
Setelah semalaman Kaswadi mengalami mimpi yang aneh dan mimpi itu seolah-olah menjadi nyata, kini dia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, tetapi mungkin Kaswadi belum bisa menyadarinya. Kaswadi masih bingung bagaimana caranya mendapatkan kotak yang hilang itu.
"Bu'e, opo Denok sudah dapat nomor telepon Trimo yang baru? Atau paling tidak alamat kosnya Trimo gitu bu'e?"
"Urung ono, Denok sik belum kasih tau Pa'e, nanti agak siangan tak telpone si Denok"
Pagi yang dingin di daerah rumah Kaswadi tidak mampu mendinginkan yang dirasakan Kaswadi, dia harus segera bergerak untuk mencari posisi Trimo atau akan ada lagi kejadian yang mungkin semakin mengerikan.
Tentang mimpi semalam,setelah dipikir secara tenang dengan nyeruput segelas kopi hasil deplokan istri Kaswadi, kini Kaswadi semakin yakin bahwa memang Trimo yang mengambil Kotak itu.
"Ngimpiku semalem itu bener-bener nyata, seumur hidup aku belum pernah mimpi semengerikan dan senyata itu, tapi apa maksud dari mimpi itu, kenapa ada nenek-nenek yang meludahi mulutku, dan siapa dia?" dalam hati Kaswadi
Kaswadi hanya menatap gelas kopi yang isinya tinggal separuh itu, dia belum ingin membicarkan mimpinya kepada istrinya yang pasti tidak akan percaya dengan nya.
"Aku harus mencari Trimo bu’e, tapi cari di mana dan bagaimana caranya, aku cuma buruh kasar dan orang desa yang tidak tau bagaimana melacak orang yang sekarang menghilang"
"Mosok se aku harus lapor pulisi, mana pulisi percaya sama laporanku hihihihi" batin Kaswadi sambil tersenyum
"Kok mesam-mesem dewe to pak, wis mulai edan to koe iki pak ( kok senyum sendiri pak, sudah mulai gila ya kamu pak )" tegur istri Kaswadi yang keluar dari dapur dengan membawa sepiring singkong rebus
"Ora edan bu'e, aku cuma membayangkan dimana posisi Trimo dan apa yang sedang dilakukan Trimo dengan uang sebanyak itu bu'e hehehe" jawab Kaswadi
"Oh iyo, sik sebentar tak telponke Denok dulu pak. Duh kok sampek lupa telpon Denok sih pak aku" jawab istri Kaswadi yang kemudian mengambil ponsel miliknya yang sedang di isi daya itu.
Beberapa kali istri Kaswadi menghubungi saudaranya tetapi ternyata ponsel saudaranya yang bernama Denok itu belum aktif untuk pagi ini.
"Hpne Denok ndak aktif pak, jajal tak Wa ne pak"
"Bu, nek misalnya memang mimpiku tadi malam itu ada hubungane sama kesembuhanku dengan bantuan ghaib, dan ini semua tujuan nya agar aku mencari kotak yang dicuri Trimo, berarti ada sesuatu yang sangat penting selain uang itu bu"
"Kertas yang isinya tulisan bahasa mandarin itu lho pak, lha kan kita tidak bisa membaca apa arti tulisan itu pak"
“Jadi kalau semua itu berawal dari isi kotak itu, pa’e ya harus cari. Dan harus cepet, takutnya Trimo sudah menjual semuanya, kita yang akan menanggung masalah ini apabila Trimo menjual isi kotak itu semua pa’e”
“Tapi aku harus cari Trimo dimana Bu, wong mimpi tadi saja hanya di sebuah hotel gitu aja Bu’e”
“Gini saja pa’e, coba pa’e ke desa yang bersebelahan dengan proyel resort itu, kemudian cari orang yang di tuakan disana, jajal takon sama orang sana sejarah desa yang sekarang sedang dihancurkan itu”
__ADS_1
Ide pemikiran istri Kaswadi itu masuk akal juga, semua harus ditelusuri dari awal dulu agar tau sejarah desa sebelah dan apa yang terjadi dengan desa sebelah itu.
