
“Mas Saeful, gimana keadaan di depan, apa jalan setapaknya masih terlihat?” tanya pak Han yang posisinya ada di bagian paling belakang
“Masih aman pak, masih kelihatan jalan setapaknya meskipun hantu-hantu disini mulai mengganggu kita” jawab Saeful yang ada di posisi paling depan
“Meskipun mengganggu ya ndak papa rek, pokoknya ndak mbunuh ae koyok dulu itu rek heheheh” sahut Gilank
“Koyoke Gilank akan terbujuk bidadari berkuntila lagi iki rek” sahut Wildan
“Ojok gitu ta Wil, mosok aku terus yang dijadikan mati, sekali kali Tifano atau Broni gitu lho rek yang mati hahahahah” jawab Gilank
“Gigikmu ambrol Lank! Gak usah nyuruh mati aku chok!. Pokoke di hati-hati ae nek jalan, semoga ndak ada yang harus mati chok” timpal Tifano
“Eh di depan itu kayaknya pintu masuk ke terowongan atau lebih tepatnya gua. Bagaimana, kita lanjut atau gimana?” tanya Saeful yang keliatanya ragu untuk memasuki terowongan atau gua itu
“Biar saya saja yang di depan mas, kamu pindah bagian belakang saja” kata pak Handoko kepada Saeful yang keliatanya ragu untuk masuk ke dalam terowongan
Mereka masuki terowongan dengan pak Han pada pada posisi terdepan membawa senter, sedangkan Saeful pindah ke posisi paling belakang.
Terowongan yang mereka masuki itu tidak terlalu lebar, tetapi cukup untuk mereka masuk satu persatu, terowongan yang Nampak kuno itu memang menimbulkan penasaran besar bagi yang memasukinya, tapi ndak tau lagi kalau mereka yang memasukinya.
“Hmmm pertama kali memasuki terowongan ini rasanya banyak sekali mahluk ghaib yang berseliweran disini, tetapi rata-rata mereka adalah mahluk yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan tidak jahat” gumam pak Han
“Ayo anak-anak, aman disini kok , kita bisa jalan dengan lebih cepat agar sampai di sana lebih awal untuk melakukan penelusuran lagi” kata pak Handoko
“Novi kalau kayak gini ini rasannya kepingin bersandar ke bahu yang kuat, mas Saeful” kata Novi dengan suara pelan
“Sini bersandar di dadaku yang bidang sini Novi, aku sudah siap kok , apalagi kan gelap-gelap gini hihihi” kata Gilank yang masih saja ndak beres otaknya
“Emang kelebihan mas Gilank apa sih, kok selalu kepingin asik-asik sama Novi sih” jawab Novi
“Kelebihanku kan lebih kuat dan tangguh Nov hehehe, lebih berpengalaman di bidangnya hehehe dan lebih perkasa karena banyak pengalaman hihihihi” jawab Gilank
“Malas ah, Novi suka yang belum pengalaman, jadi bisa sama-sama cari pengalaman baru hihihihi” jawab Novi
“Gimana mas Saeful, masih adakah hatimu untuku mas?” tanyanya kepada Saeful yang kebetulan ada di posisi paling belakang
“Di halalkan dulu Novi. Nanti biar mas ke ortu Novi dulu untuk melamar kamu Novi” kata Saeful dengan mantabh
“Lha betul itu Saeful, di halalkan dulu baru dinikmati, kalau cuma main-main, nanti yang susah kan yang perempuanya hihihihi” kata pak Han yang ada di depan
__ADS_1
“Iya pak Han, Novi takut kalau sudah dinodai terus ditinggal gledak pak, sakiit hati ini rasanya hihihihi” jawab Novi
“Liaten ta, Novi lak mulai gendeng lagi, tapi ndak papa, dia ndak akan gendeng koyok dulu, karena disini ada pak Han, Saeful dan tentu saja ada mbah Sari yang ada di dalam tubuh Novi hahahah” kata Tifano
“Sakjane biar aja dia Gila Tif, kan Gilank belum pernah ngerasakan sehari bersama Novi, dia pasti juga kepingin kan, apalagi kalau gelap-gelap gini, Kuntila Gilank pasti Ndangak-ndangak cari demit berkuntila ndelwer yang nyamar jadi bidadari hihihihi” kata Wildan
Selama perjalanan di terowongan ini mereka tidak henti hentinya ngobrol hal yang ndak mutu, tapi memang dengan ngobrol paling tidak bisa menghilangkan kejenuhan, karena perkiraan mereka lorong ini akan jauh dan panjang karena jarak antara prgn ke pct itu tidak dekat.
