
"Panggil saya mbah Wo saja mas, karena di lingkungan sini saya dikenal dengan panggilan mbah Wo" kata orang tua itu sambil jalan terbungkuk bungkuk
Kaswadi berjalan bersama orang sepuh yang memperkenalkan diri dengan nama Marwoto atau Mbah Wo, mbah Wo itu kemudian mengajak Kaswadi ke rumahnya yang ternyata tidak jauh dari mushola desa itu.
Sebuah rumah desa pada umumnya yang mempunyai halaman luas dengan bangunan utama yang ada di tengah-tengah halaman yang luas.
Beda dengan rumah Kaswadi yang ada di perkampungan padat meskipun sama-sama ada di sebuah desa juga. Tetapi di desa Bs ini Kaswadi menemukan kenyamanan, apalagi setelah melihat rumah mbah Marwoto yang Asri.
"SIlahkan masuk mas, jangan sungkan-sungkan" kata mbah Marwoto yang melihat Kaswadi hanya berdiri di halaman rumahnya yang bersih dan rindang karena ada beberapa pohon besar yang menaungi rumahnya.
"Kenapa mas, kamu bisa lihat juga ya?, biarkan mereka mas, jangan ganggu mereka. Mereka juga mahluk Tuhan yang memerlukan tempat tinggal kan" kata Mbah Marwoto ketika melihat Kaswadi sedang melihat sesuatu di atas pohon nangka yang besar
"I..iya mbah, i..itu b..baik kan mbah sama manusia" tanya Kaswadi terbata-bata dengan wajah ketakutan
"Ndak papa mas, ayo masuk ke rumah saya saja. Mereka itu sama dengan kita, tidak akan jahat kalau tidak diganggu mas"
Kita sebut Marwoto dengan sebutan mbah saja ya, karena keadaan dia yang sudah tua dan memang wujud fisiknya sudah agak bungkuk, tetapi tidak dengan tatapan matanya yang masih tajam.
"Monggo duduk dulu mas, siang –siang gini sampeyan mau minum yang panas atau yang dingin mas" tanya mbah Marwoto dengan ramah.
"Terserah mbah, pokoknya jangan merepotkan saja mbah" jawab Kaswadi
Tidak lama kemudian dari balik kelambu yang memisahkan antara ruang tamu sederhana yang hanya ada satu set tempat duduk model kuno yang berasal dari anyaman rotan dengan ruangan tengah itu keluar seorang anak perempuan yang mungkin berusia lima tahunan.
"Lhoo mbah kakung sudah dataaaaang" kata anak perempuan itu sambil merangkul mbah nya dengan penuh rasa sayang
"Hehehe, nduk tolong bilang ke ibumu, minta bikinkan kopi dua ya nduk, dah sana cepat bilang ke ibumu" kata mbah Marwoto kepada anak kecil lucu yang ternyata adalah cucunya.
"Maafkan cucu saya Sarinah itu mas, dia memang gitu, tiap saya dari mushola dia selalu merangkul saya dan minta dielus-elus kepalanya"
"Oh iya, ada masalah apa sampeyan kesini, eeeeh gini saja mas, coba ceritakan mulai dari awal saja mas" minta Marwoto kepada Kaswadi
"Begini mbah....." Kaswadi menceritakan kejadian mulai awal dia mengambil barang itu sampai kemudian dia bermimpi seperti kenyataan dengan datangnya nenek tua yang suka meludah itu.
__ADS_1
"Hmmm, lalu sekarang mas Kaswadi ini mau ngapain?" tanya mbah Wo setelah Kaswadi selesai bercerita.
Kali ini mbah Wo bertanya kepada Kaswadi dengan wajah serius dan dengan mata tajam yang menatap Kaswadi yang sekarang sedang ketakutan.
"Saya harus mencari benda itu mbah" jawab Kaswadi singkat
"Umpamanya benda itu sudah kamu temukan, lalu apa yang akan kamu lakukan mas" tanya mbah Wo dengan suara yang tegas dan pelan
"Akan saya kembalikan ke tempatnya mbah" jawab Kaswadi ragu-ragu
"Kamu kembalikan kemana? Bukanya rumah tempat kamu ambil benda itu sudah dirobohkan dan sudah rata dengan tanah?" kata Mbah Wo dengan suara yang tegas
Tidak lama kemudian seorang perempuan yang mungkin berumur tiga puluhan masuk ke dalam ruang tamu dengan membawa dua cangkir kopi, dia tidak ikut ngobrol, dia hanya menaruh cangkir berisi wedang kopi, kemudian dia pergi dari ruang tamu.
"Itu tadi ibunya Sarinah mas, ayo diminum pelan pelan kopinya mas"
Kaswadi saat itu sedang bingung dengan pertanyaan mbah Wo, memang benar mbah Wo , kalau benda itu sudah ditemukan, kemudian akan diapakan? Bukankan rumah dan tanah tempat dia menemukan benda itu sekarang sudah hancur dan rata tanah.
