MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 161 (KASWADI PEMBOHONG)


__ADS_3

“Saya temani pak Han, karena saya pernah bertemu dengan Trimo waktu di rumah Nabil itu” kata Blewah


“Jangan nak Blewah biarkan Handoko kesana dan mengorek omongan Kaswadi, nanti omongan dia akan kita samakan dengan cerita Trimo. lebih baik Handoko ditemani oleh mbok Ju saja, untuk jaga-jaga apabila Kaswadi datang bersama orang lain” kata pak Tembol


“Baiklah, ayo mbok Ju, kita pergi kesana, saya akan lewat lubang yang ada di ujung pagar, mbok Ju terserah mau langsung kesana atau bersama saya juga ndak papa” kata pak Handoko


“Ayo, saya ikut sama sampean saja “ jawab mbok Ju


Mereka berdua sudah ada di luar pagar vila, sekarang mereka berdua menuju ke arah pintu gerbang vila dimana disana katanya ada Kaswadi dengan pakaian compang camping dan ada darah menempel di wajahnya.


Pak Handoko berjalan pelan menunggu mbok Ju memberikan kabar tentang dimana keberadaan Kaswadi yang sebenarnya, posisi Kaswadi maksudnya.


“Handoko, awas Kaswadi ada di dalam halaman vila dekat dengan pagar vila sebelah kiri, kamu ke sana saja, saya ada disana tunggu kamu” kata mbok Ju yang sekarang sudah tidak pernah meludah dan tidak penah nginang lagi, mungkin karena dia sudah berupa hantu sehingga sudah berhenti nginang hihihi.


Pak Handoko berjalan pelan menuju ke pintu gerbang vila yang sekarang terbuka ke dalam. dia melihat mbok Ju yang melayang di sebelah kiri pintu gerbang vila, menandakan posisi Kaswadi berada.


“Heiii siapa kamu!” teriak pak Han kepada Kaswadi yang sedang jongkok di pojokan dinding beton


“Jawab siapa kamu, atau saya laporkan ke polisi” teriak pak Handoko


Kaswadi berdiri dari posisi jongkoknya dan menampakan dirinya di hadapan pak Handoko. dia berjalan pelan ke arah pak Handoko yang berdiri di dekat pintu gerbang vila.


Sebenarnya Kaswadi dan Handoko pernah bertemu sebelumnya waktu Handoko memergoki Trimo, tapi nampaknya Kaswadi sekarang lupa dengan wajah pak Handoko.


“Heh, apa yang kamu lakukan disitu” teriak pak Handoko


“S..saya… nama saya Kaswadi, saya baru saja kecelakaan di tikungan Gebang, mobil saya masuk jurang” kata Kaswadi mulai berbicara entah benar atau tidak


“Lalu apa yang sedang kamu lakukan disini, bukankah vila ini ditutup untuk umum?” tukas pak Handoko


“Saya mau minta tolong pak, saya habis kecelakaan dan saya butuh bantuan penghuni vila ini, tubuh saya sakit dan  butuh obat untuk penahan rasa sakit,  jadi tolong panggilkan orang yang ada di dalam vila ini” kata Kaswadi mulai tidak masuk akal cara bicaranya


“Kamu ini buta atau gimana, lihatlah apakah vila ini nampak ada penghuninya? harusnya kamu ke bawah, ke kantor polisi bukanya ke sini” kata pak handoko


“Bapak salah, vila ini ada penghuninya, dan saya tau pasti di dalam itu banyak orangnya, kalau bapak tidak mau bantu saya, biar saya masuk ke dalam saja” kata Kaswadi bersikeras


“Hahahaha kamu ini  bagaimana, kalau mau ke dalam ya silahkan, tapi hati-hati di semak semak itu banyak ularnya” kata pak Handoko mulai melangkah keluar


“jangan tinggalkan saya pak, bantu saya bertemu dengan penghuni vila itu, saya akan bayar bapak sekarang juga” sahut Kaswadi


“Gini saja, saya akan bantu kamu masuk ke sana, bukan bantu kamu bertemu dengan penghuni vila, karena di dalam itu kosong tidak ada apapun. Jadi saya akan bantu masuk ke sana asal kamu sebutkan alasan masuk akal kenapa kamu harus bertemu dengan yang tidak ada disana?”