“Masih berapa lama lagi ya jarak dari sini ke pct, Novi haus sekali rasanya” kata Novi
“Paling sebentar lagi kia sampai kok, kata pak Han yang ada di posisi depan
“Kok pak Han tau kalau sebentar lagi kita sampai pak?” tanya Novi
“Karena kita sudah tidak naik turun lagi Novi, arah kita sudah mendatar, mungkin kita sudah sampai di daerah sana, hanya saja mungkin belum sampai ke tujuan hehehe” jawab pak Han
“Tapi lebih nikmat kalau naik turun dan maju mundur pak hihihih” jawab Novi
“Mbak Noviiiiii ingat, jangan sampai mas Saeful kecewa lho ya heheheh” jawab pak Handoko
“Duuuh, ancamanya ngeri pak Handoko iki sih ah” potong Novi
“Mungkin sama yang ada di dalam tubuh Novi pak, mereka mungkin takut sama mbah Sari pak” ujar Novi sok tau
“Takut sama Kuntilanya Novi iku wakakakakak” teriak Gilank tiba-tiba
“Athoooohhh bngsth Nov, salahku apa kok mbok pentung ndasku Chok!” teriak Gilank setelah kepalanya ditendang Novi dengan teknik bela diri tae kwon do
“Sudah-sudah ayo kita lebih fokus anak-anak, karena yang ada disini sudah mulai berani dengan kita, banyak yang berusaha berdiri menghalangi jalan kita, tetapi untungnya saya masih bisa mengusir mereka” kata pak Handoko
“Iya pak Han, yang dibelakang juga begitu, sudah antri untuk mencelakai kita pak, mereka kayak rombongan yang sedang berbaris mengikuti kita pak” kata Saeful yang posisinya ada di paling belakang
“Lebih konsentrasi lagi anak-anak dan ikuti langkah saya, takutnya mereka sedang mencari kesalahan kita seperti sengaja mereka menjatuhkan diri sehingga kita tidak sengaja menginjak mereka, dan itu dijadikan alasan bagi mereka untuk menyerbu kita” lanjut pak Handoko
“Kalian kalau merasa ada yang kurang enak dengan tubuh kalian tolong bilang saya segera anak-anak” kata pak Handoko
“Saya pak, tubuh saya rasanya remek tanpa belaian Novi pak” jawab Gilank dengan mantabh
“Mas Gilank awas, jangan bicara aneh-aneh disini, memang kalian sudah bisa melihat mahluk ghaib, tetapi kalian tidak punya sesuatu apapun untuk mempertahankan diri dari mereka. Kalau kalian hanya mengandalkan saya dan Saeful jelas tidak mungkin mas” jawab pak Handoko agak ketus
__ADS_1
“Wis Lank, gak usah aneh-aneh, kita ada di daerah yang asing, jaga kelakuanmu nek kamu ndak mau mati lagi koyok dulu itu” kata Wildan
“Iyooo Wil, tenang ae, aku gak akan macam-macam kok, tapi semacam aja, sing penting bisa semalam bersama Novi hihihihi” jawab Gilank ndak punya takut
“Biar aja mas Wildan, nanti kalau keadaan aman, mas Gilank mau Novi kasih enak-enak biar dia merasakan bersama Novi hihiihi” jawab Novi
“Berhenti dulu anak-anak. Sekarang kita ada di pertigaan terowongan, kita terus atau belok kanan ini?” tanya pak Handoko
“”Tadi pak Pho tidak bilang tentang pertigaan ini ya, lebih baik kita periksa dulu jenis bebatuan dan apapun yang ada disini, pokoknya lorong yang sesuai dengan yang kita lewati ini yang akan kita ikuti”
“Maksudnya gimana pak Han?” tanya Ali
“Gini mas, nyalakan senter kalian, kalian lihat batu yang sama dengan yang ada di lorong yang kita lewati ini, dan yang akan kita masuki. Kalau lorong itu baru, maka batunya akan terlihat beda dengan lorong yang lama, coba kalian perhatikan kedua lorong itu nak” kata pak Handoko lagi
Setelah lama mengamati dengan menggunakan senter ternyata lorong yang berbelok ke kanan itu adalah lorong yang lama, sedangkan lorong yang lurus atau agak serong ke kiri adalah lorong yang baru.
