MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 105 (RUANGAN RAHASIA)


__ADS_3

“Kalau begitu saya dan mas Ali dan mas Tifano yang mencari orang-orang yang mungkin masih ada disini, sedangkan mas Wildan dan mas Gilank  tetap disini sembari memantau keadaan di luar melalui jendela kamar ini. dan apabila kalian melihat sesuatu, kalian bisa beri tanda dengan siulan” kata pak Handoko


Kamar tidur untuk tamu dimana tempat anak-anak Sutopo tidur ini mamang mempunyai jendela yang menghadap ke arah jalan yang menuju je pintu gerbang rumah, jadi seumpama ada siapapun yang membuka pintu pagar maka akan terlihat dari dalam kamar itu.


Saat ini pak Han bersama Ali dan Tifano sedang keluar dari kamar dan menuju ke ruangan utama rumah yang ada di sebelahnya. Mereka tidak melewati pintu yang langsung tembus ke area ruang tamu yang memang ada di sini.


Untuk diketahui kamar tidur  tamu ini mempunyai dua pintu, satu pintu di dinding yang tembus dengan ruang tamu ruangan utama, dan satu pintu lagi ke arah luar, jadi seandainya tamu pak Han ini ingin keluar malam, tidak perlu melewati area ruang tamu lagi.


“Wil , menurutmu apa yang sedang terjadi disini?” tanya Gilank


“Mboh Lank, yang pasti disini tidak ada orang sama sekali, bisa jadi mungkin ada hubunganya dengan barang milik kita itu. Tapi ya ndak tau lagi lah Lank, tapi ya aneh lho iki, mosok rumah ini sepi koyok gini, karyawan pak Handoko kan banyak Lank”


“Iyo se Wil, harusnya kalau ada sesuatu yang terjadi kan tidak semuanya pergi dari sini, mungkin ada satu atau dua orang yang berjaga disini kan” kata Gilank yang sedang membaringkan tubuhnya enak enak di spring bed kamar itu


“Yancook Lank, kita ini jaga disini rek , kok kamu malah turu Choook!” teriak Wildan


“Heheheh nguantok chok Wil, sedinoan iki aku belum tidur blas” jawab Gilank seenake dewe


“Lha mbok kiro aku ya sudah tidur gitu chok!, kene iki podo ae belum tidur blas, tapiiii….. heeem anginya semilir iki rek, marai ngantuk ae hihihi” kata Wildan


Tetapi tidak ada jawaban dari Gilank, yang ada adalah suara ngoroknya Gilank yang keras!


“Asyu arek iki, baru sebentar nggeblak nang kasur wis langsung ngorok”


Sementara itu pak Han dan dua orang Ali dan Tifano sedang menuju ke area utama dari rumah ini, yaitu area ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur pak Handoko.


“Rumah  ini luas sekali pak, dan dalam keadaan kosong pula pak. Kita sekarang ke arah mana pak?” tanya Ali


“Kita ke ruang tamu, ruang keluarga dan kita periksa bagian kamar saya juga mas” jawab pak Handoko


Sebenarnya agak aneh juga kalau liat pak Han ini, dia bisa begitu tenang sementara istri dan seluruh penghuni rumah ini tidak ada di sana. Mungkin kalau orang normal yang mengalami hal seperti pak Han ini sudah panik gak karuan.


“Ruang tamu dan ruang keluarga ini juga kosong mas, kita ke ruang kamar tidur saya saja mas” kata pak Handoko kemudian setengah berlari menuju ke kamar tidurnya


“Hmm kamar tidur ini juga kosong dan keadaanya keliatanya bersih atau belum digunakan untuk tidur sama sekali setelah dibersihkan” gumam pak Han


“Tapi lantai kamar ini berdebu pak, coba bapak sentuh lantai kamar ini pak” kata Tifano


Pak Handoko jongkok dan menyentuh lantai kamar yang bersih namun berdebu halus. Yang berarti kamar ini sudah agak lama dalam keadaan kosong.


