
Pak Pho atau Dani dan Ukik sedang sibuk di ruangan tempat mereka merubah semua lorong dan pintu yang ada di ruang bawah tanah di vila putih. Sedangkan yang lainnya sedang berembuk memperkirakan apa yang selanjutnya akan terjadi.
“Menurut kalian, apa yang akan terjadi selanjutnya disini mas, karena pastinya mayat Supardi akan mencari kalian terus, dan mengganggu aktifitas kita di atas sana” kata pak Handoko
“Saya tidak yakin dan belum bisa perkirkan apa yang akan terjadi pak, karena kita tidak menghadapi satu orang saja pak, disini ada Trimo dan Kaswadi yang sempat dibikin gatal gatal, selain itu ada Totok yang pasti akan melakukan sesuatu yang lebih gila lagi pak” jawab Saeful
“Dan soal mayat Supardi itu, saya belum punya ide harus bagaimana pak. tapi menurut saya mayat itu hanya akan mengejar mas Ali, mas Tiifano, mas Dogel, dan pak Tembol. Karena bau kalian sudah terekam di kepala mayat itu” kata Saeful lagi
“Saya kok punya pikiran untuk mendatangi rumah Totok atau Nabil bosnya nak Petro ya, karena disana kemungkinan besar adalah pusat dia” kata pak Tembol
“Nah itu yang sedang saya pikirkan juga pak” kata pak Handoko
“Ada baiknya saya dan sebagian yang ada disini ke sana pak, karena sekarang Totok kan tidak ada disini dan dia sedang yakin kalau mayat hidup suruhanya itu akan mampu membuat kalian semua ini sibuk” lanju pak Handoko
“Tetapi jangan mas Ali, Mas Dogel, mas Tifano dan pak Tembol. Karena kalian sedang dalam pencarian mayat itu, kalau kalian keluar dari sini, otomatis mayat itu akan mengerjar kalian” lanjut pak Han
“Bagaimana nak Petro, apa nak Petro bisa ke sana bersama pak Handoko dan sebagian dari teman kita yang ada disini?” tanya pak Tembol
“Pak, saya apa nak boleh ikut pak. Saya bosan kalau hanya ada disini dan tidak melakukan apa-apa pak” sahut Winna Voo
“Nak Winna ini targetnya Totok, kok malah mau ke sarangnya Totok, apa nanti malah dia merasa bahagia, karena nak Winna datang dengan sendirinya heheheh” kata pak Tembol
“Sudah begini saja, saya akan kesana bersama nak Petro. Yang lainya siapa yang mau ikut saya ke rumah Totok?” tanya pak Handoko
“Saya ikut pak, saya kepingin jalan-jalan pak heheheh” kata Saeful
“Kalau mas Saeful ikut, Novi juga ikut pak” kata Novi
“Ya sudah saya dengan ketiga teman ini ya, dan yang lainya tunggu disini bersama pak Tembol, oh Iya nanti kalau pak Pho sudah merubah jalan masuk kesini tolong info ke kita ya mas Mbul, sms atau Wa ke Novi mas
“Jangan pigi dulu aaa. Ai lagi bikin lubah pintu disini aaaa, kalian tunggu dulu sampai ai selesai bikin lubah lolong dan luangan disini aaaaa” kata pak Pho tiba-tiba keluar dari ruanganya
“Iya pak Pho, kita tunggu sampai pak Pho selesai merubah semua yang ada disini pak” kata pak Handoko
Mereka menunggu hingga pak Pho merubah apa yang ada di ruangan bawah tanah ini. tidak memakan waktu lama, pak Pho keluar lagi dari dalam ruangannya.
