
Tubuh Kaswadi terjerembab di depan dokar Supardi, tetapi kemudian Kaswadi berusaha berdiri kembali meskipun dengan darah dan otak yang merembes di batok kepala bagian belakangnya yang penuh darah, Kaswadi berusaha menoleh ke arah Belakang untuk melihat siapa yang melempar kepalanya.
BOUUUGGHH… sekali lagi lemparan jitu dari Novi telah mengenai kepada Kaswadi yang lagi-lagi jatuh terjerembab. kepala bagian belakang nya semakin terbuka, sebagian otak sudah tercecer di halaman rumah samping vila. dan untuk saat ini Kaswadi tidak bangun lagi, dia tertelungkup di tanah dengan kepala bagian belakang yang pecah.
“Jangan kalian dekati dulu anak-anak, kita tetap disini dulu untuk sementara, karena apa yang ada di depan kalian itu bisa saja masih hidup dan akan menyerang kalian lagi, pokoknya jangan sampai Kaswadi menoleh ke arah kita” kata pak Han
Setelah menunggu beberapa saat, tiba-tiba apa yang ditakutkan pak Handoko terbukti. Tubuh Kaswadi bergerak-gerak dan berusaha untuk menoleh ke arah mereka yang sekarang bersembunyi di sekitar rumah Supardi.
“Lempar lagi nak, dan jangan sampai kepala itu melihat ke arah kita” kata pak Tembol
Novi mengambil batu lagi dan kali ini batu yang dia ambil adalah batu yang lebih besar daripada batu yang sebelumnya. Novi melempar lagi kepala Kaswadi yang ada di beberapa meter di depan mereka.
BOUUGHHH…. kepada Kaswadi sekarang sudah pecah berantakan, sehingga tidak ada kesempatan untuk menoleh atau melihat siapa yang telah melempar kepalanya lagi!
“Tamat kamu Kaswadi, hanya sampai disini saja perjalanan hidupmu!” teriak pak Tembol
Tubuh Kaswadi sudah tidak bergerak-gerak lagi, dia mungkin sudah mati dengan keadaan kepala remuk karena terhantam batu beberapa kali oleh Novi.
“Orang itu sebenarnya sudah mati, yang ada di dalam tubuh orang itu bukan nyawa Kaswadi, tubuh orang itu sudah kosong, dan dihuni oleh sesuatu yang merupakan suruhan , tapi saya belum bisa menerka, suruhan siapa itu” kata pak Han
“Lebih baik kita kuburkan saja mayat Kaswadi, di situ saja di halaman rumah Supardi saja” kata Dimas
“Saya yakin yang ada di tubuh Kaswadi itu adalah suruhan dari Mak Nyat Mani yang sekarang ada di dalam tubuh Trimo, maka dari itu kita harus mencari kediaman Trimo agar kita tahu bagaimana kehidupan Trimo setelah disusupi Mak nyat Mani atau suruhanya” kata Dimas
“Kita tunggu saja hingga Trimo datang kesini, nanti kita ikuti kemana dia pergi. saya pikir untuk menguburkan Kaswadi itu lebih baik daripada membiarkan mayat itu ada disini. Ayo ambil sekop yang ada di rumah Supardi, kita gali di sekitar sini saja anak-anak” kata pak Tembol
Halaman depan rumah Supardi sebelumnya memang sudah ada satu buah makam, sehingga dengan kehadiran makam baru milik Kaswadi menjadikan disana sekarang ada dua makam. Karena dikerjakan beramai-ramai maka proses penguburan mayat supardi yang sudah berantakan itu bisa selesai dengan cepat.
“Ayo kita pulang anak-anak, sudah hampir pagi ini, kalian belum istirahat sama sekali, kalian bukan robot yang tidak membutuhkan istirahat nak” ajak pak Tembol
Rumah Supardi mereka tinggal dengan sebuah gundukan baru di sebelah makam yang lama, gundukan yang berisi mayat Kaswadi yang sudah berantakan bagian kepalanya, tetapi apakah hanya sebatas itu saja atau nanti ada hal mengerikan lain yang berkaitan dengan mayat Kaswadi?
