
“Siapa mereka, dan apa yang akan mereka lakukan dengan vila ini, kenapa mereka akan memalsukan surat kepemilikan vila?, ini sudah masuk ranah hukum Negara!” batin Wildan
“Harus segera di hentikan, jangan sampai mereka melakukan apa-apa dengan vila ini Pul” kata Wildan kepada Saeful setelah Wildan berhasil mencuri dengar apa yang diomongkan dengan dua orang itu di atas
“Kita harus segera memberitahu yang lainnya mas, jangan sampai terlambat mas, karena nampaknya semua sudah siap di posisi masing-masing, truck sudah siap, dan kemungkinan besar alat pemotong juga sudah siap di halaman vila mas”
“Ayo kita masuk ke ke ruangan biru saja Pul, kita harus segera hentikan ini, mumpung masih ada waktu untuk menyabotase apa yang akan mereka lakukan Pul”
“Tadi aku juga sempat dengar kalau mereka tidak takut dan tidak percaya dengan yang namanya mahluk astral atau demit, jadi kita harus lebih keras untuk menakuti mereka agar mereka menyingkir dari sini secepatnya” kata Wildan lagi
“Tapi apa mereka itu Supardi dan dukun palsu mas, karena dari suaranya kelihatanya mereka itu bukan dukun palsu dan Supardi mas”
“Berarti ada orang lain lagi yang kesini, semakin rame saja tempat ini Pul, kita harus melakukan sesuatu agar tidak semakin banyak orang datang kesini untuk berburu harta karun Pul. Ayo kita ke ruangan biru sekarang dan ceritakan kepada yang lainya apa yang terjadi di atas sini”
Mereka berdua kemudian menuju ke pintu masuk ruangan biru, keadaan disana saat itu benar-benar harus dibenahi karena orang-orang pencari harta mulai merusak vila itu. Mending si dukun palsu itu, mereka hanya kemping di depan vila, mending juga si Supardi yang hanya bikin terowongan menuju ke ruang bawah tanah.
*****
“Yah begitulah yang tadi kita lihat di atas rek. Gimana menurut kalian, karena kita harus segera hentikan perusakan yang ada di atas itu” kata Wildan setelah mereka berdua ada di dalam ruangan biru bersama teman-teman lainya yang sudah menunggu kehadiran Wildan dan Saeful
“Tapi jangan salah sangka, di parkiran tempat yang biasanya itu ada mobil dukun palsu, dukun yang sempat mbak Novi bikin pingsan itu, jadi kemungkinan besar dukun itu ada disana juga lho” kata Saeful
“Berarti kesimpulan yang bisa kita tarik adalah, dukun dan Supardi itu mengundang orang lain lagi, nah orang lain itu punya cara sendiri untuk membongkar ruangan bawah tanah yang ada di sini” kata Ali
“Haiyaaaa, semakin lama keadaan semakin tak kaluan aaaaa, setelah ada anak Kamidi sekalang ada pelusak. Kalian halus segela hentikan itu anak anak, atau lumah kalian ini akan hancul” kata pak Pho yang tetap bersemayan di dalam tubuh Dani
“Gimana rek, kalian ada ide apa untuk ngusir mereka, kalau menurutku kita harus sabotase alat-alat mereka malam ini, karena tadi aku dengar pagi besok mereka akan mulai penebangan. Padahal Truk yang akan digunakan untuk mengangkat kayu sore ini apabila tidak dimuati akan pergi dari sana” kata Wildan
“Malam ini saja kita lakukan mas, sabotase semua alat pemotong pohon dulu yang paling penting” kata Novi dengan semangat.
