MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 120 (TEORI YANG BERKEMBANG)


__ADS_3

Semua makin kacau, semua tidak sesuai dengan perkiraan awal, semua makin aneh. Kenapa ada Trimo yang sudah mati, kenapa ada Kaswadi yang jelas-jelas marah dengan Trimo yang telah membuatnya  susah, lalu kenapa mereka bergabung dengan Supardi dan Fathoni.


“Kita mundur saja Bron, tiba-tiba kepalaku menjadi pusing, aku perlu berdiam diri dulu untuk sementara waktu” kata Ali


“T…Tapi kita tidak bisa meninggalkan Gilank yang sedang dikepung lima orang itu Li, kita tidak bisa membiarkan teman kita ada disana. Minimal kita harus awasi apa yang akan mereka lakukan kepada Gilank” sahut Broni yang masih bingung dengan keadaan yang aneh ini


“Ok…ok Bron, tapi aku perlu waktu sedikit untuk duduk diam dulu, aku ndak kuat melihat mereka yang harusnya tidak ada disana itu kemudian bergabung!” kata Ali


Ok saat ini Ali sedang depresi melihat orang-orang yang sedang mengepung Gilank yang dalam keadaan sendirian disana, tetapi teman mereka Gilank sedang dalam bahaya saat ini, Lalu apa yang akan mereka lakukan dengan Gilank. Bagaimana pula dengan Novi dan Ipul?


“Mbak Novi…..mbak…, mbak Novi!” kata Ipul yang terus menggoyang-goyangkan lengan Novi yang kelihatan shock itu


“Mbak Noviiiii!” bisik Ipul terus sambil menggoyang-goyangkan lengan Novi yang sedang terduduk dengan tangan kanan memegang batu yang awalnya siap untuk dilemparkan


Novi sama dengan Ali, dia telihat shock setalah tau yang di depan mereka itu orang yang harusnya sudah mati. Orang yang merupakan adik dari istri Kaswadi, orang yang telah mencuri kotak milik pak Tembol dari rumah Kaswadi. Orang yang terbunuh ketika anak-anak Sutopo datang ke kos-kosanya.


Coba kita kembali flashback ketika Trimo mati, anak-anak Sutopo kemudian pergi meninggalkan mayat Trimo dengan dua buah ponsel dan dompet Trimo. Sampai disini penulis dan pembaca pasti paham bahwa Trimo sudah mati.


Kaswadi yang saat itu terlihat bingung kemudian pergi dari salon Novi secara diam-diam. Seharusnya ada yang curiga kenapa Kaswadi pergi dari rumah Novi, alasan Kaswadi pergi karena dia khawatir dengan anak dan istrinya. Sampai disini juga masih bisa dipahami.


Tapi penulis tidak mau berpikir dan berspekulasi ah, biar anak-anak Sutopo saja yang menggunakan imajinasinya untuk menjelaskan yang mereka pikirkan.


Kita kembali dulu di keadaan dimana Gilank yang dalam keadaan Telanjang dikerumuni lima orang musuhnya.


“Wow…. Anu kamu besar juga mas hihihihi” kata Fathoni yang mulai aneh kelakuaanya, mungkin Karena kepala dia yang terkena lemparan batu Novi.


“Hahahahaha, kalian ini ciapaaaa, capa namamu , dimana rumahmu hahahahah” kata Gilank yang makin gilak


Kemudian salah satu dari kelima orang itu akan memegang tangan Gilank, tapi mendadak disentakan oleh Gilank


“Heii! Stop!.... capa kamu, apa kamu penguasa bumi!.... aku Pirman Capitra yang akan bikin kamu gatal-gatal hahahahaha” teriak Gilank yang masih saja berkelakuan aneh


Dalam keadaan seperti ini harusnya Novi sudah harus berpikir jernih dan mulai melakukan aksinya, karena sekarang  ada lima orang yang sedang mengerumuni Gilank, akibatnya Gilank agak kewalahan juga tanpa Novi bertindak.


