MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 77 (MULAI MALAM YANG MENGERIKAN)


__ADS_3

“Malam ini akan mengerikan, saya bisa merasakan dari sekarang ini. Aura yang saya rasakan mulai berubah perlahan-lahan anak-anak” kata pak Handoko


Adzan maghrib sudah terdengar dari masjid yang ada di sekitar area luar hotel ini. Mereka sholat berjamaah dengan Imam mas Saeful. Mereka berdoa meminta keselamatan dan bantuan untuk menghadapi yang ada disini.


Kegelapan malam mulai mnyelimuti kamar 6+ karena memang pasokan listrik sudah tidak ada disini.


“Mas, tolong mulai nyalakan lilinnya, dan masing-masing anak membawa korek api satu persatu ya” suruh pak Handoko


Kamar 6+ mulai sedikit terang dengan cahaya beberapa lilin yang sudah dinyalakan oleh mereka. Tidak ada suara perbincangan sama sekali, mereka semua berusaha merasakan perubahan aura, hawa dan suasana.


“Malam semakin gelap anak-anak, kini kita bagi menjadi dua bagian, saya bersama mbak Novi, Tifano, dan satu lagi menuju ke ruang utama hotel untuk melihat apa yang ada disana”


“Sementara sisanya tunggu disini dengan jirigen bensin yang kalian siapkan untuk membakar bangunan yang ada di taman belakang itu” kata pak Handoko


“Tiap orang harus membawa satu buah korek api. Korek api yang gunanya untuk dalam keadaan darurat. Saya ada rencana untuk membakar hotel ini, tapi yang utama adalah membakar bangunan yang ada di halaman belakang itu dulu” lanjut pak Handoko


“Saya juga akan membawa satu dos lilin dari tiga dos lilin yang tadi dibeli oleh kalian”


“Saat ini kita punya empat buah senter, nanti tiap grup bawa dua senter dan jangan boros baterai, makanya saya suruh kalian beli lilin itu gunanya seperti ini, selain untuk membakar apa yang ada disini, juga bisa kita gunakan sebagai penerangan”


“Kenapa saya focus untuk membakar bangunan yang ada disini, karena agar Totok tidak menuju ke vila putih, sehingga tidak akan ada penyatuan kekuatan seperti yang diceritakan oleh pak Pho.


“Saat ini yang saya rasakan adalah kekuatan hitam yang semakin menguat, energi hitam yang semakin naik, dan itu semua berasal dari bangunan yang ada di belakang itu” kata pak Handoko lagi


“Mbak Novi, mas Tifano, dan mas Ali ikut saya untuk mengobrak abrik yang ada di bangunan utama. Sisanya tunggu tanda dari kami disini, tanda itu bisa berupa macam-macam, bisa teriakan atau sesuatu yang kami bakar atau apapun lah” kata pak Handoko


“Ok paham ya anak-anak. Sekarang kami akan berangkat ke dalam bangunan utama, dan jaga diri kalian, ikuti apa yang mas Saeful katakan, karena dia memiliki ilmu yang bisa digunakan untuk melindungi kalian dari hal Ghaib” kata pak Handoko mengakhiri pembicaraanya


Setelah sedikit berpidato, kemudian rombongan pak Handoko, Novi, Tifano, dan Ali berjalan menuju ke bangunan utama melewati pintu kaca yang ada di bagian depan hotel.


Tanpa ada percakapan sama sekali, mereka berempat berjalan menuju ke depan, ke pintu kaca depan yang akan membawa mereka ke ruangan dapur, dan dari dapur mereka akan masuk ke dalam pintu besi.


Pintu besi yang harusnya merupakan pintu dari lemari pendingin, tetapi menurut pendapat dan penerawangan pak Handoko, pintu itu ada hubunganya dengan ruangan atau bangunan yang ada di halaman belakang hotel.


