MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 170 (PEMERIKSAAN )


__ADS_3

“Lagi pula sudah terlambat kalau kita munculkan saksi mata kedua selain kamu Handoko, karena sekarang pihak yang berwajib akan  mulai mengadakan  pemeriksaan setelah mereka lakukan gelar perkara” kata Dimas


“Atau begini saja  bapak-bapak, mereka para petugas itu pasti kenal dengan saya, karena mereka sering juga sholat di masjid tempat saya kerja sebagai marbot. Bagaimana kalau nanti waktu mereka sedang adakan pemeriksaan di vila kemudian saya keluar dan mulai sebagai saksi kedua”


“Dan tidak hanya saya saja, karena nanti saya juga akan sebutkan ada saksi lain selain saya, dengan alasan waktu itu saya dan teman saya sedang menuju ke desa sebelah untuk mengantarkan teman saya yang tidak berani  pulang malam-malam” kata Saeful


“Bisa…bisa, itu bisa juga nak, tapi kamu akan dibawa ke kantor mereka untuk ditanya-tanyai yang lebih mendetail lagi, termasuk temanmu yang kamu antar pulang itu juga akan ditanya juga, apa kamu siap nak Saeful?”


“Pihak yang berwajib tidak mau kalau hanya menanyakan satu dua orang saja, mereka pasti akan menanyakan macam-macam ke kamu dan yang berhubungan dengan kamu malam itu, jadi ide tentang kamu antar temanmu itu lebih baik jangan dulu nak” kata pak Tembol


“Yah apa ada ide lain selain ide saya ini pak Tembol, kalau ada ide lain ayo kita bicarakan disini mumpung masih ada waktu sebelum mereka datang kesini” kata Saeful


“Pokoknya pada intinya adalah saksi mata lain selain pak Handoko yang bisa memberatkan Trimo, sudah itu saja. lagi pula tidak ada yang bisa menunjukan dimana mas Wildan berada kan pak, yang tau wajah mas Wildan kan hanya Trimo, bahkan Trimo juga tidak tau siapa nama mas WIldan itu” kata Saeful lagi


“Nah pada waktu itu memang ada saksi mata lain yang lihat Wildan menyelamatkan Muryati, selain Muryati sendiri bersama Trimo, tapi kan sampai sekarang kedua orang itu belum ketemu pak”


“Jadi satu-satunya kuncinya ya menambah saksi lagi. Apalagi sekarang muryati sudah mati, jadi tinggal Trimo sendiri yang tau wajah mas Wildan tanpa tau namanya mas Wildan. Menurut saya ada baiknya apabila mas WIldan dan saya yang muncul”


“Nanti pasti Trimo akan menunjuk mas Wildan bahwa mas Wildan yang menyerang dan merampok Muryati, selain pak Handoko yang dituduh sebagai kaki tangan mas Wildan. Nah pada saat itu mas Wildan pura-pura tidak kenal siapa itu Trimo kan” kata Saeful lagi


“Jangan nak Saeful, lebih baik nak Wildan untuk saat ini jangan muncul dulu, atau selain orang asli penduduk sini  jangan lah muncul dulu nak. Mungkin kalau seandainya nak Ipul yang muncul sendirian lebih baik, karena mereka itu kenal dengan nak Ipul” kata pak Tembol lagi


“Nah benar itu, lebih baik mas Ipul saja yang muncul karena polisi itu kenal dengan mas Ipul, tetapi apabila ada saksi mata lagi selain mas Ipul itu lebih baik lagi, karena lebih menguatkan tuduhan kepada Trimo” kata Dimas


“Saya yakin dua orang penduduk desa itu sekarang sedang dicari oleh anak buah Mak Nyat Mani, mereka berdua kan juga saksi mata juga, pokoknya jangan sampai Trimo bebas dari penjara yang akibatnya Mak Nyat Mani bisa mendapatkan apa yang dia inginkan” lanjut Dimas


“Ok anggap saja dua orang desa itu sudah tidak tau dimana keberadaanya, sehingga saksi mata hanya tinggal pak Handoko yang dituduh Trimo sebagai kaki tangan dari Wildan kan, jadi bagaimana menurut kalian semua” tanya Saeful


“Nah berarti tetap harus ada saksi mata lain juga yang melihat kejadian itu, hanya saja saksi mata itu tidak sengaja memergoki Trimo yang sedang berusaha mencekik muryati”


“Sik bentar… bentar eh mas Nank, apakah komandan polisi itu juga membahas kematian Muryati? kenapa sampai ada mayat Muryati di depan kantor mereka?”


