MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 64 (RAME JUGA)


__ADS_3

“Cucok sama namanya, Saeful. Sae\=bagus, Ful\= full\= penuh. Jadi sesuai namanya Saeful.. yang berarti penuh dengan yang indah-indah duuuh cintaaa bingiiiitt” kata Novi yang sekarang sudah ada di dalam angkot menuju ke vila putih


Saeful memang kalau diperhatikan wajahnya ganteng, tubuhnya lumayan tinggi mungkin setinggi Wildan, dan dia tidak lepas dari sarung dan kopyahnya. Ndak salah kalau Novi dari mulai naik angkot hingga duduk berhadap-hadapan dengan mas Saeful matanya tidak lepas dari laki-laki bersarung itu hihihi.


“Eheeeem, aduh rek kalok udah gini kita gak akan dianggap sama Novi hihihih” kata Tifano


“Iyo Tif, habis manis sampah dibuang, eh sepah ding” jawab Broni


“Yang dirasani rek gak kerasa sama sekali  hehehhe”  sahut Ukik menyindir Novi


“Mas Saeful apa asli orang sini mas” tanya Novi  yang masih mengagumi Saeful


“Iya mbak, saya orang sini, saya dari desa sebelah. Desa Br mbak” jawab Saeful tanpa melihat Novi sama sekali


“Iiiihhh mas Saeful ini lok diajak ngobrol kok nunduk aja sih mas” goda Novi yang ada di depanya


Saeful mungkin tipe cowok daerah pedesaan yang belum terbiasa dengan gelontoran pertanyaan dari seorang wanita, eh waria macam Novi, bisa jadi dia malu atau memang malas menghadapi perempuan agresif heheheh.


“Mas Saeful ini ikut fitnes ya, kok badannya bagus mas?” pertanyaan selanjutnya dari Novi, yang mana pertanyaan itu semakin membuat Saeful gerah heheheh


“Anu mbak, jangan tanya-tanya dulu, saya lagi berdzikir mbak. Perjalanan kita ini penuh bahaya, ada baiknya kita dekatkan diri dengan Allah mbak, agar kita dilindungi olehNya” jawab Saeful dengan suara yang pelan namun penuh arti


Apakah Novi tersinggung dijawab seperti itu, ternyata tidak kawan, dia semakin terpesona dengan kepribadian Saeful, dia diam saja sambil tetap memandang wajah Saeful.


“Iya mas, Novi minta maaf ya mas Saeful, ehhm Novi akan ikuti apa yang masa Saeful suruh mas” jawab Novi dengan tidak melepaskan tatapan matanya ke wajah Saeful yang duduk di depanya


“Pak Han kenapa sih kok senyum-senyum terus pak” tanya Novi sambil melirik pak Handoko yang ada di sebelahnya


“Oh nggak papa Kok mbak Novi yang cantik, saya bangga aja mbak Novi mau ikutin apa yang mas Saeful ini lakukan mbak heheheh”


“Saya juga dari tadi berdzikir, tapi kenapa Novi gak ikutin saya ya pak” tanya Gilank kepada pak Han  yang kebetulan didengar Novi juga


“Mas Gilang itu dzikirnya nyebut apaaaa? Wong dari tadi lho ndermimil ndak jelas gitu kok” jawab Novi dengan wajah sewotnya


“Lhoooo...ngeremehno rek Novi iki, gini-gini aku juga dulu pernah jaga masjid. Eh nganu maksudnya jaga parkir masjid nek jumaatan heheheh” jawab Gilank.


Angkot sudah hampir memasuki kawasan vila putih, saat ini sudah menjelang maghrib di sana, suasana gelap sudah mulai melingkupi daerah itu. Untungnya mereka tidak lupa dengan senter milik pak Han yang terang.


“Ayo anak-anak, siap siap semua, kita sudah hampir sampai ini” kata pak Han


Angkot yang mereka carter sudah sampai di depan pintu gerbang vila, keadaan yang menjelang malam ini mengakibatkan suasana di depan vila semakin horor, tapi tentu saya keadaan seperti ini sudah dianggap biasa oleh kedelapan eks pejuang rumah putih heheheh.


