MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 241 (PIKIRAN MARWOTO)


__ADS_3

“Pak Tembol, tolong hubungi teman kita agar bersiap siap, saya akan berusaha menghentikan mobil Rochman, atau paling tidak menghambatnya”


“Apa yang mau pak Bowo lakukan!” kata pak Tembol dengan suara keras


“Ingat.. dia bukan manusia pak, jadi apabila  pak Bowo mau menabrakan mobil bapak ke mobil dia, kita yang akan celaka!”


“Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghambat Rochman itu pak” kata pak Bowo dengan nada yang tidak kalah keras


“Bapak-bapak… sudah jangan rame ae…!” potong Dogel


“Saran dari mbah Saripah kita ikuti saja mobil itu, dan jangan berbuat sesuatu dengan Rochman, karena memang itu yang dia inginkan, dia ingin agar kita menabrakan mobil ini dengan mobil yang dia kendarai” kata Dogel


“Kita ikuti saja dari belakang hingga Rochman akan melakukan sesuatu. ingat pak di depan juga ada mbah Sarijemb, dan disini ada mbah Saripah” kata Dogel


“Dan kita juga tidak tau apakah kedua mbah-mbah ini akan meminta bala bantuan untuk menangkap Rochman” kata Dogel


“Ok baiklah mas, saya ikuti saranmu” kata pak Bowo dengan singkat


*****


“Apa saja yang kamu ketahui tentang saya dan Ginten?” tanya Marwoto di depan Pak Han


“Sudahlah. kalau kamu mau mencari Ginten ya sana, tapi cepat cari dia dan segera habisi dia” kata pak Han


Marwoto hanya diam saja dengan kata-kata pak Han yang menyuruh untuk menghabisi Ginten.


Entah apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. tapi yang jelas iseng iseng pak Han menebak apa yang terjadi dengan Ginten dan Marwoto.


“Dimana Ginten” tanya Marwoto


“Silahkan ke kamar 6+ dan bebaskan dia, karena disana adalah penjara bagi demit yang ada disini”


Pak Han menyuruh Marwoto untuk membebaskan Ginten yang ada di kamar 6+….


Padahal dengan membebaskan Ginten berarti membobol atau membongkar penjara ghaib yang ada di kamar 6+.


Dengan membongkar penjara Ghaib berarti tidak hanya Ginten saja yang lolos, bisa saja ada beberapa bahkan semuanya akan minggat dari sana.

__ADS_1


Apakah ini trik yang memang akan dilakukan pak Han untuk membuat keributan di hotel ini atau bagaimana.


“Iya disana…di sebelah kamar ini, coba kamu lihat sendiri, apakah ada Ginten disana atau tidak?”


Marwoto hanya diam saja dia tidak bereaksi dengan apa yang ditawarkan pak Han, tetapi  tidak lama kemudian Marwoto  berjalan pelan dengan kaki yang tidak menyentuh tanah menuju ke kamar 6+.


Pelan-pelan Marwoto menembus dinding kamar 6+...


Dia tidak lama ada di dalam kamar itu, setelah itu dia keluar dari sana. dan kembali ke tempat dia berbicara dengan pak Han.


“Bagaimana Marwoto, apakah kamu sudah berhasil  menemukan GInten?”


“Ya…. dia ada disana, hanya saja dia bersama ribuan demit yang terkurung” jawab Marwoto


“Ya sudah, kalau memang kamu menginginkan anakmu sehat lagi… segera bebaskan dia dari sana”


“Saya bisa saja bebaskan Ginten dari sana, tetapi akibatnya semua demit yang ada disana akan keluar semua” kata Marwoto


“Heheheh demit demit yang ada disana juga punya tempat tinggal dan keluarga, kalau kamu bebaskan mereka, maka otomatis sebagian dari mereka akan berterimakasih kepadamu”


“Dan mungkin…. mungkin akan membantu kamu untuk menyelamatkan anakmu yang sekarang sedang dikejar-kejar oleh Rochman untuk diambil energinya” kata pak Han


“Eiitt..jangan dulu Marwoto.. kamu mau bebaskan Ginten, kemudian bersama Ginten kamu akan bebaskan anakmu?...”


