MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 173 (MAKIN RUMIT)


__ADS_3

“Baiklah kalau begitu, kami akan kembali ke  Gebang, dan akan kami tunggu bapak disana setelah selesai dengan urusan Trimo” kata salah satu petugas itu


Mereka berlima kemudian pergi dari kawasan vila putih, dan meninggalkan Trimo yang sedang dirasuki oleh Djatmiko salah satu pengawal setia Soebroto.


“Hebat juga kamu Djatmiko, kamu bisa meniru Mak Nyat Mani hingga ke energi dan bau bunga yang muncul, tapi kamu tidak akan bisa menipuku”


“Heheheh Marwoto jaman sudah berubah, meskipun kita hidup selamanya tapi ilmu sudah makin berkembang, dan kamu ketinggalan jaman hahahah” jawab Djatmiko yang ada di dalam tubuh Trimo


“Siapa yang suruh kamu berbuat seperti ini Djatmiko, ayo jawab atau kamu akan saya itik itik sampek modiar” kata mbah Wo makin emosi


“Marwotooo…Marwotooo, kamu ini harusnya tau, kamu bisa sakti dan bisa menyatukan wilayah itu karena siapa kalau bukan karena bos kami, jadi kamu harusnya mau membantu bos kami untuk mencari air yang ada di dalam vila itu”


“Jangan kamu halangi niat kami untuk mencari air itu” kata Djatmiko


“Lagi pula bukankah sebagian vila itu adalah milik Kami, jadi kami juga wajib memiliki apa yang ada di dalam vila itu” kata Djatmiko lagi


“Sudah tidak ada lagi pembagian wilayah, semua sudah menjadi satu, tidak ada itu yang namanya kalian memiliki bagian ini dan itu, semua sudah bersatu dengan adanya saya dan tentu saja istri saya!” kata mbah Woto


“Hahahaha memang milik bersama, makanya kami ingin mengambil apa yang sudah menjadi milik bersama itu”


“Hohoho tidak semudah itu, Pertama, harus izin dengan Mak Nyat Mani dulu, yang kedua, kamu hanya suruhan Soebroto, kamu tidak berhak melangkah di depan Soebroto, dan Ketiga ini bukan milik kamu, tapi milik Soebroto!”


“Saya suruhan Soebroto, dan saya wajib melaksanakan apa yang disuruh atasan saya!” Trimo makin emosi


“Hahahaha  kalau begitu izin dulu dengan Mak Nyat Mani. Semua yang ada disini adalah milik Soebroto dan Mak Nyat Mani, dan kamu… bilang ke Soebroto, kalau mau ambil yang ada disini hendaknya dia ambil sendiri, bukanya menyuruh kamu!”


Trimo yang sedang dirasuki oleh anak buah Soebroto makin emosi dengan apa yang dikatakan oleh Marwoto, dia melotot dan siap untuk memukul Marwoto yang berdiri dengan santainya.


“Saya yakin, Soebroto tidak menyuruh untuk memukulku, Ingat perjanjian kalian dulu, tidak ada yang boleh mengganggu saya dan Suparmi,  sampai ada yang mengganggu berarti kedua belah wilayah akan pecah lagi”  kata Marwoto yang tenang menghadapi Djatmiko


Trimo atau Djatmiko menghentikan tindakanya, dia terdiam di hadapan Marwoto. Sebenarnya perjanjian antara Mak Nyat Mani dengan Soebroto tidak pernah dibahas, karena perjanjian itu bersifat internal mereka berdua dengan Marwoto dan Suparmi sebagai pelaksana penyatuan wilayah itu.


Jadi apabila ada salah satu dari dua kubu itu, yang pada intinya orang dalam akan menyakiti Suparmi atau Marwoto selama mereka masih ada meskipun berupa  makhluk tak kasat mata, maka penyatuan wilayah ghoib itu gagal.


Dan akibatnya maka akan terjadi selisih dan peperangan diantara mereka untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Untungya Marwoto masih ingat perjanjian yang pada saat itu juga disaksikan oleh Djatmiko.