“Dan satu lagi kenapa pakaianmu sampai compang camping dan luka di pelipis?” tunjuk pak Hadoko


“Saya baru kecelakaan pak!”


“Apa sebab kamu kecelakaan dan kecelakaan dimana?”


Tidak ada jawaban dari Kaswadi dia hanya diam saja sambil tetap berusaha melihat lihat apa yang ada di dalam vila putih, dia sepertinya benar-benar ingin masuk ke dalam vila, tapi apa yang menyebabkan dia seperti itu pasti ada alasanya.


“Kaswadi bohong Handoko, barusan saya cari informasi, dia kelihatanya baru saja dihajar oleh anak buah Totok, dia sudah  meneken kontrak dengan iblis yang bernama Rochman itu, dan dia harus menyelesaikan tugasnya hingga selesai baru dia bisa bebas” kata mbok Ju yang ada di sebelah pak Handoko


“Hehehe saya tau kamu bohong pak, tapi ndak papa sih pak, eeh tadi juga ada yang kesini, kebetulan saya jalan disini dan bertemu dengan dia, nama dia Trimo, dan sedang mencari orang dengan nama Kaswadi, apakah kamu kenal dengan yang bernama Trimo?” pak Handoko mulai dengan pancingannya

__ADS_1


Wajah Kaswadi meskipun di gelapnya malam terlihat menegang, dia tidak merespon apapun tentang perkataan pak Handoko. Kaswadi bingung mau jawab apa.


“Si…siapa itu yang namanya Trimo?” katanya dengan suara pelan


“Ya saya tidak tau siapa itu Trimo, dia cuma titip pesan kepada saya, apabila bertemu dengan orang yang bernama kaswadi disuruh hubungi Trimo segera. Kebetulan saya sudah mempunyai nomor hp dia” kata pak Han yang pura-pura merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel


Kaswadi hanya diam saja, dia tidak berkata apa-apa atau bertindak apa-apa, karena kelihatannya dia sedang bingung.  Jelas Kaswadi takut dengan Trimo, karena berdasar cerita Trimo, otak dari semuanya ada adalah kaswadi, hingga Trimo mau saja melakukan apapun untuk mendapatkan harta.


Tetapi pada perjalanan waktu, kaswadi bekerja sama dengan Totok atau Rochman, dimana Rochman atau Totok adalah musuh atau saingan Trimo, disini sudah kelihatan apabila Kaswadi itu bukan orang yang baik.


Nah sekarang dia ingin bertemu dengan penghuni yang ada di dalam vila, dan kemungkinan besar dia disuruh atau ditekan oleh Totok atau Rochman atau Nabil, mungkin karena mulut besarnya itu .


“Jangan telepon Trimo, saya baru ingat kalau Trimo adalah orang yang pernah berbuat jahat kepada saya dan kepada keluarga saya” kata Kaswadi tiba-tiba


“Kamu jujur saja sama saya pak, saya tau kamu habis dihajar oleh orang dan bukan kecelakaan kan, kenapa kamu sampai dihajar orang, dan kenapa kamu berbohong kepada saya” tanya pak Han


“Ti..tidak ada yang menghajar saya, saya kecelakaan disana… ya disana” tunjuk Kaswadi di arah  Gebang


“Ya sudah, kalau gitu saya akan telepon polisi tetangga saya di desa, saya akan melaporkan adanya korban kecelakaan yang sekarang ada di vila putih, kamu sabar saja pak, pasti akan dibantu oleh polisi pak”


Pak Handoko mengeluarkan ponselnya lagi kemudian dia pura-pura mencari nama di kontak ponselnya,  sambil bergumam agar Kaswadi dengar siapa yang sedang dicari di kontaknya


“Hmmm pak pandu polisi … mana ya kontaknya… hmm polisi gebang… nah ini dia” guman pak Handoko


Ketika pak Handoko sedang menempelkan ponselnya di telinga, tiba-tiba Kaswadi lari menuju ke arah bawah, dia berlari secepat kilat di gelapnya malam hingga pak Handoko kaget.