"Saya ndak tau mbah, saya harus bagaimana. Karena masalah benda ini, keluarga saya selalu diikuti oleh mahluk ghaib hitam dan selalu berdiri di dalam kamar tidur mbah"
"Ya biasa- biasa saja mbah, tidak ada kejadian seperti ini mbah" jawab Kaswadi kebingungan
"Nah, ini semua kerena ulahmu sendiri kan mas, sehingga keluargamu ikut menanggungnya kan, kemudian kamu juga didatangi oleh perempuan tua yang suka meludah, bahkan kamu hampir mati juga kan?"
"Jadi kesimpulanya apa yang harus kamu akan lakukan dalam waktu dekat ini mas" tanya mbah Wo
Pertanyaan Marwoto dari tadi itu sulit untuk dijawab, karena dalam hal ini Marwoto juga sedang bingung harus bagaimana dengan laki-laki yang bernama Kaswadi ini.
Marwoto pun keliatanya tidak ingin terlibat lagi dengan masalah mengerikan itu, sekarang dia sudah punya anak hasil pernikahannya dengan Suparmi yang bernama SUHARTO, yang merupakan singkatan dari Suparmi dan Marwoto.
Harusnya singkatannya kan SUMARTO bukan SUHARTO, tapi ya sudahlah mungkin nama itu mempunyai arti bagi mereka. Dan suka-suka mereka mau menamakan siapa anak mereka kan.
Apalagi dia sekarang punya seorang cucu dari pernikahan Suharto dengan gadis dari desa ini juga, intinya Marwoto sekarang sudah hidup bahagia, dan dia sudah tidak ingin terlibat dalam masalah itu.
__ADS_1
Kaswadi tidak bisa menjawab pertanyaan Marwoto tentang harus melakukan apa dalam waktu dekat ini, karena dia sendiri tidak tau harus memulainya dari mana.
"Hmm begini saja mas, kamu pergi saja ke rumah yang ada di dalam mimpimu, rumah itu ada di daerah Gebang, kalau dari sini ke pertigaan itu kamu belok ke kanan, jalannya naik ke atas sana" kata Marwoto
"Dan maaf untuk masalah ini, saya tidak bisa membantu mas, saya punya keluarga, saya punya anak, mantu, dan cucu, meskipun istri saya sudah meninggal, dan saya tidak mau hal mengerikan itu menimpa keluarga saya"
"Kalau menurut saya, kamu coba kesana saja, ke rumah putih. Inshaallah kamu disana akan bertemu orang yang semestinya"
"Lebih cepat kamu ke sana maka lebih baik mas, terus terang mungkin kalau saya masih muda, saya akan membantu mas ini, tetapi maaf untuk sekarang mungkin petunjuk yang paling tepat adalah masnya ke rumah itu dulu saja"
"Rumah itu dulu namanya rumah putih mas, dan mungkin saat ini sudah kosong, tapi saya yakin disana masnya akan bertemu dengan orang yang akan membantu"
"Baiklah mbah, saya akan kesana untuk melihat rumah yang ada di dalam mimpi saya mbah"
Setelah berbasa basi sebentar dan menghabiskan kopinya, kemudian Kaswadi pamit undur diri untuk menuju ke rumah putih sesuai dengan suruhan mbak Wo atau mbah Marwoto.
Apa yang dilakukan Marwoto tadi sudah benar, karena tugas dia harusnya sudah selesai puluhan tahun lalu, dengan lahirnya Suharto dan akhirnya dengan apa yang dimiliki Suharto menjadikan kedua wilayah ghaib milik Mak Nyat Mani dan Soebroto bisa menyatu.
Sedangkan yang sekarang terjadi adalah murni karena kesalahan dan kelalaian Kaswadi, sehingga dia sendiri yang harus nya menyelesaikan , bukan harus melibatkan orang lain.
Di depan gapura desa Kaswadi sedang menunggu angkutan yang akan membawa dia ke Gebang lagi. dia melihat jam tangannya untuk mengetahui sudah pukul berapa sekarang, karena perjalanan dia mungkin butuh waktu yang lama.
Tidak lama kemudian, ada sebuah angkot yang berjalan dari desa ini menuju ke Gebang, Kaswadi harus segera naik angkot itu atau dia akan jalan kaki menuju ke Gebang.
*****
Setelah beberapa saat kemudian, angkot itu tiba di pertigaan Gebang, dari sini Kaswadi harus naik ke atas, kalau kata penduduk sini untuk mencapai atas bisa menggunakan Ojek atau jalan kaki.
Karena biaya ojek yang terlalu mahal setelah Kaswadi menanyakan ke beberapa ojek yang mangkal disana, maka diputuskan dia akan jalan kaki saja menuju ke rumah putih.
Kaswadi masih saja bingung dengan apa yang akan dia lakukan di rumah putih itu, tetapi dia percaya dengan perkataan dari mbah Wo, bahwa akan ada orang yang akan membatu dia disana.
"Ugh panas dan nanjak cukup curam jalan ini, mana sepi lagi di sini" keluh Kaswadi yang sedang jalan menuju ke rumah putih
__ADS_1
Hehehe dia baru jalan sekali dari pertigaan menuju ke rumah putih saja udah ngeluh, dia belum merasakan pendahulunya yang harus bolak balik jalan dari rumah putih menuju ke rumah sakit atau ke desa sebelah.