MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 177 (LORO EDAN)


__ADS_3

“Ada masalah  apa pak Tembol, apakah ada yang harus diselesaikan juga?” tanya pak Kades


“Begini pak, untuk menjelaskan kasus yang saling sambung menyambung ini agak rumit pak, jadi saya akan  jelaskan secara garis besar saja” kata pak Tembol


“Jadi kami kirim orang di kota S untuk memantau dan mengamati apa saja yang sedang dilakukan oleh musuh atau sesuatu yang berusaha memperkeruh keadaan di vila”


“Dan malam ini kami janji kepada mereka berdua untuk menjemputnya. Hanya saja yang jadi masalah adalah, akses untuk keluar dari vila atau masuk ke vila sekarang dijaga pihak yang berwajib”


“Hal ini juga ada hubunganya dengan mbah Woto yang semalam memberikan kesaksian kepada orang atau sesuatu ghaib yang masuk ke tubuh orang disana”


“Nah karena kesaksiaan mbah Woto itu, makanya dia takut dan suruh kami kesini untuk melindungi anak dan cucunya”


“Mbah Woto menyuruh kami untuk membawa keluarganya Suharto menuju ke vila putih untuk sembunyi dari apa yang akan menyerangnya”


“Tapi sesampai disini kok malah anaknya yang bernama Suharto itu agak gak beres pak” kata pak Tembol


“Pak Tembol itu ada mbok Ju datang, bagaimana pak?” kata Saeful tiba-tiba


“Siapa itu mbok Ju pak Tembol, dan mana orangnya?”tanya pak Kades


“Hehehe mbok Ju adalah wong samar pak, kami semua bisa melihat keberadaan  wong samar, tetapi yang keadaanya tidak rumit dan  sudah membuka diri kepada kami” Jawab pak Tembol


“Hehehe sampean pasti sedang bingung siapa yang harus menjemput  Ngot dan Indah  kan pak. tenang saja, Dimas dan yang lainya sudah berangkat menggunakan mobil satunya” kata mbok Ju


“Tapi mereka jelas tidak bisa masuk ke dalam mbok Ju, karena saya kan ada disini mbok” kata Farid


“Ndak papa nak Petro, nanti mereka tidak akan masuk ke dalam komplek rumah Nabil kalau tidak diperbolehkan. nanti mobil akan diparkir di luar saja dan Dimas yang akan masuk ke dalam sana” jawab  mbok Ju


“Sementara Handoko tetap ada di vila dan berjaga-jaga dari serangan lanjutan bersama mas Nang. Jadi kalian bisa fokus disini saja hingga masalah disini selesai” lanjut mbok Ju


“Eh saya akan ke rumah Soeharto dulu, karena saya merasa ada yang tidak beres disana” kata mbok Ju


Sementara itu pak Slamet hanya bisa melongo melihat mereka berbicara pada sesuatu yang tidak terlihat oleh mereka. Dia diam tanpa bicara apapun sama sekali.


*****


Mbok Ju sudah sepuluh menit ada di dalam rumah  Suharto yang keadaanya tutupan semua, baik jendela maupun pintunya.


Sore hari waktu maghrib tiba, adzan maghrib sudah berkumandang di mushola desa. beberapa laki-laki baik tua dan muda menuju ke mushola yang ada di sebelah rumah pak Slamet, tidak terkecuali pak Slamet, pak Tembol, Petro, dan Saeful.


“Bagaimana pak Tembol, apakah teman tak kasat matanya sudah dapat sesuatu di dalam sana?” tanya pak Kades setelah selesai berjamaah di masjid dan sekarang sedang berkumpul di teras rumah pak Kades yang sengaja dipadamkan lampunya


“Dia belum balik pak, mungkin ada yang menarik bagi dia sehingga dia masih ada di sana untuk melihat apa yang sedang terjadi”


“Kadang memang saya dengar juga teriakan teriakan Suharto, dan kadang ada suara yang tidak jelas, seperti orang yang sedang bicara tanpa ada lawan bicaranya” kata pak Kades Slamet


“Apa sebaiknya bapak datangi juga ke sana pak?”


