MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 31 (PENYESALAN KASWADI)


__ADS_3

Diantara anak-anak yang sedang sibuk membicarakan soal kematian Trimo, ada satu orang yang terlihat suntuk, melamun, diam, dan tidak melakukan apa-apa. Dia adalah Kaswadi, dia sungguh menyesal karena matinya Trimo.


Pukul 22.30. mereka sedang dalam perjalanan menuju ke salon Novi yang ada di Sdrj.


Mereka untuk sementara ini tidak akan melakukan apa-apa, kecuali melihat isi percakapan dari ponsel milik Trimo di salon milik Novi yang sudah menjadi basecamp mereka.


“Eh Wil, kita apa ndak kena pidana ini?, kita ambil milik orang yang seharusnya dijadikan sebagai barang bukti kematian Trimo lho” kata Ali


“Eh ya mboh hahahaha, ya mesti nanti kita akan dicari lah Li, karena kita adalah saksi mata pertama yang memergoki Trimo  dalam keadaan sudah mati” jawab Wildan


“Lalu untuk ponsel ini, aku kira selama tidak ada yang buka suara diantara kita, mungkin tidak ada yang carilah. Karena waktu kita masuk kesana pak Jono penjaga kosan kan tidak melihat adanya ponsel ini rek, kan hanya kita saja yang lihat”


“Tapi kalau ponsel ini sudah ada di tangan pihak berwajib, jelas kita kehilangan jejak tentang penyebab kematian Trimo dan juga tentang barang yang sedang kita cari itu” lanjut Wildan


“Makanya kita harus secepatnya membuka isi ponsel ini rek, semoga gak di password rek, nek di password yo modiar awak dewe” timpal Tifano


Perjalanan malam dari daerah kosan Trimo sampai di salon novi tidak bisa dibilang singkat karena ada beberapa titik kemacetan yang mengakibatkan mereka tiba lebih lama dari perkiraan mereka.


“Sampeyan kenapa pak, kok diam saja?” tanya Ukik yang tiba-tiba memperhatikan tingkah pak Kaswadi


“Iya mas, akibat dari saya, keluarga saya mulai ada yang terkena tuahnya. Saya bingung dan takut apabila anak dan istri saya juga kena mas”


“Pak Kaswadi ndak boleh putus asa, harus semangat mencari kotak itu, sampeyan tidak tau bagaimana kami bisa selamatkan mbah Wo kan, pokoknya harus tetap semangat dan harus pintar mencari informasi pak” kata Novi


“Nov, ini mobilnya diparkir di depan salon, atau kamu bawa pulang?” tanya Dani ketika mereka sudah sampai di depan salon Novi pada pukul 01.15


“Di depan salon saja mas, lagian kita ndak akan bisa tidur, pasti kita akan ngebahas ponsel Trimo mas” Jawab Novi


“Lho rek, kita nginep di sini lagi ta?” tanya Broni


“Aku kan memang nginep disini Bron, lha kamu apa mau pulang Bron” ALi menjawab pertanyaan Broni sambil mencari handuknya, dia kayaknya mau mandi.


“Kamu dimana Nov, disini atau pulang?” tanya Tifano penasaran


“Nov, kamu disini saja lah, aku kepingin krimbat iki Nov, rambutku guatel, mungkin gara-gara wis seminggu aku gak kramas Nov” kata Gilank tiba-tiba sambil garuk-garuk rambutnya yang gimbal itu


“Mas Gilank ini pancet ae, kalau mau krimbat besok aja mas, sama teman Novi yang namanya Warsih kalau malam, siangnya jaga parkiran di pasar namanya Warso” jawab Novi dengan galak


“Kalian jangan pulang malam-malam, di sepanjang jalan itu kalau malam suka ada penampakan banci  tanpa kepala” kata Novi menakuti mereka


“Wis gak usah ada yang pulang rek, kita disini aja dulu, buka ponsel Trimo” sahut Tifano

