
Pintu aneh itu sudah bisa terbuka, bau busuk yang luar biasa mengerikan keluar dari dalam ruangan dan mulai memenuhi area dapur, mereka bertiga sudah siap masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan bangkai manusia.
Bukan bangkai atau mayat yang utuh, tetapi bangkai atau mayat yang sudah di terpotong potong sesuai dengan ukuran panci dan ukuran penggorengan heheheh ndak..ndak. mayat itu sudah terpotong potong sesuai dengan karepnya yang memutilasi.
Lilin yang dibawa pak Han benar-benar membantu untuk menerangi ruangan ini. Lilin pak Handoko benar-benar membuat mereka ketakutan, mending tidak ada cahaya sekalian, jadi tidak akan terlihat apapun yang ada disana.
“Pak, kami pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya pak, banyak mayat dan banyak hal yang mengerikan dan menjijikan, tetapi waktu itu tanpa ada cahaya sama sekali pak”
“Sedangkan untuk saat ini, bapak membawa lilin yang mengakibatkan kami bisa melihat apa yang ada disini pak, lagi pula cahaya lilin itu membuat bayangan yang mengerikan pak” kata Ali dengan suara bergetar
Darah dan cairan yang sudah menghitam melapisi lantai ruangan pendingin ini, jutaan belatung sebesar kecoak bertebaran di lantai dan dinding, akhirnya mereka ragu untuk masuk kedalamnya.
“Gimana pak, apa kita tetap masuk ke dalam sana pak?” tanya Ali
“Yah ini memang yang harus kita lalui anak-anak, menurut perkiraan saya, ruangan ini terhubung dengan yang ada di bangunan belakang hotel” Jawab pak Handoko
Pak Handoko semakin mengarahkan lilin itu ke arah dalam, ternyata bukan hanya mayat yang termutilasi yang ada di lantai. Di bagian atap ternyata juga ada belasan mayat yang tergantung di lehernya.
“Masyaallah! Ternyata banyak juga mayat yang digantung, kita masuk ke area neraka ini anak-anak. Tetapi kalian harus ingat, yang ada di depan kita itu hanya mayat, benda mati, sesuatu yang tidak akan bisa bergerak sendiri, jadi camkan di dalam pikiran kalian bahwa mereka sudah mati” kata pak Han
“Mbak Novi gimana, apa tetap kita masuk ke sana?” tanya pak Handoko
“Hehehe Novi tetap maju terus pantang mundur pak, ayo kita terus pak, jangan sampai terlambat pak” jawab Novi
Pak Han melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang penuh mayat, sepatu dia menapak pada genangan darah dan cairan lendir yang sebagian sudah mengering sehingga cairan dan darah itu mirip dengan gel agar agar heheheh.
Di depan mereka ada daging manusia yang sudah membusuk dan hancur. Daging itu menjadi lembek mirip bubur ketika terinjak sepatu pak Handoko, belatung sebesar kecoak berloncatan ke segala arah ketika pak Handoko menginjaknya juga.
Tulang belulang, tengkorak, dan organ dalam manusia tersebar di ruangan itu. Organ dalam yang berupa lambung ada yang sebagian sudah pecah, hingga bagian dalamnya sudah terisi dengan jutaan belatung dan ada juga yang masih membesar seperti balon yang siap untuk pecah.
Cairan putih bening sebagian tersebar juga di lantai ruangan, setahu penulis tiap mayat selalu mengeluarkan cairan yang berbau khas, tetapi cairan yang ada disini semua sudah berbau busuk dan mengerikan.
“Masyaalaaaaah, lihat di tembok itu pak, ada banyak alat khelamin manusia yang dipajang pak, belasan kuntila terpasang di tembok itu pak” tunjuk Novi
Berbagai macam bentuk kuntila terpajang di tembok ruangan itu, ada yang panjang kurus hingga ada yang gemuk dan pendek heheheh, semua kuntila itu terpaku di tembok ruangan.
