
“Sudah jelas yang ada di depan kita itu sesuatu yang mengerikan anak-anak, jadi tidak usah diperjelas lagi apa itu” bisik pak Han
“Samar-samar bentuknya seperti kuntila milik orang negro pak, hitam panjang bergerak-gerak kayak ular” ujar Novi yang otaknya hanya ada kuntila saja
“Husssh pikiranmu Nov, aku juga lagi bayangkan nek punyaku segede itu Nov, apa bisa puasin kamu Nov hihihii” Kata Tifano
“Iiih sana puasin kuda ama gajah aja mas Tif hiiih” jawab Novi
“Eh diam dulu anak-anak, saya berusaha mendeteksi energi yang ada disana itu, kayaknya itu yang harus kita bakar mas, yang ada di tengah itu yang harus kita hentikan. Saya tidak tau apa yang ada di tengah itu, tapi itu sepertinya mengerikan kalau dibiarkan nak” kata pak Handoko
“Bagaimana cara membakar kuntila eh, benda itu pak, tapi Novi masih pingin liat terus pak, soalnya bentuknya itu lho pak bikin gimanaaa gitu pak” bisik Novi tidak bisa melepaskan pandanganya pada benda aneh berbentuk lonjong mirip kuntila yang bergerak gerak itu
“Gini saja, harus ada salah satu dari kita yang menuju ke atas untuk ambil jirigen isi bensin, kita harus batalkan acara aneh itu anak-anak. Atau biar saya dan Tifano saja yang menuju ke atas, kalian berdua tunggu disini, dan awasi yang aneh itu, gimana?”
“Pak kalau kita lewat jalan yang tadi kita datang jelas kelamaan pak, pasti di sekitar sini ada pintu yang tembus ke halaman belakang ruangan ini pak” kata Ali
“Benar mas, saya juga dari tadi sedang memikirkan jalan terdekat menuju ke kamar 6+ untuk mengambil jerigen isi bensin itu. Dan saya yakin di sekitar sini pasti ada jalan tembus atau pintu yang menuju ke halaman belakang hotel” kata pak Handoko
“Bagaimana kalau bapak nyalakan senter itu sebentar saja pak, untuk menerangi daerah sini pak, siapa tau pintu itu ada di dekat kita ini pak” kata Tifano
“Resiko mas, kalau harus menyalakan senter di dalam sini. Tapi mau gimana lagi, kita perlu untuk mengetahui jalur tercepat dari sini ke luar sana mas” kata pak Handoko
“Gini saja, kita masing-masing kan membawa satu buah korek api kan, ayo kita gunakan nyala api dari korek api itu untuk menerangi dinding yang ada di sekitar kita mas, siapa tau memang ada jalur keluar dari sini mas” usul pak Han
Korek api yang model gas itu mereka kecilkan dahulu volume apinya hingga minimum, kemudian mereka nyalakan untuk menerangi keadaan terowongan yang sekarang mereka masuki itu.
Mereka nyalakan korek api itu, sinar cahaya api dari korek itu sangat kecil tapi sangat membantu dalam keadaan yang serba gelap gulita ini. Mereka berempat menerangi setiap jengkal dinding yang ada di sekitar mereka.
Hingga beberapa menit aksi mereka tidak ada yang memergoki dan memang harapan penulis tidak ada yang akan memergoki mereka lah, karena yang ada di terowongan itu semua adalah demit.
Pada akhirnya mereka menemukan sebuah guratan di dinding terowongan. dan yang menemukan dengan tidak sengaja adalah Tifano.
“Pak, disini ada semacam guratan yang berbentuk segi empat pak, ini mungkin saja sebuah pintu untuk menuju keluar pak” bisik Tifano
__ADS_1
Mereka berempat memeriksa guratan segi empat yang ada di terowangan, dan diyakini itu adalah semacam pintu, hanya saja mereka tidak tau pintu itu mengarah ke mana, karena guratan menyerupai pintu itu letaknya ada di samping, bukan di atas atap terowongan.
