
Hingga ketika TIfano sudah semakin dekat dengan orang yang ada di depan pintu, tiba-tiba orang itu mencengkeram lengan Tifano.
Kemudian orang itu tertawa sambil mendendangkan lagu lawas yang berjudul "mandul" dari sang raja ndangdut Rhama aipama, eh Rhoma Irama.
Sepuluh tahun sudah kita berumah tangga
Tapi belum juga mendapatkan putra
Jangan kau sedih jangan berduka
Mohon pada-Nya dalam berdoa
"YANCOOOOK!, Tibake wong gendeng C*****K!!!" teriak Tifano sambil lari dari wong gendeng itu
Tifano melepaskan diri dari cengkeraman orang itu dan kemudian lari dari orang gila yang berkepala botak mirip pak Tembol .
Tetapi ketika TIfano berhasil melepaskan diri, tiba-tiba wong gendeng itu masuk kedalam vila dan mengejar kedelapan manusia, otomatis kedelapan orang itu semburat lari menyelamatkan diri.
"Asyuuuuu!!!, awas Nov dia sekarang ngejar kamu sambil berusaha mengeluarkan kuntillanya Cok!" teriak WIldan kepada Novi yang terpojok di dekat dapur.
"Lank, lempar wong edan itu dengan apapun, pokoknya Novi bisa lepas dari dia. Kemudian aku akan tarik Novi dari sana Lank"
Gilank akhirnya mendapat sebuah dhildo, eh sebuah botol, botol kosong yang kemudian dia lempar hingga pecah di sebelah wong gendeng yang sekarang sudah mengeluarkan kuntilanya dan dipamerkan ke Novi.
...PYAAARR!!!...
Suara botol pecah dan engagetkan wong edan yang sekarang ada di depan Novi. Yah namanya juga wong edan, dengan kejutan apapun pasti dia akan bereaksi yang aneh-aneh.
Ketika dia mendengar botol pecah yang dilempar oleh Gilank, tiba-tiba dia tiarap di lantai rumah yang kotor, kemudia dia berkata:
...DASAR WONG GENDENG!, LEMPAR BOTOL NDAK BILANG-BILANG DULU!...
"AYOOOOO LARI DARI SINI SEKARANG REK!" teriak Ali yang sudah ada didepan pintu vila putih
Mereka berdelapan bener-bener ketakutan dan lari keluar secepatnya dari dalam vila, untungnya orang edan itu tidak mengejar mereka, hingga kedelapan orang itu sudah sampai di depan pagar vila.
"Hahahahaha... kalian habis dikejar dan dipameri itunya ya mas hahahahah" kata Supardi yang ternyata ada di depan pintu pagar vila.
"Wah heh...he...hehhhh, bener mas Supardi, dia orang gila mas, waduh tadi teman kami Novi hampir digituin sama dia mas" jawab Wildan dengan nafas yang terengah-engah setelah lari dari vila hingga ke luar pagar vila
"Kan saya sudah bilang ke kalian, yang ada disana itu orang gila mas, kalian saja yang berusaha memaksa masuk dan ketemu dengan dia mas. Ayo ke rumah saya saja mas, kita minum teh" ajak Supardi
"Kita ngobrol dirumah saya sambil kalian istirahat mas," lanjut Supardi
__ADS_1
Mereka akhirnya menerima penawaran Supardi untuk mampir kerumahnya yang ada di sebelah vila putih, rumah mungil dengan dokar milik ayahnya pak Ponidi yang teronggok di halaman rumah.
Mereka masuk ke dalam halaman ruman Supardi, tapi sebelumnya mereka sempatkan untuk melihat-lihat sekedar nostalgia dengan dokar pak Ponidi yang terparkir di halaman rumah Supardi.
"Kalian kenal dengan dokar itu kan heheheh, coba saya pingin tau yang namanya Dani dan Novi itu yang mana ya?" tanya Supardi
"Saya dan mbak itu mas, kok tau nama saya mas" tanya Dani yang penasaran
Kemudian Supardi mengajak mereka menuju ke dalam atas dokar dan menunjukan sebuah tulisan yang ada di kayu bangku dokar
...BRONI LOP NOVI...
