
Perjalanan menuju ke rumah Nabil tidak ada hambatan sama sekali, bahkan yang biasanya di kota K itu macet sekarang lancar jaya, apakah dengan lancarnya perjalanan itu menunjukan keadaan yang lancar juga?
Dengan kecepatan yang lumayan akhirnya mereka sudah sampai di depan pintu gerbang perumahan elit Nabil yang pintu portalnya selalu dalam keadaan tertutup.
“Selamat malam bos, saya mau ketemu bos Nabil. tolong ditelponkan bos” kata Petro kepada petugas jaga yang ada di gate in perumahan
“Hehehe pak Farid, sampean ndak bosan-bosan nya kesini dan menunggu yang namanya Nabil itu pak, tadi siang ada yang cari dia juga, tapi ngakunya dia dari kantor sampean, katanya anak buah pak Nabil gitu”
“Iya pak, kita tidak boleh bosan untuk bisa bertemu dengan atasan yang bayar kita pak heheheh, ayo tolong telponkan pak” kata Farid
“Wis gak usah tepon-telponan pak, sampeyan masuk saja ke dalam, sanggong saja bos sampean itu, saya kok kasihan sama sampean dan teman kantor sampeyan yang tidak pernah bisa ketemu juragane” kata petugas itu kemudian membuka pintu portal
“Wah makasih bos, hehehe tak sanggonge juragan diamput iku bos hehehe” jawab Petro yang kemudian mengarahkan mobil menuju ke rumah nabil yang ada di pojokan
“Nah gini kan enak kita diskusi sama teman kita itu dengan lebih enak dari pada kita tunggu di depan sana hehehe” kata Dimas
Mobil diparkir melewati rumah Nabil, karena disana ada tanah kosong yang menjorok dan bisa digunakan untuk memarkir mobil.
“Dimas, kamu jemput mereka, siapa tau mereka sudah ada di halaman rumah” kata pak Tembol
*****
“Kita sekarang ada di dalam dinding, dalam dinding ini banyak sekali lorong yang akan menyesatkan kita sebagai makhluk tak kasat mata, tiap jengkal atau misal kalian sedikit miring ke kiri atau ke kanan maka kalian sudah tidak bisa melihat saya lagi” kara Bawok
“Itulah karya Totok atau Nabil, dia bisa membuat dinding ghaib yang bisa menyesatkan ghaib yang menerobos dinding tanpa perhitungan sama sekali. Pokoknya segala gerakan saya, kalian harus ikuti semirip mungkin atau kalian akan hilang”
Ngot dan Indah mengikuti kemana Bawok melayang, kadang dia melayang agak tinggi, kemudian bisa rendah sekali hingga membungkuk, kadang miring ke kiri atau ke kanan, semua harus diikuti oleh Ngot dan Indah agar bisa keluar dari rumah itu.
Lama juga mereka mengikuti gerakan Bawok yang berubah ubah sesuai dengan peta yang sudah dihafal, hingga kemudian tiba-tiba bawok berhenti.
“Di depan sudah merupakan dinding terakhir, kita sudah bisa keluar dari sini, hanya saja apakah teman kalian itu sudah datang atau belum, karena yang ada di pohon beringin itu selalu berisik kalau melihat saya bisa lolos dari rumah ini” kata Bawok
“Saya yakin mereka sudah menunggu kita di tanah kosong sebelah rumah ini mas Bawok, dan mereka juga bersama Sumirah sahabatmu mas hehehe” kata Indah
Meskipun bawok tidak berkepala apalagi berwajah, tetapi Indah dan Ngot bisa merasakan kegembiraan Bawok ketika tau sahabatnya akan ada disana.
“Kalau begitu ayo kita keluar, tetapi ingat jangan menoleh ke atas pohon, anggap saja yang di atas pohon itu adalah nyamuk-nyamuk yang mendengung”
Dalam hitungan detik mereka sudah ada di luar rumah, dan kebetulan di luar rumah sudah ada Dimas yang menunggu mereka, Tugas Dimas disini adalah agar yang ada di atas pohon beringin itu tidak berisik.
