MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 189 ( BAGAIMANA DENGAN SUHARTO)


__ADS_3

“Sedikit Lagi kita bisa menghilangkan Suharto anak-anak”


Pak Tembol dibantu oleh dua orang sedang berusaha untuk mengarahkan Kaswasi ke tepi sungai, dimana mbok Ju sudah menandai tempat itu dari tadi


Tinggal sejengkal kemudian…


“Sekarang dorong yang kuat anak-anak!” seru pak Tembol bersamaan dengan suara Kaswadi yang jatuh ke sungai.


“Selesai sudah anak-anak”


“Sekarang kita kembali ke vila saja. sambil menunggu teamnya mbok Ju yang mungkin masih ada di sekitar sini”


“Ada di sebelah sana pak Tembol. sebagian besar dari mereka dalam keadaan tertidur pulas” kata Nank


“Waduh, ayo kita ke sana nak Nank, siapa tau mereka butuh pertolongan kita”


“Jelas mereka semua sedang dalam keadaan tertidur karena keenakan pak hihihi. Tapi kan harusnya hanya Saeful saja yang tertidur?” kata Petro


“Tidak mas Petro, sebagian besar dari mereka, kecuali mas Wildan yang masih duduk termenung, ndak tau apa yang sedang dia pikirkan mas”


“Hehehehe saya tau kenapa Wildan seperti itu mas hiihihi, ayo kita kesana mas hihihi” Kata Tifano


“Memangnya ada apa nak Tifano?”


“Sudah bukan rahasia umum pak, Wildan yang bertubuh besar itu memiliki sesuatu yang tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya”


“Ah nak Tifano ini  ada ada saja, ayo kita kesana sajalah”


Mereka menuju ke tempat dimana timnya mbok Ju berada, dan memang keadaan disana itu sesuai yang dikatakan oleh mas Nang.


“Itu  mereka pak, di tempat yang agak lebar itu , di sana mereka sedang tertidur pulas karena tenaga mereka terkuras”


“Lho jadi semuanya ikut menikmati tubuh nak Novi hehehe, kecuali nak Wildan itu ?”


“Ya mereka bergantian pak, karena mas Saeful sudah tidak mampu lagi” jawab Nang


“Lalu dimana mbok Ju, kok tidak ada di sekitar sini?”


“Mbok Ju sedang ke tempat penguasa disini, dia berusaha menenangkan beberapa penduduk disini karena mereka terganggu dengan aktivitas yang tentu saja tidak diperbolehkan disini’


“Mbok Ju beralasan karena kegiatan ini untuk mengusir dan menenggelamkan orang yang akan membuat rusuh manusia maupun ghaib yang ada disini” kata Nang kepada pak Tembol


Mereka mendatangi tempat yang tentu saja gelap dan singup, dan disana hanya ada Wildan yang sedang duduk di sebuah batu.


“Lho nak Wildan mereka ini kenapa kok pada tertidur semua?”


“Mmmm mereka kecapekan pak” jawaban Wildan sangat singkat dan jelas


“Lha nak Wildan apa tidak kecapekan seperti mereka?”


“Saya tidak pak, saya jaga mereka agar tidak ada yang terjadi dengan mereka”


“Wah nak Wildan berhati mulia juga ya, mau bersedia menjaga teman-temanya yang sedang tertidur pulas”


Tidak ada jawaban dari Wildan yang sedang sedih, kenapa sedih? Jelas sedih karena kuntila dia yang hanya sebesar pisang mas itu sama sekali tidak bisa berdiri dengan megahnya.


Tetapi bisa berdiri ketika sudah beberapa lama dibiarkan saja, tentu saja ini sangat mengganggu ketika tadi dalam keadaan yang gawat, ketika Kaswadi sudah tidak bisa mengikuti energi yang semakin lemah dari Novi.


“Ya sudah, sekarang kita bangunkan saja mereka semua nak… kita ajak mereka pulang karena Kaswadi sudah berhasil kita buang ke sungai”


“Susah pak, dari tadi saya juga berusaha membangunkan mereka, tetapi mereka masih tertidur nyenyak pak”

__ADS_1


Petro dan Tifano berusaha membangukan keempat orang yang sedang tertidur nyenyak hingga beberapa saat kemudian mbok Ju datang dari arah sungai.


“Dari mana saja mbok Ju, apa ada masalah dengan penunggu sungai ini?” tanya pak Tembol


“Iya pak tetapi mereka akhirnya mau mengerti bahwa apa yang kita kerjakan disini ini ada hubunganya dengan mereka juga” jawab mbok Ju


Semua terbangun ketika Tifano memercikan air sungai di wajah mereka berempat, dan kemudian dengan rasa kantuk yang luar biasa, mereka berjalan menuju ke vila.


