
Mbok Ju menuju ke tempat Saeful, tapi dia harus sangat hati-hati karena orang-orang yang ada disana ada yang bisa melihat mahluk ghaib. Tapi mbok ju bukan hantu masa lalu yang bodoh, dia hanya memperlihatkan dirinya dihadapan Saeful saja.
“Nak, nanti Handoko mau kesini, dia akan menjelma sebagai manusia, kamu harus pikirkan apa yang akan kamu bicarakan dengan orang-orang ini karena adanya Handoko. Dan perlu kamu ingat, Handoko bermasalah dengan Trimo. Handoko yang menyimpan dokumen berharga yang sebelumnya dibawa oleh Trimo”
Saeful hanya menggangguk dengan yakin akan penjelasan dari mbok Ju, dia yakin apabila dia bisa melanjutkan pembicaraan cuci otaknya kepada ke tujuh orang itu, dimana tiga diantaranya sedang dalam keadaan gatal gatal.
“Pak Trimo, saya mau bicara sama kamu. Karena kalian semua diam dan tidak mau membicarakan apapun kepada saya, jadi saya mau tanya kepada pak Trimo dulu saja hehehe” kata Saeful kepada Trimo yang sedari tadi diam karena dia takut aksinya diketahui oleh Supardi, meskipun dia tidak yakin yang disana itu Supardi asli atau tidak
“Pak Trimo kesini atas dasar dokumen yang dimiliki oleh pemilik vila ini ya?..., tapi dokumen itu sekarang sudah tidak ada di tangan pak Trimo kan?” tanya Saeful mulai membuka omongan yang nantinya akan menyinggung Handoko juga
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Trimo, dia tidak menjawab apapun yang ditanyakan oleh Saeful. tetapi yang aneh, Supardi melotot ke arah Trimo, seolah olah ada yang aneh dengan Trimo.
“Kenapa pak Trimo, kenapa sampeyan hanya diam saja, apakah sampeyan punya masalah dengan dokumen itu?” Saeful mengulangi pertanyaanya kepada Trimo, tapi dia juga mendatangi Supardi dan Fathoni yang sedang melotot ke arah Trimo
“Kamu Supardi palsu. Kamu diajak Trimo untuk kerjasama mencari harta yang ada disini kan, tapi Ternyata Trimo tidak memegang dokumen itu sama sekali, lalu kamu Supardi palsu ngapan aja selama ini hahahah, apa kamu mencari jarum diantara tumpukan jerami seperti yang dilakukan Supardi yang asli?”
“Kenapa kamu melotot pak Supardi palsu dan teman humunya yang katanya saya yang membuat cacat tanganya itu?” kata Saeful yang saat ini hanya berjarak tiga puluh centimeter di depan Supardi dan Fathoni
Kedua orang itu tidak menjawab pertanyaan Saeful, mereka berdua hanya diam dan melihat ke arah Trimo. Saeful yakin kalau kedua orang itu sedang melihat Handoko yang ada di belakang Trimo, Handoko yang tiba-tiba hadir diantara mereka.
*****
Sementara itu di sisi jurang yang tidak jauh dari sana, Novi, dan Broni sudah siap untuk bertindak manakala ada sesuatu yang membahayakan Saeaful dan pak Handoko.
“Nov, apakah kita harus siap untuk melakukan hal seperti biasanya?” tanya Broni
“Bisa jadi mas Bron, pokoknya selama mas Saeful bisa menguasai keadaan, Novi belum mulai bertindak mas. Tapi Novi akan mengincar telapak tangan penjilat yang bernama Fathoni itu mas, akan Novi hancurkan lagi hingga diamputasi hihihihi”
Novi dan Broni tetap menunggu hingga keadaan benar-benar tidak kondusif lagi hingga mereka berdua yakin untuk melakukan sesuatu.
*****
“Wah ternyata Supardi palsu ini pendiam juga ya. Hehehehe apakah karena kedokmu sebagai yang mengaku yang asli sudah terbongkar olehku, sehingga kamu takut kalau Trimo akan membatalkan kerjasama dengan mu?” Saeful mulai lagi dengan merendahkan Supardi
“Ya sudah kalau begitu, saya tidak akan bicara sama kamu lagi, karena kamu sudah tidak ada gunanya lagi bagi Trimo, dan saya yakin kamu berdua ini tidak akan ada disini apabila polisi datang ke vila putih dan mencari Supardi dah Fathoni yang asli!”