“Iya ini adalah pintu nak, tapi kenapa kok ada di samping, kenapa ndak di atas kita ya mas?” gumam pak Han
“Logikanya kita kan ada di bawah sebuah bangunan, harusnya pintu keluarnya kan ada di atas kita mas, bukan disamping” kata pak Han lagi
“Gini saja mas, kalian berdua mas Ali dan mbak Novi tunggu disini, saya dan Tifano kembali ke atas melalui jalan ketika tadi kita masuk ke sini. Ayo mas Tif kita pergi sekarang saja, dari pada terlambat mas” kata pak Handoko
Sesuai kesepakatan Novi dan Ali tetap menunggu disana, sementara pak Han dan Tifano kembali ke kamar 6+ untuk mengambil jirigen yang berisi bensin yang akan digunakan untuk membakar yang tadi terlihat mengerikan itu.
“Mas Ali, apa mas ingat jaman dulu kita waktu di vila putih ya mas hehehe, kita kan selalu berdua sebelum kaki mas Ali kena apa itu ya mas yang bikin kaki mas melepuh itu” bisik Novi membuka pembicaraan
“Hehehe iya Novi, tapi ada bedanya, dulu kamu belum blonde, sekarang sudah koyok bule hihihihi” bisik Ali di telinga Novi yang mengakibatkan nganu si Novinya
“Uuuughh..Jangan bisik-bisik di telinga Novi mas, kita disini cuma berdua, yang ketiga nanti setan lho mas heheheh” bisik Novi dengan nafas yang memburu di telinga Ali
Sementara itu pak Han sudah setengah jalan dengan Tifano, perjalanan mereka ya tetap melewati hal-hal yang mengerikan juga, mereka melalui lautan cairan busuk dan juga mayat-mayat. Tapi ketika Pak Han dan Tifano sudah ada di area dapur, mereka berdua dikagetkan dengan sesuatu.
“Eh mas Tif, sekali lagi saya merasa ada energi positiv disini mas, saya juga merasa mendengar ada yang bicara dengan saya, sesuatu yang akan membantu kita apabila kita mengalami kesulitan mas” kata pak Handoko
“Eh sebentar pak, saya juga…. Saya juga bisa mendengarkannya pak. Saya juga dengar ada sebuah bisikan yang mengatakan kita akan dibantu apabila mengalami masalah dengan yang ada di dalam sana” kata Tifano.
“Tapi apakah kita harus cari sesuatu yang telah membisiki kita ini pak? Karena kita saat ini benar-benar tidak mempunyai waktu untuk melakukan hal lain selain mengambil jerigen berisi bensin pak” kata Tifano sambil berjalan ke arah keluar area dapur
“Betul mas, ayo sekarang kita keluar dari sini saja, kita segera ambil apa yang kita perlukan dan kemudian kembali ke sana, kita telah meninggalkan mas Ali dan mbak Novi disana berdua. Saya takut terjadi apa-apa dengan mereka mas” kata pak Handoko sambil berlari menuju ke kamar 6+
Kini mereka berdua sedang melewati ruangan utama hotel temapat tadi mereka menyalakan dan memasang lilin di lantai, dan untungnya sampai saat ini lilin yang ada di lantai tidak ada yang mati sama sekali.
Kita kembali ke Ali dan Novi yang menunggu kedatangan pak Han dan Tifano dengan harap cemas.
