
Perjalanan pagi menjelang siang menuju ke Gebang dapat terlaksana tanpa ada kendala, Saeful yang mengendarai motor, dan Novi yang ada di boncengan tetap berada di depan mobil yang melaju dibelakangnya
Pada siang hari yang terik mereka sudah masuk daerah Gebang, perjalanan sampai di Gebang membutuhkan waktu sekitar tiga jam, karena mereka harus lewat jalan umum yang kadang ada kepadatan.
“Mas Saeful, apa kita tidak cari makan siang dulu?” tanya Novi yang ada di belakangnya
“Mbak Novi, lebih baik kita tidak berhenti mbak, atau gini saja mbak, kita antar mereka hingga pintu masuk. Kemudian kita carikan nasi bungkus untuk yang ada disana semua mbak, gimana?”
“Oh ide bagus mas Saefulkuuuu, oklah mas, kita antar mereka dulu mas”
Motor dan mobil beriringan di jalan yang berliku-liku di antara hutan dan jurang daerah Gebang hingga sebelum tikungan ke kiri motor Saeful berhenti mendadak.
“Mbak Novi, lebih baik ada yang periksa disana dulu mbak, takutya ada orang atau sesuatu yang ada disana dibalik tikungan ini mbak”
“Hmmm bener juga mas, bentar Novi turun dulu, Novi mau bicara sama anak-anak yang ada di mobil dulu mas” kata Novi yang kemudian turun dari motor Saeful dan menuju ke mobil yang ada di belakangnya.
Ali yang ada di sebelah Wildan ikut turun untuk berbicara dengan Novi.
“Ada apa Nov, kok berhenti disini”
“Gini mas Ali, kita harus periksa di sana dulu mas, takutnya ada orang atau siapapun disana mas”
“Eh atau gini saja mas Ali, gimana kalau mbak-mbak ini turun disini dan jalan melalui sisi jurang saja, sementara itu mobil dan motor biar mas Wildan dan mas Saeful yang taruh sana” kata Novi lagi
“Ya wis gitu aja Nov, ayo kita kasih tau yang ada di mobil dulu saja agar turun disini dan membawa ransel mereka masing masing, Wildan biar aku kasih taunya juga Nov” kata Ali
Novi menuju ke motor yang sedang ditunggui Saeful.
“Mas Ipul, rencananya Novi ubah mas, yang lainya turun dan jalan lewat jurang, sementara mas Saeful bersama mas Wildan tetap disini untuk memarkir mobil dan sepeda motor ini di tempat biasanya atau dimanapun yang aman”
“Eh dari pada parkir disini, mending saya balik ke masjid saja mbak, untuk taruh motor ini, nanti saya jalan kaki kesini atau naik ojek saja mbak”
“Lho kalau begitu Mobil Novi juga taruh di masjid saja juga mas, takut ada apa-apa disini, tapi yakin ya mas, ada ojek yang bisa antar sampai sini?” tanya Novi
“Ada mbak Nov, banyak ojek yang bisa antar sampai sini mbak” jawab Saeful
Ok mas, kalau gitu Novi bilang ke mas Wildan dulu saja…..
Singkatnya Wildan dan Saeful menuju ke masjid yang ada di Gebang tampat Saeful selama ini tinggal sebagai takmir masjid. Sedangkan sisanya menuju ke terowongan ruangan biru untuk selamatkan ketiga orang perempuan yang menjadi target Totok.
Novi ada di paling depan, dibelakang Novi ada Winna, Chandra, Chinta, Tifano, Gilank dan yang paling belakang adalah Ali, mereka menyusuri sisi jurang untuk menuju ke pintu masuk ruangan biru. Tentu saja perjalanan mereka ini tidak semulus tanpa ada ketiga perempuan itu.
Wajarlah karena ketiga perempun itu tidak pernah berada di sisi jurang dan berjalan dengan posisi miring dengan beban ransel di pundak mereka masing-masing.
