
Pintu mobil dibuka palan pelan oleh Petro, kemudian dia masuk ke dalam mobil, perlahan lahan dia turunkan tongkat rem tangan nya, Setelah itu Petro keluar secara perlahan-lahan tanpa menutup pintu terlalu rapat.
“Beres Wah, lihat mobil bergerak pelan-pelan ke arah belakang, dan kebetulan beberapa meter di belakang ada motor dukun dukun suruhan Trimo hehehe” kata Petro dengan bangganya
“Harapanku mobil ini bisa menggelinding agak kencang sehingga bisa menabrak motor yang ada di belakagnya dan kemudian mobil ini masuk ke dalam jurang heheheh”
“Lha apa gak meledak Tro, bahaya rek nek sampek meledak Tro, bisa bisa hutan di jurang iku kebakaran C*k” jawab Blewah
“Gak Wah, mudah-mudahan nggak, karena tidak ada pengapian dari mobil. kontak dalam keadaan mati, dan semoga bahan bakar mobil tidak bocor saja. Tapi nek cuma jatuh di jurang itu jelas tidak meledak koyok di film-film itu Wah, kan jatuhnya pelan, paling juga hanya pesok pesok saja kok “ jelas Petro
Petro dan Blewah sembunyi di jurang samping mobil, sementara itu mobil Trimo menggelinding ke belakang, awalnya hanya menggelinding pelan, tetapi lama kelamaan cepat, karena kontur jalan disana menurun sehingga makin mempercepat mobil itu menggelinding.
“Hahaha rasakno koec c*K!” bisik Blewah
Mobil Trimo menggelinding semakin cepat dan akhirnya menuju ke tiga sepeda motor yang diparkir seenaknya di tengah jalan depan vila.
…BRAAAK…… BRAAAK… suara yang diharapkan Petro dan Blewah pun terjadi.
“Aseeeeek mereka gak akan bisa pulang dengan selamat hahahaha” teriak Blewah setelah mobil Trimo menghantam motor yang terparkir di depan pagar vila putih.
Suara keras akibat tabrakan mobil Trimo dan motor para dukun mengakibatkan orang-orang yang ada di dalam vila berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Akibat dari kontur jalan yang menurun sedikit curam, setelah menghantam motor yang ada disana, mobil Trimo menggelinding semakin liar dan tak terkendali, dan beberapa meter dari tempat persembunyian pak Tembol dkk mobil itu masuk ke jurang disertai suara gedubrakan hingga ke dasar jurang!
Untungnya setelah mencapai dasar jurang mobil itu tidak meledak, cara jatuhnya pun tidak keras karena tertahan oleh pohon-pohon yang ada di sekitar jurang, hingga mobil itu akhirnya tertahan oleh semak belukar yang ada di dasar jurang.
Bagaimana reaksi dari pemilik motor dan Trimo? tentu saja tidak usah dibahas, mereka semua menyalahkan Trimo karena kecerobohannya hingga mobil dia menggelinding dan menabrak keempat motor hingga keadaanya gak karuan.
“Sekarang saatnya muncul Wah, kita pura-pura kaget mendengar suara keras, kita bilang saja dari hutan untuk mencari binatang malam dan cari demit” kata Petro
“Petro yang selalu bersama Semprul kemudian mengelus anjing ghaib itu dan membisikan sesuatu di telinganya, tidak lama kemudian anjing itu mengibaskan ekornya meskipun dia tidak mempunyai ekor sama sekali.
Dalam keadaan yang kacau akibat kemarahan dukun-dukun bayaran Trimo, kedua orang Petro dan Blewah tiba-tiba muncul dari atas, mereka berdua berjalan cepat sehingga seolah-olah mereka berjalan dari atas menuju ke bawah.
“Ada apa ini rame rame disini…. sedang ada potong padi ya!” teriak Petro ketika melihat keenam dukun yang sedang marah besar kepada Trimo”
Tetapi tidak ada yang menggubris omongan Petro, mereka masih kuat dengan kemarahannya terhadap Trimo dan Trimo pun tidak mau begitu saja disalahkan, dia menuduh makhluk ghaib yang menyebabkan mobilnya mundur dan hilang kendali.
“DIIAAAAAAAM!” teriak Blewah yang suaranya terkenal keras karena dia adalah vokalis andalan Bluekuthuq
Ketujuh orang yang tadi saling berseteru kemudian melihat ke arah Blewah dan Petro, mereka pasti tidak mengira ada suara keras dan sumbang yang menyuruh mereka untuk diam.
