
“Pagi ini lebih baik kita keluar hotel dulu saja, kita cari sarapan dulu saja anak-anak, mungkin mas Broni dan mas Tifano yang pernah kesini bisa tunjukan jalan keluar dari hotel ini” kata pak Han
“Kita lurus kesana pak, nanti disana ada enam kamar hotel yang model bungalow pak, nah kami waktu itu ada di kamar nomor 6+ yang paling ujung itu pak” tunjuk Tifano pada sebuah bangunan kamar yang terlihat tak terawat karena banyak sekali ditumbuhi tanaman liar
Mereka melewati kamar-kamar yang berbentuk bungalow yang letaknya ada di sisi sebelah kiri mereka, sedangkan beberapa meter sebelah kanan adalah tembok bangunan utama hotel Waji.
“Setelah melewati kamar nomor 1+ itu kita nanti ke kanan pak, ada sebuah pintu kecil yang tembus ke bangunan utama dari hotel Waji” kata Tifano
“Wuiihh hotel ini nampaknya sudah lama tidak dihuni ya mas, kok rumputnya tinggi sekali mas” kata pak handoko
“Nah ini yang aneh pak, waktu kami kemari itu keadaanya tidak seperti ini pak, tetapi jauh lebih teratur dan bahkan ada penerima tamunya pak, bahkan teman-teman Blukuthuq diberikan kamar nomor 6+ itu pak” kata Broni
“Hmm kembali lagi namanya juga ghaib mas, semua bisa terjadi hanya dalam waktu sekejap saja mas, jadi semua yang kita alami tadi atau bahkan nanti mungkin bisa lebih mengerikan atau bahkan menyenangkan, bukan begitu mas Gilank” tanya pak Han kepada Gilank yang sedang berusaha berjalan dengan cepat
“Ppprrrtttss. Huufff, iyah phak” jawab Gilank yang berjalan bergantian dibantu oleh Wildan, Tifano, dan Broni, kadang juga mas Saeful ikut memapah Gilank
“Nah kita keluar sana pak, agak jauh dari sini pintu gerbang hotelnya pak” kata Tifano.
Sebelah kiri mereka ada pohon mangga besar yang entah kenapa tidak ada yang berani mengambil buah mangganya, hingga banyak buah mangga yang busuk dan berjatuhan.
“Wuih pohon mangga ini menggiurkan mas, tapi jangan sekali kali kalian sentuh, coba lihat diatas sana ada apanya mas hehehehe” tunjuk pak Han pada bagian atas pohon mangga yang tinggi dan besar
“Lhoo kok banyak mbak-mbak berdaseter putih sedang duduk duduk ya hihihihi lucu mereka itu pak” kata Novi yang sedang menengadahkan kepalanya
“Pfhhh prrrtsssss, ambhilkan bhuah manggha ithu rheeek” kata Gilank tiba-tiba
“Hahahah buat apa Lank, gak usah cari gara-gara disini lah” jawab Tifano yang sedang memapah Gilank
“Pssfff pprrrttsss bhuahat lempharin khunthi ikhu lho” jawab Gilank
“Wah mas Gilank ini patang menyerah ya, meskipun dalam keadaan seperti itu masih saja ingin berbuat onar kepada demit disini” kata pak Han
Mungkin Gilank jengkel dengan mbak-mbak kunthi yang sedang duduk-duduk di batang pohon, karena mereka mengejek Gilank yang dalam keadaan seperti itu, apalagi kuntila Gilank ndangak terus, tidak bisa bubuk manis di dalam sangkarnya hihihihi.
“Apa mas Tifano dan mas Broni tau tempat kita bisa sarapan di sekitar sini?” tanya pak Han
“Di depan sana pak, dipinggir jalan ada sebuah warung kopi 24 jam yang menjual aneka jajan, mie instan, dan nasi bungkus pak” jawab Broni
Mereka sudah hampir melewati pohon beringin yang besar sekali, pohon beringin tua yang daun dan ranting dan sulurnya menutupi jalan menuju keluar.