“Semua siap ya, harap berhati-hati dan tajamkan perasaan serta semua panca indera kalian” kata pak Handoko sebelum mereka masuk ke dalam bangunan utama


“Setelah saya buka pintu kaca ini berarti kita sudah ada di dalam bahaya, jadi kalian harus benar-benar berhati-hati ya anak-anak”kata pak Handoko lagi

__ADS_1


Pintu kaca dibuka oleh pak Handoko, kegelapan yang luar biasa ada di balik pintu kaca itu. Kemudian untuk menghemat senter, pak Handoko menyalakan sebuah lilin. Harusnya disini, di dalam ruangan yang kedap ini tidak ada angin sama sekali, sehingga nyala lilin itu tidak akan mati.


Tapi apa yang terjadi, setiap pak Handoko menyalakan lilin, beberapa detik kemudian selalu mati. Lilin itu tidak bisa nyala lebih dari lima detik, seolah ada yang dengan sengaja meniup nyala lilin itu.


Kegelapan tetap menyelimuti mereka, tetapi pak Handoko tidak menyerah untuk tetap menyalakan lilin itu sambil mengucapkan beberapa patah kata yang kami tidak paham. Dan pada kata-kata terakhir, lilin itu bisa nyala tanpa ada sesuatupun yang mematikanya.


“Tolong taruh lilin itu disana mas” suruh pak Handoko kepada Ali untuk menaruh lilin di tengah lantai ruang tamu yang gabung dengan ruang resepsionis


Nyala api lilin itu diam ke atas tidak bergerak sama sekali, sesuai dengan keadaan disini yang tidak ada angin sama sekali.


“LIlin itu gunanya sebagai indikator dari langkah kita yang terbebas dari mahluk pengganggu anak-anak, jadi setiap beberapa langkah kita harus menaklukan mahluk yang sekarang sudah berani menampakan diri dan berani menantang kita” kata pak Handoko lagi


“Mbak Novi, tolong bantu saya apabila saya kewalahan dengan yang menyerang saya ya” pinta pak Handoko


“Iya pak”Jawab Novi singkat, mungkin Novi sedang tegang juga dengan keadaan yang seperti ini


Sudah ada lima buah lilin yang mereka pasang di lantai, dan nyala api lilin itu lurus ke atas tanpa bergoyang sama sekali.


Sekarang sudah waktunya mereka mendekati pintu paling ujung ruangan, yaitu pintu yang menuju ke dapur. Pak Han diam sejenak sebelum mereka membuka pintu itu, keliatanya pak Han sedang mendeteksi sesuatu yang ada di balik pintu itu


“Dibalik pintu ini ada sebuah energi positive, siapa sebenarnya itu, kenapa energi positive itu ada di dalam sana, karena sebelumnya tidak ada energi itu di dalam sana” gumam pak Handoko


“Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam, seperti sebelumnya anak-anak, kalian jangan ada di depan pintu ini, merepatlah di dinding dulu anak-anak” bisik pak Handoko


Mereka bertiga merapat ke dinding yang ada di kiri kanan mereka, pak Handoko menekan handle pintu dan mendorong pintu itu ke dalam. Pintu itu terbuka juga tanpa ada apapun yang berarti kecuali bau busuk yang luar biasa.


Bau busuk ini lebih mirip bau bangkai, bangkai yang mungkin baru sekitar semingguan mati, jadi baunya luar bisa dibandingkan bangkai yang baru mati atau bangkai yang sudah lebih dari seminggu mati.


“Yang bawa saputangan tutup hidung kalian dari pada kalian muntah-muntah disini” bisik pak handoko


Tidak ada yang menutup hidungnya, rasa tegang campur takut telah mengalahkan indera penciumanya. Kini pak Handoko mulai menyalakan senternya, senter yang terang itu berhasil membuat seluruh sudut dapur ini terang benderang.


Tapi tiba-tiba dia matikan senter itu, kegelapan menyelimuti area ini lagi.