“Sekalang kalian sudah tidak bisa lewat pintu yang ada di depan vila aaaa, kalian nanti bisa kelual dali sini dengan aman, untuk sementala ini pintu nya ada di tanah kosong yang ada di sebelah kili vila aaaa” kata pak Pho
“Apa tempat yang biasanya digunakan untuk parkir itu pak Pho?” tanya Ali
“Iya Ali, kalian bisa kelual disana, nanti akan saya lubah telus secala belkala, agal tidak ada yang bisa masuk kesini kecuali kalian aaaaa” kata pak Pho lagi
“Handoko, sekalang ini masih malam aaa, kamu besok pagi saja kelual dali sini, jangan pelgi malam-malam gini aaaa”
“Iya pak Pho, tadi saya keburu nafsu kepingin ndang cepat ke rumah bosnya mas Petro, takutnya Totok pergi dari sana lagi pak” jawab pak Handoko
“Sekarang lebih baik kita tidur dan istirahat saja anak-anak, karena kalian besok pagi pasti sudah sibuk dengan kegiatan yang gak pernah jelas dan tidak pernah ada selesainya” kata pak Tembol
Malam ini di dalam ruangan biru mereka semua berusaha untuk bisa tidur, karena kesempatan untuk tidur kadang tidak bisa mereka temui tiap hari, jadi apabila ada kesempatan untuk tidur jelas mereka akan gunakan sebaik mungkin.
*****
Matahri pagi masuk melalui celah-celah yang ada di dalam ruangan biru, angin dingin khas pegunungan yang masuk ke dalam ruangan biru cukup bisa mendiginkan mereka-mereka yang sedang panas oleh pikiran untuk bertahan dan melawan.
__ADS_1
“Ayo bangun… sarapan!” teriak Winna
Winna, Chandra, dan Chynta memang bertugas menyiapkan makanan bagi mereka yang ada disana, pokoknya untuk urusan makanan mereka bertiga yang menyiapkanya.
Semua selesai dengan urusan sarapan, semua selesai dengan urusan ke kamar mandi. Sekarang mereka sudah siap dengan rencana kepergian ke rumah Nabil yang bisa jadi dia adalah Totok atau Rochman.
“Ayo anak-anak, siapa saja yang mau ikut ke tempat bosnya mas Petro. Kita berangkat sekarang saja”
“Pak Han, saya ikut juga pak, kalian pasti akan membutuhkan seseorang sebagai pengamat keadaan disana pak” kata mbok Ju menawarkan diri.
“Lho ayo wis Ju, kita berlima berangkat. Benar omongan kamu Juriah, memang kita juga butuh wong samar macam kamu untuk memantau keadaan disana, meskipun saya sendiri adalah wong samar yang sekarang menjadi manusia heheheheh” kata pak Handoko
“Ini keluarnya lewat mana pak Pho?” tanya Novi
“Ahhh Novi, kelualnya lewat pintu biasanya saja, tapi nanti kamuakan lihat pintu yang telbuka, ikuti saja pintu itu hingga sampai ke lahan kosong yang ada di sebelah vila ini” kata pak Pho
Mereka semua mengikuti saran dari pak Pho. Memang lorong yang baru dibuka ini lebih panjang dari pada yang tembusnya di sisi jurang depan vila, tapi paling tidak dengan lorong ini keadaan di dalam ruangan biru bisa aman dari Totok atau Rochman yang sebelumnya pernah masuk ke sana.
“Wuiiih lorong baru ini bau pengab dan dingin, beda dengan lorong yang biasanya kita lewati” kata Novi
“Mungkin karena lorong ini jarang sekali dilewati mbak Novi, jadi ya pengab dan dingin, mungkin kalau kita sering lewat sini, tidak akan seperti ini keadaaanya mbak” kata pak Handoko
Petro tetap setia dengan anjengnya yang bernama Semprul. Anjeng itu pasti nanti akan kaget karena akan masuk ke dalam rumah yang mirip dengan keadaan rumah yang dia jaga di dunia ghaib.
Mereka berempat plus mbok Ju saat ini sudah sampai di ujung lorong yang berupa batu keras, batu yang merupakan pintu masuk melalui lahan kosong yang ada di sebelah vila putih.
“mbok Ju, ada baiknya mbok Ju lihat kelur dulu mbok, disana ada siapa saja mbok?” kata Novi
“Kalian bisa keluar, karena di luar tidak ada siapapun, mungkin karena masih pagi, sehingga tidak nampak siapapun diluar sana” kata mbok Ju
Pertro, Saeful dan Novi mendorong batu besar yang ada di depan mereka. Ternyata batu itu mudah sekali terbuka, mereka tidak memerlukan waktu lama untuk mendorong batu itu hingga terbuka penuh.
