
Apa yang telah Gilank lakukan, dia telah menimbulkan kekacauan, dan kekacauan ini menimbulkan keramaian atau kerumunan, dimana biasanya kerumunan itu selalu mengundang provokator, dimana Provokator bertindak sebagai pengundang masa yang lebih besar.
Masa yang lebih besar selalu menimbulkan kekerasan, dimana kekerasan ditambah provokator akan lebih berbahaya dari pada pembunuhan.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu yakin kalau mau memanggil teman yang yang diduga telah menyerempet motor mbak ini?, karena mbak ini kan sudah bilang kalau teman saya itu tidak menyerempetnya. Kalau sudah yakin, akan saya panggil dia kesini” kata Ali
“Jelas yakinlah! …Tadi saya lihat sendiri teman gondrongmu itu menyenggol mbak ini sampai jatuh gini” kata ibu-ibu gemuk yang membawa tas belanja
“Di bukan mau menyerempet, tapi mau njambret…. Bunuuuh bakar preman yang menjambret” kata seseorang yang berpenampilan kumuh kemudian lari meninggalkan kerumunan
Wildan langsung merengsek dan mengejar kepada orang yang berteriak jambret dan memegang kerah baju orang itu tidak lari.
“Kamu Provokatror, akan saya hajar kamu!” teriak Wildan sudah akan memukul orang itu
“Bapak-bapak, ibu-ibu. Tolong berpikiran yang pintar ya, jangan asal percaya dengan orang yang ingin memperkeruh suasana, kita disini ingin menyelesaikan dengan baik, bukan dengan kekerasan” teriak Ali
Semakin banyak orang yang bergerombol dan semakin ramai sekitar mbak yang jatuh dari motornya itu. Wildan dan Ali yakin bahwa Gilank tidak menyerempet mbak itu, tapi kenapa sampai mbak itu jatuh mereka juga belum yakin.
“Ok kalau begitu, akan saya panggil teman saya agar kesini, agar kalian semua puas dan tidak menuduh yang tidak tidak lagi” kata Wildan
“J..jangan mas..j..jangan dipanggil kesini. Saya tadi jatuh sendiri kok” kata mbak yang bisa dikatakan korban dari Gilank itu
“T…tolong jangan bawa mas itu kesini pak, saya takuuuuut. Jauhkan dia dari saya pak” lanjut mbak-mbak itu dengan wajah ketakutan
“Mbaknya jangan takut, kita harus basmi preman dan gali yang ada di kota Mjkt, ndak usah takut dengan orang Gondrong dan penuh tattoo itu mbak” kata bapak-bapak bertopi koboi…koboi persawahan tepatnya
“BETUUUULL, KITA HARUS BASMI PREMANISASI DI KOTA INIIII” teriak bapak-bapak yang memakai kaos merah bergambar perempuan tua yang sedang mengepalkan tanganya
“Wah bisa runyam ini Li, kita harus cepat-cepat selesakan iki dari pada nanti Gilank malah remuk kena fitnah sana sini. Orang-orang disini keliatanya kok benci sekali sama orang gondrong dan bertato, bagi mereka ciri-ciri itu konotasinya adalah preman” bisik Wildan
“Sudahlah Wil, pokoknya kita paggil saja Gilank agar kesini, karena keadaan akan semakin runyam kalau dia tidak kesini Wil” kata Ali
Sebelum keadaan semakin memanas, Ali beranjak menuju ke arah Gilank yang tadi dikepung oleh beberapa orang penduduk setempat yang menahan dia agar tidak lari dari tindak kejahatan yang dituduhkan kepadanya.
Untuk diketahui jarak antara tempat Gilank ditahan dengan korban jatuh lumayn juga sekitar 30 meter an. Tapi hal ini tidak mengurangi niat ali untuk menuju ke tempat Gilank agar semua bisa diselesaikan dengan cepat.