*****
“Satu orang lagi korban dari permasalahan vila ini, dan apakah akan ada korban lagi setelah ini?” kata pak Handoko
“Tidak bisa dihentikankah semua ini secepatnya?, karena korban yang akan mati tidak akan berhenti sampai disini saja, pasti nantinya akan ada lagi korban yang mati karena ilmu hitam yang dilakukan oleh Rochman maupun oleh Trimo” lanjut pak Handoko
“Tempat Tinggal Trimo harus segera ditemukan dan semoga saja nak Ngot dan nak Indah beserta Bawok bisa mendapatkan informasi tentang rumah Nabil. Karena disana itu adalah pusat dari seluruh kegiatan yang dia sedang lakukan selama ini” kata pak Tembol
“Iya Mbul, nunggu empat hari rasanya lama sekali, saya sudah tidak betah untuk bisa masuk ke rumah Rochman” kata Dimas
“Rumah Dimas kan hanya sebuah rumah yang tiap manusia bisa masuk ke dalamnya, ada pintu dan ada ruanganya, tetapi sesuai dengan omongan Bawok, pusat dari semuanya kan ada di dalam kolam renang yang ada di bagian belakang rumah” kata pak Handoko
“Dan di dalam kolam renang itu banyak lorong yang menyesatkan bagi siapapun yang masuk ke sana kan” kata pak Handoko
“Kalau saya sih pak, dobrak pintu rumah Nabil, kemudian kita bongkar semua yang ada di sana. Kelamaan kalau harus menunggu Ngot dan Indah pak” kata Broni
“Semua yang ada disini juga berpikiran begitu nak Broni, tetapi setelah melihat musuh kita bertambah satu lagi, yaitu yang sekarang ada di dalam tubuh Trimo, otomatis kita tidak bisa seenaknya meninggalkan vila ini seperti biasanya” jawab pak Han
__ADS_1
Pagi hari yang cerah dengan dua makam yang ada di dalam rumah Supardi memang menakutkan bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi mereka yang ada di vila putih, mereka seolah tidak peduli dengan matinya Kaswadi.
“Bapak-bapak, persediaan makanan kita sudah menipis, apakah kalian tidak ada keinginan untuk belanja beras ataupun yang lainya” kata Winna yang sedang mengecek kondisi persediaan makanan
“Ok nak Winna nanti siang kita pergi ke kota untuk membeli persediaan makanan kita, sekalian saya ingin menanyakan sesuatu kepada penduduk disini” Kata pak Handoko
“Tiap hari selalu begini, sebenarnya bosan juga karena harus selalu waspada dengan apa yang akan menyerang kita, tapi mau gimana lagi rek hehehehe dalane urip kita seperti iki rek hehehe” kata Tifano
“Tenang ae Tif, setelah ini semua selesai, kita punya tempat peristirahatan yang bisa kita pakai sak karepe kene heheheh” jawab Broni
Siang hari yang panas matahari ada di atas vila yang sedang terik teriknya…..
“Saya mau ke kota, ayo siapa yang mau ikut dengan saya” kata Dimas yang ada di dalam tubuh Gilank.
Memangnya Gilank itu belum sembuh sembuh ya, kenapa Dimas selalu ada di dalam tubuh Gilank, jangan-jangan Dimas doyan ada di dalam tubuh Gilank hihihi.
“Sama saya saja pak, biarkan yang lainya istirahat pak, kalau saya kan sedari tadi ada di dalam vila ndak ngapa-ngapain pak” Kata Broni
“Saya juga pak” kata Ali yang menawarkan diri ikut bersama Dimas menuju ke kota untuk membeli bahan makanan yang diperlukan
“Juriah, ayo ikut kita, kamu yang bagian depan, siapa tau di depan ada yang akan menyambut kita, jadi kan kita tau duluan kalau ada kamu Juriah” kata Dimas
Akhirnya mereka bertiga plus mbok Ju berjalan menuju ke arah Gebang , mereka tidak melewati sisi jurang karena kata mbok Ju tidak ada yang mencurigakan sejauh didepan sana.
Entah Dimas akan kemana, karena dia sempat bilang kalau dia juga mempunyai kepentingan di kota Gebang.
