MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 205 ( TONO SI PENJILAT )


__ADS_3

Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur, warkop ini masih sepi hanya mereka berdua saja pembeli yang ada disana sambil menunggu penjaga malam pak Tono yang akan muncul di sana juga.


Pak Han dan Blewah sebenarnya sudah ngantuk, karena mereka semalaman tidak tidur sama sekali, tetapi demi sebuah informasi dagi Tono mereka rela ada di warkop yang dulunya adalah warung kecil milik mbah Joyo.


“Nah akhirnya datang juga yang kita tunggu-tunggu” kata penjual kopi itu tiba-tiba


Dari pagar hotel memang nampak seseorang yang kemarin pagi sarapan pecel bersama pak Han, Blewah, dan Dogel. Orang yang bernama Tono itu mendatangi warkop  yang posisinya ada di depan hotel tempat dia kerja.


“Halo mas Tono… kopi seperti biasanya?” tanya penjual kopi itu


“Iyo cak Met, item koyok biasane” jawab Tono singkat


“Wah.. ada bapak … hehehe, maaf pak saya ikut ngopi disini” kata Tono ketika melihat pak Han dan Blewah disana


“Ya ndak papa to mas.. eh mas Tono ya nama sampeyan?” kata pak Han


“Iya pak, hehehe . lha bapak apa ndak sarapan pecel seperti kemarin lagi?”


“Nanti mau cari yang lainya mas, karena teman saya satunya masih tidur” jawab pak Han


“Gimana mas Tono, soal pompa air yang rusak itu, apa bos sampeyan ndak marah?”


“Hehehe jelas marah pak, tapi bukan pada saya, yang kena ya si Dollah. tapi ndak tau lagi soalnya setelah selesai di belakang kan saya balik ke pos  saya yang ada di sebelah kiri hotel itu pak”


“Tapi pompa air yang rusak itu apa sudah bisa diperbaiki mas?”


“Hehehe gimana mau perbaiki pak wong rusaknya parah gitu,  harus ada part yang diganti. Part itu nanti mau ditanyakan dulu di toko yang ada di kota besar” jawab Tono


“Oh gitu mas, semalam waktu saya ada di teras kamar kan, saya ngobrol sana bos sampeyan gitu. Tapi waktu ada di belakang kok ndak ada nada marah  sama sekali ya mas”?


“Hahahaha marahnya ndak di sana pak, marahnya ya di ruangan belakang hotel pak hehehe”


“Oh gitu makanya kok ndak ada suaranya waktu di belakang sana itu”


“Eh mas Tok, tapi kok ndak ada nyala warna warninya lho hihihihi” sahut penjaga warkop


“Berarti ngamuke  gak nemen iku cak Met, nek ngamuke nemen pastine yo di atas hotel ada cahaya warna warnie hehehe”


“Maksudnya apa mas, kok kalau marah ada cahaya warna warni, memangnya ada lampunya mas heheheh” canda pak Han


“Saya juga ndak tau kenapa bisa gitu pak, tapi memang bos saya kalau marah itu di atas hotel ada cahaya warna warni, itu si cak Met yang sering lihat, saya sih kalau bos lagi marah ya saya tinggal saja di pos hehehe” jawab Tono


“Oh iya mas Tono, waktu kalian bersama bos ke belakang kan ada lima orang yang ikut ke sana, lalu kenapa kok yang kembali hanya empat orang mas, yang satu orang apa ditinggal di pompa air untuk jaga disana?”


“Ah ndak pak, kita cuma empat orang. saya, bos Nabil, Si nggapleki Dollah, dan satu lagi bagian teknisi di hotel, dah itu aja yang kesana pak”


“Ah masak saya salah lihat sih pak, orangnya berdiri di belakang bos sampeyan, tinggi dan kurus, wajahnya lonjong”


Tiba-tiba Wajah Tono menegang dia tidak tertawa lagi ketika  pak Han menjelaskan ciri-ciri orang yang ikut bersama mereka. kopi yang tadi dia mau tuang ke lepek pun ditaruh lagi.