“Mas-mas, bisa tolong bawain ransel mbak-mbak ini nggak, mereka kasihan tuh keberatan mas” kata Novi ketika berhenti sejenak untuk istirahat
Akhirnya tiga ransel itu dibawa Gilank, Tifano, dan Ali sehingga langkah tiga perempuan itu bisa lebih cepat dan lebih bebas tanpa ada beban berat di punggungnya.
“Ini masih jauh Nov?” tanya Winna yang tepat ada di belakang Novi
“Udah gak mbak, kan diatas itu udah pagar vila putih mbak, bentar lagi kita sampai di pintu masuk lorong kok mbak, tapi nanti jangan takut gelap ya, karena lorong itu akan gelap sekali keadaanya mbak” kata Novi
Tiba-tiba perjalanan yang tinggal sebentar lagi itu dihentikan Novi. Novi menyuruh mereka untuk diam tidak bergerak dan tidak menimbulkan suara sama sekali.
Novi menunjuk ke atas, dan memang benar di atas atau di jalan depan vila sepertinya ada orang yang sedang bercakap-cakap. Mereka diam tidak bergerak sama sekali hingga mereka dengar orang yang sedang bercakap itu semakin jauh dan semakin menghilang suaranya.
__ADS_1
“Ayo kita lanjutkan, nampaknya mereka sudah pergi dari sana” bisik Novi
Tidak begitu jauh mereka sudah sampai di depan pintu masuk terowongan, terowongan yang menuju ke ruangan biru.
Novi mendorong batu yang berupa lempengan yang terlihat berat, tetap sebenarnya tidak berat berkat engsel yang dibuat oleh leluhur keluarga Tan yang benar-benar presisi itu.
“Ayo kita masuk, dan selama datang di ruang bawah tanah vila putih mbak” kata Novi yang berjalan di depan
“Eh gelap sekali ya Nov, apa tidak ada penerangan disini, apa boleh Chinta nyalakan senter dari Hp mbak?”
“lebih baik jangan dinyalakan mbak Chinta, mata kita lama kelamaan akan terbiasa dengan keadaan yang gelap ini kok, tenang saja mbak” kata Ali yang ada di paling belakang
Tidak ada tiga menit ketiga perempuan ini sudah bisa melihat bayangan teman yang ada di depanya, meskipun hanya bayangan saja tetapi hal itu sudah banyak membantu di keadaan seperti ini.
“Eh aku udah bisa lihat kalian meskipun hanya bayangan saja, lha terus nanti di ruangan biru keadaanya bagaimana Nov?” tanya Chandra
“Heheheh ikuti Novi aja dulu mbak nanti kalian akan tercengang dengan yang ada di dalam sana mbak heheheh” kata Novi
Perjalanan mereka menuju ke ruangan biru bisa terbilang mulus, tidak ada apa-apa sama sekali, lalu bagaimana dengan Wildan dan Saeful yang tadi menuju ke masjid untuk menitipkan Mobil dan mengembalikan motor Saeful?
“Pul, mobil aku parkir di sebelah sini saja ya, agar agak dingin tempatnya”kata Wildan yang menaruh mobil Novi di pinggir tembok yang di atasnya ada oningnya
“Gak papa mas Wil, disana saja biar gak kepanasan mobilnya” kata Saeful setelah menaruh motornya di dalam ruangan semacam garasi bagi para takmir disana.
Setelah itu mereka berdua menuju ke pangkalan ojek di sekitar pertigaan Gebang. Mereka mencari ojek yang mau mengantar ke vila putih, tetapi sayangnya dipangkalan ojek tidak ada satu ojek pun yang sedang mangkal.