“Ayo cepat kita ke masjid untuk ambil mobil yang diparkir disana” kata Saeful yang berjalan duluan diikuti oleh Novi, pak Han, dan Petro
Pagi ini cukup nyaman, karena hawa dingin masih ada disekitaran perbukitan disana, meskipun sinar matahari mulai condong. Suara-suara burungpun seakan memberikan semangat kepada mereka yang sekarang sedang menuju ke masjid untuk mengambil mobil.
“Kalian tunggu disini saja dulu, saya akan masuk ke dalam. Saya mau tanya-tanya ke takmir yang ada disini apakah ada lagi selain kita yang menitipkan mobil disini” kata Saeful yang menyuruh mereka menunggu di samping mobil di dalam halaman masjid
Cukup lama juga Saeful ada di dalam kamar atau mess para takmir yang sebagian besar menginap di masjid itu. Hingga beberapa menit kemudian Saeful keluar dengan tergopoh-gopoh.
“Ayo cepat kita pergi dari sini, mas Petro yang bawa mobil, tolong keluarkan mobil dari halaman masjid dulu mas, nanti kita bicara di dalam mobil saja” kata Saeful yang kemudian membuka pagar halaman masjid agar mobil bisa keluar dari sana
“Cepat mas, kita turun ke bawah, karena kata teman saya, barusan ada orang yang berwajah timur tengah masuk ke halaman masjid dan bertanya dua mobil itu milik siapa saja. Kemudian dia lama sekali melihat mobil yang dibawa mas Dogel itu”
“Untungnya Teman saya ngomong kalau kedua mobil itu milik pengurus masjid yang sedang ada urusan disini” kata Saeful
“Lha kamu suruh kita cepat-cepat pergi dari sini kenapa Pul?” tanya Petro
“Karena orang yang berwajah timur tengah itu masih ada di sekitar sini, dia sedang numpang mandi di salah satu kamar mandi masjid, makanya saya suruh kalian cepat pergi dari sini agar tidak ketahuan orang yang berwajah timur tengah itu” kata Saeful
“Kalau gitu kita berhenti saja tidak jauh dari sini, kita pantau apakah dia akan menuju je Sby atau tidak” kata pak Handoko
“Kalian tunggu saja disini, biar saya saja yang meningintai kemana Totok akan pergi, kalian agak jauh saja dari sini atau ke depot rawon itu saja” kata mbok Ju
__ADS_1
“Hmm depot rawon tempat mbah Sari tinggal” gumam Novi yang di dalam tubuhnya bersemayam mbah Sarijemb
“Kita tunggu di warung saya saja, biarkan Juriah yang akan memantau orang itu” kata Novi tiba-tiba dengan nada dan suara yang berbeda dari pada biasanya
Sontak ketiga orang yang bersama Novi terkejut ketika mendengar suara Novi yang berubah menjadi lebih berat dan lebih tua.
“Bagaimana Mbah, kami apakah mbah ijikan untuk menunggu di warung mbah Sari saja?” tanya pak Handoko yang tersadar kalau yang bicara tadi itu bukan Novi yang sesungguhnya
“Kalian ke sana saja dan diam di meja pojok depan etalase. Kendaraan kalian parkir di depan warung saja” kata Novi yang bersuara lebih tua
Mobil diarahkan Petro menuju depot rawon special milik mbah Sari yang sudah puluhan tahun meninggal, tatapi kini arwah mbah Sari ada di dalam raga Novi..
Tepat di depan depot Rawon Novi keluar dari mobil diikuti oleh pak Han, Petro dan Saeful. mereka kemudian duduk di pojokan depan etalase sesuai yang disuruh mbah Sari tadi, keempat orang itu diam tidak bicara sama sekali hingga….
Seseorang berwajah timur tengah dengan tatapan bengis masuk ke dalam depot rawon. Orang itu memandang kesana kemari seolah sedang memeriksa apakah ada yang dia curigai disana atau tidak.