“Iya pak, tapi sampai detik ini mereka belum tau apa motif nya hingga mayat Muryati ada di depan kantor polisi itu, tapi kata komandannya, kemungkinan besar dibunuh oleh orang yang gagal membunuh Muryati, tapi motif kenapa ada di depan kantor itu yang belum diketahui ”


“Sedangkan orang yang gagal membunuh Muryati itu masih dilacak, karena Trimo tetap saja menuduh orang yang merampok mereka itu yang membunuh Muryati”


“Mereka sendiri saja masih bingung kok, gitu kok mau periksa vila ini segala, harusnya mereka itu periksa Trimo saja” sahut Novi yang dari tadi hanya diam saja.


“Hehehe sabar nak Novi kalau berurusan dengan pihak yang berwajib itu harus jelas semuanya, bahkan kadang ada yang sudah sangat jelas bisa menjadi gak jelas hanya karena ada kesalahan secuil saja” kata pak Tembol


“Untuk sementara mas Saeful paling cocok untuk menjadi saksi atas Trimo, dan mas Saiful harus pandai bicara tentang keadaan pagi hari itu,  harus  detail waktu itu mas Saeful ada dimana dan sedang apa, dan apa saja yang dilihat  jelas atau tidak waktu lihat apa yang terjadi dan lainya” kata Dimas


“Sekarang saja Nak Saeful keluar dari sini, dan saya lebih suka apabila Dimas yang juga sebagai saksi mata selanjutnya, Wajah Nak Gilank yang saat ini ditempati Dimas kan bukan wajah yang normal, istilahnya wajah orang yang sering bertapa di hutan” kata pak Tembol


“Dimas kamu berlagak orang yang terganggu dengan rombongan penegak hukum yang sedang membawa Trimo, Trimo  yang sekarang berusaha mempengaruhi mereka untuk masuk ke dalam vila. Kamu orang gila yang juga lihat apa yang Trimo lakukan kepada Muryati” kata pak Tembol

__ADS_1


“Nah… saya setuju itu, Dimas yang ada di dalam tubuh mas Gilank, dimana mas Gilank penampilanya sudah sangat mirip dengan orang yang tidak waras karena mencari ilmu hitam di  hutan” tambah pak Handoko


“Pada intinya nanti Nak Saeful dan DImas  tidak saling mengenali, meskipun nanti mungkin Trimo akan mengenali atau tau kamu, tapi kamu pura-pura saja tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan Trimo sebelumnya” lanjut pak Handoko


Setelah selesai dengan peran masing-masing, di siang hari yang cukup panas ini Dimas keluar lebih dahulu menuju ke arah atas, kemudian disusul oleh Saeful juga keluar melalui lubang yang ada di pagar, mereka berdua ke arah atas.


Sekarang tinggal menunggu mereka-mereka yang akan datang ke vila, termasuk Trimo yang nanti pasti akan menyuruh pihak yang berwajib untuk  memeriksa vila bagian dalam.


*****


Sepuluh tahun sudah kita berumah tangga, tapi belum juga ….eh salah!, Sepuluh menit sudah berlalu setelah Saeful dan Dimas keluar dari wilayah vila, hingga pada saatnya kemudian mbok Ju yang ada di sisi jalan datang untuk memberitahu sesuatu kepada mereka.