“Gimana ini mas, apa kita jalan kaki saja ke atas mas?” tanya Saeful
“Iya Pul…gimana lagi, ndak ada ojek yang mangkal sama sekali jeh, mana ini sudah semakin sore juga, lebih baik kita jalan saja ke sana lah”
“Aneh mas, biasanya disini ada saja ojek yang sedang mangkal, tapi kenapa hari ini tidak ada satupun yang mangkal ya?” gerutu Saeful sambil berjalan ke atas bersama Wildan
“Iyo mas jaman dulu kan gak ada ojek, adane opo mas, dokar ya mas, dokar yang ada di rumah sebelah vila itu kan mas”
“Iya, dokar itu, itu dokar yang biasanya kita gunakan untuk perjalanan jauh, dulu itu dokar milik pak Ponidi, aku ingat betul dengan ciri dokar itu” kata Wildan
Mereka berdua kemudian irit ngomong agar tidak haus, karena siang menuju sore hari ini cuaca disini sedang panas-panasnya. Mereka berjalan di pinggir jalan tanpa memperhatikan apapun hingga pada suatu tikungan.
“Pul, apa kamu dengar ada suara mesin…ayo cepat kita sembunyi di sisi jurang saja sekarang”
Mereka berdua secepatnya menuruni jurang yang ada di sebelah kanan mereka, mereka berdua menunggu hingga suara mobil itu melewati mereka berdua.
“Mobilnya kenapa berjalan pelan sekali mas, sepertinya dia sedang mencari sesuatu atau sedang menunggu sesuatu mas” kata Saeful
“Kita tunggu hingga dia lewat dulu Pul, baru kita naik ke atas, aku penasaran ada apa diatas sana itu. jangan-jangan si orang gila lagi itu Pul”
“Orang gila siapa mas Wil, Kan kemrin lusa itu hanya pemilik rumah sebelah sama dukun palsu, tapi aku lupa namanya mas”
“Mereka itu ya orang gila semua Pul, gila harta, dipikir disini ada harta terpendamnya wahahahaah”
Pelan-pelan suara mobil yang bermesin besar itu melewati mereka berdua yang sedang sembunyi di sisi jurang. Tidak hanya satu mobil, tetapi dua hingga tiga mobil melewati mereka menuju ke arah atas.
“Ojok-ojok diatas sana itu ada semacam pertemuan atau jamboree gitu Pul, kok sudah ada tiga mobil bermesin besar yang lewat di atas kita, koyoke itu truk Pul”
Kendaraan itu sudah agak jauh suaranya, sekarang saatnya mereka akan keluar dari tempat persembunyiannya.
__ADS_1
“Mas Wil apa kita ndak kejar saja truk itu mas, kita kan ndak akan terlihat dari sini mas” ajak Saeful untuk mengejar tiga kendaraan yang barusan melewati mereka berdua.
“Jangan Pul kita jalan biasa saja dan waspada dengan apa yang ada di sekeliling kita Pul, yang aku khawatirkan kendaraan yang lewat tadi itu tujuanya untuk membongkar vila putih, bisa saja yang tadi lewat itu eskavator lho” kata Wildan
“Tapi kalian kan punya buki kepemilikan mas, apa ndak bisa tunjukan kepada Badan Pertanahan Negara mas?”
“Nah Itu dia Pul, bukti kepemilikan kita itu kan bukti kepemilikan turun-temurun Pul, bukti yang bertuliskan huruf mandarin dan aku yakin bukti itu belum didaftarkan ke badan pertanahan, heheheh mana ada jaman dulu itu badan pertanahan Negara Pul hihihi”
“Ah iya sih mas, masak kayak gitu, harus di daftarkan dulu mas, tapi memang apakah kalau didaftarkan kemudian vila itu bisa menjadi milik kalian secara resmi mas?”
“Hehheeh aku dewe yo gak paham Pul hihihi, tadi lho aku asal ngomong ae kok heheheh” jawab Wildan sambil cengengesan
“Halah onok ae sampeyan iki mas hahahah. Pokoke yang aku rasa sekarang ini ada orang pemburu harta yang berusaha melakukan pembongkaran vila putih mas”
“Nah itu dia Pul, yang sedang kupikir itu mereka akan melakukan pembongkaran vila putih secara liar, ini bisa kita laporkan ke pulisi, tapi nanti dulu, kita harus lihat dulu apa betul mereka sedang melakukan kegiatan itu?”
Akhirnya untuk memastikan apa yang sedang mereka pikirkan, Wildan dan Saeful sedikit berlari menuju ke vila putih… mereka berlari hingga mereka bisa melihat tiga truck yang sedang berhenti disana.
