
“Kita tetap diam disini, jangan bergerak atau menimbulkan suara, karena disini sepi sekali” kata Novi
Suara orang yang sedang memasukan anak kunci ke dalam gembok terdengar hingga di belakang. Bearti suara sekecil dan selemah apapun akan terdengar hingga jauh, dan kesimpulanya jangan sampai menimbulkan suara sama sekali.
Setelah suara orang yang memasukan anak kunci ke gembok, sekarang terdengar suara orang yang membuka pintu pagar dengan hati-hati, mungkin karena pagarnya sudah rusak dan berbunyi, sehingga orang yang ada di depan rumah itu harus membuka pintu pagar dengan pelan dan hati- hati juga.
Novi, Saeful, dan Broni tidak berani bergerak sama sekali mereka ada di ruang belakang dalam rumah dengan harapan agar orang yang ada di depan itu tidak masuk hingga bagian belakang rumah.
Sekarang pintu depan yang sedang dibuka, orang yang ada di depan sedang memutar anak kunci ruang depan hingga pintu yang menuju ke ruang tamu itu dalam keadaan terbuka.
“Kamu tunggu diluar saja Fathoni, saya hanya mengambil dompet dan tas kerja saya saja” kata Supardi yang masuk ke dalam rumah, sementara dukun palsu itu ada di luar dengan tangan yan semakin bengkak, tapi darahnya sudah mengering
Ternyata Supardi hanya sampai area ruang tamu saja, kemudian dia keluar dari sana dan mengunci pintu ruang tamu lagi tapi ada yang aneh..…..
“Kenapa kita tidak mendengar dia tidak menutup pagar dan mengunci nya dengan gembok lagi ya? Bisik Novi
“Jangan-jangan dia sekarang ke arah belakang untuk memeriksa keadaan bagian belakang rumah ini. Apa yang harus kita lakukan Nov?” bisik Broni
*****
Bagaimana dengan kabar pak Handoko beserta Ali, Wildan, Tifano, Gilank. Apakah mereka yang ada di rumah pak Handoko dalam keadaan baik baik saja? Ataukah mereka disana juga terlibat dengan petualangan asik juga?
“Bagaimana pak, apakah ada masalah dengan kediaman bapak ini?” tanya Ali yang sedang melihat pagar rumah pak Han yang masih tertutup rapat
“Sebentar mas, sepertinya ada sesuatu yang terjadi disini mas, Karena penjaga rumah sampai sekarang belum membukakan pintu pagar sama sekali, padahal kita sudah hampir lima belas menit lebih ada di luar sini. Istri saya pun ponselnya dalam keadaan off” kata pak Handoko
Siang hari setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam lebih karena macet, mereka ada di depan pagar rumah pak Handoko yang tertutup rapat.
Beberapa kali pak Handoko membunyikan klakson mobil milik Novi agar penjaga pintu yang ada di dalam membukakan pintu pagar, tetapi tidak ada yang keluar sama sekali. Hingga pak Han memutuskan untuk turun dari mobil dan akan melompat pagar untk masuk ke dalam rumahnya.
“Nak kelitanya ada yang tidak beres di dalam sana, saya coba untuk melompati pagar saja dan mencari pekerja saya yang biasanya membukakan pintu pagar”
“Jangan pak, biar saya dan Wildan saja yang melompat pagar dan mencari pegawai pak Handoko disana pak” kata Ali
Wildan memang bertubuh paling tinggi diantara mereka yang ada di dalam mobil saat ini. Dan dengan postur tinggi besar itu pasti tidak akan keseulitan untuk melompati pagar rumah pak Handoko yang lumayan tinggi itu
“Kalian bisa lompati pagar yang sebelah sana mas, karena yang disana itu tanannya agak tinggi , jadi tidak terlalu sulit untuk naik ke atas pagarnya” tunjuk pak Han pada pagar yang agak ke kanan dari pintu gerbang rumah dia
“Kalau memang mas Ali dan mas Wildan mau masuk ke sana ya ndak papa, nanti gak usah cari orang saya, cukup kalian buka saja pagar itu agar kita bisa periksa bersama ada apa di dalam sana” kata pak Handoko
Akhirnya Ali dan Wildan masuk ke dalam halaman dengan cara naik ke atas pagar atau lebih tepatnya pakai cara maling sandal hehehe. Karena postur Wildan yang tinggi akhirnya Ali naik ke bahu Wildan untuk bisa mencapai ujung atas pagar.