Ketika Saeful berbalik arah melihat Trimo, tiba-tiba dia dikagetkan dengan sosok yang ada di belakang Trimo. Memang keadaan disini sudah mulai gelap karena sudah lewat waktu senja, sehingga yang ada di sekitar sini mulai temaram.
“Waaaah ternyata ada tamu yang datang kesini. Trimoooo, kamu harusnya sopan sedikit dengan tamu yang ada di belakangmu itu” kata Saeful menunjuk ke arah pak Handoko yang ada di belakang trimo
Trimo berbalik arah dan dia kaget bukan main melihat Handoko yang sudah ada disana. Dia bergerak kesamping menjauhi pak Handoko yang masih berdiri tanpa bergerak sama sekali, Supardi hanya melihat Trimo yang menghindari pak Handoko.
“Bapak siapa ya namanya, dan ada perlu apa datang kesini pak?” tanya Saeful yang akan memasukan pak Handoko ke dalam permainanya. Tetapi Saeful pura-pura tidak mengenal pak Handoko sebelumya.
“Nama saya Handoko Widjaja mas, dan saya kesini karena saya ada perlu dengan Trimo ini!” kata pak Handoko yang sedang menoleh ke arah Trimo yang semakin menjauh posisinya dari pak Handoko
__ADS_1
“Semakin lengkap saja disini, dan semakin terbuka siapa-siapa yang berhubungan dengan kalian semua hihihihi, tapi tidak akan lengkap tanpa ada arwah dari ketiga orang yang dibunuh oleh Supardi dan Fathoni yang asli, tiga arwah itu apakah akan datang kesini atau tidak ya hihihihi” kata Saeful
“Pak Handoko ada perlu apa dengan Trimo pak, coba bapak utarakan pak” kata Saeful
“Saya kesini karena mencari orang yang telah mencuri dokumen kepemilikan rumah atau vila putih ini dari orang yang bernama Kaswadi, karena akar permasalahan itu ada pada dia, dan Kaswadi adalah orang yang sedang menggaruk garuk dengan mengrikan itu mas. Itu yang sebelah tengah itu mas” tunjuk pak Handoko
“Kalau begitu pak Handoko selesaikan dulu saja dengan Trimo dan Kaswadi pak, agar semuanya jelas pak, disini saya cuma bisa mengatakan bahwa tidak baik mempunyai dendam pak, tapi kalau bapak memaksa ya silahkan pak”
“Eh apakah bapak merasa dirugikan dengan adanya Trimo dan Kaswadi itu pak, apa yang mereka berdua lakukan kepada bapak?” karena saya masih belum tau apa hubunganya dengan bapak” kata Saeful yang berusaha memancing pak Handoko agar cerita apa yang dialami olehnya
“Rumah saya diteror oleh orang suruhan dia, rumah saya diobrak abrik juga, hingga kemarin banyak anggota keluarga saya yang terancam oleh mereka berdua”
“K..kamu hantu…, ka..kamu tinggal di kuburan, itu bukan rumah, tapi kuburan umum!” teriak Trimo menunjuk ke arah pak handoko
“Kuburan apa? Rumah saya bukan kuburan, kamu tanyakan saja kepada penduduk disana. Atau begini saja, bagaimana kalau kita taruhan, disaksikan dengan semua yang ada disini, kalau rumah saya bukan kuburan, maka kamu akan mati saat itu juga dan dikubur disana, dan saya yang akan meneruskan semua harta dan menjalankan proyek ini”
“Diiaaam kamu orang tua” hardik Fathoni yang memang agak idiot otaknya
“Kamu membentak saya, umur saya jauh lebih tua dari pada kamu, coba kamu bentak saya sekali lagi, niscahnya Tuhan akan menghukum kamu…” kata pak Handko
“DIAAAM KAMU ORANG TUA TAK BERGUNA….HAHAHAHAHAHA!” teriak Fathoni sekali lagi
Tapi tiba-tiba sebuah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa membungkam mulut Fathoni hingga dia jatuh terjengkang dan kepalanya terhantuk aspal rusak yang hanya tinggal berupa batu-batuan tajam.