“Tidak usah pak Slamet, saya yakin Mbok Ju bisa mengatasi apa yang ada disana. Yang saya heran itu Sarinah, kenapa tidak ada suara tangisan atau teriakan Sarinah apabila bapaknya misalnya bicara sendiri begitu pak?” tanya pak Tembol


“Saya juga heran pak Tembol, didalam sana sama sekali tidak ada teriakan atau jeritan anak dia, saya dan istri sempat mengintip apa yang ada di dalam sana, tetapi tidak kelihatan karena gelap sekali”


Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit lamanya, tiba-tiba mbok Ju yang bertugas melihat apa yang ada di rumah itu kemudian datang.


“Orang itu menderita sakit jiwa pak, setelah dia menidurkan anaknya Sarinah, kemudian dia ke kamarnya yang penuh dengan mahluk ghaib, untungnya saya lebih tua dari semua mahluk ghaib yang ada disana”

__ADS_1


“Jadi tadi sempat ada perlawanan dari demit disana, dan untungnya saya bisa kuasai keadaan. Kata demit yang ada disana, Suharto stres  akibat kematian mbah Woto, dia kemudian lari ke alas yang ada di belakang sana”


“Alas yang hanya berupa semak belukar dan lembah yang merupakan kawasan mahluk ghaib. Disana dia menangis dan memanggil siapa saja yang bisa menghidupkan mbah Woto”


“Eh sebentar mbok Ju, mbok Ju bisa masuk ke raga saya atau Petro atau Saeful? agar pak Slamet bisa mendengar apa yang mbok Ju bicarakan?” tanya pak Tembol


“Ke raga saya saja mbok Ju” kata Saeful


“Jangan kaget lho ya kalau mbok Ju masuk ke ragamu nak, hehehe, siap siap ya” kata mbo Ju kemudian masuk ke raga Saeful


Saeful yang sudah dimasuki mbok Ju kemudian duduk di kursi yang ada di depan rumah pak Slamet, kemudian dia menceritakan seperti yang tadi diceritakan sebelumnya.


“Oh Jadi dia tidak rela kalau ayahnya meninggal, begitu ya mbok Ju” tanya pak Slamet yang memanggil Saeful dengan sebutan mbok Ju


“Ayo teruskan, apa yang terjadi selanjutnya mbok Ju” kata pak Tembol


“Nah waktu di alas belakang desa itu kebetulan ada demit usil yang mendatangi Soeharto, dia  sempat masuk ke raga suharto sebentar sebagai bukti bahwa dirinya memang ada dan bisa melakukan apa yang diminta Suharto”


“Tapi dia minta syarat untuk itu, dia minta tumbal dari keluarga Suharto, tumbal dari yang paling disayangi oleh Suharto untuk ditukar dengan kehidupan mbah To yang sudah dikubur” mbok Ju diam sesaat


“Aneh juga Suharto itu, ayahnya sudah mati dan sudah dikubur tetapi dia minta supaya ayahnya dihidupkan kembali” gumam pak Slamet


“Tentu saja dia keberatan dengan usul dari demit itu pak, karena dia harus melepaskan salah satu dari orang yang dia sayangi, tapi setelah dia pikir dengan cara tiap malam menyendiri di alas itu”


“Akhirnya dia memilih istrinya yang bernama Saritem untuk dijadikan tumbal agar bapaknya bisa hidup kembali. Dia memaksa Saritem untuk ikut ke alas itu, tetapi Saritem menolak, hingga berakhir dengan pengusiran dari rumah”


“Tidak itu saja, dia juga mengancam akan menyakiti Saritem atau Sarinah apabila Saritem tidak mau mengikuti perintahnya”


