
“Orang ini sudah mati Nov” kata Broni yang berani memegang tubuh orang yang dipanggil Gemblung itu
“M…Mati mas, N..novi bunuh orang mas” kata Novi dengan gemetar
“Ndak, kamu tidak bunuh orang, yang membunuh itu adalah ketiga teman dia yang dari beberapa jam tadi membiarkan tubuh orang ini disini tanpa berusaha membawa ke rumah sakit” bisik Broni
“Sekarang kita kembali ke tujuan awal kita, disana ada beberapa tas yang harus kita ambil dan kita sembunyikan” bisik Broni lagi kepada Novi yang sedang ketenggengan atau bahasa Indonesianya apa ya?
Broni dan Novi membawa empat buah tas ransel keluar dari dalam tenda, mereka kemudian menuju ke semak belukar kembali tanpa menimbulkan suara sama sekali.
“Sudah Nov, kamu jangan takut, itu bukan kamu yang bunuh, tetapi mereka yang membunuh dengan tidak membawa orang itu ke rumah sakit terdekat. Tadi kamu dengar kan pembicaraan mereka kan”
“Iya mas. Novi tadi kaget aja, apakah karena lemparan Novi yang menyebabkan dia mati mas”
“Nggak Nov bukan karena akibat dari lemparan batumu, sudah sekarang kita focus lagi ke tujuan kita Nov. Sekarang kita tunggu apa yang terjadi setelah ini”
*****
Sementara itu di depan pagar, masih terjadi pembicaraan yang absurd, hal ini karena Saeful berusaha membuat suasana menjadi tolol.
“Jadi Cuma kalian bertiga yang ada disini, lalu mana mobil kalian? Apakah ada lagi satu orang yang sedang pergi ke kota? Bearti kalian ada empat orang dong” kata Saeful dengan mengangkat lampu minyak nya untuk menerangi wajah ketiga orang yang sedang emosi itu
“Mobil kami parkir disana, di tanah kosong sebelah vila!” bentak orang yang dipanggil dengan nama Matdra’i
“Kalian tidak tau kalau tanah itu dulunya adalah bekas kuburan, jangan parkir disana, atau pasti setelah ini ada yang akan mati diantara kalian” kata Saeful dengan mantab
“Dari tadi kamu bicara tentang ada yang mati diantara kami, sebenarnyaapa maumu?” Tanya yang dipanggil Tompel
“Hehehe, saya dapat hadiah kalau kasih info ke polisi apabila ada yang mati disini pak, apalagi yang mati itu karena mencari harta yang katanya ada disini hihihihi” jawab Saeful dengan lancangnya
“ANJHEEENG KAMU ANAK SHETAN!. Akan saya kirim arwahmu ke neraka sekarang juga!” teriak yang bernama Tompel itu”
“Oh gitu, ya silahkan bunuh saya hehehe”
“Saya akan tunggu kalian di depan paggar vila, ini saya sudah sangu lampu minyak dan kopi dalam plastic, saya mau melekan disini, nunggu ada yang mati lagi disini” jawab Saeful bebal. Dia kemudian agak menjauh dari pintu gerbang dan duduk dengan bersandar pada batang pohon di sebelah jurang
“Bro, dia ini anak gila, sudahlah kita jangan terpengaruh dengan dia, kita kembali ke tujuan kita kesini saja” ajak orang yang bernama Fathoni
“Kalian bicara apa pak, apa ada yang mati di dalam sana?” teriak Saeful dengan wajah bengalnya
“Ya sudah pak, saya tunggu kalian disini pak. Dan cepat kalian mati ya, agar saya dapat uang dari pihak yang berwajib” lanjut Saeful
“Kamu yang akan mati. Kamu tidak tau siapa kami, kami adalah paranormal yang terkenal, dan saya akan membunuhmu sekarang” kata yang bernama Matdra’I emosi
“Heheheh, parnormal kok ngaku-ngaku, kalau orang sakti itu tidak ngaku-ngaku, pakaian biasa, tidak kayak kalian yang sok koyok anak metal saja preeeet.” ejek Saeful
__ADS_1
“Ayo bunuh saya kalau bisa, karena dengan kalian berusaha bunuh saya, makan energy kalian akan terkuras hahahah” jawab Saeful tanpa punya rasa takut sama sekali
“Sudahlah Bro, anak itu bukan anak sembarangan, bisa saja dia itu menunggu kita mati disana” kata Fathoni lagi
“Sudahlah, sana masuklah kalian ke dalam vila itu, saya tunggu kalian disini bapak-bapak” kata Saeful lagi sambil menyeruput kopi yang dia taruh di plastic satu kiloan
“Ayo kita masuk ke dalam saja, sudah jam 20.00 ini, kita harus siapkan semua perlengkapan kita sebelum kita lakukan ritual utama” kata yang bernama Tompel
Akhirnya mereka bertiga meninggalkan Saeful yang sedang duduk sendirian di batang pohon depan pintu pagar vila.
