MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 30 (TERLAMBAT)


__ADS_3

Tiap kamar kosan yang ada disini dilengkapi dengan jendela yang cukup lebar dan berkelambu, sehingga kemungkinan apabila lampu di dalam kamar terang benderang berarti kondisi di dalam ada orang.


Apalagi dengan keadaan mesin outdoor penyejuk ruangan yang sedang nyala, makin menambah keyakinan kalau di dalam sana ada penghuninya.


"Wil, ketuk pintunya dong"  suruh Ali


Beberapa kali Wildan mengetuk pintu kamar nomor 15, tetapi tidak ada suara gerakan atau sahutan  sama sekali dari dalam, tidak ada pula suara musik atau suara tv yang dinyalakan, hanya sunyi dan suara mesin outdoor ac saja yang terdengar.


"Coba sekali lagi Wil, siapa tahu Trimo sudah tidur" kata Ali sekali lagi


Beberapa kali ketukan, tetapi tetap sama saja tidak ada sahutan dari dalam.


"Mas. Apakan mas Trimo ini sedang keluar?" tanya Ali


"Ndak mas, disini kan yang pegang kunci gerbang saya mas, lagi pula mobil mas Trimo ada itu" tunjuk penjaga kosan itu ke sebuah mobil keluaran terbaru merk ternama yang berwana hitam


"Lha ini sandal dia juga ada disini, berarti dia tidak kemana-mana mas" lanjut penjaga kosan


Kemudian ganti penjaga kosan yang mengetuk pintu dan memanggil nama Trimo, tapi sama saja tidak ada suara apapun dari dalam, baik itu suara langkah kaki atau sahutan dari dalam kamar kosan.


"Mas, kalau boleh tau mas Trimo tadi terakhir keluar dari kamar jam berapa ya?" tanya Wildan kepada penjaga kosan


"Dia tidak keluar kamar setelah pulang dari kerja mas. Bahkan mobilnya dia taruh diluar, saya yang disuruh masukan mobil itu ke garasi"


"Tapi ada yang aneh tadi sama mas Trimo, wajah dia terlihat pucat dan berkeringat mas, bisa saja dia tadi sedang tidak enak badan, sehingga menyuruh saya untuk memasukan mobilnya ke dalam garasi"


Penjaga kosan itu mulai panik, dia bukan lagi mengetuk, tapi menggedor pintu kamar nomor 15 itu berulang kali sambil memanggil nama Trimo, tetapi tetap tidak ada suara apapun dari dalam.


"Ada apa mas Jono, kok nggedornya keras sekali mas?" tanya orang sebelah kamar yang tiba-tiba keluar dari kamarnya mungkin dia terganggu dengan suara gedoran pintu itu


"Oh maaf pak, orang penghuni kamar ini kok saya ketuk-ketuk tidak menyahut pak" jawab penjaga kosan yang ternyata bernama Jono


"Tadi saya dengar ada suara gedubrakan di sebelah, coba mas Jono intip dari lubang ventilasi saja mas" kata tetangga sebelah yang kemudian masuk ke dalam kamarnya lagi.


Benar-benar tetangga yang baik hehehe. Setelah ngomong, kemudian masuk kamar dan mengunci pintu kamar, benar-benar asyu! . Coba saya punya tetangga kayak gitu, sudah tak obrak-abrik dia hahaha.


"Lebih baik masnya intip dari ventilasi mas, takutnya ada apa-apa sama Trimo, sampeyan bisa susah mas" kata Ali memberikan pengertian


"Tapi saya takut mas, saya takut kalau ada apa-apa didalam" kata penjaga kosan itu dengan keadaan bingung


"Gini saja mas, sampeyan laporan dulu sama juragan pemilik kosan ini, nanti apabila dia menyuruh masnya mengintip dan kemudian membuka paksa kamar, ya sampeyan harus lakukan mas" sahut Wildan

__ADS_1


"Saya ndak berani telpon juragan mas"


"Gini saja, biar saya saja yang intip, nanti kan saya kasih tau mas Jono bagaimana keadaan didalam sana" kata Wildan


Wildan yang mempunyai ukuran tubuh tinggi besar itu hanya cukup dengan naik di atas kursi kayu yang diambil Jono dari pojok selasar.


Wildan naik di atas kursi yang cukup kuat untuk menopang tubuhnya, kemudiaan dengan berhati-hati dia berusaha mengintip apa yang ada di dalam kamar ini.


Apa yang dilihat ternyata sesuai dengan perkiraan mereka berdua waktu ada di dalam mobil, mereka sudah terlambat, anak-anak Sutopo terlambat tiba di kosan Trimo.


"Trimo ada di atas tempat tidurnya mas, tetapi.... tetapi ada banyak darah di sprei kamarnya. Sekarang lebih baik cepat mas Jono ambil kunci serep kamar ini, siapa tahu Trimo masih bisa diselamatkan" kata Wildan


"Sekalian mas Jono telepon pemilik kosan agar segera menuju kesini, tetapi kerjakan tanpa kegaduhan dan tidak mengganggu penghuni disini mas, takutnya nanti kalau ada kegaduhan mereka pada ketakutan mas" kata Ali


"Sampeyan tunggu disini, saya mau ambil kunci serep kamar" kata Jono kemudian pergi meninggalkan kami disini


"Kita telat Wil, gimana ini?, harus cari dimana lagi iki Wil?"


"Sik Li, sabar sik, nanti kalau kamar iki dibuka, awakmu bikin sibuk Jono yo. Aku mau cari kotak yang dicuri oleh Trimo dan juga ponselnya Trimo, pasti di dalam ponsel itu banyak percakapan yang menarik Li"


Hmm ide Wildan masuk akal juga, tapi apakah akan semudah itu?