“Nov, bau kita ini luar biasa busuk lho, tapi kenapa hidungku hanya membaui bau badanmu yang harum ini ya hihihihi” kata Ali
“Ah mas Ali ini, kan memang dari duluuuu Novi itukan hanyuuum wangyyyy mas . Masak mas Ali udah lupa sama bau hayum dan wangy nya Novi sih mas Hihihih” kata Novi yang sedang bersandar di bahu Ali
__ADS_1
“Uuugh Nov jangan gini ah, aku kan jadinya gak enak kalau tiba-tiba kilaf hihihih” bisik Ali
“Kan gak papa mas kalau mas Ali mau Kilafin Novi hhihihi. Novi gak keberatan kok mas, apalagi disini gelap sekali mas heheheh” bisik Novi di telinga Ali
“Gak gitu Nov, aku takut sama kuntilamu Nov, aku gak mau kalau tiba-tiba kuntila Novi yang segede gaban itu nongkrong di silitku hihihihi” bisik Ali
“Iiiiiih Novi itu udah gak punya kuntila maaasss, udah Novi potong kuntila Novi itu mas hihihihi kalau gak percaya sini pegang syelangkhangan Novi mas hihihihi” bisik Novi
“Nanti aja ah Novi, setelah kita bisa keluar dari sini, akan aku liat kuntilamu masih ada apa nggak lah hehehe, kalau sekarang kayaknya masih kurang tepat, takutnya ada apa-apa sama kita berdua Nov hehehe”
“He’eh mas, ayo kita ke depan sana mas. Novi penasaran sama yang mereka kerjakan disana mas, karena yang nampak sekarang benda yang ada di tengah itu mirip dengan kuntila mas, kuntila kalau sedang berdiri tegak mas” kata Novi yang masih mengintip melalui sisi pinggir terowongan
“Ya sudah Nov, lebih baik kita tunggu teman kita datang saja Nov. aku ndak mau mati sia-sia disini Nov, aku kan belum bubuk siang sama kamu Nov hihihi” kata Ali
“Iya mas Ali, kita duduk nunggu pak Han dan Tifano dulu aja, sama kita tetap perhatikan benda yang semakin membesar dan lebih mirip kuntila yang sedang bergoyang-goyang itu mas” jawab Novi
Lama juga mereka berdua menunggu kedatangan pak Han dan Tifano hingga pada suatu saat suara-suara berdengung itu berhenti, tidak ada suara sama sekali di sini, hanya degup jantung mereka berdua yang terdengar oleh mereka.
“Novi, siap-siap. Kayaknya akan terjadi sesuatu disini” bisik Ali
Mereka berdua makin merapat ke dinding, mereka berdua tidak tau kalau sebentar lagi arwah-arwah itu akan melewati mereka berdua.
“Mas Ali, apakah kita ini dalam keadaan yang aman?. Karena kok situasi disini mendadak sepi sekali mas” kata Novi yang mungkin saja dalam keadaan ketakutan
Ketika mereka berdua dalam keadaan ketakutan, tiba-tiba ada sebuah suara yang muncul di kepala mereka berdua. Suara yang mereka berdua tidak tau berasal dari mana asal suara itu.
"Mas ada yang berusaha membisiki kita mas, ada yang berusaha memberitahu kita agar kita berdua tenang karena dia akan membantu kita"
"Iya Nov, aku juga merasa begitu, dia juga sempat berkata agar kita tidak bergerak, karena sebentar lagi ribuan arwah akan melewati kita Nov" kata Ali
Tiba-tiba yang menakutkan dimulai, kedua orang yang tidak tau apa-apa itu merasakan hawa yang mulai berbeda, hawa, aura, suasana yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
"Mas badan Novi rasanya kok aneh mas, rasanya bingung, nggereges dan hawanya juga semakin panas mas" kata Novi yang mulai panik
__ADS_1
"Tenang Nov, keadaan seperti ini kan sudah sering kita lewati, dan kuncinya itu adalah diam dan tenang, semakin kita panik maka energi kita semakin terlepas dan energi yang terlepas itu mengakibatkan mahluk halus yang ada disini tau posisi kita Nov"
"Diam mas, ini ada yang membisiki Novi lagi dia bilang kalau namanya Bawok, dan dia suruh kita diam tidak panik, karena dia akan melindungi kita dari arwah yang akan lewat sini sebentar lagi mas" kata Novi