“Apa kamu ini tidak sadar dengan apa yang sudah Ginten lakukan kepada anakmu?”


“Apa kamu mau Ginten menyerahkan Suharto ke tangan Rochman lagi!” bentak pak Han


“Kamu jangan mau diperdaya Ginten Marwoto,  bebaskan Ginten, kemudian hancurkan dia!” desak pak Handoko


“Tidak bisa, saya tidak bisa menghancurkan Ginten!”


“Hahaha…Marwoto.. kamu itu diperalat Ginten”


“Asal kamu tau, saya tau banyak apa yang ada di pikiranmu, saya  bisa baca pikiran siapapun apabila memang pikiran kita tersambung”


“Dan yang ada di pikiranmu adalah rasa cintamu kepada demit yang bernama Ginten setelah kematian istrimu”

__ADS_1


“Dan akhirnya kamu pun mati setelah bertemu dengan anak-anak Sutopo!”


“Karena apa?... karena memang kamu sedang menunggu anak-anak Sutopo…”


“Karena hanya anak-anak Sutopo ini yang akan membantu Ginten dan kamu untuk mewujudkan keinginan kalian berdua!”


“Bagaimana, apakah yang saya katakan ini benar?” tanya pak Han


Marwoto diam saja tanpa berkata apapun,dia hanya diam dan menunduk…


“Marwoto, lebih baik kita santai saja dulu, ayo kita ke teras kamar dan ngobrol tentang apa yang akan kamu lakukan”


“Tidak bisa, anak saya dalam bahaya. Saya tidak bisa santai sebelum Suharto saya selamatkan” jawab Marwoto


“Tenang saja… ada pak Tembol, mas Ali, dan mbak Novi, juga ada mbok Ju, mereka bisa hadapi Rochman kapan saja asalkan posisi Rochman jauh dari sini dan dari rumahnya”


Marwoto hanya diam saja, ketika pak Han kemudian menuntun menuju ke teras kamar hotel dan mengobrol santai disana.


“Sekarang kita sudah santai Marwoto, dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun saya bisa baca pikiranmu, tetapi teman saya Blewah ini kan belum tau apa yang sebetulnya terjadi” kata pak Han sambil menunjuk Blewah yang ada di sebelahnya.


Tidak lama kemudian Broni datang lagi, dia membawa ponsel dan kemungkinan besar adalah tentang kabar mereka semua yang ada di mobil ambulan


“Pak… ada kabar dari Novi lagi….”


“Lho ada mbah Woto disini hehehe” kata Broni kemudian menyerahkan ponsel itu kepada pak Han


“Iya… ada berita apa mbak Novi?” tanya pak Han yang kemudian menyalakan speakerphone agar yang ada disana bisa mendengar apa yang dikatakan Novi


“Rochman terus membuntuti kami pak, dia tepat ada di belakang mobil ambulan. Tetapi di belakang mobil Rochman ada mobil pak Bowo yang bersama pak Tembol dan mas Dogel” kata Novi melalui sambungan ponsel


“Tapi bagaimana kemungkinan nya mbak, butuh bantuan dari kami atau tidak?” tanya pak Han memancing Marwoto agar bicara


“Untuk saat ini belum perlu pak, mungkin nanti kalau ada apa-apa akan Novi kabari lagi” kata Novo dan kemudian sambungan telepon itu terputus


Suasana hening sesaat, mereka yang ada di teras kamar 6+ sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Hari sudah semakin mendekati pagi hari.

__ADS_1


“Bagaimana Marwoto, apa yang akan kamu ceritakan sekarang?” kata pak Han lebih tegas daripada sebelumnya


“Baiklah akan saya ceritakan yang sebenarnya terjadi antara saya dan Ginten”


__ADS_2