“Ada apa ini, dan suara apa tadi itu!” bentak Petro
“Heh… kalian berdua tidak usah ikut campur urusan kami, sana pergi sana bocah kampung” teriak salah satu dukun itu kepada mereka berdua
“Kami penduduk sini, kami tidak suka ada orang kota yang bikin keributan disini!” bentak Blewah
“Apa yang telah kalian lakukan terhadap vila putih?” tanya Blewah
“Sudaaah pergi sana orang kampung jangan ikut campur urusan kami” kata salah satu dukun yang paling sok jago
“Kamu tidak menghormati kami sebagai penduduk sini, kalian membuat keributan disini, kalian tidak punya tata krama, akan kami bikin kalian susah karena perbuatan kalian sendiri” kata Petro
__ADS_1
“Apaaaa.apa kamu orang kampung, kamu berani menantang kami haah!” bentak salah satu orang yang paling besar tubuhnya, sementara itu Trimo hanya diam melihat dukun itu menyerang mereka berdua.
Petro kemudian memberi kode kepada Semprul untuk melakukan sesuatu kepada dukun yang posisinya paling jauh dari gerombolan yang sedang berusaha menyerah Trimo.
“Kalian semua membuat kotor daerah kami! ingat salah satu dari kalian akan menanggung akibatnya” selesai berkata seperti itu tiba-tiba semprul menggonggong keras sekali di belakang orang yang dia incar
Gonggongan Semprul membuat dukun yang posisinya agak jauh itu loncat dan terjatuh di tempat dia berdiri, sedangkan yang lainya sedang mencari cari asal suara gonggongan itu.
“Tidak usah kalian cari asal suara itu, karena suara itu berasal dari penjaga vila ini yang tidak suka dengan kehadiran kalian disini, apalagi dengan banyaknya sesajen dan apapun itu yang kalian bawa!” bentak Petro
“Siapa sebenarnya kalian berdua, apa perlunya kalian ada disini, kami sedang terkena musibah, bukanya mau bikin ribut disini. Lihat itu motor kami dilindas mobil dia yang sekarang terjun ke jurang!” kata orang yang berkumis dan brewok lebat
“Kami hanya penduduk sini yang sedang mencari demit pesanan dukun-dukun tolol macam kalian!. Kalian ini dukun palsu yang hanya modal tampang sangar saja, masak melihat penjaga vila ini saja kalian tidak bisa melihatnya sama sekali dasar tolol” bentak Petro
“Sekarang tinggal pilih, kalian pergi dari sini dan biarkan keadaan disini tenang, atau kalian akan lebih menderita karena serangan penjaga vila itu” kata Blewah dengan suara yang pelan
Baru saja Blewah bicara seperti itu tiba-tiba orang yang paling besar diantara mereka berteriak kesakitan karena telurnya digigit Semprul.
“Aaaaaaaaaahhh telorkuuuu!” teriaknya sambil gulung gulung di depan vila putih
“Sekarang kalian pergi dari sini dan bawa semua itu sesajen dan apapun , apabila ada yang tertinggal disana, kalian semua akan saya cari satu persatu dan mereka yang ada di vila akan malakukan perhitungan dengan kalian” kata Petro
Trimo hanya bisa diam dan kagum melihat Petro dan Blewah yang bisa tau siapa-siapa saja yang ada di dalam sana, entah apa yang ada di pikiran Trimo saat ini ketika melihat keenam dukun itu membersihkan sesajen dan apapun yang mengotori halaman vila putih.
“Sekarang bagaimana kendaraan kami pak Trimo, kami minta ganti!” teriak mereka yang sedang membersihkan area halaman vila.
“Kamu ganti motor mereka, jangan cuma lepas tanggung jawab saja!” bentak Petro kepada Trimo yang masih mengagumi kedua orang itu
“Sebenarnya kamu tidak lalai, mobilmu pasti sudah kamu handrem kan, hanya saja ada makhluk disini yang tidak suka dengan kegiatan kalian disini, kalian ingin mengusir mereka, padahal ini adalah rumah mereka, kalian tidak akan bisa usir mereka dari sini!” kata Blewah
“Kalian dukun seharusnya sudah tau resiko pekerjaan seperti ini, kalian harusnya tau kalau bisa saja penjaga vila ini marah kepada kalian, kalau seandainya kalian menyalahkan bapak ini berarti kalian tidak paham resiko pekerjaan seperti ini, dan mahluk yang ada disini tidak suka dengan orang seperti itu” kata Blewah
Blewah dan Petro sedang mencari perhatian Trimo, ternyata ini trik mereka untuk menarik perhatian Trimo, mereka mungkin punya tujuan untuk menggali informasi tentang apa yang akan dilakukan dan yang sedang dilakukan Trimo.