“Hmm ramai sekali disini” gumam Saeful sambil tolah toleh yang ternyata bisa melihat hal ghaib


“Tapi hanya di depan sini mas, di dalam malah sepi mas” jawab pak Han

__ADS_1


“Ayo kita masuk, keburu nanti ada yang akan lihat kita ada disini” kata pak Han lagi


Tifano, Ukik, Wildan dan Ali membawa senter. Dani membawa nasi bungkus plus kopi dan air mineral yang mereka beli sebelum naik angkot. Sisanya hanya membawa tubuh mereka sendiri hihihi


Pak Han membuka pintu gerbang vila yang sudah karantan dan tidak terkunci sama sekali. Satu persatu mereka masuk ke dalam vila yang keadaanya gelap horor.


“Benar pak, di dalam sepi sekali, mereka tertahan diluar dengan pagar ghaib yang mungkin dibuat oleh pemilik rumah ini pada jaman dulu” kata Saiful


Novi yang ternyata bucin itu sedari tadi hanya melihat wajah Saeful terus menerus, ndak tau apa yang sedang dipikirkan Novi saat ini.


“Ayo anak-anak. Kita ke dapur atau dimana yang bisa lihat keadaan luar dengan jelas”


“Di ruang tamu kita bisa lihat jelas pak, tapi kalau di dapur kita ndak bisa lihat apapun yang ada diluar” kata Broni


“Tenang mas, biar saya saja yang lihat untuk wilayah belakang, kalian perhatikan halaman depan dan samping anak-anak. Saya rasa malam ini kita akan dapat sesuatu” kata pak Han


“Mas Saiful bagimana, apa yang mas Saiful rasakan di dalam sini?” tanya pak Handoko dengan tersenyum


“Saya baru pertama kali ini kesini pak, di dalam sini keadaanya dalam sekali, dalam  gelap dan sepi sekali, tapi di luar pagar ramai sekali, seolah olah yang diluar itu tidak boleh masuk ke mari pak” jawab Saiful


“Belum mas, setelah ini kamu akan mengalami pengalaman yang berbeda mas, pokoknya selalu waspada” kata pak Handoko


“Dan jangan ada yang tidur, begitu pesan mbah Sari” kata Novi


“Mbah Sari itu siapa pak, apakah perempuan cantik penjaga depot yang tadi bicara sama Novi itu? tanya Gilank


“Perempuan cantik? Mas Gilank ini ada-ada saja mas. Tadi itu Novi sama mbah Sari mas, bukan perempuan cantik yang mas Gilank bayangkan hehehe” kata Novi


“Eh Kalian membicarkan siapa ya?” tanya Saeful


“Mas Saeful tau pemilik depot rawon spesial yang letaknya sebelum masjid itu?” tanya pak Handoko


“Saya kenal pak, itu mbak Marning namanya. Dia sering ngaji di masjid kalau selepas maghrib pak” kata Saeful


“Apa di sana ada nenek-nenek tua penjual rawon yang bernama mbah Sari?” tanya pak Handoko


“Dulu ada pak, dia nenek dari mbak Marning, beliau sudah lama meninggal pak. Beliau adalah pendiri rawon spesial itu pak” jawab Saeful kebingungan


“Nah sekarang jelas kan siapa itu mbah Sari dan apa itu mbah Sari kan anak-anak hehehe” kata pak Handoko


“Iya pak, makanya tadi Novi sempat heran, kok bisa semua hidangan bisa siap hanya dalam waktu tidak ada lima menit pak, dan kemudian tadi pak Handoko menyuruh Novi serahkan uang untuk mbah Sari tanpa tanya berapa harga makanan itu semuanya” kata Novi


“Yah, namanya juga ghaib, apapun bisa terjadi tanpa bisa dipikir dengan akal sehat, jadi ya ikuti dan nikmati saja, dan apabila ada yang tidak sesuai dengan jalan pikiran kalian maka tinggalkanlah, beres kan!” jelas pak handoko


Tidak terasa saat ini sudah menjelang pukul 22.00. mereka asik ngobrol tentang keadaan disini tentang masjid dimana Saeful bekerja dan tentang apa saja, pokoknya bagaimana caranya agar tidak ada yang ngantuk diantara mereka.