“Tapi menurut saya ada yang janggal, saya merasa demit yang ada di dalam tubuh Suharto itu bukan demit sembarangan”


“Tapi itu hanya perkiraan saya saja lho ya” lanjut mbok Ju


“Aduuuh kenapa energi yang sama dengan yang ada di tubuh Trimo bisa ada di tubuh Suharto, semakin rumit dan semakin berbelit belit saja kasus ini” guman pak Tembol


“Rasanya kita terkepung oleh orang-orang masa lalu yang sekarang menginginkan sesuatu yang belum mereka dapatkan” lanjut pak Tembol


*****


Selepas sholat isya berjamaah, mereka melanjutkan duduk di teras kecil rumah pak Slamet yang sebagian tertutup oleh tanaman melati yang tumbuh subur di sekitar pagar rumahnya.


Ketika mereka sedang sibuk dengan pikiran tentang Suharto, tiba-tiba pintu rumah Suharto terbuka lebar,  Suharto keluar dari dalam rumahnya. Malam-malam seperti ini harusnya dia di dalam rumah bersama anaknya.


“Lihat itu anak-anak, dia keluar rumah, tetapi dia masih ada di depan pintu rumahnya, kayaknya dia akan pergi entah kemana gitu” tunjuk pak Tembol


“Itu biasa pak Tembol, kalau jam segini itu dia selalu keluar rumah, atau mungkin mbok Ju bisa ikuti kemana dia akan pergi nanti. Karena saya tidak tau  kemana dia pergi kalau jam segini ini” kata pak Slamet


“Biar saya ikuti dulu pak kalau seandainya dia pergi agak jauh, mungkin ke alas belakang desa, mungkin pak Tembol bisa coba masuk ke rumahnya dan selamatkan putrinya pak” kata mbok Ju


“Wah terlalu beresiko itu Juriah, tapi idemu itu masuk akal juga, atau gini  saja. Kamu masuk ke rumahnya dan lihat dimana anaknya berada, nanti kalau sudah fix anaknya di mana baru kita bisa coba kesana” kata pak Tembol


“Tapi dengan catatan keadaan harus aman dulu, dan Suharto memang ke alas belakang rumah” tambah pak Slamet


“Kalian tunggu disini dulu saja saya akan kesana dan melihat bagaimana keadaan anaknya. Saya betul-betul marah dengan keadaan ini, anak kecil yang tidak tau apa-apa, jadi korban bapaknya yang gila” kata mbok ju sambil melayang


“Penduduk sini apa tidak kasihan dengan anak Suharto pak, apa tidak ada penduduk sini yang berusaha menyelamatkan anaknya itu?” tanya pak Tembol kepada Kades Slamet

__ADS_1


“Sebenarnya banyak pak Tembol, termasuk saya juga, tetapi tiap ada yang punya rencana untuk masuk ke rumahnya, dia selalu tau dan buru-buru pulang dengan membawa senjata tajam”


“Sudah beberpa kali  itu terjadi bahkan saya juga sudah lapor pihak yang berwajib terkait dengan kelakukan dia yang aneh itu”


“Tetapi kembali lagi pihak yang berwajib seakan akan malas untuk mendalami kasus ini, dan membiarkan dia tetap dengan keadaan seperti ini. Dia itu sebenarnya normal, tidak ada gangguan jiwa”


“Itu mbok Ju datang pak, semoga ada kabar baik pak” tunjuk Petro kepada sosok mbok Ju yang melayang


“Benar-benar biadab orang itu” kata  mbok Ju yang masuk ke raga Saeful lagi


“Dia mengurung Sarinah yang lucu dan nggemesin itu di kamar yang gelap di bagian belakang rumah. Dan yang bikin saya emosi adalah ada beberapa demit usil yang berjaga-jaga di depan rumah dan kamar belakang”


“Tadi sempat saya hajar demit usil yang umurnya jauh dibawah saya itu. saya sempat menangis melihat Sarinah yang tidur dengan mata tertutup dengan bekas air mata yang ada di pipinya!”


