiap orang disekitaran sana pada waktu itu, yang Novi garis bawahi adalah pada waktu itu, bukan pada waktu sekarang”


“Pertama kesampingkan dulu siapa itu Haris, yang paling penting kenapa dia sampai mau membersihkan rumah penduduk yang ada disana” lanjut Novi


“Karena ada yang sedang dicari di tiap rumah penduduk yang ada disana, dan itu kejadiannya terjadi  pada masa jauh sebelum pak Tembol dan anak-anak Bluekuthuq bertemu juga bukan di masa kami. Lalu apa yang sedang dicari oleh Haris? Jawabanya pasti sesuatu yang begitu penting bagi dirinya”


“Kemudian di masa ini, masa kami ini, rumah yang ada di sebelah vila sudah ditinggali oleh Supardi bukan Haris lagi, sehingga asumsi Novi apa yang dicari oleh Haris itu sudah mendapat titik terang dan dia tidak perlu memasuki tiap rumah peduduk untuk membersihakan rumah dengan biaya sak welase”


“Dan kejadian itu mungkin bertepatan dengan Kaswadi yang mencuri kotak milik pak Tembol, dan kemudian kotak itu dicuri oleh Trimo adik dari istri Kaswadi, dan kemudian Trimo mengiklankan di forum jual beli, dan secara kebetulan Totok yang membaca apa yang dijual Trimo”


Nah, karena Totok atau Rochman sudah menemukan apa yang dicari oleh Haris, maka haris pun pergi dari rumah itu entah kemana, apakah dia ke Waji atau ke Vila putih”


“Tapi ada hal lain yang Novi pikirkan, apakah Haris membuat sebuah orok yang bisa menjadi manusia yang luar biasa sakti dan nantinya arwah Haris akan tinggal di dalam orok itu?” kata Novi


“Setelah Haris pergi tentu saja rumah itu kosong kan, nah disini Totok mencari orang yang akan tinggal disana dan untuk memata matai siapa saja yang ada di vila putih. Tidak tau bagaimana dia ketemunya tapi  ternyata yang disana adalah Supardi anak Kamidi yang mati akibat perbuatan Novi dan mas Broni.


Kemudian Novi diam dulu agar yang mendengarkan bisa mencerna apa yang barusan diomongkan oleh Novi, karena yang barusan dijelaskan Novi ini njelimet, tapi tiba-tiba Novi berbicara lagi.


“Dalam hal ini tolong jangan berpikir secara logika, tapi berpikirlah secara fakta saja, karena kalau kita berpkir secara logika jelas tidak masuk akal, karena sejarah yang berubah ikut andil dalam perubahan waktu yang kami dan kalian alami” kata  Novi lagi


“Karena kalau kalian berpedoman sebagai logika, jelas tidak akan masuk dengan yang terjadi disini, tetapi kalau kalian berpedoman pada fakta maka kalian pelan-pelan bisa berpikir secara rasional hanya berdasar fakta, bukan logika”


“Sampai sini apakah kalian bisa menarik kesimpulan siapa yang mengirim kalian di masa ini, dan apa tujuan kalian dimasa ini kan? Sebelum Novi lanjutkan opini yang ada di kepala Novi” kata Novi


“Teruskan dulu mbak Nov” kata Dogel


“Ok Novi akan lanjutkan lagi mas, Jadi tentang lagu kalian yang katanya mengakibatkan matinya beberapa orang itu, kemudian mbak Indah yang menjadi korban Totok, kemudian ketiga mbak-mbak ini yang juga sedang menjadi incaran Totok, itu semua dilakukan Totok untuk mencari kekuatan, tapi bukan bagi dia, tetapi bagi orang lain atau bagi sesuatu”


“Orang lain atau sesuatu itu yang lebih kuat, tetapi orang lain atau sesuatu itu pada saat itu sedang terpuruk atau lebih tepatnya sedang dalam keadaan sakit, atau dalam keadaan mati suri, atau dalam akan keadaan terlahir kembali. Dia adalah orok yang sedang disiapkan sebagai kendaraan baru bagi arwah Dimas”

__ADS_1


“Sebelum Novi lanjutkan kita harus tau kalau disini ada tiga sosok, pertama adalah Totok atau biasa kami panggil Rochman, kemudian Haris, dan kemudian satu lagi adalah orok yang ada di Waji”


“Sesuatu atau lebih tepatnya orok itu butuh kekuatan untuk bisa hidup dan berkuasa di dunia alam ghaib. Disini Totok atau Rochman itu hanya pesuruh, dia tidak akan punya keberanian untuk berpikir yang lebih cerdas, Totok hanya pembantu yang tugasnya mengumpulkan kekuatan yang luar biasa atas perintah dari sesuatu yang akan terlahir kembali”


“Totok atau Rochman sudah jelas siapa dia, tinggal sekarang Haris dan sesuatu yang Novi sebut orok itu. Nah sekarang apakah kalian percaya apabila haris itu adalah sesuatu atau orok itu?” tanya Novi


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Novi, jelas mereka semua yang ada disana sedang kebingungan dengan pernyataan dan pertanyaan Novi yang makin tidak jelas.