“Dengan nyala senter yang seterang itu membuat yang ada disini kalang kabut, dan akhirnya mereka akan manarik perhatian yang lainya, jadi lebih baik senter ini saya matikan saja, kita gunakan nanti apabila mencari sesuatu dengan cepat” bisik pak Handoko


“Kita nyalakan satu buah lilin saja anak-anak, agar kita bisa melihat keadaan disini dan tidak membuat gaduh yang ada disini” kata pak Handoko yang kemudian menyalakan satu batng lilin lagi

__ADS_1


“Eh mbak Novi, apakah mbak Novi merasakan energi positiv disini? Sepertinya di salah satu kamar itu mbak, disana sepertinya ada sesuatu yang berenergi positiv”


“Novi juga merasakanya pak, energi itu ada di salah satu kamar karyawan disini pak, lebih baik biarkan saja energi positiv itu pak, karena dia tidak mengganggu kita pak” kata Novi


Semakin ke dalam gangguan dari energi negativ semakin kuat. hingga Tifano dan Ali yang hanya bisa melihat mahuk ghaib pun merasa kesakitan.


“Pak Handoko, saya merasakan tekanan yang kuat di dalam tubuh saya pak, rasanya mual, pusing, dan sakit semua di seluruh tubuh saya pak” bisik Tifano yang kemudian dilanjutkan oleh Ali


“Iya pak, saya juga merasakan yang sama dengan yang dirasakan oleh Tifano pak, apakah ini karena kami hanya kosongan masuk ke ruangan ini pak” bisik Ali juga


“Sini kalian berdua, di depan saya sini. Sekarang akan saya buang yang sedang menempel di tubuh kalian berdua itu” kata pak Handoko yang kemudian memegang pundak Tifano dan Ali secara bergantian


 “Kalian berdua jangan sampai lepas dari Dzikir, pokoknya jangan sampai pikiran kalian kosong mas, karena yang ada disini itu berusaha masuk ke tubuh kita ketika kita lengah, jadi tetaplah ingat kepada Allah mas” kata pak Handoko setelah selesai mengobati Ali dan Tifano


Mereka berempat kini sudah mendekati pintu besi yang perkiraan semula sebagai lemari pendingin untuk bahan makanan Hotel ini.


“Kalian harus tau dibalik pintu ini saya hanya bisa merasakan energi negativ  yang luar biasa, tetapi saya tidak bisa mendeteksi apa yang ada di balik pintu ini, jadi siap tidak siap kita harus masuk ke dalamnya anak-anak” bisik pak Handoko


Ketiga orang itu tidak menjawab kata-kata pak Handoko, mereka hanya diam dan mengangguk dengan yakin atas omongan pak Handoko.


“Ok seperti biasa, kalian jangan ada di depan pintu dulu, kalian minggir dulu sementara saya buka pintu ini” bisik pak Han


 Handle pintu ruang pendingin ini berbeda dengan handle pintu biasa, kalau ruang pendingin ini seperti ada kuncianya, sehingga perlu beberapa waktu untuk membukanya. Tapi setelah dicoba ternyata tidak sulit, akhirnya pak Handoko berhasil memutar handle pintu ruangan yang seharusnya berfungsi sebagai pendingin.


Pintu itu ditarik secara perlahan lahan oleh pak Handoko. Bau yang luar biasa busuk keluar dari dalam ruangan itu, bau yang berlipat lipat kali busuknya dari bau yang ada di ruangan dapur itu.


“Uuughhh hoooeeekkk” suara yang keluar dari mulut Tifano


“Mmmgghhh uugh..baunya lular biasa busuknyaaaa” bisik pak Handoko


“Bawa sini lilinya mas Tif, saya kok penasaran sama yang ada di dalam sini mas” kata pak Handoko


Lilin yang dibawa tifano itu diberikan kepada pak Handoko, pak Handoko memerlukan untuk melihat apa yang ada di dalam ruangan pendingin itu.


“MASYAALLAH…. Ini ruangan penuh dengan mayat busuk yang sebagian besar sudah dimutilasi!” teriak tertahan pak Handoko ketika melihat apa yang ada di dalam ruangan pendingin itu


“Ruangan ini begitu kelam dan menakutkan. Ruangan ini benar-benar membuat saya begidik anak-anak”

__ADS_1


“Kalian kalau tidak kuat silahkan muntah dulu anak-anak” dan setelah itu biasakan diri untuk melihat hal beginian setelah ini” kata pak Han


__ADS_2