__ADS_1


Tetapi menjelang pukul 22.30 pak Handoko mendengar suara yang aneh.


“Diam, apa kalian tidak mendengar suara dari luar sana?” tanya pak Handoko


“Iya pak, saya dengar pak, ada yang membuka pintu gerbang vila ini pak” kata Dani


“Saya mendengar ada dua orang yang masuk kesini pak” kata Saeful


“Iya ada dua langkah orang yang sedang masuk kesini” Ujar Wildan yang dari tadi sudah tegang


Wildan tegang? Mungkn karena dia dulu sebagai hantu, sehingga dia tidak merasakan apabila ada sesuatu yang aneh. Sekarang dia sebagai manusia seutuhnya yang bisa memiliki rasa takut karena sesuatu hehehe.


“Energi salah satu orang yang akan datang ini kurang familier, dan dia jarang sekali kesini. Sedangkan orang satunya energinya sama dengan orang yang melempar tanah merah di depan mobil mbak Novi”


“Ingat, tidak usah menyergap, kita hanya dengarkan saja apa yang mereka bicarkan nanti. Sedangkan mas Saeful, nanti salah satu dari orang yang kesini akan membawa muatan negativ, buat dia agar merasa resah dan lawan energi negativ itu, nanti mas Saeful akan saya bantu” kata pak Han


“Jangan ada yang berisik dan jangan ada yang menyalakan lampu senter ya” bisik pak Han


Langkah kaki orang yang ada di luar itu terus berjalan menuju ke arah vila. Langkah mereka semakin dekat dengan pintu masuk ke dalam vila, atau tepatnya langkah kaki itu ada di depan teras vila.


Tapi untungnya mereka berbelok ke arah samping vila yang ditumbuhi oleh rerumputan dan tanaman merambat yang menutup akses ke wilayah belakang vila.


Siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan disini? Kenapa mereka tidak masuk ke dalam vila, mereka malah lewat pintu samping dan menuju ke belakang vila.


“Ada yang bunuh penjaga kita pak” suara pelan dari salah satu orang sekarang ada di belakang vila


“Siapa yang telah membunuhnya” balas suara pelan satunya yang juga ada di bagian belakang vila


“Saya tidak tau pak, karena harusnya tidak ada yang bisa membunuh anjing siluman anda pak Tok” kata suara yang pertama tadi


“Siapa yang berani-berani datang kesini dan membunuh peliharaan saya. Hmm apakah akhir-akhir ini ada orang yang kesini atau ke daerah sini?” tanya orang yang dipanggil pak Tok itu


“Ada pak, delapan orang yang kesini, mereka adalah orang yang pernah ada di sini di masa lalu, mereka sebelumnya pernah ke rumah saya dan bercerita bahwa mereka mencari benda kepemilikan rumah ini”


“Untungnya saya pernah mendengar cerita Ponidi waktu dia memberikan saya uang Gulden atas jasa bapak saya, sehingga saya bisa imbangin cerita mereka pak”


“Apakah mereka yang membunuh bapak saya? karena sampai saat ini saya dendam dengan mereka yang telah membunuh bapak saya” kata orang itu lagi


“Lantas apa yang kamu ceritakan kepada mereka?” tanya orang kedua yang dipanggil pak Tok itu


“Saya karang saja cerita yang pernah diceritakan Ponidi ke pada saya pak. Sekrang gimana pak, kita harus tetap menggali, tetapi kalau tidak ada anjing penjaga siluman, jelas bahaya pak”


“Banyak demit kiriman yang masih berkeliaran disini dan mengganggu aktifitas saya pak” kata orang orang pertama sekali lagi


“tenang saja Saya akan kirim dari Waji, di sana saya banyak pelihara anjing macam itu. Dan kamu teruskan menggali disini dan temukan apa yang saya cari” kata suara orang kedua

__ADS_1


__ADS_2