“Tolong berpikrilah dengan fakta, jangan secara logika, karena kalau kalian berpikir secara logika jelas tidak bisa menangkap apa yang Novi tadi jelaskan


“Mas Ali, apakah yang sudah dihancurkan pak Handoko dan mas Ali di hotel waji itu ada hubunganya dengan Haris seperti yang tadi Novi jelaskan?, coba mas Ali pikirkan mas, dan lakukan dengan fakta yang ada mas” kata Novi


“Menurutku ndak ada Nov, karena yang ada disana itu hanya berupa orok yang selalau dijaga ketat oleh penjaga ghaib disana” kata Ali


“Sedang kan Haris yang ditemui pak Tembol itu berupa manusia yang tiba-tiba muncul entah dari mana” lanjut Ali


“Betul mas, lalu yang jadi petanyaan Novi kemudian, apakah Haris itu manusia normal? Bukan jadi-jadian yang menyamar sebaggai Haris yang lugu?” tanya Novi


“Aku belum pasti Nov” jawab Ali


“Kalau mas Ali belum pasti maka mas Ali berpikir secara logika, kalau mas Ali sudah yakin apabila Haris itu sama dengan mahluk yang dibinasakan pak Handoko maka mas Ali berpikiran secara fakta mas.


“Haris itu sama dengan orok yang dihancurkan oleh pak Handoko ketika bersama mas Ali dan mas Saeful dengan bantuan Bawok”


“Orok itu adalah cikal bakal dari tubuh Dimas yang baru, tubuh yang penuh dengan kekuatan yang berasal dari yang dikumpulkan oleh Rochman atau Totok, sedangkan Dimas yang berupa Haris hanya tubuh ringkih penyakitan yang terus mencari kekuatan termasuk dari mbak-mbak ini” kata Novi


“Jadi disini  tubuh haris bukan tubuh yang kuat untuk melawan kita dan pak Pho yang sebagai penjaga vila itu, sedangkan apabila orok itu berhasil menjadi manusia maka orok itu akan menjadi musuh yang mengerikan bagi umat manusia”


“Ditambah lagi apabila Totok atau Rochman itu berhasil mendapatkan ramuan yang tersimpan rapi di ruang bawah tanah secara rahasia. Maka Dimas akan semakin kuat dan akan membunuh Mak Nyat mani dan Soebrot juga. Nah itu semua pemikiarn Novi mas, untuk benar atau tidaknya harus melalui penyidikan lagi”


Hingga kemudian Ali angkat suara atas pendapat yang diberikan Novi tadi.


“Aku paham apa yang kamu jelaskan Nov, dan aku rasa yang lainya juga paham, hanya saja kita perlu pembuktian lagi. Aku percaya ada Dimas dibalik semua ini, dan aku juga percaya kalau apa yang kita lakukan dengan pak Han adalah membunuh orok  Dimas”


“Tapi semua itu kan butuh penyidikan lagi. Tapi jelas tidak mungkin melakukan penyidikan, karena jelas lah tidak akan nututi waktunya. Jadi lebih baik kita ikuti alur yang dibuat oleh Totok itu. nanti dari alur itu kita cari lubang untuk membunuh Totok” kata Ali


Ketika mereka masih terdiam tiba-tiba adzan isya berkumandang dari mushola sebelah rumah. Pembicaraan mengenai spekulasi tadi pun berhenti. Dogel, Ali ,Tifano, Wildan pun menuju ke Mushola.


Selesai mereka dengan ibadahnya, mereka berdelapan kembali ke rumah, tetapi tiba-tiba Saeful mendekati pak Tembol yang berjalan paling akhir diantara mereka.


“Pak, saya mau ijin tidur di mushola saja pak, Karena saya nanti mau sholat malam pak, lagi pula di rumah sudah penuh pak” kata Saeful


“Lho masih cukup kok nak Saeful, kan bisa tidur di depan meja makan nak”


“Lagi pula agar mudah saya sholat malam pak, saya sudah terbiasa seperti ini di tempat saya kok pak” jawab Saeful


“Kalau gitu apa kamu sebaiknya ijin sama pengurus mushola dulu nak?” kata pak Tembol


“Sudah pak, tadi sore waktu ashar saya kan bantu-bantu disini pak, saya sekalian ijin dengan pengurusnya yang tinggal di sebelah itu pak” tunjuk Saeful pada sebuah rumah yang letaknya bersebelahan dengan mushola


“ya sudah kalau gitu nak Saeful. nanti saya akan bilang sama yang lainya kalau nak Saeful tidur di mushola” kata pak Tembol kemudian jalan menuju ke rumah


Sementara itu sebelum ke mushola Saeful menyempatkan diri dulu untuk makan di sebuah warung makan yang letaknya ada di jalan setapak yang menuju ke arah rel kereta api.


