MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 82 (ADA APA LAGI?)


__ADS_3

“Lalu apa kita harus masuk ke sana lagi iki rek heheheh, sing bener ae rek” kata Tifano


“Itu terserah masnya, yang penting saya sudah kasih tau jalan keluarnya, sehingga arwah suruhan Totok tidak akan mengendus posisi kalian” kata suara dalam kepala mereka lagi.


“Apabila kita ambil tas kopor isi pakaian itu. Lalu bagaimana caranya kita kesana, dan apakah aman kita masuk kesana sementara kita baru saja bikin masalah disana” tanya pak Han


“Akan saya bantu kalian ke sana, cukup dua orang saja yang kesana untuk masuk ke area loby dan kemudian masuk ke kamar yang ada dibagian belakang meja resepsionis. Yang kesana jangan yang tadi baru dari dalam ruangan bawah itu”


“Dua orang yang tadi ada di kamar 6+ saja yang mengambil kopor berisi pakaian itu, karena kalian belum bau busuk, bau darah, nanah dan bau mayat!” kata suara dalam kepala mereka lagi


“Saat ini semua demit ada di dalam ruangan yang kalian bakar itu, untuk sementara ini mereka tidak ada yang berada di ruang lobby, jadi kalau kalian ke sana tidak akan terganggu oleh demit” kata suara yang ada di dalam kepala lagi


“Ya sudah saya saja yang kesana” kata Wildan


“Saya ikut juga dengan Wildan” kata Saeful


“Wah Wildan setor nyowo maneh rek hahahahah, bar iki matek maneh hahahah” sindir Gilank


“Bukan setor nyowo Lank, tapi setor kebaikan untuk keselamatan teman kita” jawab Wildan


“Hehehe hahahaha sama ae Wil, nanti kamu mati lagi chok, ingat dulu itu kamu mati karena kamu tolong Ibor kan heheheh, lha sekarang kan juga gitu kasusnya. hihihih ” potong Gilank lagi


“Jangan sampai mati lah Lank, aku akan selamat kok hehehh, dari pada kamu, dari duluuu kuntilamu ngatjeng terus apa gak njarem iku hihihihi” jawab Wildan


“Halah Wil, hihiihhi ada untungnya aku koyok ngene, aku gak disuruh-suruh chok hahahah” sahut Gilank lagi


“Gini mas Gilank, tidak ada yang menyuruh kalian, disini mas WIldan hanya merasa bertanggung jawab untuk bersama sama saling bantu dalam membuat lancar apa yang sedang kita lakukan mas. Jadi kalau mas Gilank merasa tidak suka ya ndak papa kok mas” kata pak Handoko


“Mas Wildan, nanti kalu mas Wildan udah selesai dan capek, Novi nanti mau kok pijitin mas Wildan hihihihi” kata Novi


“Iya Nooov, kita bikin Gilank ngiler-ngiler ya Nov hihihihi” sahut Wildan


“Ngiler ngiler ndasmu Wil, wong berkunt….. ATHOOOOH!!!..., sopo iki sing ngelempar aku kerikil!” teriak Gilank kesakitan


Hehehe seperti biasa, sebelum Gilank bicara tentang kuntila, selalu ada saja yang mencelakai Gilank.


“Mungkin itu dari penjaga disini Lank, makanya kamu yang baik-baik saja dengan kita, takutnya nanti yang kena kamu bukan kerikil lagi tapi bisa saja mesin cuci, atau kulkas dua pintu yang mampir ke kepalamu  hihihi” kata Wildan


“Sudah…sudah,  yang  kesana adalah mas Saeful dan mas Wildan ya. Dan nanti ditemani oleh Bawok ya” kata pak Han


“Kami tunggu disana saja, di depan pagar hotel, karena kalau nunggu di sini ndak enak, pengunjung warung ini pada lari semua karena bau dari kami yang sangat busuk” kata pak Han

__ADS_1


Akhirnya mereka pindah tempat, mereka menunggu WIldan dan Saeful di depan gerbang pintu hotel Waji yang gelap gulita.