“Wuiiih pohon beringin ini sekarang kok besar sekali ya Bron, beda waktu kita kesini, ndak sebesar ini lah ukuranya kan” kata Tifano
“Iyo Tif, saiki malah medeni ngene rek suasana hotel iki” balas broni
Tidak lamapun mereka sudah sampai di depan pagar hotel Waji, kini mereka berbelok ke arah kiri, menuju ke sebuah warung?..., ternyata bukan warung kopi seperti yang mereka datangi sebelumnya, tapi ini lebih besar dengan atap semi permanen
“Warkopnya saiki jadi besar rek, keliatanya banyak renovasi dan pemiliknya berhasil rek” kata Tifano senang
__ADS_1
“Ayo kita kesana nak, saya sudah lapar sekali ini” kata pak handoko
Mereka bersama-sama menyeberang jalan untuk menuju ke arah warung makan atau depot yang menyediakan kopi dan makanan juga keliatanya.
Mereka masuk ke warung yang sekarang sudah semi permanen keadaanya. Dalam warung ini ada beberapa meja panjang dan bangku panjang, di atas meja panjang tersaji beberapa piring yang isinya aneka gorengan yang tentu saja sudah dingin keadaanya.
Seorang anak muda datang meghampiri mereka untuk menanyakan pesanan makanan dengan menu makanan yang terpajang di dinding depot semi permanen ini.
“Maaf kak, yang ada hanya mie instan dan nasi putih saja, untuk menu lainya belum siap kak, karena masih dalam proses pembuatan, maklum ini kan masih pagi kak” kata anak muda yang menghampiri mereka.
“Ya sudah mas, tolong bikinkan mie instan goreng plus telor dan sediakan nasi putih juga mas, seadainya ada yang ingin makan mie instan dengan nasi putih” kata pak Handoko
“Sekalian bikinkan kopi hitam semua, kecuali mbak cantik itu, coba kamu tanyakan saja dia mau minum apa mas” kata pak Handoko lagi
“Novi minta es teh aja mas, tapi gulanya jangan banyak-banyak mas, dikit aja mas, soalnya Novi udah manis, takut kemanisan aja mas hihihihi” kata Novi yang mulai bisa ngobrol setelah tadi dia selalu diam mungkin kelaparan dan kehausan
“Mas Gilank bisa makan sendiri kan, atau mau di suapin sama mbak Novi yang paling ayu dewe iki mas?” goda pak Handoko kepada Gilank
“Pffhrrtttt mhalheesss, Novhiii phunhyaaa khunhtilhaaaa pprrtttsss” jawab Gilank dengan suara tidak jelas
Selesai Gilank bicara seperti tadi, tiba-tiba ada batu kerikil melesat cepat dan menimpuk kepala Gilank hihihihi.
“Adhhuuuhhhhh pprrtsssss shiaphaaa ikhiii shing lemlhar bahthuuuuu!” teriak Gilank dengan bibir petotnya
“Hihihihh rasakno Lank, makane ta ngomong itu dijogo chok!” timpal Wildan
“Gak tau mas, gak jelas juga dia ngomong apa mas, makanya tiba-tiba ada batu melesat kena kepalanya, mungkin mbak-mbak kunthi yang tadi disana itu yang lemparin mas Gilank pakek kerikil” jawab Novi
“Tapi bisa aja lain kali kalau omongnya gak dijaga, bisa-bisa yang meluncur ke kepalanya itu koral karang yang segede telapak tangan ya mas” kata Novi kepada Saeful yang hanya manggut-manggut atas penjelasan Novi
“Dulu yang punya warung ini namanya mbah Joyo pak, tapi ndak tau kalau sekarang pak, mungkin sudah ganti pemilik pak” kata Broni
“Coba nanti saya tanyakan sama pegawainya saja, tentang mbah Joyo itu” jawab pak Han
Mie instan sudah tersedia, mereka makan dengan kecuali Gilank yang terus ngomel ngomel gak karuan.
“Mas, tolong itu bapaknya yang stroke di suapin dong mas, masak bapaknya sakit stroke dibiarkan makan sendiri mas, liat itu dia ngomel-ngomel ndak karuan mas” kata seorang ibu-ibu yang sedang membeli kopi sasetan
“Prrttssss Anvhok, ghuaatzhell, asyhiiuuuu, bangshyaat, akhuu ghaak syakhit chyoook” teriak Gilank dengan mulut penuh mie instan kepada ibu-ibu yang menergurnya tadi
“Liat itu mas, saya ini hanya ngomong agar bapaknya yang sakit stroke itu disuapin, malah bapakmu misuh misuh gitu mas, orang tua ndak tau di untung, mugo-mugooo gak iso waras” kata ibu-ibu itu pergi dari warung
“Chok Lank cangkemu gak iso dijogo ta, ngawur awakmu chok” teriak Broni
“Sudah biarkan mas, Allah akan membalas perlakuan buruk manusia yang memperlakukan manusia lain dengan semena mena, inshaallah” kata Saeful tiba-tiba
“Wanzschuuuk akhuu khook dhildohakhan ghithuuuu pprrrrtts?” tanya Gilank makin gila
__ADS_1
“Mas Gilank, ingat mas, kita ini dalam sebuah misi bebahaya, kalau mas Gilank tidak bisa menjaga tindak tanduk, maka jangan salahkan apabila terjadi sesuatu dengan mas Gilank. Ingat teman-teman disini sudah bahu membahu membantu mas Gilank, tapi kalau mas Gilank seperti itu ya saya tidak tau lagi mas” kata pak Handoko yang mungkin sudah jengkel dengan kelakukan Gilank
Kemudian pak Han mendatangi karyawn warung yang ada di bagian belakang, keliatanya ada yang mau dibicarakan pak Handoko dengan mereka.
