MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 76 (EKSPLORASI HOTEL)


__ADS_3

“Ternyata cuma buku terima tamu yang berwarna hitam dan tidak bisa dibaca tulisanya pak” kata Tifano sambil memberikan buku itu kepada pak Handoko


“Sudah kembalikan saja mas, buku itu auranya sangat hitam, biarkan saja buku itu ada di tempatnya, kita jangan mengambil sesuatu yang terlihat janggal, tapi cukup perhatikan dan kita teliti saja mas” kata pak Han lagi


“Dibagian kursi sofa ruang tunggu itu ada sesuatukah mbak Novi?” tanya pak Handoko yang sedang melihat Novi yang meneliti bagian sofa ruang tunggu


“Di sini tidak ada apa-apa pak selain kalender tahun 1997 saja pak, bagian ruang tunggu ini pun tidak ada apa-apanya sama sekali pak” kata Novi


“Iya mbak, saya juga merasakan juga, di sekitar sini untuk saat ini tidak ada apapun yang mencurigakan, tidak tau kalau nanti malam, ayo kita periksa tiap kamar yang ada di sekitar sini” ajak pak Handoko


Mereka menuju ke bagian lebih dalam, dimana di kiri kanan adalah kamar kosong yang sebagian terbuka pintunya dan sebagian tertutup. Di kamar pertama yang pintunya terbuka itu mereka berhenti.


“Kita mulai dari kamar ini dulu mas, eh tadi mas Tifano masih bawa senter kan, soalnya senter punya saya, saya tinggal di kamar 6+ mas”


Tifano menyerahkan senter yang dari tadi dia kantungi kepada pak Handoko.


“Hmm kamar ini sangat suram, dahulu banyak yang mati disini, bahkan sampai sekarang saya masih bisa merasakan sakitnya mereka yang mati disini” kata pak Handoko


“Novi juga merasakan adanya sesuatu yang pernah terjadi dan mengerikan disini pak, dan banyak arwah yang terukurung disini juga. Kenapa mereka tidak bisa pergi dari sini ya pak?”


“Kalau soal itu saya kurang paham mbak Novi, tapi yang jelas disini bukan tempat yang tepat bagi manusia untuk tinggal mbak” kata pak Hadoko lagi


“Ayo kita ke kamar berikutnya saja. Saya penasaran sebenarnya apa yang pernah terjadi disini, dan siapa yang berbuat seperti ini” gumam pak Handoko


Mereka bertiga menuju ke kamar berikunya, dan berikutnya juga. Keadaan kamar yang semuanya sama. Banyak arwah yang terperangkap di tiap kamar itu.


“Kesimpulan saya, di tiap kamar bangunan utama hotel ini selalu menyimpan ratusan arwah yang terperangkap, mereka tinggal di kamar yang sempit itu” kata pak Handoko


“Bearti seperti penjara arwah, gitu ta pak” tanya Tifano tiba-tiba


“Kok sepertinya begitu mas, karena yang ada disini itu adalah arwah yang terperangkap dan tidak bisa keluar dari sana, tapi saya belum bisa mendeteksi kenapa mereka tidak bisa keluar dari sana mas” kata pak Handoko lagi


“Nah, kita sudah sampai di bagian paling belakang ini mas, dan di ujung itu ada pintu yang saya ragu untuk membukanya, karena aura yang ada di balik pintu itu luar biasa mengerikan. Bagaimana, apakah kita buka saja pintu itu untuk mengobati rasa penasaran kita hehehehe?” tanya pak Handoko


“Lho ayo pak, kita buka saja pak, kita harus tau apa yang ada di dalam sana pak, sebelum kita explore ke halaman belakang yang aneh itu pak” kata Tifano


“Gimana mbak Novi, apa kita buka pintu ini atau kita panggil teman lainya mbak” tanya pak Handoko meminta persetujuan Novi

__ADS_1


“Hehehe Novi belum takut pak, buka saja pintu itu pak, siapa tau di dalamnya ada informasi seputar apa yang kita cari pak” kata Novi


Pak Handoko berjalan maju dan memegang handle pintu pada ruangan yang ada di bagian paling belakang. Memang sih kata pak Handoko ruangan paling belakang itu mengerikan, tapi ini kan baru siang hari, masak siang hari gini ada setan yang menakutkan hehehehe.