“Ada serombongan  kendaraan yang menuju ke sini, kalian harus siap apapun yang akan terjadi” kata mbok Ju barusan


Semua tegang, tidak ada yang berbicara sama sekali, mereka harus siap dengan  keadaan ketika polisi itu masuk ke dalam vila dari pintu depan, tetapi untuk bisa masuk ke dalam vila tentunya memerlukan keberanian melewati semak belukar yang tingginya mencapai dua meter.


“Nak Nank dan mbok Ju kaian ke depan, kalau ada apa-apa segera kesini dan beritahu kami. Nak Wildan dan nak Tifano, kalian jangan ke Kamar atas, karena bisa terlihat dari depan sana, Ingat mata petugas itu tajam, kadang benda kecil saja mereka bisa tau” kata pak Tembol


*****


Sebuah mobil dan dua sepeda motor sudah terparkir di depan pagar vila putih. Empat pengendara sepeda motor yang berpakaian dinas  berdiri di depan pagar vila sambil melihat ke segala arah, sedangkan orang yang ada di dalam mobil belum juga turun.


Keempat orang itu kemudian menyebar ke setiap sisi jalan di depan vila putih, seakan akan mereka sedang menghadapi seorang pembunuh sadis  hingga harus menyebar dan mengamankan keadaan sebelum bosnya turun tangan  hihihi


Keempat orang itu melihat lihat suasana vila saja termasuk mereka juga melihat ke jurang yang ada di depan vila. Kemudian salah satu dari mereka mendekati Trimo dan mengajak bicara Trimo


“Tolong ceritakan bagaimana kejadian yang seungguhnya agar kami bisa analisa apa yang terjadi di sini” kata salah satu dari mereka bertiga


“Kasus ini sulit dan menantang, karena korban akhirnya mati juga, dan yang bikin institusi kita pusing adalah mayat perempuan itu ditaruh di depan pagar kita bro”  kata salah satu petugas itu kepada temannya


“Kita ikuti dulu saja apa yang akan diceritakan orang ini, tapi ingat, sesuai dengan keterangan dari pihak keluarga dan dokter yang menanganinya, dia ini mempunyai gangguan jiwa”  jawab temannya


Trimo menjelaskan posisi dimana mobilnya berada ketika dia ada disini untuk janjian bertemu dengan temannya, kemudian ada seseorang yang datang, yang dia tidak tau siapa namanya dan ternyata orang itu berusaha merampok mobil dan hartanya, kemudian Pacarnya yang bernama Muryati itu terkena guna-guna orang yang mau merampok mobilnya.


Cerita Trimo setelah pacarnya terkena guna-guna dari orang desa ini, pacarnya merasa seolah-olah Trimo akan membunuhnya, kemudian datang dua orang desa yang memergoki orang yang akan merampok mereka berdua, Ketika terpergok dua orang desa itu, kemudian perampok membalik fakta seolah olah Trimo akan membunuh pacarnya.


Dia juga cerita bahwa perampok itu berusaha merubah fakta bahwa pembunuh itu adalah Trimo, dan perampok itu menyuruh kedua orang desa itu untuk mengantar pacar Trimo ke kantor penegak hukum yang ada di Gebang. Trimo juga cerita bahwa setelah pacarnya diantar ke kantor penegak hukum, perampok itu kemudian masuk ke dalam vila itu.


“Yah selanjutnya ada orang yang tiba-tiba kesini dan mengaku bernama Handoko, di mengatakan bahwa diadalah saksi mata atas kasus ini kan pak” kata trimo pada petugas kepolisian itu


“Yah, terus lanjutkan” kata petugas itu


“Nah setelah itu saya dibebaskan saudara saya, dan memang saya dulu itu pernah mengidap hilang ingatan pak, tapi untuk kasus ini saya sadar sepenuhnya seperti yang dokter saya bilang itu” cerita Trimo yang penuh dengan bualan


“Nah setelah itu saya tidak tau lagi bagaimana keadaan pacar saya, karena saya kan ada di rumah sakit untuk menjalani beberapa rangkaian test. Dan kemudian tiba-tiba Muryati meninggal dan mayatnya ada di depan kantor polisi itu juga saya tidak tau, karena saya saat itu ada di rumah sakit juga” Trimo mengakhiri ceritanya