*****
Sementara itu setelah Broni dah Novi menyembunyikan tas milik mereka yang pastinya berisi segala syarat-syarat, dan mungkin juga sajen, atau bahkan bisa juga benda-benda keramat yang berguna untuk melaksanakan ritual, mereka berdua kembali ke posisi mereka sembunyi.
“Mas, Novi khawatir mas” kata Novi sambil menyentuh lengan Broni dengan halus
“Sudahlah Novi sayanku, apa yang kamu lakukan itu tidak salah, dan apa yang kamu lakukan itu bukan pembunuhan. Jadi kamu ndak perlu gusar seperti ini” jawab Broni berusaha menenangkan Novi
“Sekarang kamu dan aku tinggal menuggu reaksi dari mereka dulu Novi, lalu kalau keadaan aman atau apabila keadaan mereka panik, baru kita pergi dari sini untuk melopor kepada teman kita yang ada di lorong sana” kata Broni
“Iya mas, lalu bagaimana dengan mayat itu mas, apakah ditinggal begitu saja mas?” Tanya Novi yang keliatnya masih khawatir
‘Lha maumu gimana Nov, apakah dikubur atau kita laporkan ke pihak yang berwajib agar ketiga orang itu ditangkap dengan alasan membiarkan orang sakit hingga mati” kata Broni
“Pokoknya sekarang kita tunggu reaksi mereka dulu saja Nov, baru kita bisa bergerak lagi” kata Broni lagi
“Kayaknya kita ndak perlu dengar lagi apa yang mereka bicarkan mas, ada baiknya kita keluar dari sini sebelum mereka mencari kita mas” kata Novi
Akhirnya Broni setuju dengan usul Novi untuk menuju ke pagar berlubang di sebelah kiri vila .
*****
“BROOO DIMANA TAS TAS KITA!” teriak yang bernama Fathoni dengan suara panik setelah mendapati tenda mereka kosong, hanya ada mayat teman mereka yang matanya mendelik
“LHo tadi kan waktu kita tinggal ke pintu depan tas tas kita masik ada disini. Pasti disekitar sini ada maling! Saya yakin sekali, dan pasti maling itu ada hubunganya dengan anak gila yang ada di depan pagar itu” kata orang satunya
“Pasti anak gila itu sekarang sudah pergi dari sana, karena pencurianya sudah berhasil!”geram Matdra’i
“Biar aku ke depan, akan aku hajar dia” kata Tompel yang segera keluar dari tenda dan menuju ke pintu depan vila
“Heeei anak gila, kamu sembunyikan dimana tas tas kami!” teriak orang itu dari balik pintu pagar
“Huuuaaahhmmm…. Tas apa? Apa sudah ada yang matikah…huuuaahhmm” jawab Saeful sambil menguap seolah dia menunjukan kalau sedang tidur
“Jangan pura-pura gila kamu” kata orang itu sambil keluar dari pagar vila kemudian mendatangi Saeful yang masih santai duduk di batang pohon
__ADS_1
“Sini duduk sama saya sini pak, akan saya ceritakan tentang cerita nabi-nabi pak” kata Saeful dengan santai dengan lampu minyak ada disampingnya
Tiba-tiba orang yang bernama Tompel itu mencengkeram baju Saeful diavmengankat saeful yang sedang duduk di rumput.