“Apa yang terjadi dengan kita sebenarnya rek, kenapa kita bisa selemas ini, padahal kita tidak mengalami ejhakulasi lho ya?” tanya Ali


“Iya Li, awakku rasane remek pol , coba bayangkan kita dalam keadaan teransyang hebat, tapi kita tidak mengalami ejhakulasi sama sekali, rasane kan nda karuan” jawab Broni


“Beda lagi kalau misalnya kita kaya tadi tapi akhirnya kita alami ejhakulai, pasti lemes tapi ndak separah iki” lanjut Ali


“Kamu kenapa kok diam saja Pul apakah kamu juga mengalami apa yang kita alami  juga? rasa aneh karena kita ndak bisa sampai puncak?” tanya Ali


“Iya mas, bisa jadi seperti itu juga mas, hanya saja saya rasanya ingin mengundurkan diri saja dari misi ini dan membantu kalian”


“Apa yang tadi saya rasakan itu sudah tidak bisa dimaafkan, semua semakin menyimpang dari ajaran agama, dan saya tidak bisa menerimanya. Saya rasa sudah cukup saya ada disini bersama kalian” kata Saeful


“Lebih baik nanti saja kita bicarakan lagi nak Saeful, yang penting kita balik ke vila dulu, nanti kita bicarakan di vila nak” pak Tembol berusaha menenangkan Saeful yang mulai merasa makin aneh dengan apa yang mereka lakukan tadi.


Memang apabila dipikir secara nalar ya jelas apa yang tadi dilakukan itu jelas tidak sesuai dengan ajaran agama manapun, tetapi yang tadi dilakukan itu kan juga bertujuan menyelamatkan penduduk yang ada di sekitar sana.


Nang ada di depan memimpin rombongan yang sedang berjalan menuju ke vila, sedangkan mbok Ju ada di bagian belakang untuk memantau apabila ada yang mengikuti mereka.


Ketika mereka sudah ada di sekitar jalan menanjak yang ada di sekitar vila, tiba-tiba mas Nang menyuruh mereka untuk berhenti.


“Berhenti kalian, ayo yang sehat ikut saya, karena di depan vila ada sesuatu yang sedang berjalan” kata Nang


“Ayo nak Petro, temani saya untuk melihat apa yang sedang ada di depan vila, kalau bisa sekalian kita usir juga dia , agar tidak bikin masalah di vila itu” kata pak Tembol


Mereka semua kecuali pak Tembol ada di sisi jurang, mereka sembunyi disana agar tidak ketahuan dengan yang ada di depan pagar vila.


“Siapa yang ada di depan vila itu nak Nank?” tanya pak Tembol ketika Nang datang ke sis jurang untuk memberi tahu pak Tembol tentang keberadaan orang yang ada disana.


“Saya tidak kenal pak, tetapi sepertinya dia itu sedang mencari jalan masuk ke vila pak, buktinya dia sekarang sedang mondar mandir di sana pak”


“Hmmm saya kok curiga yang ada disana itu Suharto karena dia yang belum tau kondisi vila ini kan” kata pak Tembol


“Saya sendiri tidak tau pak, karena saya belum pernah lihat wajahnya” jawab Petro


“Ya sudah lah kita ke sana saja dan kita amati orang itu lebih dekat lagi” kata pak Tembol


Mereka berdua  berjalan perlahan lahan menuju ke arah seseorang yang sedang merunduk di jalan depan vila putih.


“Hmmm dia sedang merunduk, tidak kelihatan wajahnya kalau dari sini, tapi kalau dari tubuhnya kemungkinan besar dia  itu kan Suharto ya nak Petro?”


“Saya belum bisa melihat dengan jelas pak, tetapi dari postur tubuhnya dia kelihatanya adalah Suharto. Hebat juga dia sudah sampai disini”


“Bagaimana kalau kita datangi dia nak, terakhir dia kan lari karena ketakutan dengan semprul kan?”


“Yang ada di dalam tubuh dia itu jelas tidak berani melawan Semprul pak,  tapi apa tidak sebaiknya dibiarkan saja dia di sana pak”


“Kita kan masuk ke dalam vila tidak lewat sana pak. kita kan lewat lubang yang ada disana itu pak” tunjuk Petro pada lubang yang ada di ujung pagar”


“Kalau begitu kita tetap ada disini saja, sementara itu mas Nang beritahu mereka untuk segera masuk ke dalam vila saja. Kita tetap pantau apa yang sedang dilakukan oleh Suharto”


Nang menuju ke rombongan yang sedang sembunyi di sisi jurang untuk memberitahu kepada mereka agar segera masuk ke dalam vila, sementara itu pak Tembol dan Petro tetap memantau pergerakan Suharto


Kelakuan Suharto itu aneh, dia hanya merunduk dan kadang tengkurap di depan pagar vila, seperti tentara yang sedang mengintai musuhnya.

__ADS_1


Jelas hal ini membosankan bagi pak Tembol dan Petro, buat apa mereka berdua hanya menyaksikan orang yang tidak melakukan apapun, hanya merunduk dan tengkurap saja.


Bahkan sesekali dia berbicara sendiri, seolah olah dia sedang bersama beberapa orang dan sedang mengintai kediaman musuhnya.


