MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 237 (KEMARAHAN ROCHMAN)


__ADS_3

“Saya malah tidak tau menahu soal itu mas Tol, tapi mungkin saja apa yang dikatakan mas Tol ada benarnya juga hehehe” kata Ali


Aneh juga, kenapa kok tiba-tiba ada driver ambulan yang mengaku sebagai cucu dari mbah Sarijemb.


Dan yang lebih aneh, Novi tidak merasa ada komunikasi dengan mbah Sarijemb tentang cucunya yang sekarang sedang menjadi driver mobil ambulan.


Tapi coba kita lihat kelanjutannya bagaimana, karena bisa saja mas Tol itu adalah memang cucu dari mbah Sarijemb yang sebenarnya.


“Eh  mas Tol…. apakah mbah  Sarijemb itu pemilik asli dari depot rawon yang terkenal di sana?” tanya Ali


“Iya mas, kata mbah Saya sejarahnya… karena waktu jaman itu jarang sekali orang yang mau buka warung makan pada malam hari hingga pagi”


“Makanya mbah saya buka warung rawon disana”


“Jadi ceritanya begini tentang sejarah rawon itu mas….”


“Pada jaman itu…. orang-orang yang membuka warung disana tidak suka kalau harus memasak double dan berlebihan untuk pagi, siang, malam, kemudian pagi lagi”


“Padahal kata mbah saya, dulu disana itu ada lokalisasi yang begitu besar, sehingga mereka yang sudah menikmati indahnya tubuh yang mereka sewa sesaat dan setelah mereka melepaskan nafsunya…. pasti mereka merasa lapar”


“Disana waktu itu jarang sekali penjual makanan berat pada malam hingga pagi hari”


“Nah mbah saya kemudian melihat peluang itu, kemudian dia berpikir masakan apa yang bisa tahan hingga 24 jam dan yang rasanya makin enak kalau makin sering dipanasi masakanya”


“Maka yang terpilih itu ya rawon… rawon itu kan semakin sering dipanasi kan semakin sedep mas hehehe” kata mas TOL ani


“Hehehe benar juga mas Tol.. memang rawon makin lama itu makin enak, saya saja suka makan rawon yang sudah dua harian, sedangkan mbak Novi ini lebih suka NGERAWON heheheh” jawab Ali


“Oh jadi disana dulu ada lokalisasi ya mas?” tanya Ali


“Betul mas, disana ada lokalisasi sebelum tahun tujuh puluhan ditutup oleh pemerintah setempat hehehe” jawab mas TOL ani


“Nah akhirnya depot rawon itu ada hingga sekarang” Tolani mengakhiri ceritanya


“Ehm mas Ali …. kita ini kan menuju ke kota S, dan rumah sakitnya itu sesuai dengan pilihan komandan polisi, lalu nanti siapa yang akan menjaga pasienya?”


“Mungkin kami berdua mas Tol, itu sebabnya kami berdua ikut bersama ambulan ini mas TOL hehehe”


*****

__ADS_1


Sementara itu di hotel Waji atau hotel Asri.


“Ok pak Tembol, untuk masalah Suharto sudah kita amankan, nah untuk masalah selanjutnya ini yang saya agak khawatir pak” kata pak Han


“KIta tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya pak Han, kita ikuti saja alurnya hingga kita kemudian bisa menyerang Rochman dengan bantuan ghaib”


“Kita tunggu kabar dari pak polisi Bowo yang ada di kamar di bangunan utama saja dulu pak, karena kita kan tidak  apakah Rochman sudah datang atau belum”


Pasca kebakaran pos penjagaan, keadaan hotel sudah kembali tenang seperti semula.


Penghuni kamar hotel sudah masuk ke dalam kamar masing masing.


Tengah malam sudah lewat, tetapi pagi hari masih lama, jadi masih ada waktu untuk pemilik hotel ini datang.


Tiba-tiba telepon yang dibawa Broni berbunyi….


Ternyata pak Bowo yang menghubungi…


Broni yang bersama Blewah dan Saeful ada di kamar 2+ lari menuju ke kamar 5+ tempat pak Tembol bersama Dogel dan pak Han berada.