“Jadi kesimpulanya kita belok ke kanan ya anak-anak, karena jenis batu, warna dan lumutnya sama dengan lorong yang kita lewati tadi, sedangkan yang serong ke kiri itu nampa baru” kata pak Handoko
Akhirnya mereka berbelok ke kanan, lorong yang ke arah kanan ini kontur tanahnya menurun, dan jalanya tidak semulus lorong sebelumnya.
“Sepertinya tidak lama lagi kita akan sampai ke ujung lorong pak, dan kayaknya di sana kita bakal dihadang dengan demit yang lebih berbahaya” kata Novi yang kemungkinan besar atas informasi dari mbah Sari
“Iya Novi, saya juga mulai merasakan adanya energi yang berbeda dengan yang biasanya, energi yang di ujung itu sangat hitam dan menganggu, tapi mudah-mudahan kita bisa lalui lorong ini sampai ke hotel Waji” kata pak Handoko
Benar juga setelah beberapa puluh langkah, udara di depan mereka mendadak menjadi hangat, dari hangat menjadi panas. Di dalam lorong ini banyak sekali mahluk halus atau yang bisa disebut demit mulai yang kecil hingga yang besar.
“Ingat, konsentrasi, walaupun udara disini semakin panas, ingat jangan sampai salah melangkah, tetap ikuti langkah kaki saya anak-anak, karena demit yang disini sudah berani bertindak dengan menantang kita secara terang terangan” kata pak Handoko yang ada di depan mereka
“Pak yang di sebelah kiri kita itu sekarang menghampiri kita pak” Kata Tifano yang ada di belakang pak Handoko
“Biar saja mas, memang mereka itu sengaja membuat kita emosi dengan pancingnya mas, sehingga kita akan mengusir mereka, nah itu kesempatan mereka untuk menyerang kita yang sudah mulai mengeluarkan energi dengan mengusir mereka mas” kata pak Handoko
Tapi tidak dengan Gilank yang memang sifatnya berbeda dengan lainya, Gilank lebih mudah terpengaruh oleh pancingan setan-setan yang menghuni lorong ini.
“Rek, ada setan kecil gundul yang berusaha jalan di sebelahku sambil mengencingi kakiku rek, kurang ajar sekali setan kecil ini” kata Gilank
“Biarkan saja mas, jangan dilihat dan jangan di respon, dia akan merubah fisiknya menjadi mengerikan ketika kita merespon dia mas” jawab pak Handoko tanpa melihat ke arah Gilank yang ternyata sudah menendang mahluk kecil yang tadi kencing di sebelahnya
“Aaaahhhhh ampuuunnn..tollooooong!!!” teriak Gilank yang tiba-tiba jatuh tersungkur
__ADS_1
Di sebelah Gilank ada seekor demit yang berwajah merah marah dengan gigi taring keluar dari mulutnya. Demit itu telanjang hingga terlihat Kuntilanya yang ndangak siap menyerang dengan ganas ke arah Gilank….