Mereka berdua akhirnya bisa masuk ke dalam halaman rumah pak Han yang luas. Suasaanya disana benar-benar lengang, sepi, banyak daun-daun kering yang berguguran di halaman itu.
__ADS_1
“Aneh Wil, kok ndak ada apa-apa disini ya. Kapan hari waktu kita kesini kan keadaanya selalu ada penjaga pintu dan pegawai yang menyapu halaman” kata Ali
“Ayo li, kita buka saja pintu gerbang rumah itu, nanti biar pak Handoko saja yang masuk dan maju dulu, kita backup dia saja Li” kata Wildan yang menuju ke slot pintu yang ternyata tidak terpasang slotnya, dan tidak terkunci atau tidak tergembok juga
“Aneh, disini tidak di slotkan dan tidak digembok sama sekali Li, aku curiga di dalam sana ada apa-apa ini” kata Wildan lagi
Akhirnya pintu gerbang mereka buka dengan hanya mendorongnya keluar, karena tidak digembok sama sekali. Sebelum menyuruh mobil Novi untuk masuk, Wildan menghampiri pak Handoko dulu yang sekarang ada di balik kemudi
Wildan dan Ali menuju ke arah mobil yang siap untuk masuk ke dalam area rumah pak Handoko. Mereka berdua akan melaporkan keadaan di dalam halaman rumah pak Han yang kosong dan terlihat aneh.
“Pak, yang pertama. Ternyata pintu gerbang itu tidak dislotkan, dan tidak digembok juga, jadi saya tadi tinggal dorong saja bisa terbuka pintunya”
“Dan yang kedua, di dalam sana sama sekali tidak ada orang pak, bahkan banyak sekali daun-daun kering yang jatuh ditanah, keadanya berbeda dengan waku kita kesini beberapa hari lalu itu pak” kata Ali yang curiga dengan keadaan rumah pak Han
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini, kenapa disini sepi sekali. Harusnya ada karyawan saya yang tiap hari tugasnya menyapu halaman rumah ini, tapi kenapa kok hari ini sepi sekali” kata pak Han yang menghentikan mobil Novi sebelum masuk ke area taman rumah pak Han yang luas
“Begini saja anak-anak, mobil ini saya parkir di luar saja, kita masuk ke dalam dengan jalan kaki saja sekalian saya akan melihat sekeliling halaman itu” kata pak Han yang kemudian memarkirkan mobil milik Novi di depan pagar rumahnya yang luas
“Dari sini kita jalan kaki saja mas, kita masuk ke pintu rahasia saja, karena saya curiga di depan sana ada sesuatu yang mencurigakan” kata pak Handoko yang akan masuk bersama kami ke halaman rumah yang banyak ditumbuhi pohon –pohon yang besar dan lebat daunya.
Setelah mereka semua turun dari mobil, kemudian pak Handoko mengajak mereka semua menuju ke arah pojok kanan dari pendopo. Mereka semua berjalan diantara pohon-pohon yang besar dan rindang, daun-daun kering yang jatuh sempat berbunyi ketika mereka injak.
“Di ujung sana itu ada pintu rahasia yang saya buat, dan para karyawan disini tidak ada yang tau kecuali saya, bahkan istri saya juga tidak tau pintu itu” kata pak Han yang wajanya tetap tenang dalam keadaan yang aneh disini.
Akhirnya mereka tiba di paling ujung dari area rumah pak Handoko yang sangat luas setelah berjalan sekitar lima belas menit dari mobil Novi yang diparkir di luar pagar pak handoko, cukup lama juga mereka jalan, karena memang cukup jauh yang harus mereka lalui.