“Ayo cepat ke mobil yang menunggu kalian di sana” kata Dimas yang ada di dalam tubuh Gilank
Akhirnya mereka disambut oleh yang ada di mobil, sedangkan khusus Bawok dia cukup bahagia bertemu dengan Mirah yang merupakan sahabatnya ketika di Waji.
Semua yang di mobil bisa melihat kehadiran Bawok yang tanpa kepala dengan darah di seluruh tubuhnya, memang cukup mengerikan.
“Mas Bawok, kenapa sih kok gak mau rubah tubuh mas jadi seperti waktu belum meninggal?” tanya Mirah
“Untuk mengingatkan bahwa aku harus balas kematian keluargaku Mirah, kalau aku sudah berubah wujud menjadi lebih baik, takutnya aku tidak akan semangat lagi untuk membalas kematian keluargaku” jawab Bawok
__ADS_1
Mereka bertiga bercerita pengalaman mereka disana, tentunya Bawok lebih menguasai keadaan karena dia sudah lama ada disana. Bawok bisa menggambarkan secara detail lorong lorong ghaib yang dibuat oleh nabil, lorong ghaib yang menyebabkan tidak ada yang bisa keluar dari sana.
“Mas Bawok, waktu itu kenapa mas Bawok Mirah panggil panggil kok diem aja, waktu Mirah ada di dunia ghaib?” tanya Mirah
“Hehehe memang sengaja Mirah agar kamu tidak ikut saya, karena saya tidak mau kamu ada masalah dengan iblis ini, kamu sudah bahagia di dalam tubuh mas ini, jadi janganlah membuat tubuh mas ini kehilangan kamu” kata Bawok menunjuk ke Blewah
“Ok, kami berterima kasih kepada mas Bawok yang bisa mengembalikan teman kami nak Ngot dan nak Indah, tetapi setelah mendengar apa yang mas Bawok omongkan, ternyata jalan kami untuk bisa membuat lemah Rochman atau Nabil atau Totok itu masih jauh”
“Pak, saya dan Indah punya ide untuk tinggal disana bersama mas Bawok untuk sementara waktu, sekalian kami akan bikin peta dan mempelajari keadaan di sana pak, karena area penting Rochman itu kemungkinan besar ada di dalam kolam renang atau di bangunan yang ada di belakang sana” kata Ngot
Pak Tembol tidak bisa berkata apa-apa, karena memang dibutuhkan sosok yang bisa mempelajari keadaan di dalam sana sebelum mereka masuk kesana.
“Kami kan tidak berdua pak, kami kan bersama dengan mas Bawok, jadi ada yang menuntun kami disana pak” kata Indah yang merasa tidak sreg karena pak Tembol diam saja dengan perkataan Ngot
“Hmm kalau memang aman dengan Bawok, ya silahkan saja, eeh kalian butuh berapa hari untuk mempelajari apa yang ada disana?” tanya DImas
“Begini… tidak bisa diukur dengan hari kalau ada disini itu pak, saya sudah ada disana sekitar semingguan, tetapi baru bisa mempelajari peta untuk keluar dari sana apabila keadaan berbahaya” kata Bawok menggunakan telepatinya untuk bicara dengan mereka
“Ya sudah, kalau kalian merasa mampu karena sudah bertemu dengan Bawok ya silahkan saja” kata pak Tembol
“Beri kami waktu empat hari mulai dari besok pagi pak, kami akan coba semaksimal mungkin untuk mencari informasi tentang rumah ini” kata Indah
“Dalam empat hari bisa tidak bisa kami akan keluar dari sini dan menemui kalian disini bersama mas Bawok. Saya rasa ini sudah cukup lama kami ada diluar ya mas Bawok. Kita akan kembali ke sana sebelum penjaga pohon itu membuat gaduh”
Setelah sedikit memberikan wejangan akhirnya Ngot, Indah, dan Bawok kembali ke dalam rumah Nabil, tentu saja mereka tidak lewat pintu depan, karena di ruang tengah sedang ada aktivitas bongkar pasang.