“Capa kamuh!.... jangan  pegang- pegang akuh!”teriak Gilank yang makin terdesak, Harusnya Gilank sudah saatnya melarikan diri ,karena lima orang itu sudah mulai berlaku kasar kepadanya


*****


“Mbak Novi… ayo sadar mbak, teman mbak Novi sedang dalam bahaya itu” kata Saeful berulang kali kepada Novi yang masih diam sambil termenung


“Iya…iya mas, Novi tadi cuma kaget saja mas, karena keadaan sekarang kok semakin aneh dan semuanya makin terbalik mas” kata Novi yang mulai mengamati keadaan lagi


“Gilank tidak bisa diselamakan hanya dengan lemparan batu mas, karena disana ada lima orang yang siap menyakiti Gilank apabila Novi melempar salah satu dari mereka mas” kata Novi


“Begini saja mbak Novi, lempar saja rumah mereka mbak, kalau bisa bagian belakang rumah mbak, rumah itu kan atapnya terbuat dari seng mbak. Hanya sebagai pengalih perhatian saja mbak” kata Saeful lagi


“Nanti kan orang yang disana berkurang. Setelah itu, mbak Novi lakukan aksi terbaik mbak Novi kepada yang ada di sekitar mas Gilank, dan semoga mas Gilank tau dan segera lari setelah ada satu orang yang terkena lemparan batu” kata Saeful


“Iya mas Novi setuju. Posisi kita juga tidak jauh dari rumah itu mas, ok akan Novi lakukan yang terbaik mas”


Novi kemudian mencari batu yang cukup besar disana, tidak begitu sulit untuk mencari batu kali disekitar sana, karena batu kali berserakan akibat aspal jalanan yang sudah banyak yang rusak


Setelah mendapatkan batu-batu yang lumayan besar, Novi mulai membidik atap bagian belakang rumah Supardi yang dululnya ditempati oleh Haris itu.


Setelah mengukur jarak lemparan dan kekuatan lemparan, akhirnya Novi mulai melakukan aksinya dengan melempar atap rumah Supardi.

__ADS_1


…BRAAAANNKK…


Suara yang sangat keras mengenai atap yang terbuat dari seng itu. kelima orang termasuk Gilank terkejut dengan suara itu. mereka kemudian terdiam beberapa saat.


“Thoni, periksa apa yang ada di tempat galian kita itu” perintah suara yang mirip dengan suara Supardi


“Jangan sendirian dong Bro, sama siapa gitu Bro” rengek Fathoni


“Ah kamu ini dukun tapi penakut sekali. Sana sama Kaswadi, kalian berdua periksa suara apa yang tadi bunyi itu” teriak Supardi


Kini di tempat Gilank berulah itu tinggal tiga orang yang ada disana, dia adalah Supardi, Trimo, dan satu orang yang kita belum tau namanya.


“Aduuuh harusnya mas Gilank itu pergi dari sana ketika Novi lempar batu ke atap rumah itu, kalau begini kan cari mati namanya” gerutu Novi


“Mungkin mas Gilank menunggu mbak Novi melempar batu satu lagi mbak, tapi ke arah salah satu dari mereka bertiga itu mbak”


“Ok mas, akan Novi bidik Supardi jahanam itu, biar dia kapok kalau berani main-main dengan Novi!”


Novi kemudian kembali mencari batu yang akan dia bidikkan ke kepala Supardi yang ada di sekitar Gilank berada, setalah perhitungan yang matang akhirnya Novi mulai melempar batu itu.


Ketika Novi sudah melontarkan batu, tiba-tiba Supardi bergerak ke samping, dia ingin melihat keadaan rumahnya, dan ketika supardi sedang bergerak kesamping, ndilalah Gilank maju dan sekarang posisinya ada di posisi Supardi tadi berdiri.


Sebuah batu melayang yang dibidik bakal kena kepala Supardi itu melayang dengan akurat daaan… Bugh!....


Ternyata yang terkena lemparan Novi dan jatuh pingsan adalah Gilank!, Gilank ambruk dan mengenai salah satu dari tiga orang yang belum diketahui siapa nama orang itu.