“Sekarang juga pergi kalian dan bawa itu teman kalian yang sakit, jangan sampai penunggu vila ini marah lagi dengan kalian hanya karena kalian tidak menuruti apa yang saya katakan” kata Petro
“Dan untuk masalah kendaraan kalian, diskusikan di bawah saja, jangan disini dari pada ada yang akan menderita lagi setelah ini” tambah Blewah
“HALAH…AKU TIDAK PERCAYA DENGAN KALIAN, RASAKAN APA YANG AKAN SAYA LAKUKAN KEPADA KALIAN!” teriak salah satu dari orang yang ada disana yang kemudian duduk dan merapalkan sesuatu
“Hihihi kamu itu komat kamit ngapain, ndak usah adu ilmu dengan yang ada disini, saya bukan siapa-siapa, tetapi karena saya hormati ghaib yang ada disini akhirnya mereka juga hormati saya” kata Petro
Semprul yang memang sudah siap dengan keadaan yang mendesak kemudian dia mendekati dukun yang akan menyerang Petro, dia kemudian bersiap di belakang dukun itu, taring dia yang tajam ditempelkan ke kepala dukun yang sedang proses melakukan sesuatu kepada mereka berdua.
“Heh dukun, apa yang akan kamu lakukan kepada kami, kamu yang akan susah sendiri dan kepalamu akan sakit sekali setelah ini” kata Petro dengan suara dan intonasi yang datar
Orang yang mengaku dukun itu memejamkan matanya sambil meringis sepertinya menahan sakit di bagian kepala, beberapa kali dia memegang kepalanya yang mungkin saja terasa sakit.
“Ayo kita lanjut cari demit lagi Wah, biarkan mereka bersihkan vila ini hingga tidak ada lagi sisa sesajen yang tadi mereka bawa, atau mereka semua akan menderita sakit juga hehehe” ajak Petro sambil jalan menuju ke atas dan membiarkan satu orang yang sedang duduk bersila dengan memegang kepalanya terus menerus
Mereka berdua berjalan beberapa puluh meter kemudian masuk ke dalam jurang dan bersembunyi di sana beberapa saat, kemudian berjalan kembali di sisi jurang menuju tempat Trimo dan beberapa dukun yang sedang dan masih saja memperdebatkan kerusakan kendaraan mereka.
Petro memanggil Semprul dan membisiki anjeng itu untuk mengerjai mereka yang masih saja ada di depan vila putih, Petro menyuruh Semprul agar melakukan sesuatu atau merasuki salah satu yang ada disana untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian terjadi keributan di atas Petro dan Blewah yang sedang bersembunyi di sisi jurang di bawah mereka. Beberapa orang nampaknya berusaha menenangkan seseorang yang sedang ngamuk, dan itu pasti karena orang yang sedang ngamuk itu sedang dirasuki Semprul.
“Ayo kita ke atas Wah heheheh saatnya kita jadi pahlawan lagi Wah, nanti kamu ae sing ngomong ke mereka Wah”
Mereka berdua sudah ada di atas, setelah secara perlahan lahan naik dari sisi jurang yang gelap dan berbatu, tapi karena mereka berdua sudah terbiasa dengan keadaan gelap, maka mereka tidak merasakan susah sama sekali ketika sudah ada di atas
“APA LAGI YANG TERJADI LAGI DISINI!. INI AKIBAT KALIAN TIDAK MENURUTI PERINTAH SAYA KAN!” teriak Blewah sambil berkacak pinggang
“Tolong mas, ada yang kesurupan” kata salah satu dari mereka menunjuk ke temanya yang sedang dipegangi beberapa teman agar tidak lepas kendali dan ngamuk gak karuan
“Itu akibat kalian belum pergi dari sini kan, makanya penunggu disini marah kepada kalian. Sekarang kalian teriak kalau kalian akan segera turun dan janji tidak kesini lagi, cepat teriaklah sebelum ada korban lagi” kata Blewah yang memegang kendali keadaan
Mereka yang dalam keadaan sadar kemudian berteriak sekencang mungkin bahwa mereka tidak akan kembali lagi kesini dan segera pergi dari sini sekarang. Akhirnya Semprul Pun pergi dari orang yang dia rasuki tadi, keadaan menjadi tenang kembali, mereka pergi dari area vila putih secepatnya, kecuali Trimo.