“Mas, sini sebentar mas” kata pak Handoko memangil salah satu dari orang yang melayani pembeli disini
“Inggih pak, mau pesan apa lagi pak?” tanyanya kepada pak Handoko
“Saya mau tanya, apakah dulu warung ini kepunyakaan mbah Joyo mas?” tanya pak Handoko
“Memang benar pak, dulu sebelum beliau meninggal, beliau dan Kipli yang selalu ada di warung ini pak, tapi setelah keduanya meninggal, warung ini akhirnya dikelola oleh anaknya yang dari kota pak” jawab karyawan itu
“Oh gitu, ya sudah makasih mas “ kata pak Handoko kembali ke tempat duduknya
“Benar mas Broni, dulu warung ini milik mbah Joyo, tetapi dia sudah meninggal, dan sekarang yang mengelola adalah anak dari beliau yang tinggal di kota mas”
“Oh gitu, makanya kok beda bentuk warkopnya sama jaman saya kesini dengan anak-anak Bluekuthuq pak” jawab Broni
“Semua sudah selesai makan belum, kalu sudah selesai kita ke hotel saja untuk melihat apa saja yang ada disana, mumpung masih pagi menjelang siang ini anak-anak. Mungkin disana ada kamar mandi yang bisa kita gunakan untuk buang air besar kan lumayan mas hehehe”
“Gilank yang belum selesai pak, dia masih separuh mie instanya pak” kata Tifano yang setia menemani Gilank
“yanchoook Thifffpprrrttt, dhasahaar wadhulan prrttsss” kata Gilank tiba-tiba
“Lheee opo se Lank, kamu kok sekarang suka emosi se Lank, mbok ya yang sabar kalau memang keadaanmu sudah mendekati ajal , biar masuk syuuurrr ga kamu Lank hihihihi” jawab Tifano
“Kita tunggu mas Gilank dulu saja anak-anak” kata pak Handoko
Setelah beberapa belas menit kemudian barulah beres juga makanan si Gilank, tentu saja dengan kondisi mulut dan baju bagian dada yang lumayan kotor, dan tentu saja Tifano yang setia membersihkanya.
“Ngomong-ngomong kamu kok setia sekali sama Gilank Tif, koyok seorang anak yang meladeni bapaknya yang terkena stroke ringan hihihihi” kata Broni
“Chok Bron, nek gak gini ya makin lama Chok!” balas Tifano yang sedang membersihkan mulut dan baju bagian dada si Gilank
Singkat cerita mereka kini sudah ada di dalam wilayah hotel Waji, mereka menuju ke kamar nomor 6+ tempat Tifano, Broni dan teman-teman dari Blurkuthuq menginap.
“Biar saya periksa dulu mas keadaan di dalam, kalau memang aman, kita bisa masuk ke dalam mas, syukur-syukur kalau air disini masih mengalir mas heheheh” kata pak Handoko
“Saya temani pak” kata Tifano yang kemudian membiarkan Gilank bediri tanpa sandaran
“Yhanchoook Thiiifff prrrttss” teriak Gilank
Kedua orang itu kini ada di teras kamar 6+ kamar yang pernah didatangi oleh Tifano dan Broni
“Apakah waktu kalian kesini terakhir pintu ini terkunci mas Tif?” tanya pak Handoko
“Jelas tidak pak, kan kuncinya ada di dalam ketika kami lari dari kamar ini pak” jawab Tifano
__ADS_1
“Kalau begitu pastinya pintu itu bisa dibuka dong mas Tif, coba saya bukanya saja ya, mas Tifano di belakang saya saja” kata pak Han