“Harap diingat rek, mereka tidak percaya dengan hal klenik dan demit. Mereka hanya percaya pada alat yang bisa menghancurkan vila ini saja. Jadi menurutku, mereka harus diserang dengan ghaib, agar mereka percaya dan segera pergi dari sini” kata Wildan lagi
"Pak Pho, apa yang harus kita lakukan pak, kita harus bisa sabotase mereka pak, paling tidak kita harus bisa rusakan alat-alat mereka agar mereka tidak bisa melakukan apa-apa pak”
“Tunggu nanti malam saja laaaaa, lewat lolong halaman belakang aaaa, satu olang bikin pengalihan satu olang lagi lusak kan alat meleka, haiyaaaaa”
“Saya saya yang naik ke sana pak” kata Broni
“Saya juga pak”Saeful menawarkan bantuanya
“Sama Saya juga pak” Novi tidak lupa untuk ikut
“Saya ikut juga pak” kata Ali
“Shudah… shudah cukup, kalian beldua bikin pengalihan yang lainya lusakkan alat meleka, tapi ai belum tau dimana meleka simpan alat-alat meleka lhaaaaa” kata pak Pho
“Begini saja pak, saya akan keluar ke sana dan pura-pura jadi penduduk sini yang sedang mencari demit pak, jadi mirip dengan yang dilakukan Saeful” kata Gilank
“Saya akan keluar dan kemudian mendekati salah satu dari mereka, dan ngomong kalau disini ada demit yang suka mengganggu, dan saya ajak dia untuk membuktikan omongan saya” kata Gilank yang tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut membantu
“Kemudian saya ajak orang itu menjauh dari temanya agar ada yang bisa mengeksekusinya tanpa suara keributan”
“Setelah salah satu orang bisa dilumpuhkan, saya akan teriak-teriak bikin gaduh agar teman lainya mendatangi saya, dan akhinya kita tau ada berapa orang yang disana kan, nah itu akan menjadi tugas kalian masing-masing”
__ADS_1
“Bagaimana misalnya kalau yang ikut kamu itu tidak satu orang Lank, gimana kalau misal dua orang atau tiga orang yang ikut denganmu melihat demit yang ada disini?” kata Ali
“Nah lebih bagus lagi itu Li, jadi ada saksi mata yang akan melihat bahwa salah satu temanya tersungkur pingsan karena dilempar batu oleh demit yang ada disini” jawab Gilank
“Pastinya orang itu akan panik kan, kalau dia tidak panik, aku yang akan buat kepanikan disana, sehingga teman yang lainya akan mencari sumber suara yang berasal dari mulutku”
Setelah kalian tau yang ada disana ada berapa orang, maka tugas kalian untuk melumpuhkan mereka satu persatu tanpa suara. Bagaimana ideku iki rek” kata Gilank sambil tersenyum dan tidak bau lagi itu
“Bisa..bisa kita terapkan mas, dan masuk akal juga ide mas Gilank ini” kata Novi
“Tapi kita harus keluar dari lorong yang ada di sisi jurang, agar mereka tidak curiga, mas Gilank juga jangan pakai baju, telanjang dada aja dan jangan pakai topi, agar botak bagian atasnya kelihatan mas” kata Novi
“Lha aku lak koyok wong edan Nov” sahut Gilank
“Bukan orang Gila mas, tapi orang agak gendeng karena sedang mencari ilmu kesaktian di daerah sini dan kebetulan mas Gilank lihat ada aktifitas di vila ini. gitu mas heheheheh” jawab Novi
“Gimana, apa Idenya mas Gilank bisa diterima, kalau bisa diterima, malam ini kita laksanakan, tapi Novi bersama mas Saeful, untuk aksi pertama ini. Setelah tau yang ada disana sekian orang maka Novi akan selesaikan semua bersama mas Saeful”
Kalau urusan dengan yang awal selesai dan tidak ada lagi yang muncul, Mas Gilank akan teriak screeaam keras agar mereka yang masih ada disana menjadi panik dan akan Novi selesaikan juga semuanya”
“Kamu ini macam jagaoan saja Nov, bilang selesaikan selesaikan, apa kamu sudah berpikir siapa yang sedang kamu lawan?” tanya Wildan
Hehehe wajar Wildan tanya seperti itu kepada Novi, karena Wildan belum tau keahlian tersembunyi Novi yang mirip ninja itu heheheh,