“Eh mas Petro tolong agak cepat kita baliknya, saya kok merasa ada sesuatu di vila ya” kata Dimas
“Iya Dim eh pak Dimas” Petro mulai memanggil Dimas dengan awalan pak, karena sampai saat ini orang itu tidak menampakan keanehan, dan patut dihargai dengan panggilan awal pak
Petro membawa mobil dengan kecepatan tinggi, tapi dengan cara yang profesional, jadi tidak asal injak gas saja, hingga tidak ada dua jam mobil sudah berjalan pelan untuk masuk ke halaman masjid.
Mereka berjalan agak cepat menuju ke vila putih, karena Dimas merasa ada sesuatu dengan keadaan vila. tapi dia tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan vila putih.
“Apa yang sedang kamu rasakan di sana Dimas, kenapa kamu kok terburu-buru menuju ke vila putih?” tanya pak Tembol yang ada di sebelah Dimas
“Saya tidak tau Tembol, pokoknya saya merasa ada sesuatu yang sedang terjadi disana, dan kita harus sampai disana secepat mungkin”Jawab Dimas tanpa melihat ke pak Tembol sama sekali
Ketika mereka sudah ada di pertengahan jalan menanjak, tiba-tiba Blewah menyuruh mereka untuk berhenti
“Eh kalian lebih baik jalan melalui jurang saja, karena Mirah merasakan ada yang sedang menunggu kedatangan kita” kata Mirah melalui Blewah
“Apa saya saja yang kesana mas Blewah?” tanya Saeful
“Jangan mas, biarkan saya dan Petro saja yang kesana, kalian bertiga jalan di sisi jurang saja hingga kami berdua memberikan tanda kepada kalian kalau keadaan sudah aman” kata Blewah
“Menurut kalian siapa lagi yang sedang ada di vila itu mas? karena energi yang saya terima ini besar mas, bukan macam yang biasanya masuk ke vila mas” tanya Dimas
“Wah saya tidak tau pak, yang pasti ya cuma dua orang saja pak, kalau tidak Trimo ya Rochman, tetapi tadi kata Bawok ada aktivitas penjagalan mayat, berarti tersangkanya yang disana yang tinggal Trimo saja” kata Petro
__ADS_1
Mereka berdua dengan santainya berjalan menuju ke arah vila, saat ini pun belum menunjukkan waktu tengah malam sehingga harusnya yang kesana itu tidak melakukan Ritual kecuali satu hal untuk bertemu dengan sesuatu.
“Itu onok mobil putih yang diparkir di tengah jalan Tro, kalau kata Dogel kan mobile Trimo sekarang catnya putih berarti itu Trimo yang disana itu”
“Iyo Wah, dia pasti bawa dukun ecek-ecek maneh iku, gimana kita langsung datangi opo kita lihat dulu mereka maunya apa?”
“Kesuen Tro, wis ndang sat set cak cek bat bet wat wet ae lah. kita kesana ae saiki” kata BLewah yang memang dari dulu tidak pernah mikir panjang
Mereka berdua mempercepat langkah menuju kedepan pintu gerbang vila, dan ternyata benar, disana ada Trimo, tetapi dia tidak sendirian, karena sekali lagi disana ada sebuah sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan.