Warung ini cukup terpencil, namun pembelinya banyak juga, saat ini ada tiga orang selain Saeful yang sedang makan di warung yang tidak jauh dari rel kereta api.

__ADS_1


Mungkin warung ini diperuntukan para pekerja yang ada di stasiun sana. Dari sini ke stasiun mjkt tidak perlu memutar lewat jalan besar, cukup melalui jalan setapak yang tembus ke arah rel kereta api.


“Bu, wonten jangan nopo ( ada sayur apa)” tanya Saeful yang duduk di pinggir bangku panjang yang terbuat dari kayu  itu


“Jangan Tewel karo jangan asem dik” jawab penjual itu singkat


“Yo wis bu, kulo jangan asem kalehan tahu tampe. Njenengan paringi sambel sing katah nggih ( Ya wis bu, saya sayur asem dan tahu taempe, kasih  sambel yang banyak )” kata Saeful


Disana kalau hanya minum air putih sudah disediakan gelas dan ceret atau teko dan gratis, Saeful pilih minum air putih saja dari pada bayar untuk minum teh heheheh.


Di samping kiri Saeful ada seorang laki-laki yang berperawakan kurus dan berwajah kearab-araban, sedangkan  di depan Saeaful ada seseorang yang memakai rompi oren, dimana rompi itu tertulis portir.


Disebelah orang itu juga ada dua orang yang memakai rompi bertuliskan portir juga, berarti yang orang luar hanya Saeful dan satu lagi orang yang berwajah kearab araban itu.


Monggo pak… monggo mas sapa Saeful ketika hidangan pesananya sudah disajikan oleh pemilik warung itu. Semua yang ber rompi oren membalas sapaan Saeful dengan kata ‘monggo’ juga, kecuali laki-laki yang ada di samping kirinya.


Laki-laki itu hanya diam sambil menatap ke depan tanpa berkedip, di depan dia ada piring kosong bekas makanan pesananya dia, dan ada pula segelas kopi yang tinggal ampasnya saja.


Saeful melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan ternyata saat ini sudah pukul 21.00. setelah makanan yang dia makan habis, kemudian dia memesan segelas kopi hitam sambil mengembalikan piring kosong kepada penjualnya.


Tiga orang portir sudah kembali ke stasiun kereta api karena saat ini ada kereta api yang datang, di warung itu kini tinggal Saeful dan orang yang berwajah kearab-araban, anehnya mereka berdua tidak betegur sapa sama sekali.


“Bu, warung ini buka sampai jam berapa?” tanya Saeful kepada pemilik warung yang ada di depanya


“Sampai pag mas, saya njagani petugas portir stasiun mas, kasihan mereka itu kan kadang kerja hingga pagi mas” kata penjual itu lagi


“Sampeyan tinggal dimana mas?” tanya penjual itu


“Di mushola bu, saya tidur di mushola yang disana itu bu” jawab Saeful


Saeful kembali melihat jam tanganya lagi, dan ternyata sudah menunjukan waktu pukul 22.00, dan sudah saatnya Saeful untuk balik ke mushola. Tetapi orang yang ada di sebelah kiri dia masih ada disana, dan tidak berbicara sama sekali kepada Saeful.


Setelah melakukan pembayaran atas makanan dan kopi hitamnya, Saeful pergi dari warung dan menuju ke mushola. Ternyata di mushola sudah ada Ali yang sedang duduk-duduk sambil memainkan ponselnya


“Lho mas Ali kok ada disini mas” sapa Saeful


“Iya Pul, didalam sumpek, lagi pula saya mau sholat malam juga disini, mumpung kita ada di mushola Pul. Kamu dari mana tadi Pul?” tanya Ali


“Habis dari warung disana mas, makan malam sekalian ngopi mas heheheh”


“Wah enake rek, nanti antar saya kesana ya pul, kalau pas lagi kepingin ngopi” kata Ali


Ketika mereka berdua sedang terdiam dari ngobrolnya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki orang yang berasal dari arah rel kereta api.


Ternyata orang yang berwajah kearab araban itu, dia berjalan dari arah rel kereta api menuju ke arah jalan raya yang pastinya akan melewati rumah mbahnya Dogel.


Saeful dan Ali kebetulan duduk di bagian teras dekat dengan pintu kaca ruang utama mushola, sehingga ali dan Saeful tidak terlihat dari jalan setapak.


Ali melihat jam tangan digitalnya, kemudian dia menyalakan backlight jam tanganya


“Sudah pukul 22,45 ini Pul, tapi  siapa orang yang tadi jalan dari rel kereta api itu?” tanya Ali iseng


“Ndak tau mas, orang itu tadi makan di warung juga, dan dia pendiam sekali mas, saya sapa dia tidak, menjawab sama sekali” jawab Ipul


Tiba-tiba orang itu berhenti tepat di depan pagar rumah mbah Dogel, orang arab mencurigakan itu hanya diam di depan pagar rumah

__ADS_1


__ADS_2