“Duuuh kuntila yang besar dan panjang itu pasti punya orang yang gagah. Hmmm jadi gemes nih Novi pak” ujar Novi
__ADS_1
“Huussh keadaan gini kok kamu malah bayangkan yang ndak-ndak sih mbak Novi hihihih” jawab pak Han dengan berbisik
“Tetap focus dan jangan berhenti berdzikir anak-anak, semakin kesini auranya semakin mengerikan anak-anak” bisik pak Handoko
Cairan yang ada di lantai tidak semakin berkurang, semakin ke dalam jalan ini semakin menurun, dan cairan busuk yang bercampur darah itu semakin banyak hingga menggenangi separuh sepatu mereka.
“Jalan disini semakin menurun anak-anak, kita kelihatanya masuk ke arah bawah tanah, dan yang mengerikan ini genangan cairan busuk ini semakin banyak dan semakin mengerikan anak-anak.”
“Di depan kita ada semacam tumpukan daging yang sudah busuk, daging mengerikan dan busuk itu berair dan berbusa, apa kalian masih bisa menahan bau ini anak-anak?” tanya pak Handoko
“Masih bisa pak, kami masih bisa tahan pak” jawab Tifano
Mereka berempat berjalan dalam keadaan diam tanpa berbicara sama sekali, jelas saja tidak bicara karena yang ada di antara mereka hanya mayat, cairan, darah, semua berbau busuk dan mengerikan.
“Pak, maaf, kenapa kok disini saya sama sekali tidak bisa lihat mahluk halus pak” tanya Ali yang posisiya ada di belakang pak Handoko
“Sebenarnya saya juga tidak tau mas, harusnya disini banyak arwahnya, tetapi yang saya rasa disini itu sepi, kelam, sunyi. Tidak ada arwah atau mahluk ghaib satupun” kata pak Handoko
Jalan yang mereka lalui semakin menurun, akibatnya darah yang tergenang yang sebagian sudah membeku mirip makanan dedeh pun semakin banyak, buih-buih percampuran antara darah dan cairan tubuh manusia yang lengket mirip ingus pun semakin menggenang.
“Kita ada di lautan lendir dan cairan tubuh manusia serta darah anak-anak, indera pinciuman kita sudah kebal, jadi lebih baik kita teruskan untuk menuju ke arah bawah sana, bagimana?” tanya pak Handoko
Mereka sebenarnya cukup beruntung, karena apa, karena mereka hanya terganggu oleh hasil dari pembusukan mayat, mayat yang semakin membusuk akan semakin mengeluarkan cairan, nah cairan lendir yang bercampur darah itu yang menjadi penghalang mereka.
Jadi mereka hanya focus bagaimana mengontrol indera penciuman mereka agar kuat menghadapi hihihih cobaan lendir dan caian bau saja, tidak ada cobaan dari mahluk ghaib sama sekali disini, jadi itu merupakan keberuntungan mereka.
Setelah kecek dengan berbagai lendir dan darah yang menggenang, akhirnya jalan yang mereka lalui berganti arah menjadi naik. Jalan terowongan itu menjadi menanjak.
“keliatanya kita sudah ada di luar hotel anak-anak, kita sekarang menuju ke bangunan yang ada di taman belakang” kata pak Handoko
“Pak, disini Novi mulai merasakan energi jelek pak, di depan sana keliatanya ada sesuatu yang mengerikan pak” bisik Novi yang ada di belakang Ali
“Benar nak Novi , saya juga merasakan seperti itu, kita harus bersiap-siap apabila ada serangan dari depan anak-anak” bisik pak Handoko
Ruangan yang berbentuk lorong sekarang sudah bersih dari berbagai macam cairan, bahkan tidak ada mayat sama sekali disana, ruangan itu kering dan bau.
“Udara disini semakin panas anak-anak, kalian harus lebih hati-hati dan jangan berhenti untuk tetap berdizikir, karena yang ada di depan itu adalah pusat dari yang ada disini” kata pak Handoko
__ADS_1
“Pak, ada baiknya lilin yang bapak bawa itu dimatikan saja pak, lebih baik kita berjalan dalam gelap saja pak. Saya takut kalau cahaya lilin itu akan mengundang mereka untuk mendatangi kita pak” kata Ali
“Sssst, apa kalian mendengar sesuatu?” bisik pak Handoko
Mereka saat ini merapat di dinding terowongan, mereka mendengar suatu suara, suara yang aneh, bukan suara benda, tetapi suara yang lebih aneh lagi.