Apakah mereka tidak mengundang kecurigaan bagi pemilik warung dan pelanggan warung? Pasti iyalah, tetapi mereka mempunyai alasan tepat agar pengunjung warung tidak kepo dengan kegiatan yang mereka lakukan


Akhirnya mereka yang bau bangkai duduk agak jauhan dari warung atau warkop lah, mereka menuggu Wildan dan Saeful mengambil koper milik Bawok yang ada di kamar staf penerima tamu yang ada di balik meja resepsionis.


“Bawa ini senter untuk penerangan kalian disana, dan jangan lupa bawa korek api untuk jaga-jaga disana” kata pak Han sambil menyerahkan senter miliknya kepada Wildan


“Aku akan masuk ke dalam tubuhmu Wildan, nanti Saiful ikuti langkah Wildan saja” kata suara dari dalam kepala mereka berdua


Kini mereka sudah masuk ke area halaman hotel, keadaan halaman ini tidak berbeda dengan ketika tadi mereka berada di dalam, hanya saja saat ini ada aura yang berbeda dari pada ketika mereka pertama masuk ke sana.


“Pemilik kluron itu sekarang sedang marah besar kepada anak buahnya, dan ini berbahaya bagi teman kalian yang tadi masuk ke sana. Hanya dari bau busuk yang menempel di tubuh teman kalian, demit disini bisa mengejar kalian sampai ke ujung bumi” kata Bawok


“Jadi sebelum Totok pemilik keluron yang dibakar oleh teman kalian itu menyuruh mencari teman kalian, maka ada baiknya teman kalian harus mandi bersih dan berganti pakaian yang bersih” kata Bawok lagi


Mereka sudah sampai di depan bangunan utama, pintu kaca untuk masuk ke area dalam hotel pun sudah nampak di depan mereka, tetapi ada sesuatu yang tidak disana. Tidak biasa bagi Wildan dan Saeful


“Eh lilin itu kenapa itu ada lilin yang nyala, apa tidak bahaya bagi kita masuk ke sana?” tanya Wildan


“Itu lilin yang nyalakan adalah teman-teman kalian waktu masuk ke dalam sana, ketika mereka akan membakar keluron Totok, tadi lilin itu belum mereka matikan”


“Nanti tolong kalian matikan lilin itu, karena bisa terjadi kebakaran apabila tetap menyala disana” kata Bawok


“Mas Wildan apa tidak sebaiknya kita nyalakan senter yang tadi diberikan oleh pak Han?” tanya Saeful


“Jangan dulu mas, bahaya kalau cahaya senter itu terlihat oleh demit yang ada disini” jawab Wildan


Mereka berdua sekarang lebih dekat lagi dengan dinding kayu yang ada di belakang meja resepsion itu. Ternyata benar Bawok, disini ada semacam pintu yang tidak terlihat dari luar meja resepsion.


“Dorong pintu itu, di dalam aman, hanya ada tas dan kopor dari wisatawan yang  mati disini, nanti kalian ambil kopor milik saya saja, yang ada di bagian pojok dalam” kata Bawok melalui suara kepala mereka


Wildan mendorong pintu ruangan yang terbuat dari kayu lapis itu, maka terbukalah kedalam pintu itu. Di dalam sini gelap sekali, karena tidak ada cahaya sama sekali, tetapi untungnya ada cahaya lilin yang ada di  lobby ruang depan.


“Masuk ke dalam Wildan, dan nyalakan sentermu ndak papa, aman disini kok” kata Bawok


Senter yang dipegang Wildanpun di nyalakan, sinar senter yang terang itu membuat ruangan yang dulunya kamar untuk staf terima tamu itu terang benderang.


Ruangan yang mungkin berukuran 3x4 m itu penuh dengan kopor dan tas yang nampak sudah lama ada di sana. Tetapi semua tas itu terlihat belum pernah ada yang dibuka sebelumnya,


“Yang mana tas kopermu Bawok” tanya Wildan

__ADS_1


"Yang ada di pojokan itu Wildan, yang warna putih itu, kamu ambil yang itu, sekalian tas tangan yang ada disebelahnya itu” kata Bawok


Tas kopor yang lumayan besar itu sudah ada di tangan Wildan, tas tangan yang dimaksud Bawok juga sudah ada di tangan Saeful.