Fathoni tidak sempat berteriak, dia jatuh nggeblak tanpa ada teriakan sama sekali, dia jatuh di sebelah Supardi yang tidak sempat menangkap tubuhnya, Fathoni tergeletak dengan bibir pecah penuh darah dengan mata yang melotot dan wajah yang menoleh ke samping.
“Ya Allah dia meninggal, dia meninggal dengna mengenaskan” kata Supardi yang menutupkan mata Fathoni yang melotot
“Kenapa kamu sedih Supardi palsu, kalian memang harus dapat hukuman karena lancang menggantikan Supardi asli yang sedang sembunyi hehehehe” kata Saeful
“Saya bukan Supardi palsu atau siapapun yang kamu tuduhkan, saya asli, saya dan Fathoni yang mati ini yang membuang tiga mayat teman Fathoni ke jurang yang ada di daerah pct. Saya adalah yang mempunyai rencana untuk membuang mayat mereka bertiga!” kata Supardi yang masih jongkok menangisi mayat Fathoni
“Ugh… begitu, jadi kamu ini asli hhmm kalau begitu saya salah duga dong hihihi. Tapi ndak papa, laporan saya kepada polisi tentang kalian masih dalam Proses, dan kamu akan ditangkap polisi atas pembunuhan dan penghilangan jejak mayat itu”
Dan mungkin juga di tambah dengan pembunuhan Fathoni ini, karena saya akan melaporkanya sekarang” kata Saeful dengan wajah santai tanpa ada penyesalan sama sekali
“Tenang saja Supardi, saya yang akan menjadi saksi matinya Fathoni, dan mungkin juga Trimo juga akan bersedia menjadi saksi juga kan pak Trimo hehehe, atau pak Trimo yang mau menggantikan posisi Supardi sebagai pembunuh? hehehe”
“TOLOL….HAHAHAA ANAK DESA TOLOL!. Justru saya yang akan melaporkan kamu atas tindakan pembunuhan ini, karena saya saksi adalah matanya!” kata Trimo tiba-tiba
“Hihihihi bagaimana kalau kamu sendirian melawan kami yang banyak ini, siapa kami itu yang nanti kamu akan tau sendiri hahahaha” jawab Saeful
“Kamu ada di daerah yang angker Trimo, dan tindakanmu itu sudah diketahui demit-demit yang ada disini, kalau kamu mau selamat ya silahkan pergi dan tinggalkan vila ini, atau bantu sebagai saksi mata atas Supardi yang mengaku asli ini, kalau kamu nekat ya ndak papa kok hihihihi” kata Saeful lagi
“SUDAH! KALIAN KALAU MAU MELAPORKAN SAYA ATAS MATINYA FATHONI SILAHKAN SANA!” teriak Supardi sambil mengeluarkan senjata api yang dia simpan di pinggangnya
__ADS_1
“Ough hihih silahkan tembak saya, karena semakin banyak korban, maka kamu dan keluargamu yang akan mempertanggung-jawabkan tindakanmu. Anak-anakmu akan menanggung malu mempunyai bapak seorang pembunuh dan narapidana, pasti akan tersiksa lah mereka, dan akhirnya mereka menjadi gila hahahah” jawab Saeful dengan wajah tidak berekspresi sama sekali
“Ah kalian sudah tidak asik lagi, lebih baik saya pergi dari sini saja, tapi saya akan datangi kalian berdua lagi, sekarang saya akan membuat laporan baru kepada pak polisi tentang kamatian Fathoni, terserah kalian kalau mau ada disini atau pergi dari sini ya silahkan”
“Oh iya, njenengan namanya siapa pak?” tanya Saeful kepada pak Handoko
“Tadi kan sudah saya beritahu mas, Nama saya Handoko Widjaja mas, bisa panggil saya dengan Pak Han saja, kok tiba-tiba bisa lupa sih mas” jawab pak Handoko
“Hehehe iya pak, saya ini suka lupa. Pak Handoko mau ikut saya membuat laporan atau tetap disini bersama mereka bertiga yang masih sadar dan tiga orang lagi yang sedang asik menggaruk botol sirup marjannya?” tanya Saeful
“Saya ikut dengan sampeyan saja mas, dan saya akan bertindak sebagai saksinya mas. Lalu bagaimana dengan tiga orang yang sedang menggaruk garuk itu mas?” tanya pak Han
“Tenang saja pak Handoko, MEREKA AKAN SEMBUH DENGAN SENDIRINYA APABILA MAU MEMBUAT LAPORAN JUGA TENTANG KEMATIAN FATHONI HIHIHIHI” kata Saeful dengan suara yang agak lantang, agar ketiga orang yang sedang asik menggaruk itu dengar dan ikut bersama mereka membuat laporan agar Supardi ditangkap
“Siapa kamu sebenarnya, dan kenapa kamu sebegitu jahatnya dengan saya” kata Supardi memelas
“Hahahaha saya hanya anak desa yang dari tadi kalian ajak bicara, saya hanya orang yang diberi perintah pak polisi untuk melaporkan apabila disini ada kegiatan yang mencurigakan” jawab Saeful yang kemudian melangkah pergi
Ketika sudah dapat lima langkah, tiba-tiba Saeful berkata lagi kepada mereka…..