“Pak, apa tidak sebaiknya kita datangi saja pak, saya curiga apa yang dia lakukan itu hanya mengintai saja pak. Siapa tau dia bisa kita sadarkan dan kita ajak bicara pak” kata Petro


“Betul juga nak Petro, lebih baik kita tanya saja apa yang sedang dia lakukan disini, dan lebih baik kita jalan dari arah bawah menuju ke atas saja nak”


Mereka berdua bergerak menuju ke arah Gebang, kemudian mereka berdua naik ke jalan yang ada di atas jurang. Mereka berjalan dengan santai ke arah atas, dan nanti pasti akan bertemu dengan Suharto.


Mereka berdua jalan tanpa menimbulkan suara sama sekali hingga mereka berdua sudah dekat dengan area vila putih.


“Perlahan-lahan nak, kita tidak tau dimana posisi dia sekarang tapi menurut saya, dia tidak akan jauh dari pintu gerbang vila dia pasti masih ada disana” bisik pak Tembol


Berjalan perlahan-lahan tanpa ada suara itu benar-benar susah hehehe, karena keadaan malam yang sangat sunyi. paling hanya ada suara jangkrik dan binatang hutan yang tiap malam selalu berbunyi.


Ketika mereka sudah semakin dekat dengan gerbang vila, ternyata Suharto ada disana dia masih tengkurap di depan pintu gerbang depan vila.


Pak Tembol menunjuk ke tubuh  Suharto yang mungkin sekarang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari mereka berdua.


“Itu dia nak, anehnya dia tetap tengkurap dan memperhatikan keadaan di dalam pagar vila, seolah dia adalah seorang prajurit yang sedang melakukan pengintaian”


“Waduuh lihat itu yang ada di punggungnya, sepertinya itu kayu yang dililit tali plastik ujung ujungnya sehingga menyerupai senjata laras panjang”


“Jangan-jangan dia sekarang gila pak, karena ndak kuat dengan yang ada di dalam tubuhnya itu”


“Kalau lihat cara dia tengkurap itu mirip dengan tiarapnya jaman pejuang-pejuang nak. Jangan-jangan dia gila beneran nak”


“Atau gini saja, saya akan bikin kaget dia nak, akan saya teriaki dia hehehe, Semprul siapkan nak, apabila dia menyerang kita maka suruh Semprul untuk menggigit yang ada di dalam tubuhnya”


“Kalau dia benar-benar gendeng kan ketahuan nak”


Pak Tembol berjalan mengendap endap, sementara Petro tetap berjaga di belakangnya, ketika sudah sekitar lima meter dari posisi Suharto….


“PRAJURIT!!!… APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI!” teriak pak Tembol tiba-tiba


“SIAAAAAAAP!, SEDANG MELAKUKAN PENGINTAIAAAN KOMANDAAAAN!” balas Suharto dengan suara lantang yang tiba-tiba berdiri dengan posisi tegap sikap sempurna


“SIAPA YANG SEDANG KAMU INTAI  PRAJURIT!” teriak pak Tembol sambil menahan tawa karena melihat wajah Soeharto yang sudah dicoreng coreng mirip dengan yang ada di dalam peperangan


“SIAAP!.... BENTENG MUSUH KOMANDAN!” balasnya lagi masih dalam sikap sempurna dan suara keras


“lANJUTKAN, DAN JANGAN PERGI APABILA SAYA TIDAK SURUH KAMU PERGI DARI SINI….. APAKAH BISA DIMENGERTI!!!!” teriak pak Tembol dengan keras


“SIAAAAP DIMENGERTI KOMANDAN!”


Setelah itu Suharto melanjutkan dengan tiarapnya di depan pagar vila. Sedangkan pak Tembol kembali bersama Petro untuk masuk ke dalam vila.


*****


“Pada intinya semua harusnya bisa diselesaikan dengan tidak mudah, hanya saja biarkan anak-anak itu tidur dulu, karena mereka pasti capek sekali” kata pak Tembol


“Dan satu lagi. Ada Suharto di depan sana, tetapi keadaanya tidak seperti yang kita perkiraan sebelumnya”


“Maksudnya gimana Mbul?” tanya Dimas


“Dia sekarang agak ndak waras. Dan tolong jangan kasih info ini ke menantu dan cucunya, saya takut mereka belum bisa menerima keadaan Suharto”kata pak Tembol


Pak Tembol kemudian bercerita kepada pak Han dan Dimas tentang proses membuang Kaswadi ke sungai, hingga Suharto yang tidak waras yang kini ada di depan pintu gerbang vila.


Untuk malam ini mereka bisa dianggap berhasil membuang Kaswadi, hanya saja masalah mereka tidak hanya ada di Kaswadi saja, vila ini semakin lama semakin menarik orang untuk masuk dan mencari harta yang ada di dalamnya.

__ADS_1


Tapi apa yang menyebabkan Suharto bisa menjadi tidak normal begitu, apakah dia hanya pura-pura atau memang dia sudah benar-benar gila akibat dari makhluk ghaib yang ada di dalam tubuhnya?


“Akan saya temui dulu Suharto yang ada di luar sana, perasaan saya kok tidak enak dengan dia, kalian istirahat dulu saja” kata Dimas yang buru-buru keluar untuk menemui Suharto yang agak ndak waras itu.


__ADS_2