__ADS_1


“Pak Kaswadi ndakpapa kan ada disini, karena kita harus gerak cepat pak, kalau sampek uang dan dokumen itu jatuh ke orang asing, dipastikan tidak akan kita temukan lagi, dan kita ndak tau bagaimana nasib kita pak” kata Dani


“Iya mas, saya hubungi istri saya dulu untuk mengatakan saya ada dimana” kata pak Kaswadi


“Lhooo jangan pak!, bisa ketahuan orang tempat kita ini pak, sementara ini kalau bisa sampeyan jangan hubungi keluarga pakek ponsel sampeyan pak, pokoknya untuk sementara sampean menghilang dari keluarga dulu” kata Wildan dengan tegas


“Karena apa pak?  Karena sampeyan tadi ngabari istri sampeyan kalau Trimo sudah mati, lha akibatnya nanti polisi akan meminta keterangan apa yang sampeyan lakukan di kosan Trimo itu” lanjut Wildan


“Jono pasti nanti buka mulut pak, tapi dia tidak akan tau siapa kami dan dari mana kami berasal kan. Hanya sampeyan saja yang sempat hubungi pihak keluarga kalau Trimo sudah mati” sambung Ali menakut takuti Kaswadi


“Tapi bisa saja di sana adan cctvnya mas, pasti nanti mereka akan mencari wajah kalian berdua mas Wildan hihihi, untung mobil ini mas Dani parkir agak jauh dari kosan itu hihihi” kata Novi


Kaswadi hanya diam dan menundukkan kepalanya saja, dia tidak mengira bahwa Trimo adik Istrinya itu mati dengan mengenaskan.


“Ayo kita bahas ponsel ini dulu rek, siapa tau ada Informasi penting disini rek” kata Broni sambil memegang dua buah ponsel dari negara korea keluaran terbaru dan termahal


“Kita buka ponsel yang nyala ini dulu rek, yang satunya dalam keadaan mati, nanti saja kita buka-buka. Kata Broni


Salah satu ponsel itu dalam keadaan nyala, dan satunya mati. Yang dalam keadaan nyala itu ternyata tidak dikasih password oleh Trimo.


“Iki ponsel Trimo baru dia beli rek, bisa saja belum ada chatting dengan orang lain rek” kata Broni membolak balik ponsel yang mahal itu


“Nah bener kan, ndak ada chating yang membicarakan tentang penjualan atau jual beli apapun, tapi iki rek, hehehehe ada chating sama yang namanya ditulis  MURYATI SEMLOHAI rek hahahah”


“Muryati itu bukanya waktu pak Kaswadi mimpi itu pak?” tanya Tifano


“Iya mas, waktu itu saya ada di tubuh perempuan itu, dan ketika itu kelihatannya mereka baru saja melakukan hubungan suami istri mas” kata Kaswadi


Terus terang isi chat itu tidak akan penulis tulis disini, karena terlalu mengerikan untuk ditulis, cuma bagi pembaca yang suka baca cerita yang 21+ pasti akan suka baca chating antara Trimo dan Muryati Semlohai  itu”


“Gendeng Trimo iku kok bisa-bisanya **** chat sama Muryati sampek ada kata-kata 'udah basah mas' hihihihi” ujar Ukik


“Hp satunya ini keliatanya habis batrenya rek, tapi sayangnya lubang chargernya beda rek, ini tipe C, kalian ada yang punya charger tipe C gak?” tanya Broni


Jelas pada geleng kepala semua, wong hp mereka semua itu hp lawas, pokoknya bisa digunakan untuk bersosmed saja sudah cukup hehehe.


“Nov, hpmu chargernya yang gimana?” tanya Wildan


“Punya Novi yang lama mas, tapi ndak tau juga ini tipe apa mas” Kata Novi sambil mengambil Chargernya


“Punyakmu sama dengan punya kita Nov, model lawas heheheh, koyok wonge, banci lawas heheheh” sahut Wildan

__ADS_1


"Punya kita semua sama ya mas. chargernya lonjong dan panjang ya mas hihihi" sahut Novi mulai mancing-mancing


"Wiiissss, ojok mulai lho Nov" potong Ukik


“Kita harus cari charger dulu rek, mungkin anak buahmu yang banci-banci itu punya hp yang model chargernya koyok gini Nov?”