Tetapi ada yang aneh sedang terjadi di tempat Gilank menunggu. Ternyata yang mengepung Gilank sudah bubar semua, dan di sekitar tempat Gilang banyak ceceran muntah, jadi posisi Gilank di atas motor Saeful itu dikelilingi muntahan muntahan orang yang jaga disana tadi.
“Lho kemana semua yang jaga kamu tadi Lank?” tanya Ali yang menyusul sambil berlari
“Mbuh Li, tadi mereka muntah-muntah dan ngamuk-ngamuk ke aku kok, salahku lho opo kok sampek mereka ngamuk ke aku iku lho…. Dasar orang-orang aneh Li” kata Gilank dengan wajah tanpa dosa
“Ndeh wahahahahah yancooook…yancoook, wis ayo ke sana, dari pada ruyam nanti, ayo kita ke mbak yang jatuh dari motornya itu, ayo kita kesana Lank” kata Ali setelah ada di tempat Gilank dan heran melihat muntahan yang berceceran di sekitar Gilank
“Kenapa Li, akukan ndak salah, aku lho nak nyenggol motor mbak itu, wong aku nyallip agak jauh baru mbak itu jatuh kok” kata Gilank
“Sudahlah, mbak itu sudah bilang kalau kamu itu ndak salah, tetapi disana banyak provokator yang manas manasi ndas chok, dan ada baiknya kamu ke sana saja dan minta maaf kepada mbaknya” kata Ali
Sebelum mereka berdua kesana, Ali memanggil Saeful sebagai pemilik motor untuk menjaga motornya selama mereka berdua jalan ke arah mbak yang sedang jatuh itu.
“Pokoknya jaga motor ini Pul, jangan sampai ada yang merampasnya, karena indikasinya kok ke arah perampasan kendaraan bermotor ini nantinya” kata Ali
__ADS_1
Ada benarnya juga Ali itu, karena bisa saja yang dilakukan orang-orang yang sedang berkerumun di sekitar mbak mbak itu hanya sandiwra saja untuk meminta ganti rugi yang tidak sedikit. Apalagi tadi sudah nampak beberapa provokator yang mulai teriak-teriak.
Ali dan Gilank menuju ke arah kerumunan orang yang sekarang bertambah banyak karena aksi dari dua provokator yang hingga saat ini teriak teriak basmi preman basmi preman itu.
“Orang itu bahaya Lank, kalau kamu ndak kesana, pasti akan terjadi sesuatu” kata Ali yang mulai waspada dengan keadaan yang semakin ramai dan mamanas
Semetara itu di dalam mobil Novi keadaan juga tidak kalah gerahnya, tapi lebih baik mereka tidak turun karena untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan.
“Bapak-bapak, ini teman saya yang tadi kata kalian telah menyenggol mbak ini hingga mbak ini jatuh. Sekarang coba kamu jelaskan di tengah sana Lank agar semua dengar apa yang sebenarnya sudah terjadi” suruh Ali agar Gilank berbicara ditengah-tengah orang yang sedang berkerumun
Gilank berjalan pelan memasuki kerumunan orang yang memadati mbak yang sedang jatuh itu. pada awalnya tidak tejadi sesuatu di kerumunan itu, tetapi kemudian yang terjadi malah sebaliknya.
“HOOEEEGHHH….ambune sopo ikiiii!!!!” teriak perempuan gemuk yang ada di kerumunan itu
Gilank mendekati laki-laki yang tadi sempat menjadi provokator itu, kemudian Gilank mulai mengajak dia untuk bicara.
“Juangkreeeek!..jauh kamu dari sini!….pergi…jangan dekati aku, hoooeeeghh!!!!” orang itu muntah muntah di tempat
Kerumunan yang awalnya ramai dengan manusia yang haus kekerasan itu tiba-tiba semuanya hilang, mereka mejauh dari Gilank sambil hoek-hoek. Sekarang tinggal mbak yang jatuh itu, Ali, Wildan dan Gilank. Satu lagi bapak-bapak yang tadi teriak teriak preman, dia masih bertahan di sana.
“APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN KEPADA SAYA PREMAN!” Teriak bapak-bapak itu kemudian berpaling dan muntah muntah setelah didekati oleh Gilank yang hanya ingin bicara dengan dia.
“Mas..tolong jangan dekati saya lagi, saya bisa pingsan seperti tadi kalau mas dekati saya lagi mas. Kasihani saya mas, jangan dekati saya mas” kata mbak-mbak yang jatuh itu dengan memohon meminta belas kasihan
“Ealah Lank, tibake baukmu itu sudah bikin susah orang banyak Lank. Lihaten itu, banyak muntahan yang ada di sekelliling kita Lank” kata Wildan sambil menolong mbak itu untuk berdiri, dan kemudian memeriksa motor mbak itu
“Motornya ndak ada yang rusak ya mbak, kalau misalkan ada yang rusak, teman saya yang namanya Gilank itu bersedia mengantar mbak dan membawa ke bengkel motor terdekat mbak heheheh” kata Wildan
“Sudah mas, saya sudah sehat dan saya harus pergi dari sini mas, karena ditunggu oleh adik saya” kata mbak itu kemudian menyalakan motornya untuk meninggalkan tempat dia jatuh tadi
“Lang ambumu asuangar ngono Lank, sampek bisa mbubarkan masa yang berkerumun chok!” kata Ali yang sedang menutup hidungnya
“Iyo Lank, ambumu bisa buat mbubarkan demo Lank, lumayan kamu bisa dikontrak pulisi buat mbubarkan demo chok!” ujar Wildan
“Mosok se aku iki mambu rek, aku lho gak merasa mambu rek” kata Gilank sambil menciumi ketiaknya
“Tapi rodok mambu sih tepatnya rek, cuma rodok lho yo, jadi gak mambu nemen” lanjut Gilank
“Ayo kita balik ke mobil saja Wil, oh iyo Wil, lebih baik kita makan dulu aja sebelum ke rumah mas Dogel Wil, sudah siang ini kita belum makan dari kemarin malam lho, kita cuma njajan gorengan sama minum saja dari pagi tadi” kata Ali
“Disana tadi aku liat ada warung soto ayam, kesana saja Li, tapi kamu punya uang ta li?” tanya wildan
“Heheheh gak onok, kita tanya Novi ae dia kan biasaya punya uang Wil. Kalau ndak ada ya kita beli apa gitu kemudian kita makan rame-rame ae”kata Ali
“Urusan dengan Gilank sudah selesai ta mas, tapi tadi kok tiba-tiba kermununan orang bisa bubar gitu mas, padahal sebelumnya mereka kan agak keras gitu sama kalian mas” tanya Novi ketika kedua orang itu kembali ke mobil
“Heheheh gara-gara ambune Gilank Nov, semua masalah bisa selesai tanpa masalah. Ternyata mbak tadi itu jatuh karena gak kuat sama ambune Gilank waktu Gilank nyalip mbak iku” kata Wildan
“Novi, kamu ada duit buat makan siang ndak Nov?” tanya Ali ketika mereka berdua sudah ada di dalam mobil Novi
“Tentu ada dong mas, ayo kita makan siang dulu aja mas, Novi sudah dari tadi tahan lapar mas” ajak Novi
__ADS_1
“Oh iya, motornya mas Saeful nanti dibawa sama mas Gilank kan, kita cari makan dulu mas sebelum kita menuju ke rumah mas Dogel kata Novi
“Lank kamu bawa motor aja, ikuti kita Lank, kita akan ke mall untuk cari makan hihihihi” teriak WIldan
“Wah mantab rek, kita ke mall” teriak Gilank yang masih merasa bahwa badannya itu tidak bau sama sekali.
Tidak jauh dari sana memang ada sebuah warung soto ayam yang hanya ada satu orang pengunjungnya, mobil kemudian diarahkan Wildan untuk menuju ke warung soto itu.
Sesampai di warung soto ternyata masih ada satu pembeli yang sedang menikmati soto, kami mengambil posisi duduk saling berhadapan. Tidak lama kemudian orang yang sedang makan soto itu berkata kepada penjual soto.