“Nanti kita kita ke pos polisi dulu, karena saya memang ingin melaporkan kepada pak polisi tentang adanya orang-orang menuju ke vila putih ini, jadi apabila ada sesuatu yang terjadi di vila putih maka pihak kepolisian sudah tau dan akan melakukan tindakan menutup akses ke arah vila putih” kata Dimas sambil berjalan
“Pak Dimas, apakah nanti tidak mengakibatkan kita kesulitan masuk ke dalam sana pak?” tanya Ali
“Kita lihat saja nanti mas, kita pikir sambil jalan ke sana mas, karena sulit juga bagi kita apabila akses ke atas sana dibatasi oleh pihak kepolisian” jawab Dimas
“Lagi pula pak Dimas mau bilang gimana dengan pihak kepolisian, kita kan bukan pemilik vila itu, dan kita juga bukan penduduk sini, lalu bagaimana cara agar mereka percaya dengan omongan pak Dimas?” kata Broni
“Omongan kalian semua ada benarnya, kita pikirkan selagi kita jalan menuju ke pos polisi saja anak-anak. tujuan kita ke bawah sebenarnya kan untuk membeli bahan makanan yang sudah habis hehehe” kata Dimas lagi
Mereka bertiga berjalan santai di pinggir jurang yang menuju ke arah Gebang, hingga mbok Ju tiba-tiba menyuruh mereka untuk sembunyi ke sisi jurang.
“Lebih baik kalian sembunyi dulu ke sisi jurang, karena saya lihat ada mobil yang sedang naik ke sini, dan kemungkinan besar itu adalah Rochman yang sedang mencari Kaswadi” kata mbok Ju
Rochman datang mencari kaswadi yang sudah menjadi mayat, dan sudah dikubur di kediaman Supardi. Beberapa suruhan Totok atau Rochman pun sudah dibuat tidak berkutik lagi oleh Trimo yang sudah dibuat tidak berdaya oleh Trimo.
Maka untuk saat ini Rochman kalah satu langkah dari Trimo yang sekarang sudah mulai sakti karena ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh Trimo.
“Saya yakin kalau saat ini Rochman sedang dalam keadaan marah besar karena suruhan nya sudah keok ditangan Trimo, saya yakin dia belum tau siapa yang membuat suruhanya termasuk Kaswadi kalah oleh Trimo” kata Dimas
Ketika mereka sedang ada di sisi jurang, tiba-tiba jalan di atas mereka lewatlah sebuah mobil yang mengarah ke vila putih, mobil yang bercat hitam itu melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi hingga debu dan kerikil berhamburan diterjang mobil itu.
“Lebih baik kita ke atas dulu anak-anak saya penasaran apa yang akan dilakukan Rochman di atas sana, dan mbok Ju, tolong segera kasih tau teman-teman kita yang ada di dalam vila agar waspada dengan kedatangan Rochman yang kelihatannya penuh dengan emosi”
__ADS_1
Mbok Ju secepat kilat melayang menuju ke arah dalam vila putih untuk memberitahu kepada teman yang lainya akan datangnya Rochman ke sana.
Ali, Broni dan Dimas yang ada di dalam tubuh Gilank berjalan naik ke arah atas untuk melihat apa yang sedang dilakukan Totok atau Rochman disana.
“Mobil sudah diparkir di depan vila, tetapi belum ada yang turun dari mobil sama sekali” bisik Ali yang posisinya tidak lebih dari sepuluh meter dari mobil yang ada di depan vila putih.
“Kebiasaan Rochman itu anak-anak, dia dari dulu kan selalu begitu, dia selalu tidak berani menghadapi sesuatu dengan frontal, kalau sedang sendirian dia selalu menunggu hingga ada yang menyapa atau menegurnya, baru kemudian dia berani menampakan dirinya” kata Dimas
“Biar dulu saja dia disana anak-anak, saya sudah terbiasa dengan tingkah laku Rochman apabila dia sendirian, dia itu meskipun sudah hebat tapi sifat kekanak-kanakan tidak dapat hilang , dia akan menunggu sampai keadaan hatinya santai baru dia akan muncul”
Memang hingga saat ini Rochman belum juga keluar dari mobilnya, seolah-olah dia sedang mempersiapkan atau sedang melihat situasi sekitar sana.
