MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 102 (MENYELAMATKAN DIRI)


__ADS_3

Sebenarnya menurut penulis tidak ada yang normal disana, baik itu Saeful, Supardi, dan Fathoni maupun Novi, dan Broni, mereka semua sedang dalam pikiran dan angan-angan yang entah benar atau salah.


Saat ini Saeful sedang jalan ke arah Gebang dia berjalan dengan pelan dan di pinggir jurang. Apa yang ada di pikiranya saat ini?


“Aku sama sekali tidak yakin dukun itu sendirian di situ, aku yakin disana juga ada orang lain yang sedang sembunyi, karena tadi aku dengar ada suara pekikan pelan ketika batu pertama yang di lempar Novi itu terkena tangan Fathoni dan kemudian batu itu memantul dan terlempar ke semak belukar yang ada di seberang mobil” gumam Saeful


“Bahaya ini kalau sampai aku diikuti oleh mereka menggunakan mobil, bisa-bisa aku diculik dan dibunuh juga oleh mereka berdua. Tapi siapa orang yang tadi sempat bersuara itu ya? Masak orang itu pemilik rumah yang ada disebelah vila itu sih” gumam Saeful lagi


“Ada baiknya aku turun ke sisi jurang saja, perasaanku tidak enak kalau jalan di pinggir jalan ini, bisa-bisa mereka menyergapku dari belakang. Oh atau aku turun ke sisi jurang dan kembali ke arah vila putih saja, dan mudah-mudahan aku bisa ketemu Novi dan Broni”


Begitulah yang ada di pikiran Saeful, ternyata dia juga tau kalau ada oramg lain selain dukun yang bernama Fathoni itu, dia juga yakin kalau sebentar lagi mereka berdua akan ke arah bawah dengan menggunakan mobil.


Pikiran Saeful sebenarnya sama dengan yang sedang dipikirkan Broni, hanya saja Broni dan Novi merasa bahwa Saeful tidak tau kalau ada orang lain di sekitar situ, sehingga mereka berdua panik ketika Fathoni dan Supardi masuk ke dalam mobil  untuk menuju ke bawah dan kemungkinan besar akan mendatangi Saeful.


“Kita harus cepat mas, sebelum mas Saeful tertangkap mereka. ingat mereka berdua ini bukan orang sembarangan mas, mereka berdua ini jahat dan mas Saeful pasti dalam keadaan bahaya saat ini” kata Novi


“Menurutku saat ini Saeful sedang ada di lereng jurang ini Nov, dia pasti akan berpikiran mirip dengan kita lah, dia pasti tidak akan berjalan di atas jalan itu karena resikonya adalah bertemu mobil kedua badjingan itu” kata Broni


Memang benar apa yang dikatakan Novi ini, karena saat ini Fathoni dan Supardi sudah naik ke dalam mobil dan bersiap menuju ke arah bawah. Tapi Novi dan Broni tidak tau kalau saat ini Saeful sedang ada di lereng jurang untuk menemui mereka berdua.


*****


“Thon, apa kamu siap untuk menangkap siapa yang melempar batu ke arahmu sekarang?” kata Supardi yang memegang kemudi mobil


“Siaplah, saya kan maih punya kaki dan sepatu boot untuk menginjak kepala mereka hingga pecah” jawab Fathoni dengan sadisnya, padaha dia sudah tidak bisa menggunakan kedua tanganya.


“Hahaha Thoniiii, gimana kamu mau memegang mereka kalau tangan mu saja tidak bisa digunakan sama sekali gitu hahahah” kata Supardi yang tetap mengejek Fathoni


“Sudahlah, kita lihat saja nanti, apa yang bisa digunakan dengan kedua kakiku ini, aku akan menginjak mereka hingga kepala mereka remuk semua” jawab Fathoni yang mulai panas dengan omongan Supardi.


“Kamu ini aneh apa gimana sih, kenapa ke bawah sana menggunakan mobil, pasti mereka akan dengar suara mesin ini lah, kenapa tidak jalan kaki saja” kata Fathoni


“Nah ini dia kalau otak tidak dipakai sama sekali,  kita ini bawa mobil, dan nanti kita lewati orang yang tadi bermasalah dengan mu, kemudian kita parkir mobil tidak jauh dari sana kemudian kita jalan kaki naik ke arah sini lagi, kita sisir jalan ini dan lereng jurang itu, pasti kita akan bertemu denagn dia dan kawanya!” jawab Supardi


“Eh apa kamu yakin akan bertemu dengan mereka. saat ini kan malam hari, mana bisa ketemu mereka dalam keadaan gelap seperti ini” jawab Fathoni


“Saya ini bantu kamu tholol, kalau kamu tidak mau saya bantu ya ngomong dari awal dong, susah payah kamu saya bantu hingga kepala saya terkena pantulan batu yang tadi mengenai tanganmu itu, kok malah sekarang sudah menyerah begini” protes Supardi


Mobil mereka sudah berjalan ke arah Gebang, tapi hingga saat ini mereka berdua belum bertemu dengan  Saeful sama sekali, mereka memang berharap akan bertemu dengan Saeful dan temannya di sekitar situ.