“Heh.. bawa bangkai motor kalian, atau penunggu disini akan mendatangi rumah kalian untuk meminta kalian membersihkan area ini!” bentak Blewah
Dengan susah payah mereka berenam membawa menyeret tiga motor yang terparkir disana, motor yang sebagian sudah rusak, tetapi masih bisa ditarik dan didorong
“Kenapa pak, kenapa sampaian kok belum juga pergi dari sini?” tanya Petro
“Siapa kalian, dan apa yang kalian lakukan disini?” tanya Trimo
“Kami hanya penduduk sini yang cari demit untuk diperlihara. ada apa bapak kok tanya-tanya saya?”
“Kalian berarti tau tentang vila ini dan seluk beluknya?” tanya Trimo
“Jelas tau lah kami sering main di vila itu, dari kecil kami sering main petak umpet disana, memangnya ada apa kok tanya-tanya soal vila?”
“Ndak papa, eh kalian ada nomor ponsel yang bisa saya hubungi?” tanya Trimo
“Hahahah buat apa kami punya ponsel pak, demit-demit disini tidak butuh ponsel untuk hubungi mereka pak, tinggal saya suruh datang saja mereka sudah ada di sebelah kami pak” jawab Blewah
“Ini..bawalah ponsel ini, eh besok saya akan kesini untuk kasih chargernya, eeee besok pagi kalian akan saya hubungi ya” kata Trimo sambil menyerahkan ponsel mahalnya kepada Blewah dan Petro
“Tidak pak, buat apa ponsel seperti ini bagi kami pak. kalau bapak mau ketemu kami ya datang saja kesini, kami berdua ada disini tiap malam, dan tidak perlu pakai ponsel-ponsel segala pak heheheh” jawab Blewah
“Besok..besok pagi saya kesini, akan saya bawakan ponsel baru untuk kalian dan beberapa hadiah untuk kalian karena kalian sudah menyelamatkan saya dari orang-orang yang tadi itu” kata Trimo
“Kalau pagi kami mungkin bisa ada disini bisa tidak pak, karena kami masih tidur pak” jawab Blewah seenaknya
“Eh nama kalian siapa?” tanya Trimo
“Saya Farid, teman saya ini Ananta” jawab Petro
“Baiklah kalau begitu, saya akan pulang dulu, hmm tentang mobil saya yang ada di jurang, eehn biarkan saja disana, suatu saat saya akan panggil mobil derek untuk mengambil mobil saya yang ada di jurang itu”
Kalian tenang saja eeh saya bisa beli lagi kok, eh ..saya akan jalan kaki ke bawah sana dan mencari kendaraan dari bawah saja. Ehh sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan kalian”
Trimo berjalan dengan gontai menuju ke bawah, dia sangar juga malam-malam jalan sendirian menuju ke arah Gebang. tapi besok pasti dia akan ke vila lagi untuk mencari Blewah dan Petro.
*****
“Jadi itu rencana kalian anak-anak, agar Trimo bisa mempercayai kalian dan akan kalian pengaruhi untuk tidak mencari sesuatu yang ada di dalam vila itu dengan cara mengajak dia berwisata ke dalam lorong gitu?” tanya pak Tembol setelah mereka berdua menceritakan apa saja yang mereka lakukan terhadap Trimo dan dukun yang tadinya ada disana
__ADS_1
“Bukan gitu pak, kami jelas tidak akan menemui Trimo, tetapi besok harus ada seseorang yang akan menemui Trimo di sekitar depan vila putih pak. Katakanlah bisa saja Dogel yang belum pernah berhadapan dengan Trimo sama sekali”
“Jadi gini pak, anggaplah kami ini adalah hantu pak, dan besok apabila ada yang mencari kami, Dogel bilang saja tidak ada orang di sekitar sini dengan ciri-ciri seprti kami berdua, tapi Dogel juga herus membual siapa kami dan siapa yang menjaga vila ini sehingga jadi Trimo akan penasaran “