“Tentu saja Novi bisa mas, emangnya Novi cuman bisa ngerias wajah dan nganten aja hihihihi. Dahlah, pokoknya nanti kita akan buktikan yang ada di atas sana” sahut Novi
“Ya sudah kalau kalian sudah yakin haiyaaa.. sekalang mau kalian lakukan kapan anak-anak” tanya pak Pho
“Sik pak, eh sekarang jam berapa rek?” tanya Wildan
“Jam Sembilan Gilank dan Novi plus Saeful keluar lewat lorong yang ada di jurang, kita juga keluar Bron, tapi kita tetap di sisi jurang untuk jaga-jaga kalau mereka butuh bantuan tenaga, gitu ya rek?” kata Ali lagi
“Pokoknya gilank gak pakek baju dengan celana cut brai keluar dari lorong dan menuju ke pintu gerbang vila, kamu tapi jangan masuk dulu Lank, cari dulu orang yang ada disana, kemudian kalau sudah ketemu seseorang, kamu samperan itu orang Lank” kata Ali
“Sedangkan Novi dan Saeful juga waspada lihat semua arah, apakah ada orang lain disana, kalau aman, kalian bisa ikuti Gilank masuk ke dalam Vila, dan kalian cari tempat sembunyi yang bisa meihat posisi Gilank dan lawan bicara Gilank, agar kalau mau eksekusi mudah”
Setelah semua memahami tugas masing-masing, tepat jam 21.00 mereka memulai aksinya. Yang pertama keluar adalah Gilank, dia keluar dari lorong sisi Jurang tanpa menggunakan pakaian, bahkan dia juga melepas celana panjangnya agar dikira dia adalah orang yang sedang mencari ilmu.
“Hihihihim kuntila mas Gilank ternyata cuman sejentik mas hihihihi, terus apa enaknya ya punya kuntila segitu mas hihihihi” kata Novi yang sedang melihat kuntila Gilank
“Ndasmu Nov, sejentik iki nek mbok pegang bisa jadi sak pisang ambon chok!” kata Gilank yang berjalan keluar dari lorong dan menuju ke arah jalan di depan vila dengan kondisi telanjhang, dan hanya memakai smphak saja
Novi dan Saeful bersiap siap juga keluar dari sisi jurang apabila Gilank sudah melakukan percakapan dengan orang yang ada disana.
“Mas Saeful, lebih baik kita masuk ke Vila lewat sana saja mas, lewat pagar yang berlubang di pojokan sana” kata Novi. Yang kemudian mengajak Saeful segera menuju ke arah pagar yang berlubang di pojokan vila.
Tidak lama kemudian ada teriakan dari orang yang melihat kehadiran Gilank dimana Gilank saat ini sedang berdiri di pagar vila dengan kedua tangan yang memagang besi pagar vila.
“HEIII SIAPA KAMU ….PERGI DARI SINI!” usir orang yang memergoki Gilank yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang memegang besi pintu pagar
Orang itu juga mendatangi Gilang yang tidak bergeming dengan teriakanya, dan tetap ada di depan pagar dengan wajah polosnya.
“SIAPA KAMU, APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI!” bentak orang itu yang sekarang ada di depan Gilank
__ADS_1
“Harusnya saya yang tanya kamu, apa yang kamu lakukan disini” kata Gilank dengan suara datar tak berekspresi
Orang itu terdiam beberapa saat , dan kemudian dia berkata lagi.
“Ini vila kami dan kami berhak untuk melakukan apapun disini” kata orang itu kepada Gilank yang masih ada disna
“Cepat pergi dari sini atau kamu akan mati oleh demit yang menguasai vila ini” kata Gilank yang kemudian menunjuk ke arah dalam
“Kamu bukan pemilik vila ini, itu disana itu yang memiliki vila ini” tunjuk Gilank ke arah dalam vila
Gilank melakukan gerakan absurd dengan menggoyang goyangkan pintu gerbang vila hingga terbuka dan kemudian dia berkata kepada orang itu lagi.
“Disana…disana ada pemilik vila ini, dan kalian semua akan mati kalau tidak segera meninggalkan vila ini” kata Gilank tanpa melihat ke arah laki-laki yang ada didepanya yang sedang bingung dengan kelakuan Gilank yang makin menjadi-jadi
Karena akibat goyangan Gilank pintu gerbang vila,mengakibatkan ensel pengunci yang sudah berkarat itu lepas, dan pintu itu pun terbuka, tiba-tiba Gilank lari masuk ke dalam sambil berteriak teriak kegirangan.