“Tenang Saja Djatmiko, saya juga tidak mungkin menyakiti kamu, karena kamu adalah saksi atas perjanjian itu, hanya saja ada pihak lain yang bisa menyakiti kamu, hanya saja itu bukan saya”


“Apa maksudmu Marwoto!” bentak Djatmiko


“Tidak ada maksud apapun, sudahlah pergilah sana, dari pada buang-buang waktuku. aku harus ke bawah dan mengatakan yang sebenarnya kepada para penegak hukum itu” jawab Mbah To


“Tidak semudah itu Marwoto, mamang saya tidak bisa menyakitimu, tapi tidak dengan orang yang dirasuki ini, dia pasti bisa membuat kamu makin menyesali karena ikut campur urusanku hahahahah”


Setelah berkata begitu kemudian Trimo pergi begitu saja ke arah bawah, dia jalan sambil sedikit berlari menuju ke Gebang, padahal di pertigaan Gebang ada beberapa penegak hukum yang menjaga jalan.


*****


“Gel apa perlu kita kejar Trimonya” kata Petro yang masih ada di sisi jurang


“Tidak usah kalian kejar biarkan Trimo  lari dari sini dan menuju ke petugas yang ada di bawah sana” jawab mbah To yang ternyata mendengar apa yang dikatakan Petro


Akhirnya mereka berdua pun merangkak naik ke atas dan berhadapan dengam mbah Woto


“Tidak usah kalian kejar biarkan saja dia turun ke jalan, saya yang akan menyusul dia. Oh iya, Tolong sampaikan Tembol dan anak-anak Sutopo untuk menyembunyikan keluargaku dari rumah di desa bs” kata mbah To yang kemudian berjalan menuju ke bawah


“Baik mbah akan saya sampaikan sekarang juga” jawab Petro


mereka berdua lari masuk ke dalam vila putih melalui lobang yang ada di sisi pagar yang tidak terlihat dari arah manapun , kecuali ada pembersihan tanaman semak belukar di vila itu.

__ADS_1


*****


“Jadi yang ada di dalam tubuh Trimo itu bukan Mak Nyat Mani atau adiknya. jadi dia adalah Djatmiko yang berpura pura menyamar sebagai Mak Nyat Mani. Lalu kenapa harus menyamar?” kata Dimas


“Apakah agar kita  menyerang Mak Nyat Mani, sehingga Djatmiko dengan leluasa mengambil apa yang ada di dalam sini?” lanjut Dimas kebingungan


“Dia rupanya mengadu domba kita, sebenarnya apa tujuan dengan mengadu domba kita dengan Mak Nyat Mani” kata pak Tembol


“Tapi yang aneh disini Djatmiko kerja sendiri atau memang disuruh oleh Soebroto?” gumam Ali


“Saya kok tidak percaya ya, kalau Djatmiko itu suruhan Soebroto, apa Soebroto ngajak perang dengan menyuruh Djatmiko menyamar sebagai Mak Nyat Mani” timpal Novi


“Kasus ini semakin kesini mengerucutnya kok ke arah dua penguasa daerah sini ya, tapi saya masih belum bisa menebak siapa sebenarnya dibalik Djatmiko itu” kata pak Tembol


“Takutnya nanti Rochman juga bekerja sama dengan Mak Nyat Mani pak. Kira-kira itu mungkin atau tidak ya pak” tanya Broni


“Untuk Rochman, saya tau persis sifat dia yang penjilat itu, tetapi untuk saat ini karena dia mempunya semua ilmu yang saya ajarkan, saya rasa kecil kemungkinan dia akan ada di pihak salah satu dari dua penguasan itu” kata Dimas


Petro dan Dogel menceritakan semua yang mereka alami waktu ada di bawah jurang, termasuk pesan dari mbah Woto agar mengamankan anak dan cucunya.