“Iya mas, bener kamu, lantai kamar ini berdebu dan mungkin juga seluruh lantai rumah ini berdebu juga mas. Sebenarnya apa yang telah terjadi disini, kemana dan kenapa dengan semua orang termasuk istri saya” gumam pak Han


“Hmm atau gini saja pak Han, coba pak Han hubungi anak pak Han yang ada di kota S dulu, siapa tau istri bapak ada sama anak bapak saat ini” kata Ali


“Oh iya nak , saya cobanya hubungi anak saya dulu saja mas, siapa tau istri saya ada bersama anak saya saat ini” kata pak Han yang kemudian mengambil telepon wireless yang ada di kamarnya


Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya anak pak Han mengangkat juga panggilan telepon dari bapaknya.


“Haloo dik, papah mau tanya, apa mama ada sama kamu dik?” kata pak handoko

__ADS_1


Kebetulan suara anaknya pak Handoko agak keras jadi Ali dan Tifano bisa mendengar percakapan mereka.


“Iya paaah, papah ini lhooo selalu ndak bisa dihubungi. Ini mamah udah ada disini sejak tiga hari lalu pah. Papah ini di Wa, ditelpon, bahkan di sms selalu ndak bisa sih pah” kata suara perempuan anak pak Han


“Kasih ponsel kamu ke mamah kamu dik, biar papa bicara dulu sama mamah kamu” kata pak Handoko dengan serius.


Setelah beberapa saat terdengar suara halo dari istri pak Han.


“Mamah, apa yang terjadi di rumah, kenapa rumah kosong dan mamah ada di kontrakan Nila?” tanya pak Han


“Mama takut pah, ketika papah pergi, sore harinya rumah kita didatangi oleh ratusan demit pah, karyawan kita ketakutan, mereka pada pulang ke rumahnya semua. Terus dari pada mama sendirian disana sama penjaga rumah, mending mama ngungsi aja ke rumah  Nila pah”


“Yang jaga di rumah kita tinggal pak Jatmiko saja pah, semua pada lari pulang karena di halaman banyak pocong berkeliaran, belum lagi di dahan pohon juga banyak kuntilanak pah. Sepertinya ada yang berbuat iseng sama kita pah” kata suara istri pak Handoko


“Rumah ini kosong mah, pak Jatmiko juga tidak ada, rumah ini ditinggal tanpa dikunci lagi pintu pagarnya, keliatnya pak Jatmiko sedang terburu-buru melarikan diri dari sana mah” kata  pak Handoko.


“Ya sudah ma, mama sementara ini tinggal dengan Nila saja sampai kasus yang sedang papah urusin ini selesai” setelah beberapa percakapan penutup, akhirnya pak Handoko menutup sambungan teleponya.


“Hmm siapa yang berani-berani mengobrak-abrik rumah saya ya” gumam  pak Han


“Ehhmm gini aja nak, kita lihat dulu barang milik kalian, harusnya barang itu aman disini, dan tidak ada yang bisa mengambilnya termasuk demit juga” kata pak Han yang kemudian keluar dari kamarnya.


Mereka menuju ke arah ruang tamu, kemudian di sebuah dinding yang sama sekali tidak ada hiasan atau lukisanya, pak Handoko menekan area kecil di dinding.  Kemudian area  dinding sebesar pintu rumah yang ada di sebelahnya  itu terbuka ke arah dalam.


Bau wangi menyeruak keluar, wangi perpaduan antara bunga-bungaan dengan dupa. Ruangan yang ada di depan mereka ini gelap. Kemudian pak Han menekan salah satu saklar lampu yang ada di dalam ruangan itu.


Ketika mereka masuk ke dalamnya, tiba-tiba pintu yang ada di dinding ini tertutup dengan sendirinya, sekarang mereka bertiga ada di dalam ruangan yang aneh, karena ruangan ini penuh dengan benda-benda yang tidak enak untuk dilihat.