Sebuah tulisan kasar dan asal yang digoreskan dengan menggunakan benda setengah tajam di bangku dokar yang terbuat dari kayu.
"Lhooooooo opo-opoan iki rek waakhahahahaha" teriak Gilank kemudian tertawa ngakak
"Anciiik tulisan iki kok yo abadi c*k hahahaha" kata Broni malu-malu
"Bener kah itu mas Broni?, kok Mas Broni ndak bilang sama Novi sih kalau mas Broni lop-lop sama Novi?"
"Lhooo heeee mosok se Broni iki yo doyan kuntila kuntilaan se, kok sampek bisa-bisanya sampek bikin prasasti segala rek hahahahah" kata Ukik
"Ayoo masuk ke dalam rumah mas dan mbak, saya tau siapa kalian, almarhum bapak saya cerita banyak tentang kalian dan kejadian yang menimpa kalian" kata Supardi lagi
Mereka duduk di ruang tamu yang tidak bisa dibilang besar, tetapi cukup untuk mereka duduk serta ngobrol dengan ditemani satu teko teh hangat.
"Saya sedikit banyak tau tentang kalian, karena bapak saya sering membicarakan kalian, tentang kepahlawanan kalian dalam usaha untuk membantu menyatukan dua wilayah desa disana"
"Pokoknya semua kegiatan kalian bersama bapak saya, dia selalu dengan bangganya bercerita. Dan saya juga ikut bangga dengan bapak saya yang ikut serta dalam masalah itu, hehehehe" kata Supardi dengan wajah bahagia.
"Sebenarnya saya sudah menebak ketika kalian kemarin datang kesini, saya sudah menebak pasti kalian ini yang dimaksud bapak saya, apalagi kalian menyebutkan nama Kamidi dan Nama bapak saya Ponidi"
"Saya semakin yakin kalau kalian sedang mencari laki-laki berkepala gundul yang bernama Tembol itu. Saya yakin, tatapi saya pendam dulu keyakinan itu hingga kalian masuk ke dalam vila itu dan bertemu dengan orang gila itu hahahah" lanjut Supardi
"Sebenarnya hari ini saya sudah harus pulang ke Sby, tetapi ternyata ada yang menarik disini hehehe, sehingga saya batalkan kepulangan saya ke sby mas heheheh"
"Pesan bapak saya sebelum dia meninggal. Dokar itu jangan dihancurkan, taruh di depan rumah karena suatu saat mereka yang sudah bekerja bersama bapak akan datang kesini dan akan melihat dokar ini disini"
"Eh boleh tau nama panjang mas Supardi ini siapa sih" Ukik penasaran, karena bisa saja nama anak itu pasti ada embel embel kebarat-baratanya
"Hehehe nama saya Andrian Supardi mas hihihi, katanya nama Andrian itu adalah nama salah satu dokter yang kalian selamatkan hehehe"
"Hihihih iya mas, eh ngomong-ngomong mas ini kelahiran tahun berapa?"
__ADS_1
"Hehehe saya sudah tua kok mas, saya sebenarnya tidak tinggal disini, saya tinggal di sby bersama anak istri saya, saya kesini selama seminggu dalam sebulan sesuai dengan pesan bapak, sekalian bersihkan makam bapak yang meninggal 15 tahun lalu mas"
"Makam pak Ponidi di mana mas, kami ingin sekali nyekar ke makan beliau, beliau yang dengan dokarnya sangat membantu kami mas" kata Dani dengan wajah serius
"Hehehe, makan bapak ada di depan itu mas, itu disebelah dokar kesayangnya. Sesuai pesan bapak, dia ingin dimakamkan di sebelah dokar kesayanganya"
Siang ini mereka sempatkan untuk nyekar dan berdoa kepada Tuhan agar pak Ponidi diberikan posisi terbaik di sisi Allah. Setelah selesai nyekar mereka lanjutkan dengan ngobrol bersama Supardi
Mereka berdelapan bersama anak pak Ponidi membicarakan tentang petualangan mereka bersama pak Ponidi. Sesekali mereka tertawa keras dan sesekali diselingi dengan suara teriakan Novi hehehe.