“Ya deh ntar Novi tanyain besok pagi mas”


Sementara yang lainya sudah mulai ngantuk, si Broni masih sibuk dengan kegiatanya mengechek isi dari hp milik Trimo. Tiba-tiba Wildan datang dengan tersenyum senyum.


“Kamu dari mana Wil” tanya Broni


“Dari mobil, aku lupa kalau aku tadi ambil ini di tempat kosan Trimo” kata Wildan sambil memamerkan sebuah dompet panjang tebal warna coklat kepada Broni


“Janc*k ngawur ae awakmu Wil, nek ketahuan gimana iki c*k. awak dewe iki wis nyolong hp, kamu malah nyolong dompet asyuuuuu!”


“Lho ngene iki kan demi lancarnya penyidikan Bron, nek gak gini mana bisa kita maju-maju Syu!”


“Lho dompet siapa itu mas” tanya Novi


"Tadi tak ambil dari kamar Trimo Nov, waktu Jono pergi ke kamarnya untuk menghubungi juragan kos kosanya. Sekarang ayo kita bongkar isi dompet yang keliatanya tebel koyok martabak special iki ae hihihi"


Mereka bertiga Broni, Wildan,dan Novi mengeluarkan isi dompet Trimo. Lembaran uang seratus ribuan berjumlah 20 lembar, lima lembar lima puluh ribuan, Ktp, SIM, dan beberapa kartu kredit, dan atm sudah ada di lantai salon Novi.


Ada juga tiga lembar kertas yang keliatanya sudah usang dan ada yang menarik, satu lembar tanda terima atas penjualan satu lembar uang seribu Gulden senilai 250 juta. Uang itu tenyata di jual ke pedagang valuta asing yang alamatnya ada di sekitar Prk.


"Ini sudah ada yang terjual satu lembar uang 1000 gulden rek" kata Broni sambil membaca tanda terima itu


"Gila c*k, selembar ae iso payu segitu, ndahnio yang ada di kotak itu. Isinya ada berapa lembar Bron yang  dicuri pak Tembol itu?"


"Ada dua gulung mas Wil. tapi Novi lupa atau ndak tau satu gulung itu isinya ada berapa lembar mas. pokoknya tebal kok gulunganya mas" jawab Novi


"Pak Kaswadi, sini pak. Saya mau tanya sesuatu sama sampeyan pak" panggil Wildan


Mereka curiga kalau Kaswadi pernah menyuruh Trimo untuk menjual uang itu, karena sebelumnya Kaswadi hanya cerita kalau dia hanya mengambil kotak besi itu saja, dia tidak cerita kalau menyuruh Trimo menjual uang itu.


"Pak yang jujur saja sama kami, apakah bapak pernah menyuruh Trimo untuk menjual uang dan lembaran kertas berharga itu?" tanya WIldan


"Iya mas, saya mau jual uang itu, dan istri saya hubungi adiknya itu mas, kemudian yang terjadi selanjunya ya yang saya ceritakan sebelumnya itu" kata Kaswadi dengan suara pelan


"Kenapa ndak jujur sih pak, kalau bapak jujur kan enak pak, kenapa sampeyan tidak cerita kepada kami dan mbah Wo kalau memang sampeyan suruh Trimo untuk jual uang itu" kata Wildan

__ADS_1


Sebenarnya Wildan tidak perlu marah-marah juga soal jujur tidak nya Kaswadi, karena meskipun dia jujurpun Trimo juga akan mati, entah dibunuh oleh perampok atau dia bunuh diri atas bisikan ghaib yang mungkin dia dengar tiap hari.


"fokus kita setelah ini adalah perempuan yang dikasih nama Muryati Semlohai rek. Siapa tau dia pernah dikasih tau Kaswadi tentang kotak itu" kata Broni


__ADS_2