__ADS_1


“Sekarang menurut kamu, yang membunuh pacarmu itu adalah orang yang sama dengan yang merampok  kamu itu?” tanya petugas kepolisian


“Saya yakin sekali, dan saya yakin dia sembunyi di dalam sana bersama dengan orang tua yang mengaku sebagai saksi matanya” jawab Trimo


“Bagaimana kamu bisa yakin kalau dia ada di dalam sana!” bentak petugas polisi itu


“Karena saya lihat dengan mata saya sendiri mereka keluar dari dalam sana pak!” Trimo ganti membentak petugas polisi itu


“Bagaimana kamu tau dan yakin dia juga yang menaruh mayat itu di depan kantor polisi?” tanya petugas itu lagi


“Sudah jelas karena dia ingin agar saya yang dianggap gila ini yang melakukanya. Sekarang bapak jawab pertanyaan saya, orang normal apakah tega menaruh mayat yang dia bunuh di tempat yang paling berbahaya macam kantor penegak hukum itu?”


“Orang itu berusaha membuat sebuah opini bahwa saya yang gila ini yang membunuh pacar saya dan menaruh mayat itu disana. di depan kantor kalian pak” kata Trimo tidak mau kalah debat dengan petugas itu


“Ya sudah cukup dengan ceritamu” petugas itu kemudian berkumpul dengan anggota yang lainya


Mereka berenam sedang diskusi, dan membicarakan seseuatu tentang via putih yang memang keadaanya dak karuan, dan cukup berbahaya apabila dimasuki.


“Ndan… mohon ijin apa perlu kita telusuri dalam vila itu?” tanya petugas yang tadi sempat bicara dengan trimo


“Bahaya… kalau lihat dari tidak ada nya jejak di pintu gerbang vila ini, jelas tidak mungkin orang itu berasal dari dalam sana.”


“Kita kembangkan dulu saja untuk saksi mata yang berasal dari dua orang yang mengantar korban ke kantor sebelum besoknya  dibunuh itu” kata  salah satu yang dipanggil komandan


“Sampai saat ini kita belum menemukan mereka berdua Ndan, dan masih dalam pencarian”


“Bagaimana dengan orang yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai saksi mata atas percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh trimo itu?” tanya Komandanya


“Namanya Handoko, ngakunya dari desa Bs juga, kami sudah berusaha hubungi nomor Hp yang dia berikan, tapi sampai saat ini belum juga aktif ponselnya”


“Saya tidak mengira kalau keadaan di dalam halaman vila ini begitu mengerikan dengan rumput yang setinggi tubuh saya, dan ilalang yang banyak sekali di depan sini” katanya sambil mencari celah yang bisa dimasuki untuk menuju ke dalam vila


Ketika mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, dari atas jalan muncul Saeful dengan pakaian khasnya dan sarung yang diselempangkan di bahunya, Saeful berjalan dengan santai sambil melihat-lihat dan bersiul siul. Jalan dia santai sekali hingga tinggal beberapa meter mendekati kerumunan petugas.


“HEEEI SIAPA KAMU… APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI!” teriak salah satu petugas kepada Saeful yang berjalan santai


Saeful berjalan mendekat ke arah yang memanggilnya, sambil melihat ke Trimo yang sedang berkacak pinggang kepada keenam polisi yang sedang diskusi.


“Ah kamu kan penjaga masjid. Kamu Saeful kan, ngapain kamu dari atas sana” kata komandan polisi yang ternyata kenal dengan Saeful


“Eh ada Kumendan Heru, saya habis dari desa pak kumendan, lewat hutan kan lebih cepat”


“Halah makanya kamu tidak tau kalau jalan ini sementara ditutup, ya sudah sana cepat balik ke masjid”


“Iya Ndan, maaf saya tidak tau kalau sedang ada penyelidikan disini heheh, sedang menyelidiki orang yang berkelahi disini ya Ndan?” Tanya Saeful cengengesan

__ADS_1


__ADS_2