
“Sekarang apa yang mau pak Pho lakukan pak, karena katanya pak Pho mau ikut kami di dalam tubuh Dani kan pak” tanya Ukik
“Kita temui Malwoto dulu saja laaa, ai halus tau apa yang dibicalakan Mak Nyat Mani setelah semua sesuai dengan plosedulnya laaa”
“Bagaimana kita ke desa Br pak, sedangkan kendaraan kami taruh di masjid pak, jauh juga lho kalau ke rumah pak Marwoto pak” jawab Wildan
Tenang saja mayat hidup hihihihi, nanti ai kasih jalan yang enak untuk ke sana” jawab pak Pho yang ada di dalam tubuh Dani
“Ah yancok, aku dikatain mayat hidup rek” ujar Wildan
“Haiyaaa apa salah ai, kan butul kamu mayat hidup. Dulu kamu hantu waktu ketemua ai, sekalang kamu beldua sudah jadi manusia laaa” jawab pak Pho
“Ah terserah pak Pho laah, saya bocahmu pak, saya manut ae wis opo yang dilakukan pak Pho” kata Wildan
“Bagaimana Handoko dan saeful, kalian mau kan kalau kita jalan-jalan temui Malwoto?”
“Mau pak, kita selesaikan saja pak yang belum selesai, saya akan bantu sebisa mungkin pak” kata pak Handoko dengan bersemangat
Apakah mereka memang akan menuju ke rumah Marwoto, tapi sebenarnya apakah tidak muspro kalau ke sana. Mengingat rumah Marwoto jauh, dan mngkin tidak mengingat apapun yang terjadi, dia kan tidak tau apa-apa soal Dimas dan lainya.
Pasti ada maksud tersembunyi dari pak pHo sehingga dia ingin menemui Marwoto, tapi kalau memang pak Pho ada rencana kan ya ndak papa kan, itu lebih baik dari pada anak-anak lagi yang bersusah payah seperti dulu.
“Kapan kita ke tempat Marwoto pak, sekarang kan sudah malam, bagaimana kalau besok pagi pak?” tanya Ukik
“Haiyaaa, bagaimana kamu ini. Malwoto tidak tidul aaaa. Dia sedang menunggu kita sekalang ini” kata pak Pho
“Ha? Mana mungkin dia menuggu kita pak, sedangkan bapak sendiri kan hantu yang tidak punya telepon genggam, mana bisa dia sedang menunggu kita pak?”
“Haduuuh susaaah susaah bicala sama kamu ini haiyaa. Malwoto sudah mati, Dua hali lalu dia mati kalena sakit tua. Untung kalian sudah temui dia, dia memang selama ini menunggu kalian datang”
“Inna lilahi wa Inna ilaihi rajiun” guman mereka semua yang ada di ruangan biru
“kami tidak tau kalau mbah Woto sudah meninggal pak, untungnya kami sempat bertemu dengan beliau sebelum beliau meninggal” kata Novi
“Haiyaaa Novi cantik, dia menunggu kalian aaa, dia menunggu kalian beltahun tahun lamanya. Tapi suthahlah, ayo kita ketemu dia di pinggil julang, dia menunggu kita disana laah”
“Oh jadi mbah Wo itu membuka mata batin kita agar kita bisa ngobrol dengan dia ketika dia sudah meninggal ya rek” kata Wildan
__ADS_1
“Nah kemungkinan juga begitu laaa. Ayo ke julang depan vila, kita temui disana Malwoto” ajak pak Pho yang jalan mendahului kami untuk menunjukan jalan menuju ke lorong yang tembus dengan jurang yang ada di depan vila.
Memang beda apabila jalan bersama penguasa lorong bawah tanah vila itu, dia bisa tau lorong dan pintu mana saja yang bisa dilewati sehingga meskipun tanpa cahayapun mereka bisa sampai di lereng jurang depan vila putih dengan cepat.
“Ingat, jangan sekali-kali nyalakan lampu sentel kalian, kalau kalian mau selamat dari selangan setan-setan kiliman dukun yang banyak teldapat di julang itu laaaa”
“Lho memangnya setan itu ndak suka sama cahayakah pak” tanya tifano
“Bukan gitu anak- anak, kalian sudah ai kasih pelindung pengalih, sehingga tubuh kalian tidak akan telihat oleh mahkuk halus yang ada di sekital sini. Kalau kalian nyalakan lampu, maka meleka akan tau posisi kalian hehehe” jawab pak Pho
“Pokoknya jangan nyalakan sentel, jangan main clalinet, jangan memakai topi bundal, jangan pakai lok panjang, jangan pakai sepatu melah, jangan makan keju kecuali yang kotak, jangan lali-lali, jangan jalan pincang, buatlah lingkalan” kata pak Pho
“Eh pak , itu bukanya syarat untuk menghindari dari kejaran beruang laut di film sponge bob?” tanya Ali
“Oh iya, ai salah baca syalatnya, untung kamu ingatkan ai mas hihihihi” jawab pak Pho
Pintu batu dibuka oleh Dani, dan anehnya cara membuka pintu batu yang tembus jurang itu kadang ditarik, kadang didorong. Persis pintu ind*mart hehehe.
Ternyata benar juga, tepat di depan pintu itu sudah menunggu mbah Woto yang menampakan wujudnya terakhir dia hidup, yaitu wujud dia yang sudah tua.