“Untuk pak Kaswadi, dan dua dukun yang tidak ada apa-apanya itu, kalau kalian mau sembuh, maka berjanjilah kalian akan turun ke bawah dan melaporkan tindakan Supardi atas pembunuhan itu. Cukup dalam hati saja, nanti setelah sepuluh langkah saya, maka kalian akan sembuh dan segera susul saya”
“Tapi apabila kalian coba coba membohongi saya, maka penyakit itu akan kerasan di dalam tubuh kalian, dan kalian akan mati dengan mengenaskan” kata Saeful dengan nada mengancam
“Hahahah atau begini saja, kamu Trimo dan kamu yang mengaku sebagai Supardi asli, coba kalian berebut melaporkan hahahahah, kalian saling laporkan lah, nanti siapa yang menang akan saya bantu sebagai saksinya hahhahah”
“KAMU ORANG SINTING. INGAT KAMU AKAN SAYA BUNUH DALAM WAKTU DEKAT” kata Trimo
“WAKAAKAKAK, kamu ancam saya, ya sudah ndak papa. Supardi kasih senjata api mainan yang kamu pegang itu kepada Trimo agar Trimo bisa membunuh saya secepatnya. Lumayan, ada percobaan pembunuhan juga ternyata, dan jangan lupa saksi saya banyak hahahaha”
Saeful berjalan menuju ke arah bawah bersama pak Handoko tanpa memperdulikan Trimo, Sokran, dan Supardi yang sedang kebingungan. Jelas mereka kebingungan dengan keadaan yang gak jelas ini, tetapi paling tidak diantara mereka berdua sudah tau rahasia masing-masing heheheh. Sekrang tinggal tunggu bom waktu yang akan meledak.
Tentu saja Saeful dan pak Han tidak turun ke Gebang, mereka turun kemudian berbelok ke sisi jurang untuk mendengarkan apa saja yang sedang Trimo dan lainya sedang bicarakan.
“Byuh byuh byuuuh, mas Saeful iki kok ya pinter sekali sih, Novi sampek ngatj…, eh sampek terbengong bengong denger mas Saeful bicara tadi” bisik Novi sambil merangkul Saeful dengan mesranya
“Uupsss aduh maaf mbak, ada yang nusuk-nusuk di bagian bawahnya mbak ini, mungkin mbak Novi sedang bawa batu di saku celananya ya?” kata Saeful sambil menunjuk ke arah sekitar resleting Novi yang menonjol
“Hihihih i…iya mas, No…Novi sedang bawa batu untuk ngelempar mereka yang jahat itu mas” bisik Novi gelagapan hihihi
Saeful sampaii sekarang kan belum tau kalau Novi itu berkuntila hehehe, jadi ya biarkan tetap tidak tau saja hihihihi.
**********
Maaf, saya tidak bisa update secara maksimal dan dalam waktu yang sesuai, karena saya dalam perjalanan luar kota dan kena macet yang luar biasa hahahah. jadi belum sempat pegang netbook sama sekali untuk membuat lanjutan cerita
__ADS_1
tapi meskpun ada dalam kendaraan, saya tetap usahakan menulis ketika kendaraan sedang stuck karena terkena macet.
terima kasih