“Siapa yang akan menjemput anak dan cucu mbah Woto” kata pak Tembol setelah dilapori oleh Petro dan Dogel


“Susah untuk menuju ke bawah, karena di pertigaan itu dijaga oleh petugas yang berwenang, jadi kita harus jemput mereka melalui desa Sb, yang sekarang katanya sedang ada pembangunan resort itu” kata Tifano


“Waduh…. sekarang anak dan cucu mbah Woto malah jadi ikut ikutan terdampak, saya menyesal sudah mengajak mbah Woto dalam masalah ini” kata pak Tembol


“Begini saja, pagi-pagi setelah subuh saya dan beberapa orang jalan ke bawah untuk mengambil mobil, kita jemput keluarga mbah Woto yang ada di desa sana” kata pak Tembol


“Nak Novi, nak Saeful, dan nak Petro nanti setelah subuh bisa antar saya untuk menjemput anak dan cucu Marwoto. Kita pagi-pagi saja berangkatnya, kemudian ambil mobil yang ada di masjid”


“Tapi sebelum berangkat tolong mbok Ju lihatkan keadaan di pertigaan jalan, takutnya disana maih dijaga oleh petugas keamanan”


Nah kasus ini makin rumit dengan adanya mbah Woto dan anak buah dari Soebroto yang ikut campur, disini belum jelas apakah anak buat Soebroto yang namanya Djatmiko itu suruhanya atau tidak.


“Siapa nama anak dia itu nak?” tanya pak Han


“Namanya Suharto pak Han, katanya gabungan antara Suparmi dan Marwoto  hehehe” jawab  Novi


“Yang gemesin itu cucunya yang bernama Sarinah, dia lucu sekali pak” sambung Novi


“Ya sudah lah, kita berangkat setelah subuhan ya anak-anak” kata pak Tembol


“Eh maaf pak, apa ndak sebaiknya waktu sedang berlangsung sholat subuh saja pak, pada waktu itu beberapa petugas sedang melaksanakan ibadah di masjid pak” kata Saeful


“Eh ia juga nak, pokoknya kita bisa keluar dari  area sini  tanpa terlihat oleh petugas yang jaga di sana nak, wis gini saja tiga puluh menit sebelum subuh kita keluar dari sini. Mbok Ju pantau dulu keadaan disana”


“Kalau dirasa aman sebelum subuh harus bisa keluarkan mobil dari masjid,  Yang ambil mobil nak Petro dan nak Saeful saja, saya dan nak Novi menunggu di pertigaan yang ke arah desa Bs” kata pak tembol


Semua setuju dengan usulan dari pak Tembol, sekarang semuanya istirahat karena besok pagi harus jemput anak, mantu dan cucu mbah Woto. Belum lagi malam harinya mereka juga harus ke rumah Totok untuk menjemput Indah dan Ngot.


*****


Pagi hari tiga puluh menit sebelum adzan subuh berkumandang, pak Tembol, Novi, Petro dan Saeful berjalan perlahan-lahan di sisi pinggir untuk menuju ke arah bawah, sementara itu mbok Ju sudah ada di depan mereka untuk melihat keadaan di depan.


Mereka melangkah dengan perlahan lahan, karena mereka tanpa penerangan sama sekali. Meskipun mereka sudah terbiasa dengan jalan malam tanpa cahaya, tetapi tetap saja harus hati-hati,


“Belum ada kabar dari mbok Ju ya anak-anak, kok sampai sekarang belum kelihatan mbok Junya?”


“Iya pak, padahal kita kan sudah dekat dengan turunan pak, sebentar lagi kita belok dan akhirnya sampai di tempat petugas itu berjaga pak” kata Petro

__ADS_1


“Kita berhenti disini saja dulu anak-anak, kurang dari dua puluh menit lagi sudah adzan subuh, karena kalau sudah adzan subuh jelas tidak mungkin kita bisa ambil mobil, dan harus menunggu hingga keadaan masjid kosong” kata pak Tembol


“Sebentar pak hehehe itu yang kita rasani datang pak” tunjuk Novi kepada mbok Ju yang sedang melayang


“Kok lama bener mbok Ju, memangnya disana ada apa?” tanya pak Tembol


“Ada insiden kecil pak, ternyata Trimo ditangkap oleh mereka atas pernyataan dari mbah Woto, nah tadi itu ada yang berusaha membebaskan Trimo lagi, dan mengaku sebagai keluarga Trimo”


“Ayo sekarang saja kalian ke masjidnya mumpung penjaganya sedang sibuk di kantor penegak hukum akibat Trimo dan orang yang mengaku sebagai keluarga Trimo ndak terima karena Trimo tidak bisa dia bebaskan”


“Mbok Ju ikut bersama kita saja, tolong lihatkan di sekitar sana mbok, kalau keadaan aman kita akan sembunyi di dalam pos ojek itu” kata pak Tembol


Dengan mengendap endap mereka berempat berjalan cepat, dan tepat di pertigaan pak Tembol dan Novi berbelok ke kiri.