“Sudah, sekarang kita keluar dari sini Bawok. Saya takut kalau yang ada disini sekarang semakn marah kepada kami” kata Saeful


Bawok diam saja, bawok memang hanya diam ketika Wildan mengajak dia bicara, tetapi ada hal lain yang menarik perhatian mereka berdua.


 Mereka sedang mendengarkan suara-suara berisik dari luar ruangan tempat mereka berdua ini berada. Suara itu kelihatanya berasal dari ruangan lobby hotel.


“Diam dulu Saeful, diluar sana keliatanya sedang ada sesuatu, hingga bawok tidak dapat menjawab pertanyaanmu” kata Wildan


“Jangan sampai kita terjebak disini Wildan, sekarang Bawoknya ada dimana Wil, apakah masih ada di dalam tubuhmu?” tanya Saeful


“Tidak, dia sudah keluar dari tadi waktu dia menunjukan tas mana yang harus kita ambil. Ehm mungkin dia sekarang ada di depan untuk melindungi kita dari penglihatan ghaib anak buah Totok” jawab Wildan


Memang betul, suasana di luar kamar staff resepsionis ini rame sekali, mirip kayak pasar atau mirip dengan orang-orang yang sedang antri untuk mendapatkan kamar menginap di hotel ini.


“Jangan bergerak dan jangan bersuara sama sekali” kata suara Bawok yang tiba-tiba masuk ke dalam otak Wildan dan Saeful


Sebenarnya ada apa di area lobby hotel, kenapa bisa ramai sekali, apakah mereka berdua terjebak disana, dan sampai kapan mereka ada disana.


“Jangan bersuara dan jangan bergerak, saya berusaha menutupi energi kalian hingga tidak terdeteksi oleh Totok yang sedang ada disini, dia sedang marah karena keinginannya menjadi manusia gagal total karena kalian telah membakar cikal bakal tubuh Totok” kata suara yang ada di kepala mereka lagi.


Mereka jelas ketakutan ketika Bawok mengatakan kalau diluar sedang ada sesuatu, yaitu Totok sedang marah karena embrio yang berasal dari keluron dan diberi makan darah haid perempuan yang masih perawan itu hancur.


Lambat laun suara-suara itu hilang dengan sendirinya, kini  keadaan di luar tempat mereka bersembunyi sudah sepi, tidak ada suara apapun di sekitar ruangan lobby hotel


“Sekarang kalian bisa keluar dari sana, tetapi jangan lupa membawa koper dan tas tangan yang tadi aku suruh itu” kata Bawok


Ketika mereka berdua sudah ada di depan pintu kamar, ketika mereka akan membuka pintu untuk keluar dari kamar itu, tiba-tiba bawok datang  dan berkata agar mereka tingga disilni dulu, karena saat ini disini sedang terjadi perubahan waktu zaman.


“Kalian diam, jangan bergerak, pokoknya diam saja, karena sekarang sedang terjadi perputaran waktu disini. Semoga kalian bisa kembali pada masa kalian” kata Bawok lagi


Bawok ternyata belum cerita kepada rombongan itu apabila disini sering terjadi perubahan waktu, sehingga mereka yang ada dijaman ini tiba-tiba terlempar ke jaman ketika Hotel ini masih beroperasi.


Mungkin pembaca yang belum paham dengan kondisi hotel ini bisa baca pada Novel Indah Laminatingrum, karena pada Novel itu lebih jelas tentang perputaran waktu ini.


“Maksudmu apa dengan perputaran waktu ini Bawok, jangan main-main ya, kita ada disini karena kamu yang suruh kita untuk ambil pakaian kan” Wildan mulai emosi


“Kami harus keluar dari sini secepatnya, kamu tidak bisa menghalangi kami” teriak Wildan

__ADS_1


“Jangan keluar, kalian akan merusak tatanan sejarah, apabila kalian keluar dari sini, pokoknya diam saja disini sebelum saya kasih kabar kepada kalian apabila keadaan sudah aman” sahut Bawok lagi


__ADS_2