Benda-benda aneh itu hanya digeletakan di rak rak yang dibuat di  tiap dinding ruangan ini. Benda-benda yang ada disini macam patung, topeng, keris, bahkan ada benda-benda yang tidak jelas bentuknya. Karena hanya berupa ekor kuda, ada juga batu yang  aneh, dan ada juga beberapa buku yang terlihat kuno sekali.


“Disini saya menyimpan benda-benda bertuah yang sangat berharga mas, dari mulai keris hingga aneka benda yang terkutuk. Nah ayo ke sana, di sisi sana adalah tempat saya menyimpan benda milik kalian” kata pak Han menunju pada area pojok dari ruangan ini


Pak Han mengambil kotak besi yang dia taruh di rak atas, karena rak paling atas itu masih telihat kosong. Kemudian pak Handoko membuka kotak besi miik pak Tembo.l


“Barang kalian masih aman mas, inshaallah didalam ruangan ini semua aman mas, karena yang ada di dalam tidak bisa keluar dan yang ada di luar tidak bisa masuk ke dalam” kata pak Handoko


Kotak besi itu dia tutup kembali dan diletakan di tempat semula. Kemudian pak Handoko mengambil sebuah kotak yang ada dilantai, kotak kecil yang terbuat dari besi kuningan. Kotak itu dia buka dan dia isi dengan serbuk yang dia ambil dari salah satu rak disana.


Setelah itu dia mengambil korek api dari rak itu juga, kemudian dia bakar serbuk yang ada di dalam kotak kecil yang terbuat dari besi kuningan itu.


“Kita tunggu hingga bau wangi dan asapnya habis mas, baru kita bisa keluar dari ruangan ini” kata pak Handoko yang kemudian duduk bersila di ruangan yang penuh dengan barang aneh itu


Ali dan Tifano mengikut pak Han dengan duduk di lantai ruangan aneh itu. Perlahan lahan asap wangi keluar dari kotak kuningan yang ditaruh ditengah ruangan. Bau wangi semerbak memenuhi ruangan dengan asap yang tebal pula.


Tapi anehnya meskipun banyak asap memenuhi ruangan itu, mereka bertiga tidak merasakan sesak nafas dan batuk batuk. Mereka bertiga malah menikmati bau wangi dari asap yang keluar dari kotak kuningan itu.


“Hanya lima menit mas, kita tunggu hingga asap wangi tidak keluar dari kotak itu mas, baru kita bisa keluar dari ruangan ini” kata pak Handoko


Benar juga ternyata hanya lima menit berlangsung, kemudian asap itu sama sekali tidak keluar dari kotak yang ada di tengah mereka.  Akhirnya asap yang memenuhi ruangan berangsur-angsur menghilang, mungkin tersedot oleh nafas mereka bertiga hingga asap itu nyangkut di paru paru mereka bertiga.

__ADS_1


“Yuk sudah selesai, kita bisa keluar dari sini dengan aman, Karena bau wangi itu untuk menetralisir hal hal magis yang menempel di tubuh kalian dan atau di bagian dalam tubuh kalian akibat dari paparan energi yang keluar dari aneka benda mistis disini” kata pak Handoko


Pak Han menekan dinding yang ada di samping pintu, kemudian pintu yang tadi pun terbuka, anehnya ketika tubuh mereka terkena udara luar, rasanya gatal sekali, tapi hanya sebentar setelah itu normal kembali.