“Assalamualaikum mbah Wotoooo” sapa mereka yang keluar dari pintu masuk terowongan
“Iya mbah, Novi juga bahagia bisa ketemu mbah Woto waktu masih hidup mbah” kata Novi kepada sosok ghaib mbah Woto yang pucat dan tua
“Jadi gimana ini mas Pho, apa yang bisa saya bantu mas?” tanya mbah Woto
“Ini sebenalnya bukan masalah tentang mas Woto, tetapi ai butuh info tentang Mak Nyat Mani dan Soebloto. Mereka saat ini bagaimana mas Woto?” tanya pak Pho
“Saya sudah lama tidak pernah bertemu dengan mereka, semenjak istri saya melahirkan Soeharto, tapi yang saya dengar, mereka sedang mencari sesuatu di rumah putih ya?” kata mbah Woto
“Itu yang terjadi mas Woto. Jadi mereka itu punya tujuan lain selain menyatukan dua wilayah, tujuan mereka masuk ke dalam rumah putih, untuk mencari sesuatu yang melupakan peninggalan leluhul-leluhul pendili rumah itu” jelas pak Pho
Hmmm pantas, pantas mereka selalu membicarakan tentang bagaimana cara masuk masuk ke dalam sana dengan menggunakan mbok Ginten sebagai umpan bagi pak Pho. Sebenarnya saya sudah curiga, kok bisa mbok Ginten dengan leluasa keluar masuk ke ruang biru” kata ALi
“Awalnya saya tidak paham apa yang mereka bicarakan, tetapi lama-lama ngeri juga apa yang mereka bicarakan itu, mereka punya rencana untuk mengusir leluhur rumah itu” lanjut mbah To
“Lalu sekarang bagaimana dengan mereka mbah To, apakah mereka masih berusaha masuk ke dalam rumah putih itu?” tanya Wildan
__ADS_1
“Malam ini, ya harusnya malam ini mereka akan datang lagi, dengan membawa beberapa bantuan yang mungkin paham dengan cara masuk ke sana” jawab mbah To
“Bagaimana mbah To tau kalau nanti malam ini mereka akan datang lagi dengan bantuan seseoang yang paham dengan yang ada didalam sini?” tanya Ali
“Saya punya mata-mata, dia orang yang setia dengan Mak Nyat Mani, di selalu memberi saya informasi tentang apa saja yang akan dilakukan mereka berdua” kata mbah To
Mereka ngobrol tentang berbagai informasi yang diperoleh mbah To dari mata-matanya, jadi kesimpulannya malam ini mereka akan datang dengan bala bantuan yang paham tentang seluk beluk rumah ini
“Kira-kira menurut mbah To siapa yang akan datang kesini bersama dengan Mak Nyat Mani dan Soebroto?” tanya UKik
“Saya kurang tau mas, tapi yang pasti orang yang akan mereka ajak itu pernah masuk ke lorong-lorong rumah ini”
“Hmmm begitu ya mbah, kalau yang pernah ada disini hanya ada Rochman saja, karena dia yang pernah kami ajak kemana mana, mulai dia sebagai hantu yang menghuni terowongan hingga dia menjadi manusia pada jaman dahulu itu” jawab Tifano
“Selain Rochman siapa lagi yang pernah masuk ke ruang bawah tanah itu mas?” tanya mbah To
“Tidak ada yang sampai berpetualang mencari kitab suci, eh mencari musuh kami, si Dimas itu. Jadi yang sampai berpetualang ya Rochman itu saja”jawab Tifano lagi
“Jadi sampai saat ini sudah ada dua mahluk yang sedang mencari sesuatu yang ada di vila putih itu, yang pertama adalah Supardi dan yang dipanggil pak Tok, kemudian Mak Nyat Mani dan Soebroto. Kita ndak tau lagi dengan demit-demit suruhan dukun yang pernah mendapat perintah dari Trimo itu”
“Semakan hali semakin banyak olang yang masuk ke lumah kalian anak-anak, kini suthah saatnya kalian halus mengusil meleka dali lumah kalian laaa” kata pak Pho
“Apakah ada kemungkinan Dimas itu hidup lagi dan dia juga ikut mencari apa yang orang-orang selama ini cari pak?” tanya Broni
“Nah untuk Dimas, saya belum dapat info sama sekali mas, mungkin akan saya carikan juga informasi mengenai Dimas itu secepatnya”
“Oh iyaaaa, itu ke empat dokter, mereka kan juga sempat kita ajak jalan-jalan ke ruang bawah tanah juga kan” kata Ali
“Bener juga mas Ali, tapi kan Andirian mungkin sekarang sudah tua atau bisa saja dia sudah mati mas, Novi ndak yakin kalau dokter ganteng bermata biru itu masih hidup sampai sekarang mas” jawab Novi
“Tapi kalian ingat tidak, waktu kita periksa ponsel Trimo, disana kan juga ada email dari Van Hallen juga kan, kemungkinan itu anak dari Andrian kan, mungkin Andrian menceriktakan kepada anaknya tentang petualangan yang dia peroleh disini rek” jawab Ukik
“Lebih baik kalian siap-siap saja, karena sebentar lagi mereka akan datang kesini, saya sudah harus kembali ke tempat asal saya” kata mbah Woto kemudian menghilang dari hadapan mereka
“Keadaan tidak akan aman selama masih banyak olang yang belusaha masuk ke dalam lumah kalian, sekalang kita hadapi meleka yang belusaha masuk ke dalam lumah kita anak-anak” kata pak Pho
***********
__ADS_1
mohon maaf. karena kesehatan saya yang kacau akibat yang katanya omicron. maka novel saya agak telat update. pokoknya kalau kondisi saya agak enakan, pasti saya akan lanjutkan meskipun telat.