Tangan Jono gemetar ketika mencari anak kunci yang berstiker angka 15, dan dia berikannya kepada Ali.


Jono hanya melihat Ali yang sedang memasukan anak kunci ke lubang kunci, untungnya kunci yang di dalam kamar kondisi tidak ada di dalam lubang kunci, jadi Ali bisa membuka kunci pintu itu dengan mudah.


Pintu terbuka sedikit, hawa dingin dari pendingin udara yang kelihatanya dipasang pada suhu paling rendah itu terasa sampai luar.


Ali merangkul Jono dan mengajak masuk ke dalam, ternyata benar juga. Di dalam kamar tubuh Trimo dalam keadaan tertelungkup dengan pisau menancap di dadanya, selain itu kedua pergelangan Trimo juga penuh simbah darah.


"Mas Jono, Trimo keliatannya sudah mati, karena darah dari pergelangan tangannya sudah berhenti, lagi pula ada pisau dapur yang tertancap di dadanya, sekarang sampeyan segera hubungi juragan, tapi pelan-pelan saja" kata Ali sambil tetap merangkul Jono.


Sementara itu Wildan sudah berhasil mengambil dua buah ponsel yang tergeletak di meja yang ada di depan tempat tidur.


"Sekarang cepat kamu kembali ke kamarmu dan hubungi Juraganmu dari sana, sementara ini kami tunggu disini agar penghuni disini tidak melihat kejadian disini" kata Ali


Ali sengaja menyuruh Jono pergi dari sini dengan sengaja, agar kedua orang itu bisa dengan leluasa mencari kotak besi yang mungkin disembunyikan oleh Trimo disini.


"Li kamu cari di kolong tempat tidur aku cari di lemari situ"kata Wildan


"Kolong ini kosong, gak ada apapun disini Wil"

__ADS_1


"Podo di lemari pakaian ini ndak ada apa-apanya selain hanya pakaian saja Li"


Kedua orang itu sudah benar-benar mati rasa takutnya, mungkin karena mereka berdua sudah terbiasa melihat mayat yang lebih mengerikan ketika mereka melawan Dimas di masa lalu.


Semua sudut kamar, laci, lemari, kamar mandi, sampai keramik lantai kamar dan kamar mandi sudah mereka check. Tidak ada yang aneh di kamar ini.


Tidak lama kemudian Jono masuk ke dalam kamar masih dengan wajah yang pucat.


"Gini mas Jono, kematian orang ini bisa jadi karena bunuh diri, tapi ada juga kemungkinan dibunuh oleh orang"


"Kenapa saya bilang dibunuh, karena anak kunci kamar ini tidak ada disini, harusnya kalau Trimo bunuh diri anak kunci kan tidak perlu sampai hilang" dalih Ali


"Tadi juraganmu ngomong apa?" tanya Wildan


"Katanya mau kesini mas, boss bilang saya harus menutup pintu kamar dan suruh kalian pergi dari sini mas"


"Gini mas Jono, di mobil kami ada suami dari kakak perempuan Trimo, biarkan dia melihat saudaranya yang mati ini, lagi pula dia kan harus menghubungi sanak saudaranya Trimo" kata WIldan sambil turun ke bawah untuk menjemput Kaswadi, dan menyimpan ponsel Trimo di dalam mobil


Sementara itu Ali menemani Jono yang sedang dalam keadaan kalut, mungkin ini pertama kalinya dia melihat mayat.


"Mayat Trimo mana mas!" kata Kaswadi yang sudah ada di kamar nomor 15 bersama Wildan


Tentu saja Kaswadi shock melihat kematian adik dari istrinya, dia tentu saja tidak menyangka akibat dari ulahnya mencuri kotak besi itu menyebabkan matinya Trimo.


"Sekarang hubungi istrimu, agar istrimu dan keluarganya yang mengurusi jenazah Trimo, sekarang kita harus pergi dari sini kalau tidak mau dijadikan saksi dan berurusan dengan pihak berwajib" kata WIldan


Setelah Kaswadi menelpon istrinya, mereka bertiga pun segera pergi dari sana, mereka jelas tidak mau menandatangi berkas apapun terkat dengan kematian Trimo.


"Dani, kita cepat pergi dari sini, dan pak Kaswadi kabari istrimu kalau kamu pergi dari situ untuk sesegera mungkin mencari kotak besi dari pada nanti ada lagi korban yang mati" kata Ali


Suasana di dalam mobil hening, mereka tidak menyangka bahwa kotak itu sudah mulai mencari korban, mereka terlambat!


"Aku yakin tadi itu bukan pembunuhan tetapi Trimo bunuh diri, karena ada tiga luka yang menyebabkan dia mati rek, pertama di pergelangan kedua tangannya hingga darahnya habis mengucur keluar, yang kedua pisau itu tertancap di dadanya juga" kata Ali


"Tapi anehnya anak kunci kamar itu hilang Li, jadi seolah-olah ada yang membunuhnya dan kemudian pembunuh itu melarikan diri dengan mengunci pintu itu dari luar" potong Wildan


"Dan yang terpenting, kotak itu tidak ada di sana. Sepertinya Trimo menyembunyikan kotak itu di suatu tempat rek" tukas Ali


"Yang tadi kamu masukan ke laci mobil itu apa Wil?" tanya Broni


"Ponsel Trimo! Kita buka saja ponsel trimo, siapa tau ada pesan Wa yang penting yang menyangkut dengan kotak berisi uang dan kertas berharga itu" jawab Wildan

__ADS_1


__ADS_2