“Ya wis bu’e, pagi ini aku tak kesana, cari informasi tentang desa yang sedang dihancurkan itu”
“Nah yo gitu, pa’e bawa hp thooo, itu ada hp nganggur, beli kartu dan minta diisikan sama yang jual, bilang minta isi pulsa telephon saja, jangan pulsa data pa’e”
*****
Hehehe memang Kaswadi ini semenjak ada masalah dengan Istrinya dia tidak pernah lagi mau membawa ponsel.
Sedikit cerita tentang Kaswadi, terjadi pada setahun lalu, sesuai yang dia ceritakan kepada saya alasan dia tidak mau membawa ponsel lagi.
Setahun lalu dia ada proyek pembongkaran juga di sebuah desa daerah Wnsb jateng, pokoknya Kaswadi ini jagonya mbongkar, kalau masang lagi ya mbuh-mbuhan. Disana dia kenal dengan pemilik warung kopi yang biasa dipanggil jeng Kurni.
Penulis ndak dijelaskan kenapa kok pemilik warung itu bernama jeng Kurni, pokoknya yang bernama jeng Kurni itu kembang deso waktu itu, ndesone ndi juga ndak dijelaskan Kaswadi, mungkin dia takut kalau Novel ini akan dibaca oleh Istrinya hihihi.
Singkat cerita Kaswadi yang pada waktu itu mengaku duda dan jeng Karno eh Kurni yang mengaku yanda pun saling yah begitulah. Apalagi ditambah dengan hawa yang dingin di daerah itu, daerah yang dekat dengan obyek wisata pegunugan Dieng.
Henaaah, yang biasanya tiap dua minggu sekali Kaswadi pulang dengan cara nunut truck yang balik ke Jawa Timur karena ada salah satu Driver truck yang berasal dari desa yang sama dengan tempat tinggal Kaswadi.
Semenjak kenal dengan jeng Kurni, Kaswadi sekarang jadi tidak pernah pulang, hampir satu bulan dia tidak pulang nunut/ikut dengan driver truck.
Saya tidak perlu menceritakan secara panjang lebar apa yang mereka berdua lakukan, hanya saja untuk dua orang lain jenis di daerah berhawa dingin pasti suka cari yang hangat-hangat kan.
Bagaimana hingga istri Kaswadi sampai tau hubungan mereka agak menjurus? Hehehe jawabanya sederhana. Kaswadi salah kirim Wa yang seharusnya kepada jeng Kurni, tetapi terkirim ke istrinya hihihih, dan tentu saja isi pesan singkat itu lumayan horor dan hanya untuk yang 21 tahun keatas saja yang paham.
Sejak peristiwa itu Kaswadi tidak membawa ponsel lagi. Entah dilarang istrinya, atau memang kesadaran dari Kaswadi sendiri, atau memang lebih bebas tidak membawa ponsel, penulis tidak diberi jawaban hehehe.
*****
“Agar kalau ada apa-apa aku bisa hubungi pa’e secepatnya” kata istri Kaswadi yang menyuruh Kaswadi untuk membawa ponselnya dia
“Iya bu’eeee. Nanti tak isine, sekarang aku tak siap-siap pergi dulu bu’e mumpung masih pagi”
Kaswadi bersiap siap untuk pergi ke desa yang letaknya ada di sebelah dari desa yang sedang dilakukan pembongkar untuk dibuat resort.
Kedaraan umum berbentuk bus mini mengantar Kaswadi sampai di pertigaan jalan, apabila lurus akan menuju ke vila putih, kalau ke kanan ke desa Br dan Bs.
__ADS_1
Kaswadi turun dipertigaan jalan itu, selanjutnya dia menunggu kendaraan umun yang biasanya dia gunakan untuk ke desa Br tempat proyek Kaswadi itu sedang berlangsung.