“Kurang anjeng orang itu!, bagaimana nak Saeful dan nak Petro?” kata pak Tembol dengan geram


“Lebih baik kita selamatkan dulu Saritem dan Sarinah, termasuk ibu Saritem juga, kita bawa ke tempat yang aman. Baru kemudian kita  bikin perhitungan dengan Suharto pak” kata Petro


“Saya setuju, sekarang yang selamatkan mereka biar nak Novi bersama Saeful, sedangkan nak Petro dan saya tetap disini untuk menghadapi orang biadab itu bagaimana?” tanya pak Tembol


“Saya setuju pak, Novi biar saya telpon dulu saja sekarang untuk membawa ibu Saritem dan saritem kesini menggunakan mobil gitu pak?”


“Saran saya, mobil nya jangan dibawa kesini, lebih baik mobil diparkir agak jauh dari sini saja , agar tidak terjadi keributan. Ada baiknya dilakukan dengan tenang pak Tembol, agar masyarakat disini tidak ketakutan”


“Sudah begini saja nak Petro, suruh Novi siap-siap dengan  Saritem dan ibunya sudah ada di dalam mobil, nanti kita culik Sarinah dari sana dan kita ajak jalan ke rumah Saritem”


“Begitu saja saya kira lebih baik untuk sementara ini” kata pak Tembol


“Ya sudah,kita tunggu mbok Ju datang dulu saja, setelah itu kita bisa lakukan sesuatu kepada demit yang ada di rumah Suharto itu” Kata Petro yang sedang mengelus elus Semprul yang ada di sebelahnya


“Semprul sudah siap mengedel-edel demit yang ada di rumah itu pak” kata Perto


Tidak lama kemudian mbok Ju datang, dan ternyata dia tidak sendirian dia kelihatannya tidak sendirian. Dia membawa demit yang mungkin berusia muda di sebelahnya.


“Siapa itu mbok Ju, dan kenapa dibawa kesini?’ tanya pak Tembol


“Ya ini yang disebut komandan demit yang menjaga rumah Suharto, saya bawa kesini biar dia dimusnahkan oleh Semprul saja!” bentak mbok Ju yang masuk ke tubuh Saeful lagi


“Tarik semua yang jaga di rumah itu  atau anjingku akan membinasakan kamu!” bentak Petro


“Jangan nak Petro, dia kan komandan yang membawahi anak buah yang ada di rumah itu, kalau dia kamu musnahkan bagaimana dengan anak buahnya hihihih” sindir pak Tembol


“Siapa yang suruh kamu untuk jaga rumah itu dan dikamar anak itu, ayo jawab” kata pak Tembol


Demit yang berupa anak kecil dengan wajah rusak itu hanya diam dan menunjukan gigi taringnya saja, dia tidak bicara sama sekali hingga kemudian Semprul mendekati anak kecil itu.


Semprul memamerkan gigi taringnya yang berkali kali lebih besar dari pada gigi anak itu. Semprul juga menempelkan  giginya di kepala demit yang ada di depan mereka itu.


Demit usil itu diam dan nampak ketakutan ketika melihat Semprul yang siap untuk membinasakan demit usil  yang biasanya suka mengganggu manusia itu.


“Katakan saja siapa yang suruh kamu dan apa hubunganya dengan Suharto” kata mbok Ju yang entah bagaimana bisa mengajak demit kecil itu datang ke situ


“Saya suruhan atasan saya yang ada di dalam tubuh Suharto hehehe, dan kalian semua akan mati sebentar lagi hahahah”


Tidak lama setelah demit itu selesai berkata, tiba-tiba Semprul sudah memakan demit itu hingga tidak berbekas.

__ADS_1


“Benar yang dilakukan Semprul, karena dia sedang berusaha mengirim informasi ke iblis yang ada di dalam tubuh Suharto” kata mbok Ju


__ADS_2