“Hehehehe sesuai perkiraan saya, anak itu tidak akan mengarah ke Gebang, karena dia sedang ditunggu teman-temanya yang tadi melepar batu ke arah kamu itu” kata Supardi


Agak jauh didepan nanti kita berhenti dan kita sisiri jurang ini, saya yakin kalua kita nanti akan bertemu dengan mereka disana, dan agar kamu bisa balas dendam atas kematian ketiga temanmu itu hahahah” kata Supardi

__ADS_1


*****


Sementara itu Saeful yang sekarang ada di sisi jurang mendengar suara mobil yang sedang melewatinya, Saeful hanya cukup merunduk agar lebih  merapat di sisi jurang yang berupa rumput dan ilalang.


“Nah betul kan perkiraanku ada orang yang bersembunyi di sekitar mobil tadi itu buktinya sekarang mobil itu bisa jalan, padahal kedua telapak tangan Fathoni sudah luka dan tiak bisa digerakan apalagi untuk menyetir mobil” gumam Saeful


“Perkiraanku orang itu akan menangkapku dan termasuk menangkap Novi dan Broni, bisa saja nanti setelah melewatiku mobil akan mereka parkirkan, dan mereka akan jalan kaki melipir sisi jurang untuk mencari kami” kata Saeful pada dirinya sendiri


“Jadi lebih baik kupercepat saja untuk menemui Novi dan Broni agar aku bisa memperingakan mereka berdua bahwa dukun dan pemilik rumah samping vila itu sudah tau tentang keberadaan mereka berdua itu, dan sekarang kedua orang itu sedang mencari kita”


Saeful mempercepat langkahnya yang memang sulit di sisi jurang ini, karena harus melintasi medan yang berupa ilalang tinggi dan rumput yang lebat pula.


“Hmm untuk mepercepat langkahku, atau aku ke naik ke jalan saja lah, dari pada di pinggir jurang seperti ini, lagi pula mobil dua penjahat itu sudah melewati aku kan, jadi harusnya jalan yang ada di atas itu udah aman dari mereka berdua”


*****


Sementara itu Broni dan Novi yang sedang berusaha menemui Saeful untuk memperingatkan dia dan melindungi dia merasa kesulitan berjalan di bawah jurang, karena medan dan kontur jurang memang bukan digunakan untuk jalan kaki kan hehehe.


“Nov, gimana kalau kita naik ke atas saja kita cari Saeful lewat jalan saja, karena kalau kita ada di jurang seperti ini jelas akan memakan waktu yang lumayan lama. Lagi pula mobil mereka kan sudah lewat barusan menuju ke Gebang kan” kata Broni


“Iya mas, ayo kita naik ke jalan saja mas, agar lebih cepat jalan menuju ke arah Gebang dan mencari Saeful di bawah sana mas” jawab Novi


“Mas Bron, menurut perasaan Novi nih, Mas Saeful sekarang sedang ke arah kita mas, ada baiknya kita jalan pelan pelan saja mas. Sekalian lihat sekeliling kita mas, siapa tau mas Saeful sudah ada di sekitar sini mas” kata Novi


Nah ketika mereka sedang berhenti untuk menunggu Saeful datang, di kejauhan mereka lihat satu sosok orang yang sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua, dan kemungknan besar itu adalah Saeful.


Mereka berdua akhirnya sembunyi pada ilalang yang tunbuh subur di pinggir jurang sambil menunggu seseorang yang berjalan sendirian menuju ke arah mereka berdua.


Semakin dekat sosok itu di tempat mereka berdua sembunyi, dan ternyata benar, orang itu adalah Saeful.


“Mas Ipul sini mas” bisik Novi ketika Saeful sudah melintasi tempat mereka berdua sembunyi


Akhirnya mereka bertiga bertemu, dan sekarang mereka bertiga harus sembunyi atau melawan orang yang sebentar lagi akan sampai ke tempat mereka bertiga ini.


“Lebih baik kita sembunyi dulu mbak, mas. Karena ternyata orang yang punya rumah di sebelah vila itu ada bersama dukun yang  tangannya sedang luka parah itu. Dan mereka berdua sedang mencari kita” kata Saeful


“jadi lebih baik kita kembali ke arah atas lagi dan menunggu mereka hingga mereka datang gitu?” tanya Broni


“Ya terserah mas Broni mau gimana, pokoknya pada intinya mereka sekarang mungkin ada di sisi jurang dan sedang menuju ke arah kitat berada ini” jelas Novi


“Eh begini saja mas, ada baiknya kita tidak kembali ke ruangan biru, ada baiknya kita ke rumah Supardi saja, kita rusak dan kita cari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup pintu terowongan itu mas. Pokoknya kita cari apapun yang bisa digunakan untuk memperlambat mereka menggali terowongan itu” kata Novi


Akhirnya mereka bertiga berjalan agak cepat menyurusi jalan untuk menuju ke rumah yang ada di sebelah vila putih, rumah Supardi yang bagian belakangnya terdapat terowongan yang dia buat sendiri untuk masuk ke ruang bawah tanah vila putih.