Cecklek …., handle pintu ruangan paling belakang ini sudah bisa dibuka, tetapi pak Handoko tidak buru-buru mendorong pintunya, dia menyuruh mereka  Novi dan Tifano untuk minggir dari depan pintu.


“Mas, mbak, lebih baik kalian jangan ada di depan pintu. Lebih baik kalian agak minggir di samping pintu ini saja, karena saya takut ada sesuatu yang keluar dari pintu yang sedang akan saya buka ini” kata pak Han


Dan ternyata benar kata pak Handoko, ketika pintu itu dia dorong ke dalam, wuuuzzzzz udara panas, bau busuk, pengab keluar dari ruangan itu seperti angin.


“Itu yang saya takutkan, bisa saja tadi itu gas yang keluar, bukan udara panas. Jadi seandainya yang keluar itu gas dan mengenai kalian, pasti akan berbahaya bagi kesehatan kalian kan anak-anak” kata pak Han.


Setelah menunggu beberapa saat udara panas dan segala bau berkurang, mereka nekat masuk ke dalam ruangan yang keliatanya adalah dapur dan kamar para pegawai hotel.


“Di dalam sini gelap dan pengab sekali, sama sekali tidak ada ventilasi di ruangan ini anak-anak, jadi bantuan senter ini sangat berguna disini” kata pak Han


“Ini kayaknya Dapur ya pak Han, semua alat masak masih tertata rapi meskipun ada debu tipis disana sininya pak” kata Novi yang terus waspada memperhatikan apa yang ada di dalam situ


“Iya betul mbak Novi, kita kayaknya ada di dalam dapur Hotel” kata pak Handoko sambil menyorotkan sinar senter ke segala arah


“Kalau yang itu kayaknya kamar atau mes pegawai  hotel” ketika sinar senter itu mengenai empat buah pintu kamar dan jendela yang  berjajar disana


“Iya mas, harusnya mess pegawai terpisah dengan dapur, gimana apa kita buka tiap pintu yang ada di dapur ini mas?” tanya pak Han


“Jangan dulu pak, menurut Novi kita kelilingi dulu dapur ini pak, lha itu pak, itu ada pintu yang terbuat dari besi, itu kira-kira pintu apa ya pak?” tanya Novi


“Keliatanya itu lemari pendingin mbak, tapi apakah hotel kelas melati seperti ini mempunyai lemari pendingin sebesar itu, sekelas hotel bintang 5 saja ya?” jawab pak Han


“Hehehe tapi lebih baik jangan sekali-kali kita buka dulu pintu itu dulu. Karena yang ada di dalam sana itu yang merupakan pusat dari kengerian disini, dan keliatanya energi yang ada disana itu sama dengan energi yang ada di bangunan aneh di halaman belakang” kata pak Handoko


“Lebih baik kita sudahi dulu saja dulu anak-anak, kita kembali ke kamar 6+ dulu, kita bicarakan tentang apa yang kita temukan siang ini anak-anak, sekalian cari makan siang di warung depan hotel, siapa tau sudah siap masakanya untuk makan siang ini” kata pak handoko lagi


Mereka bertiga kembali ke kamar. Ketiga orang itu bercerita kepada mereka yang tadi tidak ikut eksplorsi bangunan utama hotel.


Kemudian pak Han menyuruh Broni dan Ali untuk membelikan nasi bungkus dan beberapa air mineral untuk makan siang mereka.