“Aduuuh mas, kenapa kena kepala mas Gilank!” pekik tertahan Novi yang merasa bersalah karena lemparan batunya mengenai Gilank


Tapi menurut penulis ada benarnya juga apabila yang terkena Gilank, karena mereka bertiga tidak akan melakukan apapun terhadap Gilank, mereka pasti akan mencari tempat yang aman setelah Gilank pingsan


*****


“Bron, ojok mikir gitu lah, Gilank pasti selamat akibat ajian kepala botaknya hahahah” jawab Ali


“Sebentar lagi pasti ketiga orang itu pergi dari sana, karena mereka pasti ketakutan karena sudah ada lemparan batu ke arah mereka yang ternyata kena Gilank hihihihi”


Ternyata benar juga perkiraan Saeful dan Ali, ketiga orang itu kebingungan dan mencari tempat yang aman dengan lari menuju ke dalam rumah Supardi.


“Ayo Li kita tarik Gilank sekarang, mumpung orang-orang sudah tidak ada di sekitar Gilank, mereka masuk ke rumah karena takut kena lemparan lagi” kata Broni


“Kita berdua saja Bron? Ok tapi aku jijik sama yang ada di tubuh Gilank itu chok, gimana kalau dibiarkan disana saja hingga dia sadar sendiri, tapi kita tetap awasi dia disini” jawab Ali


“Janchok koen Li, mosok sama teman sendiri kamu tega Chok, dia lho tadi bantu kita lolos dari sana chok!. Mosok kamu tega biarkan dia disana chok” gerutu Broni


“Lha kamu jijik ndak kalau megang Gilank, ayo terus terang ae Bron, kamu jijik gak kalau harus pegang tubuh Gilank yang lunyu dan mambu kerena keringetnya itu” tanya Ali


“Sakjane yo jijik Li, tapi gimana lagi, dari pada teman kita itu mati disana hayooooo” jawab Broni


Akhirnya mereka berdua keluar dari tempat persembunyian mereka, dan secara perlahan dan penuh dengan rasa jijik mereka menggotong  tubuh Gilank yang tanpa pakaian dan bau bosok itu.


“Kita taruh disisi jurang saja Li, yang penting ndak keliatan sama mereka semua yang ada di dalam rumah itu” kata Broni sambil menutupi tubuh Gilank dengan daun dan ranting.


Tidak lama kemudian Saeful dan Novi bergabung dengan Ali dan Broni yang berusaha menyamarkan tubuh Gilang yang sampai sekarang belum sadar itu.


“Aduuuh mas Gilank … Novi minta maaf masss” bisik Novi ketika mereka berdua sudah ada diantara Broni dan Ali yang sedang sibuk menaruh daun dan ranting di tubuh polos Gilank

__ADS_1


“Gak papa Nov, ada benarnya juga batu yang kamu lemparkan itu kena kepala Gilank, jadi semua akhirnya mencari tempat aman dengan masuk ke dalam rumah Supardi” kata Ali


“Sekarang harus kita usahakan agar Gilank sadar rek, karena jelas ndak mungkin kalau kita harus menggendong dia ke ruang bawah tanah dalam keadaan telanjang dan bau gini rek. Aku sakjane ndak masalah kalau disuruh gendong Gilank, yang masalah adalah bau bosok itu chok” kata Broni


“Nov, tadi kamu lihat ndak apa yang kami lihat?” tanya Ali


“Novi lihat mas, makanya tadi Novi sampek ndak konsentrasi melempar mereka mas, untung mas Saeful bisa buat Novi percaya diri lagi mas” kata Novi


“Sekarang apa lagi yang harus kita lakukan Nov? semua sudah jelas Trimo ternyata ndak mati, dan Kaswadi ada diantara mereka. Takutnya nanti Totok juga menjadi bagian dari mereka Nov” kata Broni


“Gini aja mas, kita tunggu hingga mas Gilank sadar baru kemudian kita diskusikan di ruang biru mas. Pokoknya untuk saat ini Novi belum tau harus gimana mas” kata Novi yang duduk di tanah


Setelah mereka berempat menunggu beberapa lama, kemudian Kepala Gilank bergoyang-goyang, kemudian telapak tangan dia memegang kepalanya yang mungkin masih sakit. Novi segera melihat ke wajah Gilank yang memang nggilani.