“Permisiiii,…..” teriak orang itu yang tidak lain adalah Totok atau Rochman atau Nabil
“Inggih pak, mau sarapan apa pak” tanya seorang perempuan yang keluar dari ruangan dalam
“Saya pesan nasi rawon tiga porsi ya mbak, agak cepat mbak, saya sudah lapar sekali ini mbak” kata Totok yang kemudian duduk di meja yang ada di pinggir pintu masuk depot.
Totok menghadap keluar, dia memperhatikan mobil Novi yang diparkir di depan depot warung itu. dia terus melihat mobil warna hitam yang bisa mengangkut penumpang delapan orang itu dengan seksama.
Kemudian Totok berdiri, dia mendekati mobil Novi dan mengintip ke dalam melalui kaca samping. Kebetulan kaca mobil Novi ini memakai kaca film yang berwarna silver, sehingga bisa digunakan untuk mengaca dari luar.
Totok melihat wajahnya yang memantul di kaca film itu, dia kemudian melotot di kaca mobil yang memantulkan wajahnya, dia terus melihat wajahnya yang aneh.
“TOLOL, KENAPA KAMU TIDAK BISA MENGALAHKAN ANAK ITU!” teriak Totok tiba-tiba kepada wajahnya sendiri yang memantul di kaca. Wajah yang marah dan mengerikan. Wajah yang penuh dendam, bengis, dan mamatikan
Tetapi yang aneh tiba-tiba wajah dia yang tadinya aneh dan mengerikan itu berubah, berubah menjadi wajah yang minta belas kasihan, wajah yang sedih, wajah yang mendapatkan kegagalan, wajah yang hampir menangis karena telah melanggar perintah atasanya.
“M..ma..maaf pak Nabiil, ...s..saya gagal me..melaksanakan p..perintah b…bp..bapak. J..jangan hu..hukum saya pak…, s…saya jan..janji tidak akan melakukan kesalahan l…lagi” jawab Totok dengan wajah yang sangat memelas
“KAMU SAYA BERI KESEMPATAN SEKALI LAGI!... KALAU GAGAL , MAKA KAMU AKAN MATI!” teriak Totok atau Nabil dengan wajah bengis penuh amarah dan dendam lagi
“B..baik p..pak Nabil. Saya tidak akan melakukan k…kesalahan lagi pak. Tapi j…jangan k..khawatir pak m..mayat Supardi akan mengejar mereka t..terus pak” jawab Totok dengan wajah yang sangat memelas
Setelah melakukan aksi anehnya di kaca mobil Novi tidak lama kemudian dia berjalan masuk dan duduk kembali ke kursinya dengan tenang, seolah olah tidak terjadi apa-apa barusan tadi itu.
“Monggo pak. tiga porsi rawon pak” kata perempuan muda yang kemungkinan adalah cucu dari mbah Sari beberapa saat setelah Nabil atau Totok itu duduk dikursinya.
“Terima kasih dik, oh iya dik saya mau tanya. Itu mobil siapa ya yang diparkir di depan depot ini?” tanya Totok
“Biasanya kalau parkir disana itu pengurus masjid pak, biasanya setelah dari masjid mereka belanja di pasar Gebang pak. dan parkirnya selalu di depan depot ini pak” Jawab perempuan itu dengan tanpa ragu-ragu
“Hmmm ya sudah dik , terimakasih” kata Totok
Totok tidak langsung menyantap nasi rawonnya, setelah perempuan yang menyajikan rawon itu pergi, Totok kemudian berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arah etalase dimana keempat orang itu sedang duduk diam tidak bersuara sama sekali.
Totok melihat-lihat isi etalasi yang berupa kerupuk dan makanan ringan lainya. Aneh, keempat orang itu tidak terlihat oleh Totok, padahal Semprul sudah berubah menjdi mengerikan.
“Mbak, tolong kerupuk udang nya satu mbak” kata Totok menunjuk ke bungkusan kerupuk udang yang ada di dalam etalase depot
__ADS_1