“Untung ya disini dekat dengan warung makan, jadi gak perlu jauh-jauh cari makan”” kata pak handoko sambil memberikan sejumlah uang kepada Ali dan Broni

__ADS_1


“Oh iya, coba check senter kalian, kalau cahayanya sudah kurang terang, segera cari minimarket untuk membeli baterai. Mas Saeful dan mas Wildan cari baterai gih, tanya sama orang warung, dimana tempat beli baterai kecil” kata pak Handoko sambil memberikan uang kepada Wildan


Siang hari yang panas tanpa terjadi apa-apa dihotel ini, atau lebih tepatnya belum terjadi apa-apa disini. Siang ini mereka habiskan waktu dengan istirahat setelah makan siang yang nikmat dan selesai mengganti baterai senter mereka.


Pak Han, apa kita tidak periksa bangunan yang ada di taman belakang itu pak?” tanya Ali


“Hmm bangunan itu pintu masuknya melalui dapur mas, di dalam dapur ada semacam pintu kulkas pendingin yang biasanya untuk mendinginkan daging atau bahan makanan pada hotel bintang 5, tapi yang aneh di hotel kelas melati ini ada juga lemari pendingin besarnya heheheh” jawab pak Han


“Saya yakin kalau yang ada disana itu adalah tempat berkumpulnya mahluk ghaib mengerikan. Jadi tadi saya tidak periksa mas, kita kesini karena ingin menangkap orang yang bernama Totok itu kan, dan saya yakin dia ada di dalam bangunan yang ada di taman belakang itu” jelas pak Handoko


“Bagaimana pak Han bisa tahu pak?”  tanya Wildan


“Tadi saya rasakan ada energi yang pernah ada di vila putih mas, energi yang sama ketika Supardi dengan orang yang bernama Totok itu sedang ada di taman samping vila putih” jawab pak Han


“Eh mas Saeful, letak minimarketnya apakah jauh dari sini mas, kalau dekat tolong belikan lilin dan korek api yang banyak mas, saya rasa kita nanti sangat memerlukan kedua benda itu mas” kata pak Han


“Nggak pak, deket kok pak. Sini saya belikan pak, selain itu apa lagi yang kita perlukan disini pak?” tanya Saeful


“Saya juga butuh bensin mas, tolong belikan bensin sekalian mas, beli jerigen juga untuk tempat bensinya mas, saya rasa ada yng harus dihancurkan disini” kata pak Handoko


“Baik pak, akan saya belikan sekarang. Eh dik Novi lagi ngapain, ikut abang yu dik” ajak Saeful yang ternyata menyukai Novi hihihihi


“Enggak deh kangmas Saeful, Novi disini aja kangmas, Novi kan capek habis jalan jauh kang” jawab Novi dengan manja


Menjelang sore hari. Menjelang sesuatu yang mengerikan akan datang….


“Pak, Novi kok merasa sore ini semakin aneh ya pak, apakah pak Han juga merasaka apa yang Novi rasakan pak?” tanya Novi


“Hmm iya mbak Novi, saya merasa akan terjadi sesuatu disini. Tapi seandainya tadi saya buka pintu ruangan pendinginya, maka rencana kita untuk menahan Totok disini akan bubar, karena yang ada di dalam itu akan keluar semua dan menyerang kita mbak” jelas pak Han


“Jadi menurut saya, kita tunggu hingga Totok atau siapalah itu namanya itu keluar dari tempat dia sembunyi, kemudian saya punya rencana untuk membakar tempat ini mbak. Tadi Saeful sudah beli beberapa liter bensin yang di isikan ke jerigen lima liter” kata pak Handoko


Sore hari menjelang malam hari, kegelapan mulai menyelimuti area hotel, tetapi mereka yang ada di dalam kamar sudah menyalakan beberpa lilin untuk penerangan di kamar hotel.


“Mas Gilank bagaimana keadaan tubuhnya, apakah ada kemajuan mas” tanya pak Handoko


“Syudhha byishaa jhalan denghan lyanchar phaak, thapyii khenapha inhi shaya mahsyih theghang yha phak?” jawab Gilank

__ADS_1


“ya sudah mas, yang penting ada kemajuan, pokoknya mas Gilank tidak berbuat aneh-aneh, maka faktor penyembuhan akan berlangsung dengan cepat mas” kata pak Handoko


__ADS_2