“DIMANA TAS TAS KAMI!...JAWAB!” teriak orang itu.
“Tas apa? Dari tadi kan saya ada disini, ngapain juga saya curi tas kalian, gak ada gunanya pak, saya Cuma butuh mayat kalian saja agar saya dapat upah hihihi.
“Atau begini saja, ayo kita ke kantor polisi, kalau sampeyan tidak percaya dengan saya” tantang saeful. Wah nekat juga Saeful yang ternyata gila ini
“AAARHHHG SAYA BUNUH KAMU KALAU TIDAK KEMBALIKAN TAS KAMI” kata Tompel yang mengambil pisau lipat yang dia simpan di saku celananya
Dia membuka lipatan pisau lipatnya, sehingga bagian yang tajam sudah menghadap ke arah Saeful, dan kemudian siap menusuk perut Saeful.
…..BOUUUHHGGGG!!!!…..
Tiba-tiba sebuah batu besar menghantam kepala orang yang dipanggil tompel itu, dia pun tersungkur di jalan depan vila. Dia tidak sempat berteriak dan tidak mengerang juga, karena batu sebesar kepalan tangan itu tepat mengenai kepala bagian belakangnya.
Tompel terseungkur dengan wajah dahulu yang kena aspal dan batuan. Sekarang dia tidak bergerak sama sekali.
Dua orang Broni dan Novi muncul dari sisi jurang dekat dengan Saeful berada.
“Untung Novi lempar batu orang itu, kalau tidak pisau itu sudah tembus ke perutmu Ful, kamu yang akhirnya jadi mayat hehehhe” ejek Broni
“Iya mas Bron, untungnya tidak terjadi apa-apa sama saya, tapi gimana dengan orang yang tersungkur itu mas hihihi” tunjuk Saeful kepada sosok Tompel yang mengenakan celana kulit dan sepatu boot tinggi mirip anak metal itu
“Kita tinggal saja dia disana, kita sekarang harus kembali ke lorong biru” kata Broni
“Jangan dulu mas, tadi saya lihat ada orang lain selain orang-orang ini mas, dia sedang di dalam taman vila itu, dia sedang mengamati tenda itu mas” kata Saeful
“Ciri-cirinya bagaimana Mas?”
“orangnya agak tua mas, dia ada disana mas di dekat dengan tenda mereka itu” kata Saeful
“Hmmm apa mungkin itu Kaswadi mas, atau bisa juga itu Supardi mas” kata Novi
“Iya Nov, gimana? Aku takut kalau mereka merusak rencana kita dengan mengembalikan tas-tas yang kita sembunyikan. Takutnya dia lihat kita mencuri tas-tas dukun itu Nov”
“Kalau menurut saya, ada baiknya kita cari saja mereka mas, tapi gimana dengan orang yang ini mas?” Tanya Saeful
Broni memegang tubuh dan dada orang itu untuk mengecheck apakah dia mati atau tidak. Dan ternyata tubuhnya masih hangat dan ada detak jantunya.
“Dia belum mati rek, hmmm gini saja, kamu teriak ke dalam tenda mereka Saeful. Bilang saja temanya tadi terpeleset dan jatuh tersungkur disitu. Kami akan lindungi kamu dari jauh” kata Broni
Ide Broni bisa dilaksanakan, tapi agak bahaya juga karena disini nyawa Saeful dipertaruhkan. Tapi yang namanya Saeful itu laki-laki sing gak punya rasa takut sama sekali.
__ADS_1
Broni dan Novi menuju ke arah jurang sebelah kiri Saeful, agar mereka bisa dengan mudah mengawasi Saeful yang akan menyuruh penghuni tenda untuk keluar dan melihat teman mereka yang sekarang pingsan.