“Ah ternyata kamu lagi pak, ada apa lagi kesini, bawa teman yang bikin susah lagi pak?” tanya Petro
“Akhirnya bertemu juga dengan kalian berdua mas Farid dan mas Nganta, eh Ananta. Saya tadi pagi kesini mencari kalian, tapi ketemu dengan pencari rumput disini. Ngomong-ngomong kalian berdua ini dari mana kok dari arah bawah?” tanyanya
“Lhaaa jam segini kan kami baru berangkat dari rumah menuju ke hutan atas itu, biasalah tiap malam kami kan cari demit pesanan dukun dukun pemalas dan penakut yang maunya demit hutan yang sangar-sangar tapi tidak mau berusaha sendiri”
“Sekarang sampeyan mau apa kesini pak? apa belum kapok dikerjai oleh dukun-dukun murahan itu?” kata Petro
“Oh tidak mas, saya kesini mau ucapkan terimakasih kepada kepada kalian, sekalian saya mau kasih pekerjaan yang lebih menguntungkan bagi kalian” kata Trimo sambil melihat kaki Petro dan kaki Blewah
“Ada apa sampean melihat kedua kaki saya pak, memangnya ada yang aneh dengan kedua kaki kami?”
“Eh maaf, kalian ini ghaib penjaga vila ini kan?” kata Trimo sambil menoleh kepada dua orang yang ada di sebelahnya
“Hahahaha bapak mau lihat kaki kami apakah menapak di tanah atau tidak, gitu ta pak. Lha sampeyan lihatnya gimana, apakah menapak atau tidak?” kata Petro
“Dan kami apakah keluar dari dalam vila itu, vila hancur seperti itu?. Siapa yang ngomong kalau kami ini ghaib penjaga vila?” tambah Blewah
“Eh sudah tidak usah dibahas mas, eh apakah kalian mau bekerja untukku dengan gaji seratus kali lipatnya dari mencari hantu di hutan?” tanya Trimo
“Heheheh pasti sampean dapat info dari pemotong rumput sakti jelmaan dari mbah Suro yang ada di dalam vila itu pak. Sampeyan kalau dilihatkan sosok jelmaan orang mencari rumput dengan seekor kucing hitam itu pertanda bahaya pak”
“Iya itu pertanda ada orang lain yang berniat mencelakai sampean, dia itu mbah Suro yang sering menjelma menjadi orang yang berbeda beda, tapi cirinya itu ada kucing hitam di sebelahnya yang selalu bermain main dengan mbah Suro” jelas Blewah
“Iya betul, saya bertemu dengan pemotong rumput disini dengan seekor kucing hitam, dia yang berkata bahwa kalian berdua adalah dua bersaudara penjaga vila itu”
“Hehehehe siap-siap saja sampean celaka akibat orang yang ada di sekeliling sampean pak, ya sudah, kami mau lanjut ke hutan” kata Petro
“JAMBOL!...KORENG!... TAHAN MEREKA BERDUA!” kata Trimo kepada dua orang yang berbadan kekar di sebelahnya
Dua orang berbadan tegap dan kekar itu memegang Petro dan Blewah yang tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan dua orang pengawal Trimo, tapi Petro dan Blewah malah tersenyum ketika kedua orang itu manahanya.
“Pak…. sampean ndak ada kamera, tolong fotokan keadaan kami ini pak, seumur hidup baru kali ini kami dipegang oleh binaragawan yang berkuntul kecil hihihi” kata Petro yang tangan kirinya meremas ******** orang yang memegangnya
“Booos booos sampean kalau sewa orang itu mbok ya yang pro dan yang mahal dong, masak kayak gini disuruh pegang kami hahaha, kamu terlalu pelit untuk membayar yang profesional pak” kata Blewah
“Kalau orang sewaan murah-murah dan kaya gini terus kayak dukun yang kemarin, lalu kamu mau bayar kami yang profesional ini berapa hehehehe?” kata Petro mulai membuka penawaran
“Dan ingat, kami bisa saja sekarang juga membuat kedua orang ini lemah lunglai dan tidak berdaya sama sekali” kata Petro dengan suara yang membentak, akibatnya pegangan dua orang itu tidak sekeras tadi, karena mendengar suara Petro yang dibuat sangar.
__ADS_1