__ADS_1


*****


Lalu bagamana dengan kedua penjahat itu? pastinya mereka akan kesulitan berjalan di sisi jurang karena Supardi harus menuntun Fathoni yang telapak  tanganya tidak bisa digunakan untuk memegang sesuatu. Dan hal ini cukup memperlambat mereka dalam upaya mencari Saeful, Novi, dan Broni.


Sebenarnya ide kedua penjahat ini tolol juga, mengingat salah satu dari mereka tidak bisa sepenuhnya bebas bergerak, kok mau-maunya menjelajah jurang hanya untuk mencari ketiga orang yang sekarang sedang menuju ke rumah Supardi.


“Kalau tangamu tidak sepert ini kita pasti sudah bisa menangkap mereka, dasar dukun sial, kedatanganmu bukan menambah kebaikan untuku, tapi malah menambah kesialan!” kata Supardi


“Dah gini aja, kita sesuai dulu dengan rencana semua, kita buang mayat yang ada di dalam mobil itu dulu saja. Nanti baru kita cari lagi anak-anak itu setalah kita amankan mobil dan mayat itu” kata Supardi lagi yang disetujui oleh  Fathoni yang hanya tidak berdaya itu


Mereka berdua akhirnya naik ke jalan dan menuju ke arah mobil yang mereka parkir cukup jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


“Tapi sebelum kita buang mayat itu di hutan sekitar Pct, aku harus ambil beberapa perlengkapan ku yang ada di rumah. Aku harus ambil dompet, ponsel dan tas kerjaku” kata Supardi lagi


Fathoni tidak bisaa berkata apa-apa mengingat dia hanya sebagai manusia yang tidak berguna dan tidak berdaya dengan kedua telapak tanganya yang bengkak dan berdarah.


“Eh Di, eeeh bisa bawa saya ke rumah sakit dulu tidak, tangan saya semakin bengkak dan semakin sakit” kata Fathoni lagi


“Jelas bisa lah, tapi bagaimana dengan mayat yang ada di dalam mobil itu, apakah mau dibuang dulu atau ikut kita ke rumah sakit untuk mengobati tanganmu itu?”


“Sudahlah kita buang dulu saja mayat itu, keburu membusuk di dalam mobil” kata Fathoni yang masih menahan sakit yang luar biasa di telapakk tanganya


Jadi kesimpulanya mereka berdua akan menuju ke pct untuk membuang mayat yang ada di dalam mobil, tetapi sebelum itu mereka akan kembali ke rumah Supardi untuk mengambil beberapa keperluan Supardi yang ada di dalam rumah.


Tetapi kan di rumah itu sekarang ada tiga anak-anak yang sedang mencari cara untuk merobohkan terowongan yang dibuat oleh Supardi.


*****


“Hmmm pagar rumah ini terkunci dari luar. Itu ada gemboknya yang segede rante kapal. Ayo kita masuk dengan cara naik ke pagar saja” kata Novi yang dengan lincah sudah ada di atas dokar yang posisinya di sebelah pagar


Setelah ketiganya sudah ada di halaman rumah Supardi, mereka menuju ke halaman belakang lewat sisi kanan rumah yang merupakan lorong antara pagar dan rumah utama. Lorong yang menuju ke arah halaman belakang.


“Sekarang kita cari apa saja yang bisa digunakan untuk menutup terowongan yang ada di dalam rumah ini agar mereka kesulitan untuk masuk dan akhirnya mereka harus kembali menggali tanah yang yang menutup terowongan itu” kata Broni


“Eh kalian cari disekitar luar dulu saja ya, cari apa saja yang bisa digunakan untuk meruntuhkan Teowonan yang dibuat oleh Supardi” kata Novi


“Novi akan berusaha membuka gembok pintu ini dulu, dan siapa tau di dalam juga ada bahan yang bisa digunakan untuk menutup pintu terowongan” kata Novi sambil mencongkel congkel lubang kunci dengan menggunakan jepit rambutnya


Entah bagaimana caranya, yang pasti sekarang gembok itu sudah terbuka. Dengan sangat hati-hati Novi masuk ke dalam rumah sebelum Broni dan Saeful juga ikut masuk ke dalam.


“Ayo mas, di dalam aman, kita bisa cari di sekitar sini juga, siapa tau ada sesutau yang bisa kita pakai. Tetapi sayangnya di dalam sini gelap sekali, beda dengan di luar yang masih ada cahaya bulan sehingga tidak terlalu gelap suasananya” kata Novi


Ketika mereka sedang menjelajah di dalam rumah bagian belakang yang merupakan tempat penggalian itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara mobil yang datang.

__ADS_1


“Nov… sssttt mereka datang, apa yang harus kita lakukan ini, kita terjebak disini!” bisik Broni dengan panik


“Tenang mas Bron, bukanya kita sudah sering mengalami kejadian seperti ini, kita harus bisa berpikir cepat untuk untuk mencari jalan keluar dari masalah ini  mas” kata Novi


__ADS_2