Tetapi sayangnya keempat orang ini berada di posisi yang kurang menguntungkan untuk melihat apa yang ada di depan sana.
“Suara mendengung pak, tapi bukan mirip dengungan, melainkan suara ribuan orang yang sedang berbicara, iya betul pak, ini lebih mirip dengan suara ribuan orang yang sedang berbicara dengan suara rendah” kata Tifano
“Suara ini memang bukan suara manusia mas, tapi lebih ke suara arwah yang sedang saling berbicara satu sama lain. Suara ini adalah suara yang merupakan suara seperti pemujaan mas. Jadi memang mereka semua sedang berkumpul disini mas” kata pak Handoko
“Jadi di depan sana itu mungkin sedang ada ceremony, mungkin saja itu ceremony atau mungkin juga Ritual untuk pemimpin mereka mas, itu yang saya pahami dengan keadaan yang seperti ini biasanya mas” kata pak Handoko lagi
“Apa mungkin itu adalah semacam ritual untuk Totok agar mempunyai kekuatan untuk malam ini pak? Bisik Novi
“Hmm bisa juga mbak Novi, bisa juga seperti itu mbak. Kita harus lebih maju lagi mbak, agar kita bisa lihat siapa yang ada disana. Kita lebih baik maju lagi ke sana anak-anak” kata pak handoko yang kemudiaan berjalan pelan menuju ke arah lebih mendekati ke sumber suara
Mereka berempat berjalan pelan dengan merapat ke dinding terowongan, ternyata terowongan itu berbelok ke arah kanan, dan suara berdengung itu ada di arah kanan.
“Bagaimana anak-anak, kita terus ke sana, apakah penglihatan kalian sudah bisa membiasakan diri dan beradaptasi dengan keadaan gelap ini anak-anak?” tanya pak Handoko
“Iya saya sudah bisa beradaptasi pak, kita harus bisa lihat apa yang ada disana pak” jawab Tifano
Mereka berjalan terus menuju ke arah suara itu berada, sebagai catatan, saat ini lilin sudah mereka matikan, yang ada hanya mereka menggunakan insting mereka untuk menuju ke arah yang mereka tuju.
“Semakin kesini semakin panas saja anak-anak, keliatanya kita ada di sebuah ruangan yang berapi. Apa kita ada di sebuah tungku pembakaran kah anak-anak” bisik pak Han
“Tapi kalau memang ada api nya pak, harusnya di depan sana ada cahaya yang bayanganya akan kelihatan dari sini pak, tapi sampai saat ini tidak terlihat ada bayangan cahaya sama sekali pak” kata Ali
“Iya betul mas, kalau memang di depan sana ada api harusnya sudah ada cahaya yang sampai disini mas” bisik pak Handoko
“Kita maju lagi saja kesana mas, kita harus lihat dengan jelas apa yang ada disana. Tetapi terus terang telinga saya makin tidak kuat dengan suara-suara berdengung yang semakin lama semakin keras ini mas” kata pak Handoko
“Kita harus segera melakukan sesuatu pak, agar Totok atau Rochman tidak bisa pergi ke vila putih pak” kata Ali
“Begini saja mas, kalau kalian masih kuat, kita bisa lebih dekat lagi dengan mereka mas. Ayo kita lebih maju lagi mas ke arah sana” ajak pak Handoko
__ADS_1
Mereka maju lebih mendekat ke arah asal suara yang mendengung mengerikan, ketika mereka berempat sudah mulai bisa melihat apa yang ada di depan mereka, mereka menjadi ketakutan dan terkejut menjadi jadi.
“Yang di depan sana i..itu seperti ada kabut putih yag bergerak gerak pak, kabut itu bergulung-gulung dengan suara yang aneh pak, dan di tengahnya ada sebuah benda yang ada di atas meja, benda berwarna hitam dan bergerak-gerak pak” kata Ali