Tiga buah truck kecil dengan bak kosong sedang parkir di pinggir jurang. Tanpa menyalakan mesin mereka.
“Keliatanya mereka sedang menunggu sesuatu Pul. Ayo kita datangi mereka, karena pasti yang ada disana itu hanya supirnya saja, sedangkan bos nya pasti lagi ada di vila putih sana” kata Wildan
Mereka mendatangi truk yang paling belakang, untuk mereka tanyai apa tujuan truck colt diesel itu disana. Wildan menuju ke arah supir truck yang sedang berdiri di samping trucknya sambil merokok.
“Permisi mas, eeee ada apa ya mas kok disini ada truck yang sedang parkir?” tanya Wildan kepada supir truck yang sedang menunggu perintah untuk jalan
“Anu mas di bagunan tua itu lagi ada penebangan pohon besa- besaran mas, dan kita disuruh ambil pohon yang sudah dipotong-potong itu” kata supir truck itu
“lha kenapa kok kalian nunggu disini, kenapa ndak disana saja mas” tanya WIldan lagi
“Hahahahh lha gimana mau kesana, wong pohon-pohon besar itu belum juga dipotong, ini saja kalau sampai satu jam kami belum dimuati, kami akan tinggal cari muatan lain mas” kata supir truk itu
“Ya wis kalau gitu mas, coba saya kesana mas, saya mau lihat juga proses penebangannya” kata Wildan
Wildan dan Saeful berjalan menuju ke arah vila putih untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi disana, mereka berjalan setengah berlari hingga kini mereka sudah sampai di lahan parkir sebelum vila putih.
Lahan parkir yang biasanya dulu dibuat untuk parkir dokar ternyata sudah terisi dengn mobil milik Dukun palsu yang kemain lusa berisi tiga mayat itu.
“Itu mobil dukun yang sempat kesini dan berhasil dibuat susah oleh mbak Novi mas, berarti dukun palsu itu masih ada disana mas” kata Saeful
“lebih baik kita lewat sisi jurang saja Pul, jadi disana masih dukun palsu dan Supardi anak dari Kamidi gitu?” tanya Wildan
“Iya mas, ayo kita lihat apa yang sedang terjadi disana mas. Saya penasaran dengan tingkah mereka mas. Padahal sudah dibikin pingsan mbak Novi lho, tapi kok ya masih belum kapok juga mereka mas”
Akhirnya mereka menuju jurang yang ada di depan tanah kosong tempat mobil itu terparkir, dari sisi jurang mereka bisa lihat apa yang sedang terjadi di vila putih.
Mereka berjalan di sisi jurang hingga mereka mendengar suara orang yang sedang berbicara, suara itu tepat di atas mereka dan kemungkinan besar saat ini mereka berdua baru sampai di sekitar pagar vila.
“Kamu diam disini dulu Pul, aku mau naik ke atas, aku mau liat siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan diatas sana” bisik Wildan kepada Saeful, dia juga akan melihat apa yang terjadi diatas.
Wildan merangkak naik ke atas, setelah dekat dengan pinggir jurang, kemudian dia diam sebentar untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang yang ada diatasnya.
“Pelan-pelan kita aka bongkar Vila ini bos, pertama ya bersih-bersih dulu pohon dan tanaman yang ada disana, karena disana katanya banyak jalam rahasia yang menuju ke lorong bawah tanah”
“Nanti setelah pohon itu kita bersihkan maka akan kelihatan pintu masuk menuju ruang bawah tanahnya” kata salah satu orang yang ada diatas
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan ini tidak mengundang aparat polisi datang kesini, karena kita tidak punya ijin kepemilikan vila ini kan” kata salah satu orang itu
“Hahahahh tenang saja Bos, sedang kita buatkan dokumenya heheheh, nanti malam diantar kesini, pokoknya hanya untuk ditunjukan ke aparat polisi dan perangkat desa saja sudah cukup kan. Tidak untuk di check ke badan pertanahan hahahahah”