“Pak.. ada telepon dari pak Bowo…” Broni menyerahkan telepon itu kepada pak Tembol


*****


“Kita siap-siap pak Tembol, anak buah saya dengar ada orang yang sedang marah-marah di sini, dan kemungkinan besar dia itu adalah atasan para karyawan hotel”


“Ok pak Bowo, gimana apa yang harus kami lakukan pak Bowo?” tanya pak Tembol


“Cukup siap-siap saja, saat ini anak buah saya sedang bersiaga di depan kantor hotel, mereka sedang mengamati mobil yang barusan datang dengan satu orang yang turun dari mobil…”


“Kata anak buah saya yang turun dari mobil itu berwajah timur tengah…”


“Dan karena kamar yang saya sewa ini bernomor kamar 2, jadi saya bisa mendengar seseorang sedang marah karena sesuatu hal yang saya tidak begitu jelas mendengarnya”


“Sebentar…sebentar pak, dia berkata tentang tahanan yang kabur, kemudian ada lagi perkataan tentang demit yang ditawan di kamar 6+”


“Kelihatannya mereka setelah ini akan menuju ke kamar 6+, Kalian bersiap siap saja pak” kata pak Bowo


“Ok pak… kami akan siaga di sini, dan seperti biasa pak Han akan selalu duduk di teras dan akan dia perhatikan apa saja yang sedang akan dilakukan Rochman”

__ADS_1


Setelah pembicaraan telepon diputus, Pak Tembol menceritakan apa saja yang dikatakan oleh pak Bowo, dia sengaja tidak menggunakan speakerphone tadi, untuk menghindarkan sesuatu yang mencuri dengar pembicaraan pak Tembol dengan pak Bowo barusan.


“Ya sudah pak Tembol, saya akan duduk di teras seperti biasanya”


Pak Han keluar dari kamar dan kemudian mengambil posisi santai seperti sebelum sebelumnya yang dia lakukan disana.


Sementara itu pak Tembol, Dogel dan Broni tetap ada di dalam kamar, mereka siap siaga dengan keadaan yang mungkin akan terjadi sesuatu.


Sedangkan di kamar 2+ saat ini tersisa hanya Saeful dan Blewah saja.


*****


Bagaimana dengan yang ada di vila putih, apakah tidak terjadi apa-apa dengan mereka yang sedang memikirkan dan menebak apa yang sudah dilakukan Marwoto.


“Biar saya yang keluar untuk ajak bicara Marwoto bersama Nank, kalian tetap siap siaga saja” kata Dimas


“Saya harus tau apa sebenarnya tujuan Marwoto ini” kata Dimas sambil keluar vila putih


Dimas berjalan diantara semak belukar halaman vila yang masih tumbuh subur…


Sesampai di luar, ternyata disana masih ada Marwoto, dia masih berdiri di depan pagar vila.


“Kenapa kamu masih ada disini Marwoto?”


“Karena saya harus menyelamatkan anak saya Dimas!”


“Hehehe, kamu tau tidak, sekarang ada dimana anakmu itu? dan apabila setelah menyelamatkan anakmu tujuanmu berikutnya apa?”


“Anak saya sedang tergolek sakit di salah satu kamar di sana, setelah kejadian Ginten keluar dari tubuhnya”


“Tidak.. anakmu tidak ada di hotel itu, yang ada disana hanya Ginten yang ditawan oleh anak buah Rochman, anakmu sudah ada yang menyelamatkan dan sekarang entah dibawa kemana” kata Dimas


“Dan sekarang yang saya tebak adalah Rochman sedang marah-marah karena temanmu Ginten sudah ceroboh dengan melepaskan begitu saja Suharto hahaha”


Dimas ini berusaha membakar api yang ada di dalam tubuh Marwoto, sebenarnya Dimas tidak tau apa yang terjadi dengan yang ada di hotel, dia hanya mengarang saja tentang Rochman yang sedang marah besar kepada ginten.


Dimas berusaha memancing emosi Marwoto dengan mengatakan bahwa Ginten sekarang sedang dalam bahaya karena kemarahan Rochman.


Dimas sengaja berbuat seperti ini untuk mendapatkan reaksi dari wajah Marwoto yang samar terlihat ada perubahan karena kabar yang diberikan Dimas ini

__ADS_1


“Ginten…. Ginten… perempuan tolol… “ geram Marwoto


__ADS_2