Ternyata pak Ponidi menceritakan apa yang dia lakukan bersama anak-anak Sutopo kepada anaknya, hingga pada akhirnya cerita Supardi sampai pada ketika kesembilan anak-anak itu kembali ke masa depan.
"Nah bagian ini yang ingin kami dengar mas, karena setelah itu kami tidak tau apa yang terjadi di sini mas" kata Ali
"Jadi gini mas, kata bapak saya waktu itu ada sinar putih yang keluar dari tubuh kalian bersembilan, sinar putih itu berasal dari tubuh kalian dan pelan-pelan satu persatu tubuh kalian menguap dan hilang"
"Nah disini ada kejadian yang bikin perih, kejadian itu adalah ketika giliran pak Tembol untuk kembali ke masa depan, ternyata pak Tembol tidak mau dikirim ke masa depan"
"Kata bapak saya pak Tembol lebih memilih untuk mengawal dan melihat apakah penyatuan Marwoto dan Suparmi itu berhasil" lanjut Supardi
"Nah ketika pak Tembol menolak dikirim ke masa depan, tiba-tiba dinding ruangan tempat Mak Nyat Mani dan Mbok Ginten membunuh Dimas runtuh, kata bapak saya yang meruntuhkan itu arwah Dimas masih menyimpan energi"
"Jadi di dalam Dimas itu masih ada energi penghabisan, sedangkan keadaan Mak Nyat Mani dan mbok GInten sudah kewalahan"
"Nah dalam keadaan seperti itu tiba-tiba pak Tembol kesurupan arwah orang Cina, mereka semua disuruh masuk ke dalam ruangan satunya yang lebih besar dan lebih mewah.
"Di luar ruangan, energi Dimas yang penghabisan itu berusaha masuk ke dalam ruangan yang ada di dalam itu" lanjut Supardi
"Kemudian kata bapak saya arwah yang masuk ke pak Tembol menggunakan suara pak Tembol untuk berdiskusi dengan Mak Nyat Mani dan Mbok Ginten yang sudah kehabisan tenaga"
"Arwah orang cina itu menyuruh pak Tembol sebagai salah satu pewaris dan pemilik rumah itu untuk meminta bantuan kepada leluhur-leluhur keluarga Tan yang sudah lama mendiami rumah itu"
"Tetapi ada pertanyaan dari salah satu dokter yang hadir disana. Kalau memang leluhur itu sudah lama menempati rumah itu, lalu kenapa kok diam saja ketika ada orang yang berusaha merusak bangunan disitu?"
"Jawab arwah orang cina melalui pak Tembol adalah, mereka tidak akan ikut campur tangan untuk rumah di alam nyata, kecuali ada permintaan bantuan dari keturuan yang terlibat masalah"
Heheheh cerita anak dari pak Ponidi ini menarik sekali, hingga kedelapan orang yang mendengarkan sama sekali tidak berbicara maupun bergerak.
Memang kejadian antara setelah anak-anak itu pergi ke masa depan tidak ada yang tau, dan untungnya ada anak dari pak Ponidi yang dengan detail bercerita di depan kedelapan anak itu.
"Tetapi untuk meminta bantuan kepada para leluhur pemilik turun temurun rumah itu tidak gratis atau tidak begiu saja dituruti, karena apabila minta dilakukan pembersihan maka pemilik rumah akan mati, kenapa seperti itu? tidak ada yang tau alasanya" Lanjut Supardi.
"Kemudian gimana lanjutanya mas?" tanya Ali
__ADS_1
"Lanjutanya bisa ditebak mas, bagaimana pak Tembol yang berjiwa patriot itu rela menyerahkan nyawanya demi agar Dimas sesegera mungkin mati"