“Pos ojek aman pak, tidak ada siapapun disana, hanya ada satu makhluk ghaib yang sedang berdiri disana” kata mbok Ju


“Saya tunggu disana ya anak-anak” tunjuk pak Tembol pada sebuah pos ojek yang kosong


*****


“Mas Petro, memangnya kita mau kemana tho mas, apa ke desa Bs, apa cuma jemput anak dan cucu dari mbah siapa tadi, eehm,..mbah Marwoto ya namanya mas”


“Iya, aku juga tidak tau bagaimana sejarah vila itu, kelihatannya yang kita temui dan kita hadapi itu pernah saling berhubungan pada masa lalu”


“Iya mas”


Mereka berdua berjalan menuju masjid tempat mereka menitipkan mobil. dan saat ini tinggal dua puluh menit menjelang adzan subuh, jadi mereka harus cepat-cepat mengeluarkan Mobil.


Tetapi sesampai di area masjid mereka terdiam, karena di halaman masjid sudah ada beberapa petugas yang berwenang, mereka sedang duduk duduk di sekitar teras masjid.


“Waduuuh, gimana ini Pul, orang-orang yang jaga di pertigaan sedang duduk duduk dan tiduran di teras masjid, mereka kelihatannya sedang menunggu waktu subuh tiba”


“Hmmm gimana ya ini mas, jelas ndak mungkin kalau kita ambil mobil tanpa diketahui oleh mereka mas”


“Apa gini saja, lebih baik mas Petro saja yang ambil mobil, kalau ada saya jelas tidak mungkin, karena saya kan seharusnya bersih bersih masjid mas” kata Saeful


*****


“Mbok Ju, tolong lihatkan mereka yang ada di masjid, kenapa mereka lama sekali hanya untuk mengambil mobil saja” kata pak Tembol


“Sebentar saya melihatnya dulu,  saya khawatir kalau di masjid sana ada beberapa petugas yang jaga di pertigaan jalan itu” kata mbok Ju yang kemudian pergi dari hadapan pak Tembol dan Novi.


“Novi khawatir sama mereka berdua pak”


“Heheheh nak Novi khawatir sama mereka berdua atau sama nak Saeful” tanya pak Tembol


“Eh bapak ini ada-ada saja sih pak, ya jelas dengan mereka berdua pak hehehehe”


Tidak lama kemudian mbok ju datang dengan berita mengenai keadaan mereka berdua…..


“Mereka berdua mendapat kesulitan pak, karena disana ada beberapa petugas yang sedang menunggu waktu Subuh tiba, kemungkinan mereka ini yang menjaga pertigaan itu pak”


“Waduuuh kok makin runyam gini ya hehehe, lalu apa yang sedang mereka lakukan mbok?”


“Mereka masih bingung pak, karena pasti akan dicurigai oleh petugas itu kalau pagi-pagi gini mereka berdua ambil mobil”


“Saya yakin mereka pasti bisa punya solusi untuk mengeluarkan mobil dari sana, saya yakin karena mereka berdua bukan orang bodoh”


“Eh jangan pak, Biar Novi saja yang ke sana. Mbok Ju bilang pada mereka agar jangan mengambil mobil dulu, Biar Novi yang ke sana, Novi akan mengaku sebagai saudara jauh dari almarhum mbah Sarijem pemilik depot rawon”

__ADS_1


Mbok Ju pergi untuk memperingatkan  Petro dan Seful agar tidak mengambi mobil dulu.


“Begini pak Tembol, selama ada mbah Sarijem di dalam tubuh Novi, Novi merasa bahwa Novi tau silsilah keluarga mbah Sarijem termasuk anak dan cucunya yang sekarang sebagai pemilik depot rawon itu” kata Novi kemudian berjalan menuju ke tempat Seful dan Petro  berada


__ADS_2