“Wuiiih cepat sekali dia pergi dari sini, hebat ya Ju, dia bisa lari secepat itu hihihihi”


“Biar saya ikuti dulu Handoko, saya penasaran kenapa dia lari itu, jangan-jangan di bawah sana sudah menunggu orang-orang yang akan menuju ke sini” kata mbok Ju


*****


“Pasti Kaswadi itu ada yang suruh, dia pasti sedang dipaksa oleh seseorang  untuk masuk ke dalam  vila ini” kata Ali


“Iya mas Ali, dia kelihatanya habis terkena siksaan karena mungkin dia menjanjikan kepada orang yang dia ikuti untuk menunjukan bahwa vila ini ada penghuninya. Makanya dia memaksa saya untuk mengantar masuk ke dalam vila” kata pak Handoko


“Kita tunggu Juriah dulu saja, karena dia sedang ikuti kemana Kaswadi lari. Ada kemungkinan di bawah sana ada kaki tangan Rochman, yang menyiksa Kaswadi agar menuntaskan tugasnya heheheh” kata pak Handoko


Tidak lama kemudian mbok Ju datang juga ke ruang tengah vila putih, dia tersenyum dan melayang diantara teman-temannya.


“Benar perkiraan kita Handoko, di bawah sana, dekat dengan pertigaan dua mobil yang sedang menunggu Kaswadi, dan yang ada di dalam mobil itu bukan Totok atau anak Totok, melainkan beberapa orang yang lebih mirip penjahat dari pada paranormal” kata mbok  Ju


“Apa iya Rochman sekarang punya anak buah, dan dia memakai jasa orang lain macam Trimo gitu, kok saya ragu ya kalau mereka itu suruhan Rochman?” kata Tifano


“Bisa jadi mas Tif, mungkin Sekarang Rochman lebih berhati hati lagi menampakan diri setelah anaknya mati, jadi mungkin saja dia sekarang menggunakan jasa orang lain untuk hal-hal sepele” kata Novi


“Saya yakin setelah ini mereka semua akan kesini, saya tau kebiasaan Rochman, dia kalau sudah punya keinginan harus diselesaikan sampai tuntas, saya ingat ketika dia datang ke lokalisasi yu Lemu sendirian hanya karena kepingin main dengan Misnah hehehe” kata Dimas


“Hah… malah diingatkan masa ndak enak rek pak Dimas iki, mbahas liyane ae lho pak, ojok mbahas Minsah heheheh” kata Broni


“Heheheh lebih baik kita harus waspada, karena sebentar lagi mereka akan kesini bersama Kaswadi lagi, dan tugas Kaswadi harus menuntun mereka masuk ke dalam vila atau menyuruh keluar penghuni vila” kata pak Handoko


“Saya akan ke atas pak, saya lihat dari kamar atas pak, segera akan saya laporkan kalau ada yang datang kesini” kata Wildan yang menuju ke kamar atas bersama Tifano.

__ADS_1


“Rumput dan ilalang yang tinggi di depan itu ada untungnya bagi kita, karena kalau dari depan pagar keadaan dalam vila ini tidak terlihat sama sekali, kecuali mereka nekat masuk ke dalam” kata Dimas


Tidak lama berselang, Tifano turun dari kamar atas, kamar yang bisa disebut sebagai kamar intai hehehe.


“Bersiaplah, karena ada dua mobil yang sekarang sudah diparkir di depan vila. tetapi belum ada yang turun dari mobil itu kecuali Kaswadi yang sekarang ada di depan pagar vila” kata Tifano


“Biar saya yang keluar ke sana pak” kata Sinank nang


“Gel… ayo ke sana sama aku c*k” ajak Petro


“Novi dan mas Saeful ikut juga mas, tapi kita dari kejauhan saja mas, Novi siap melempar kepala mereka kok heheheh” kata Novi yang kemudian keluar menuju ke semak belukar vila


Sementara Dogel dan Petro keluar dari sisi tembok pagar yang berlubang. mereka berjalan pelan menuju ke arah dua mobil yang sedang terparkir di depan pintu pagar vila putih.