Ketika Gilank membuka mata untuk pertama kalinya setelah kepalanya terkena batu nyasar, yang dilihat adalah wajah Novi yang cantik.


“Mas Gilank… gimana mas, masih sakit kepalannya mas” tanya Novi dengan tidak sabar


“Uuuuughh.. hheemmm kalian kenapa dekat-dekat!. Aku lagi gak pakek baju tauk!. Sanaah..sanah pergi kalian” usir Gilank kepada mereka yang ada disana.


“Eh Sis… baju aku dimana ya sis, tuh cowok-cowok pada doyan liat aku kayak gini sis” kata Gilank


Novi ngowoh dan kemudian melihat ketiga temannya yang agak jauh dari posisi Gilank. Gilangk saat ini  sedang berusaha menutupi bagian dadanya dan  vitalnya dengan telapak tanganya.


“Eh bentar ya sis, Novi ambilin baju sis dulu ya” kata Novi yang kemudian menyuruh ketiga laki-laki itu untuk mencari pakaian Gilank


“Apa yang sedang terjadi dengan Gilank, kenapa dia jadi melambai kaya gitu chok” bisik Ali kepada Broni.


Mereka berlima sekarang berjalan menuju ke lorong rahasia untuk menuju ke ruangan biru, dan mereka akan membahas tentang yang mereka lihat barusan. Bagaimana dengan Gilank? Ternyata dia belum berubah, tapi paling tidak dia sudah tenang karena dia sekarang sudah berpakaian.


*****


Suasana ruangan biru mendadak sepi ketika keempat orang itu sudah bercerita tentang apa yang mereka alami tadi.


“Dari awal aku sudah curiga sama penjaga kos kosan Trimo itu, kenapa aku curiga….


- Pertama Jono ada disana tapi dia kalau Trimo ada di kamar atau tidak, hingga dia malah bilang kalau mobil Trimo ada disana dan sandalnya juga ada kan.


- Dia bilang Trimo tidak masukan mobilnya, dan dia yang memasukan mobil itu, padahal mobil Trimo itu mobil sport mahal dua pintu yang tidak semua orang bisa mengendarainya karena transmisinya yang agak aneh dekat stir.


- Kedua waktu disuruh telpon pemilik kos, dia malah diam dan tidak segera telpon, dia bilang tidak berani telpon juragannya. Sampai akhirnya Ali menyuruh telpon juragannya di ruangan tempat dia jaga, tapi ndak tau juga dia sudah telpon apa ndak.


- Kemudian setelah katanya sudah menelpon juragannya, kemudian dia menyuruh kita pergi dari sana dan menutup pintu kos kamar Trimo, seolah olah dia usir kita dari sana.


“Dan yang paling fatal adalah kunci kos-kosan. Kunci itu tidak ada di dalam kamar Trimo” kata Ali


“Jadi seolah olah ada yang membunuh Trimo, kemudian kunci itu dibawa oleh pembunuhnya. Disini aku ambil kesimpulan bahwa jangan sampai ada teman Trimo atau pacar Trimo yang masuk ke kamar Trimo sebelum kita masuk ke dalam kamar itu” kata Ali lagi


“Sekarang yang bikin aku bingung, bagaimana Trimo bisa tau kalau kita akan menuju ke rumahnya, dan kemudian dia mempersiapkan semuanya hingga dia kelihatan benar-benar mati? Meskipun disini Jono juga ikut berperan dalam memuluskan apa yang Trimo inginkan kan” kata Ali


“Dan yang paling penting sebenarnya apa tujuan Trimo dengan seolah olah mati seperti itu, apakah semua ini sudah diatur oleh Kaswadi dan Trimo dengan begitu detail dan sempurna hingga kita tertipu dengan hebatnya?”


“Diapun dengan sengaja menaruh ponsel di tempat yang mudah kita lihat, sehingga dia yakin kalau kita akan mengambil ponsel itu, lalu bagaimana dengan perempuan pacar Trimo yang ada di penthouse itu?”


“Muryati kah mas Ali?” kata Novi tiba-tiba

__ADS_1


__ADS_2