Hingga beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara pintu mobil terbuka, hanya terbuka saja dan tidak ditutup.
“Kita lebih baik lebih hati-hati anak-anak, karena biasanya dia selalu berusaha mengamankan dirinya dengan apa yang dia miliki, tetap tidak lama kemudian dia akan melemah, karena dia terlalu memforsir tenaganya” bisik Dimas
Suara langkah kaki berjalan turun dari dalam mobil, kemudian suara itu tidak menuju ke vila, melainkan menuju ke rumah Supardi.
“Saya yakin dia akan mengambil mayat Kaswadi, dia tidak rela apabila orang yang sudah berjanji membantu dia sudah mati, pasti nanti dia akan hidupkan lagi……. seperti ketika saya dulu menghidupkan Kamidi” kata Dimas lagi
Lama berselang kemudian terdengar suara seseorang yang sedang membuka tanah, lebih tepatnya membongkar tanah kuburan, kemungkinan besar kuburan milik Kaswadi.
“Ayo kita lebih dekat dengan mobilnya, saya yakin yang sedang dibongkar itu adalah makan Kaswadi, saya yakin dia akan menghidupkan mayat itu lagi , karena ilmu yang dia miliki sekarang adalah ilmu hitam yang dulu saya miliki” kata Dimas lagi
Lima, sepuluh, lima belas menit kemudian Rochman berhasil mengangkat jasad Kaswadi yang bagian kepalanya sudah hancur, dengan tubuh kotor oleh tanah untuk menguburnya.
“Ini akibat terlalu goblok, sudah aku kasih apa yang dia minta malah membelot kepada Trimo Hahahah” kata Rochman sambil membopong mayat yang kotor oleh tanah dan dengan kepala yang hancur itu
“Akan aku kembalikan Kaswadi kepada Trimo, dan rasakan apa yang sudah dia lakukan kepadaku karena berani melawanku!” geram Rochman yang berjalan menuju ke arah mobilnya
Mobil itu kemudian pergi meninggalkan area vila putih tanpa melakukan apapun terhadap vila putih. Rochman entah kemana, tetapi yang pasti dia dendam kepada Trimo
“Harusnya kita ikuti mobi dia, agar kita tahu ke mana tujuan dia itu. Selama ini kita kan kesulitan untuk menemui dia pak Dimas” kata Broni
“Hehehe.. gak perlu, disana kan sudah ada Ngot dan Indah, untuk urusan itu bisa kita tanyakan kepada teman kita yang ada di sana saja, tujuan saya bukan ke Rochman, tetapi ke Trimonya saja” kata Dimas
“Bukanya lebih bahaya mendatangi Trimo yang sedang dirasuki Mak Nyat Mani?” tanya Ali
“Betul apa yang kamu bilang itu, tetapi Iblis perempuan yang sudah memperalat kalian itu tidak selamanya ada di dalam tubuh Trimo, dia akan merasuki Trimo pada saat memang perlu untuk dirasuki. Biasanya dia akan masuk ke tubuh Trimo pada waktu dia akan ke sini”
“Jadi tidak tiap hari ya pak, kenapa tidak tiap hari pak?”” tanya Broni
“Tubuh Trimo itu normal, energi yang ada di dalam Trimo itu masih normal, dan Iblis betina itu butuh otak Trimo untuk berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke ruang bawah tanah yang ada di dalam vila putih”
“Berbeda dengan tubuh teman kalian yang sedang saya rasuki ini, dia masih lemah dan butuh energi lain agar sistem tubuhnya bisa memperbaiki sendiri”
“Beda lagi dengan teman kalian yang bersama The Kie Pho itu, Pho tidak akan menguasai penuh tubuh teman kalian dia masih membiarkan teman kalian menguasai tubuhnya” kata Dimas
“Apabila Iblis itu menguasai penuh Trimo, takutnya Trimo sudah tidak bisa berpikir lagi tentang kertas copyan denah ruang bawah tanah vila putih”
__ADS_1
“Ah sudahlah ayo kita ke bawah lagi. Mbok Ju….. apakah keadaan di bawah yang ke arah sini tidak ada lagi yang akan datang? saya capek kalau harus lewat sisi jurang” kata Dimas