“Kalian tunggu dulu disini anak-anak, saya check dulu bagian disana, eehmm saya butuh mas Wildan saja yang paling tinggi untuk melihat apakah di luar tembok rumah ini ada sesuatu yang mencurigakan” kata pak Handoko
Ali, Tifano, dan Gilank menunggu Wildan dan pak Handoko yang ternyata berjalan ke arah tembok sebelah kanan, tembok yang memisahkan antara lahan rumah pak Handoko dan area diluarnya.
Sementara itu pak Han dan Wildan menyusuri tembok hingga pada bagian tanah yang lebih tinggi dari pada tanah lainya disana.
“Mas Wildan tolong lihat keluar sana, apakah ada sesuatu yang aneh mas, karena diluar pagar tembok ini adalah lahan kosong yang biasanya digunakan penduduk sini untuk parkir mobil atau tuck mereka” kata pak Handoko
“Sepi pak, tidak ada siapapun disana pak, tidak ada mobil atau Truck yang diparkir di balik tembok ini, bahkan tidak ada orang sama sekali pak, padahal di sebelah sana ada semacam tempat untuk cangkruk pak, tapi tempat itu kosong” kata Wildan setelah mengintip keadaan di luar
“Waduh, ada yang aneh disini, biasanya kalau jam segini, tiap hari di sebelah itu selalu ada saja yang sedang memarkirkan mobilnya, dan kadang ada anak-anak yang juga bermain disana. Dan tempat cangkruk itu harusnya tidak pernah sepi mas” gumam pak Handoko
“Hmmmm pak, apa tidak sebaiknya pak Han telepon istri dulu pak? Tanya WIldan
“Justru itu mas, tadi waktu saya telepon kan ponselnya off mas, nah jadi untuk apa saya telepon lagi mas, lagi pula lebih baik begini mas, karena cukup bahaya juga apabila istri saya menerima telepon dari saya dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa yang sedang menguasai rumah ini akan tau dimana posisi saya sekarang mas”
Setelah berpikir sejenak, kemudian diputuskan untuk masuk ke rumah melalui pintu rahasia yang katanya ada di pojokan rumah ini, pintu rahasia yang katanya tidak ada orang yang akan tau dimana pintu itu berada, bahkan istrinya pun tidak tau kalau ada jalan menuju ke dalam rumah melalui pintu itu.
__ADS_1
Pak Han dan Wildan akhinya berkumpul lagi bersama Tifano, Ali dan Gilank yang kuntilanya tetap saja ngatjeng.
“Eh gini anak-anak, tadi mas WIldan sudah intip keadaan diluar sana, dan ternyata diluar sana keadaanya juga mencurigakan karena sama sekali tidak ada orang maupun mobil yang terparkir disana, padalah tiap hari disana itu tidak pernah sepi dengan orang dan kendaraan yang diparkir” kata pak Han
“Jadi keimpulan saya, ada yang sedang terjadi disini anak-anak, dan kemungkinan besar ini semua berkaitan dengan benda yang kita simpan di rumah saya ini. Jadi kita sekarang masuk melalui pintu rahasia yang ada di pojokan rumah ini, dari pintu itu kan tembus ke bagian dalam rumah saya” kata pak Han lagi
Mereka jalan ke pojokan rumah pak Han, setelah melalui beberapa pohon pisang kemudian mereka sampai di sebuah area tanah kosong, tanah kosong yang keliatanya digunakan untuk membakar sampah daun, dahan atau ranting pohon yang patah karena disana telihat jelas abu sisa pembakaran yang sudah lama.
Kemudian pak Han Jongkok dan mengais-ngais tanah yang ada disekitar tempat pembakaran sampah pohon itu. dia terus mengais-ngais tanah menggunakan rangting pohon hingga ada semacam lempengan besi dengan pegangan untuk membukanya, lempengan besi itu tentu saja terkunci dengan gembok yang bagus dan tahan karat.