-“Lha apa pak Kaswadi sudah tidak kerja lagi di proyek itu pak?” tanyaku-
“Saya sebenarnya belum putus hubungan mbak, tetapi saya tidak bisa meninggalkan istri dan anak saya yang tiap malam katanya masih diliatin sosok hitam yang selalu berdiri di pojokan kamar
-“Berarti Trimo sama sekali tidak diteror oleh mahluk itu dong pak, dia bisa santai lenggang kangkung menjalani hidup mewahnya dong?”-
“Bisa iya bisa juga tidak mbak, saya kan tidak tau bagaimana keadaan Trimo mbak”jawab Kaswadi kepadaku
Intinya saat ini yang dikerjakan Kaswadi mencari orang sepuh atau mungkin juru kunci desa yang tau sejarah desa itu, dan sayangnya Kaswadi belum tau kalau dirinya sekarang bisa berkomunikasi dengan hal ghaib.
Untuk diketahui, pagi ini selain kaswadi yang menuju ke desa sebelah di rumah putih juga ada anak-anak Sutopo yang sedang mencari pak Tembol. Dan apakah kedua orang ini akan bertemu?
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lumayan, akhirnya tepat adzan dhuhur Kaswadi sudah ada di desa Bs, atau desa tetangga dari desa yang sekarang dibongkar untuk dijadikan Proyek resort.
“Nuwun sewu pak , bisa tau dimana masjid atau mushola dekat sini pak. Tanya Kaswadi kepada bapak-bapak yang keliatanya sedang menuju ke mushola juga
“Hehehe, ikuti saja saja mas, saya kan juga mau lohoran mas” kata bapak-bapak yang berjalan tergesa-gesa karena saat ini memang sedang adzan dhuhur.
Padahal kan jelas bapak-bapak itu memakai songkok/ kopyah dan memakai sarung, pastinya menuju ke masjid lah, kok ya ditanya lagi heheheh, yah begitulah mungkin adat sungkan dan sopan santun yang benar.
Kadang kan anak-anak sekarang gak mau tanya, ikuti saja orang yang sedang memakai sarung pasti akan sampai ke masjid, tapi kan itu tidak sopan hehehe.
Selesai dhuhur, beberapa bapak-bapak sepuh yang rambutnya sudah memutih sedang salam salaman dan terlibat ngobrol kecil dengan sebayanya, yah untuk sekedar menanyakan kabar keluarganya masing-masing.
“Mungkin aku bisa tanya ke bapak-bapak ini tetang desa sebelah, semoga mereka mau membantuku” batin Kaswadi
“Nuwun sewu pak” sapa Kaswadi kepada bapak paling tua diantara mereka dengan rambut yang memutih dan sebagian botak, tetapi cara jalan laki-laki itu masih tegap dibanding teman sebanyanya.
“Ya, ada yang bisa saya bantu mas” tanya bapak-bapak tua itu
“Perkenalkan nama saya Kaswadi pak, asal saya dari daerah Pct, saya buruh yang sedang melakukan pembongkaran di desa sebelah pak. Saya mau menanyakan sesuatu kepada bapak” kata Kaswadi dengan suara yang pelan.
“Oh iya mas, lalu masnya mau tanya apa?” kata mbah-mbah itu lagi dengan ramah
“Saya mau tanya tentang desa sebelah dan keanehan yang ada disana pak, karena saya sempat didatangi oleh perempuan tua yang suka meludah” jawab Kaswadi lagi
__ADS_1
Sejenak bapak tua yang lebih tepat dipanggil mbah itu terdiam, dia sempat seperti orang yang sedang berpikir keras. Kemudian...
“Ayo ke rumah saya saja, nama saya Marwoto, kita ngobrol di rumah saya saja” kata mbah-mbah tua yang bernama Marwoto itu.