“Pak Han, apakah memang gini kah pak, kalau dari dalam ruangan kemudian keluar, rasanya gatal kayak gini ya pak” tanya Ali yang sedang menggaruk garuk sebagian tubuhnya


“Iya nak, memang gitu. Saya juga tidak tau kenapa harus pakek gatal juga, tapi yang pasti kita terhindar dari segala kutukan atau apapun yang berasal dari benda-benda terkutuk itu nak”


“Sekarang kita kembali ke  tempat mas Gilank dan mas Wildan saja, kita diskusi dengan mereka berdua tentang apa yang akan kita lakukan malam ini mas”


*****


Pak Handoko menceritakan apa yang terjadi di rumah itu kepada Wildan dan Gilank, dan kemudian membicarkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


“Yang utama itu saya harus tau siapa yang kirim mahluk-mahluk gaib itu kesini, karena semua ini ada kemungkinan berhubungan dengan benda milik kalian yang tersimpan rapi di bunker saya” kata pk Handoko


“Begini saja pak, malam ini kita disini dulu pak, karena saya juga merasa bersalah dengan keadaan rumah pak Han ini, gara-gara benda milik kami itu akibatnya rumah pak Handoko tertimpa masalah” kata Wildan


“Ya, saya juga berpikiran begitu mas, saya pikir ada baiknya malam ini kita tunggu saja siapa yang akan datang kesini, dan atas suruhan siapa yang datang itu” kata pak Handoko


“Kita sebaiknya berkumpul di ruang tengah saja anak-anak, kita dekati bungker tempat saya simpan benda-benda aneh itu mas” kata pak Han


Mobil Novi sudah terparkir di depan rumah pak Handoko, siang menjelang sore ini keadaan disini tidak terjadi apapun, semua nampak normal dan santai hingga Gilank dan Wildan sudah bisa beristirahat dengan santai.


“Saya merasa setelah maghrib nanti mulai akan muncul yang aneh aneh disini mas,, cuman yang saya tidak habis pikir itu siapa yang isengin rumah ini. karena tidak ada yang tau rumah saya ini mas…. Kecuali…. Hhmm kecuali si Trimo!”


“Bukanya Trimo sudah mati pak, kami tau sendiri Trimo waktu mati itu pak” kata Wildan


“Nah itu yang masih tanda tanya mas, memang Trimo sudah mati. Tapi bisa saja dia sempat bilang rumah saya kepada orang lain, dan mungkin orang lain itu sempat lihat kalian semua ada disini dan berkesimpulan kalau barang itu ada disini” kata pak Han


“Tidak mungkin pak, Trimo tidak akan bicara pada siapapun tentang kediaman pak Handoko, karena dia sendiri tidak akan membocorkan rahasia harta yang ada disana itu kepada siapapun, kecuali dukun-dukun yang sempat kirim  suruhanya ke vila putih pak” kata Ali


“Lagi pula Trimo tidak akan membocorkan rahasia bahwa bapak bisa menemukan dan mengartikan apa yang tertulis di dokumen Cik Hwa itu pak” lanjut Ali lagi


“Sudalah, dari pada berspekulasi yang tidak-tidak, lebih baik kita tunggu saja nanti malam, siapa yang akan muncul disini, minimal kita tangkap suruhannya yang berani mendekati rumah saya ini” kata pak Handoko semakin berang


Sore hari sudah lewat, maghrib sedang menjelang, suara adzan mulai terdengar,keadaan di halaman depan rumah pak Handoko mulai gelap gulita karena tidak ada yang menyalakan lampu yang tersebar di halaman depan yang banyak pohonnya itu.


“Mas, saya bisa minta tolong untuk menyalakan lampu taman ya saklarnya ada di dekat pendopo sana itu mas?” kata pak Handoko


“Eh I..ya pak,saya akan kesana bersama Wildan pak” sahut Ali


Hehehe siapa yang berani menuju ke pendopo dan melewati pohon-pohon yang besar itu, yang kata Istri pak Handoko banyak terdapat pocong dan kuntinya hihihihi.


******************


sekali lagi mohon maaf. dikarenakan masa masa bulan ramadhan ini saya menerima pesanan nasi box, jadi mungkin untuk besok saya tidak update dulu kak. karena waktu saya untuk update novel pada malam hari terpakai untul kegiatan blonjo ning pasar ..


mohon maaf Dan terima gajih . eh kasih

__ADS_1


__ADS_2