“Mas tolong kamu ke pohon mangga yang ada disana mas. Di batang yang menghadap ke arah sini itu ada lubang yang memang terjadi dengan sendirinya, nah kamu rogoh dibagian atas itu ada anak kunci yang saya lapisi dengan plastic agar tidak berkarat. Tolong bawa kesini mas” kata pak Handoko
Tifano yang posisinya dekat dengan pohon itu kemudian bergegas merogoh di lubang yang tidak besar namun dalam itu. Setelah beberapa kali mencari dan merogoh, akhirnya tangan Tifan menyentuh sebuah plastic yang di dalamnya ada benda kerasnya. Dia Tarik palstik itu hingga tali yang mengikatnya putus.
“Ini pak” kata Tifano sambil memberikan benda itu kepada pak Handoko
Pak Handoko membuka gembok yang kelihatanya mahal itu, karena gembok itu mesipun dikubur di tanah hingga bertahun-tahun tidak berkarat dan tidak rusak sama sekali.
“Pintu ini memang untuk sekali jalan mas, jadi untuk dari sini menuju ke rumah, sedangkan yang dari ruah menuju ke luar ada lagi mas hehehe. Ayo kita masuk mas, semoga tidak ada apa-apa dengan yang ada di rumah, saya khawatir dengan istri saya mas” kata pak Handoko yang sedang menuruni terowongan yang menuju ke arah rumahnya
“Hehehe… tidak hanya di vila putih, ternyata di rumah pak Han kita juga harus masuk ke terowngan juga rek hehehe” kata Tifano
Ketika mereka mencapai dasar terowongan yang tidak begitu dalam, kemudian pak Han menuju ke arah kanan, tidak lama kemudian beberapa lampu menyala, hingga keadaan dalam Terowongan ini tidak gelap.
“Saklar lampunya ada disana mas, untung tidak konslet, karena sudah lama tidak pernah saya nyalakan” kata pak handoko
“Ayo kita jalan mas, mungkin butuh waktu beberapa menit hingga sampai di rumah saya mas, karena terowongan ini sebenarnya saya buat untuk kondisi seperti ini” kata pak Han yang kemudian berjalan lurus dengan langkah yang cepat
Mereka berjalan di terowongan yang pengab dan banyak lumut serta rembesan air di dindingnya. Hingga mereka berlima sampai pada ujung terowongan.
“Kita sudah sampai di ujung terowongan mas, itu ada tangga ke atas yang akan tembus ke pada kamar tempat kalian menginap itu mas” kata pak Han
“Kalian tunggu saja, biar saya yang naik dulu untuk membukakan pintu yang ada di atas kita itu” kata pak Handoko yang kemudian menaiki tangga yang menuju ke atas
Pak Han naik ke tangga yang menempel di dinding terowongan menuju ke atas, diatas ada semacam pintu, pintu yang akan tembus ke dalam rumah pak Handoko.
Setelah beberapa kali dicoba untuk dibuka akhirnya pintu itu berhasil dibuka juga, tapi pak Han tidak buru-buru naik ke atas, dia keliatanya sedang menunggu dulu apabila ada sesuatu di atas yang tiba-tiba bereaksi dengan pintu yang letaknya pasti ada di lantai yang tiba-tiba terbuka.
“Ayo kita naik ke atas mas, keliatanya aman diatas sini mas” kata pak Han sambil melongok di lubang yang tembus dengan kamar yang anak-anak Sutopo tiduri itu.
Kini mereka berlima sudah ada di kamar dalam rumah pak Han, kamar yang sebelumnya sempat ditiduri anak-anak sebelum mereka menuju ke vila putih bersama pak Handoko.
“Sekarang saya harus menuju ke ruangan utama mas, saya ingin mlihat cctv di rumah ini, karena saya curiga dengan keadaan sepinya rumah ini, bahkan Istri saya sendiripun keliatanya tidak ada disini” kata pak Han.
__ADS_1
“Pak, kalau akan ke ruang tengah lebih baik jangan semua ikut pak, ebagian dari kami tinggal disini saja demi keamanan kita semua pak” usul Ali