“Lebih baik kita ke sisi jurang dulu ae Tro, jangan langsung melakukan serangan, Kita dengarkan dulu apa yang mereka sedang bicarakan” kata Dogel


Akhirnya Dogel dan Petro menuju ke sisi jurang yang ada di seberang vila putih, mereka berjalan hingga posisinya dekat sekali dengan dua mobil yang sedang berhenti. Mereka berdua juga jelas bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mereka yang ada di depan pagar vila.


*****


“Kaswadi, sampai kamu gagal lagi maka anak istrimu yang akan merasakan akibat dari kegagalanmu hehehe, jangan khawatirkan pacarmu, karena dia sudah ada di tangan yang tepat” kata suara yang berteriak dari dalam mobil


“Apa yang bisa saya lakukan lagi mas Roziq, sudah jelas vila ini kosong, tidak ada siapapun disana!” teriak Kaswadi dari depan pagar vila


“Kamu yang sudah memberikan informasi kepada bos Nabil, dan kamu juga yang harus selesaikan, jangan hanya bisanya memberikan informasi palsu saja” teriak orang yang  tadi berbicara kepada Kaswadi


“Ingat tadi kata bos Nabil, apabila malam ini kamu tidak bisa bertemu dengan yang ada di vila ini baik itu makhluk ghoib atau manusia biasa, maka keluargamu akan menjadi tumbal jantung berikutnya” kata suara yang sama yang dipanggil Kaswadi dengan nama Roziq itu


“Hei Ahmed, mana serbuk tulang yang tadi diberikan oleh bos Nabil, bawa sini dan berikan kepada Kaswadi sekarang cepat, biar dia masuk ke sana dan tabur serbuk ini kepada siapapun yang ada disana” suruh suara Roziq


Suara pintu gerbang vila didorong oleh Kaswadi ke arah dalam agar lebih lebar lagi, kemudian pintu mobil terbuka, suara tapak sepatu dari salah satu dari orang yang ada di dalam mobil itu turun dari mobil dan melangkah ke arah Kaswadi.


“Ini…bawa serbuk tulang ini dan lempar kepada penghuni rumah ini baik ghoib atau nyata, pokoknya yang menempati rumah ini. Cepat masuk ke dalam dan jangan keluar apabila belum berhasil atau keluargamu mati” bentak suara yang bukan suara Roziq


*****


“Gel kita harus gimana ini, dia bawa sesuatu yang harus ditaburkan ke penghuni vila, kita muncul atau gimana enaknya Gel?”


“Sik Tro, aku juga bingung iki, gunane serbuk tulang iku gawe opo sakjane, iku sing aku sik bingung. Eh tapi kita kan bisa muncul dari jalan atas iku Tro, kita bilang saja kita penduduk sini yang sedang cari  sesuatu di hutan sana”


“Oh Iyo Gel, wis gitu ae Gel, ayo kita kesana daripada serbuk itu dilempar ke Sinank nang”


Mereka berdua berjalan pelan di sisi jurang hingga beberapa puluh meter ke atas, kemudian mereka berjalan biasa di jalan menurun menuju ke vila putih, mereka berjalan dengan santai hingga mereka sampai beberapa meter di depan mobil yang sedang terparkir.


Salah satu dari orang yang ada di dalam mobil pun turun, dia berjalan ke depan mobil kemudian berkacak pinggang.


“Siapa kalian berdua?”sambil menyorotkan cahaya senter ke wajah Dogel dan Petro yang  ada di depanya


“Turunkan cahaya senter itu, silau sekali cahayanya” teriak Dogel


Mereka berdua berjalan mendekati orang yang membawa senter di depan mobil.


“Kami dari desa seberang hutan mau ke Gebang, memangnya ada apa disini kok rame pak” tanya Petro dengan suara lugunya

__ADS_1


“Sini kamu anak desa, sini lebih dekat, jangan takut dengan kami, kami hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada kalian berdua” kata laki-laki itu


__ADS_2