Gilank memutari taman vila ini sambil berteriak dengan harapan semua yang ada disini keluar.
“HEEEI BERHENTI ..KELUAR DARI SINIIII!” teriak orang yang masih ada disana
Ternyata apa yang dilakukan Gilank ini mengundang perhatian teman orang yang tadi berbicara dengan Gilank. Ada sekitar dua orang yang menghampiri dan berusaha menangkap Gilank.
Gilank tidak berusaha menghindar ketika dua orang itu ikut mengejar dirinya, Gilank kemudian malah duduk di rumput taman menghadap ke vila.
“KITA TANGKAP ORANG GILA INI SIMON, DAN USIR DIA DARI SINI SEGERA!” Kata orang itu kepada temannya yang baru datang yang ternyata bernama Simon.
Ketika ketiga orang itu udah dekat dengan posisi Gilank yang sedang duduk bersila menghadap ke arah vila yang gelap kemudian Gilank berkata kepada mereka.
“Kalian bertiga diam, dan lihat ke arah yang sedang aku lihat, dan rasakan energi kemarahan dari pemilik Vila ini” kata Gilank yang tanpa menoleh ke arah tiga orang yang ada di disamping Gilank
Anehnya mereka bertiga ikut diam hingga kemudian Gilank berkata lagi kepada mereka.
“Salah satu dari kalian maju ke depan saya, kalian harus minta ijin untuk melakukan kegiatan disini, atau kalian akan tekena musibah yang mengakibatkan kematian” kata Gilank yang tetap diam tanpa bergerak sedikitpun
“Hahahahah dasar orang gila, ayo cepat kamu keluar dari sini, karena vila ini adalah milik kami!” kata oang satunya
“Kalian tidak percaya dengan pemilik vila ini? baiklah, kalian akan menyesal dan menarik perkataan kalian kepada saya tadi” kata Gilank
Tiba-tiba tanpa disadari sebongkah Batu melesat dan mengenai pelipis orang yang ada di depan Gilank, batu itu sangat cepat, karena dilempar dengan kecepatan tinggi oleh Novi.
Orang yang ada di depan Gilank tanpa bersuara sama sekali kemudian ambruk dan pingsan di depan Gilank, tentu saja dua orang yang ada disamping Gilank tidak tau apa penyebab temanya itu pingsan, yang mereka berdua dengar hanya sebuah benda keras yang mengenai anggota tubuh temanya yang pingsan tadi
“Haaaaaa apa yang terjadi dengan Ronald!.. kenapa dia tiba-tiba tumbang.. ayo cepat bantu saya Simon” kata orang satunya yang sedang jongkok sambil berusaha membangunkan temanya yang bernama Ronald
“TIPUAN APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN INI ORANG GILA!” teriak orang yang sedang mamangku temanya yang bernama Ronald yang sedang pingsan itu
“Tidak ada tipuan disini, yang ada hanya kemarahan dari pemilik vila yang ada disana” tunjuk Gilank pada bangunan vila yang gelap dan
“Tidak ada yang namanya mahuk ghaib, tidak ada yang namanya demit, yang ada hanya tipuan kamu saja bangshat!” teriak yang bernama Simon itu.
Baru saja Simon selesai bicara tiba-tiba ada batu besar lagi yang menghantam kepala bagian belakang orang itu hingga jatuh terjerembab ke depan menindih tubuh Gilank yang tanpa busana sama sekali.
“Athoooohhh…. Kalau pingsan yang bener dong, masak kuntilaku mbok tindih gini chok! Ini mas depanku chok!” teriak Gilank
__ADS_1
Laki-laki yang tadi sedang memangku tubuh temannya yang bernama Ronaldpun sempat kebingungan dengan ambruknya dua temanya itu.
“Siapa yang suruh kalian bongkar vila ini” kata Gilank yang berusaha melepaskan diri dari tubuh Simon yang menindih tubuhnya