“Cak Di, sampahmu durung mbok buak ta, kok tiba-tiba mambu sampah disini cak” tanya pembeli itu
“Gak mas To, sampahku lho masih sedikit mas, ndak tau bau apa ini mas, kok tiba-tiba disini bau busuk seperti ini mas” kata penjual soto itu
Saat ini posisi Gilank masih di luar, karena dia sedang merapikan posisi parkir motor milik Saeful, kemudian dia mengikat rambutnya yang gondrong dan aneh karena di bagian atas masih gundul sementara samping kiri kanan belakang masih gondrong dan mengerikan.
“Mas itu motor sampeyan? Tanya penjual soto itu kepada mereka yang sedang duduk di kursi panjang
“Iyo mas kenapa mas” tanya Saeful kemudian
“Ati-ati mas motormu dibuat mainan orang gila itu mas” kata penjual soto itu sambil menunjuk ke arah motor Saeful yang sedang dipegang Gilank untuk dibenarkan posisinya
“Jangan khawtir mas, biar saya usirnya orang gila itu mas” kata penjual soto sebelum mereka menyadari kalau yang dimaksud orang gila itu adalah GIlank
“Eh jangan maass!, di teman kami mas, dia juga akan makan disini” teriak Novi tiba-tiba
“Uh bau sekali dia mas, tolong jangan dekat-dekat dengan warungku, bisa gak ada yang beli kalau dia ada disini” kata penjual itu setelah tau kalau yang dia maksud gila itu adalah satu grup dengan yang makan disana
Wildan kemudian menengahi penjual soto itu agar tidak semakin kalap apabila Gilank masuk ke warung sotonya.
“Lank kamu lebih baik makan diluar saja ya, iki sing duwe warung wis ngamuk-ngamuk Lank” kata Wildan ketika dia sudah ada di depan warung soto bersama Gilank
“Tenang saja Lank kamu tetap bisa makan kok, tapi ojok masuk ke dalam warung, dari pada yang jualan ngamuk ke kamu chok” lanjut Wildan
“Haduuuh Wil, padahal aku lho sebulan lalu baru aja keramas chok, mosok wis mambu maneh rmbutku chok, terus karepmu aku mbok suruh tiap hari harus mandi keramas ta Wil?” kata Gilank tanpa merasa bersalah
“Wis karepmu Lank, mau mandi sebulan sekali atau gak adus blas atau gak keramas blas itu urusanmu, pokoke sekarang gak usah masuk ke warung soto ini dulu” kata wildan
“Mas tolong orang yang diluar itu kasih soto satu porsi juga mas, kasihan dia mas, apa sampean tega sama orang kayak gitu mas” kata Wildan kepada penjual soto.
*****
Selesai makan mereka berangkat kembali ke rumah Dogel. Rumah mbahnya DOgel kan tidak jauh lagi dari sana, sekarang mereka tinggal masuk ke dalam gang yang ditunjuk oleh Tifano sebagai penunjuk arahnya.
“Nov, kamu ada ide untuk Gilank Nov? terus terang ndak enak juga dengan pak Tembol dan yang lainya juga yang ada di rumah itu Nov” kata Ali
“Mudah mas, suruh dia mandi dulu sebelum masuh ke rumah. Bilang ke mas Dogel untuk pinjam pakaian yang sesuai dengan tubuh mas Gilank. Pokoknya yang penting mandi dan cuci rambut dulu mas, lainya itu tinggal belikan deodorant saja” jawab Novi
“Itu mas rumahnya mas Dogel“ tunjuk Tifano yang katanya memang pernah kesan bersama Broni dan Kris
“Mobil kalau diparkir disini apa ndak mengganggu kendaraan yang akan lewat sini mas?” tanya Novi
__ADS_1
“Nanti kita tanya ke mas Dogel dulu Nov, mobil kamu ini enaknya diparkir dimana. Kampung ini soalnya sempit jalannya”