“Jangan-jangan orang itu……”


“Sebentar Cak Met.. kopiku jangan diringkesi dulu, aku mau bilang ke bos dulu”


“Permisi pak, saya harus melaporkan ke bos dulu kalau dia bikin ulah lagi” kata Tono yang kemudian pergi dari warung kopi  dengan tergesa-gesa


“Nah itulah Tono pak, dia itu tiap dapat info selalu lapor ke bosnya, dia tidak mau keduluan Dollah yang juga berusaha menjilat bosnya hehehe” kata penjaga kopi yang ternyata dipanggil Cak Met itu


“Ya sudah cak Met, kami mau istirahat dulu, itu kopinya Tono biar saya saja yang bayar. kita ketemu lagi nanti malam mas heheheh” kata pak Han


“Ok pak, saya juga mau balik pak, tinggal nunggu pengganti saya datang dulu ini” jawab cak Met


Matahari mulai muncul, gelap berangsur-angsur menjadi terang. Pak Han dan Blewah berjalan menuju ke  hotel. ketika mereka ada di sekitar taman bunga dan kolam ikan,  tiba-tiba pintu lobby hotel terbuka.


“Pak Han ada yang keluar dari lobby hotel, kita gimana ini pak?”

__ADS_1


“Tenang aja mas Blewah, jalan biasa saja, kita kan juga bawa kopi plastikan kan, kita kan juga punya alibi bahwa kita habis dari warkop depan hotel”


“Iya pak, saya lupa kalau kita ini tamu hotel yang tidak punya salah apa-apa hehehe” kata Blewah


Mereka berjalan dengan santai sambil sesekali menyeruput kopi yang sudah agak dingin itu…


Dan ternyata yang baru keluar dari lobi hotel itu adalah Nabil, dia tidak sendirian, tetapi bersama dengan Tono yang sedang asyik bicara dengan Nabil.


“Coba lihat mas, Tono dengan berapi api menjelaskan sesuatu kepada Nabil, hehehe dia belum tau siapa Nabil itu hihihi” bisik  pak Han


Posisi Nabil dan Tono ada di parkiran mobil, Tono sedang menjelaskan dengan tangan yang menunjuk ke mana mana, ketika Tono melihat pak Tembol dan Blewah, tiba -tiba dia memanggilnya.


Padahal jarak antara mereka berdua dengan pak Han dan Blewah sekitar 10 meteran…


“Pak… sini pak, tolong jelaskan kepada bos saya yang bapak lihat tadi” panggil Tono kepada mereka berdua dengan agak berteriak dengan tidak sopan


Tono memang tipe seorang penjilat yang aktif dia berusaha meyakinkan bosnya dengan apa yang dilihat oleh orang lain, bukan dilihat oleh dia sendiri.


Nabil menoleh ke arah pak Han dan Blewah yang berjalan santai sambil menyedot kopi plastikan mereka berdua. Mereka berdua berjalan dengan santai menghampiri Tono dan Nabil.


“Ada apa mas Tono, kok teriak teriak gitu kepada kami berdua. sampe kaget saya rasanya” kata pak Tembol dengan santainya


Sekarang pak Han dan Blewah bisa melihat dengan jelas wajah Nabil yang putih pucat, dia memakai kacamata hitam yang cukup lebar untuk melindungi mata dia. Padahal sinar matahari masih malu-malu muncul.


“Selamat pagi pak, saya yang semalam sempat ngobrol sama bapak di samping itu pak” kata pak Han


“Eh pak, tadi waktu di warkop depan bapak cerita kepada saya kalau melihat seseorang yang tinggi kurus diantara kami waktu malam tadi kami  periksa pompa air yang ada di belakang itu, betul kan pak?” tanya Tono


“Hehehe iya saya lihat, tetapi waktu itu kan malam hari dan mata saya juga kurang fokus antara empat orang atau lima orang gitu pak, makanya saya tadi tanya kamu mas Tono, ada empat atau lima orang”


“Tadi saya mau jelaskan mas Tono sudah keburu kabur masuk hotel, padahal kopi sampeyan belum diminum sama sekali  tuh” kata pak Han dengan santainya.


“Ah dasar kamu Tono!.... tidak beda dengan Dollah, sama saja selalu sesuatu yang belum jelas yang kalian laporkan kepada saya” kata Nabil dengan nada bicara yang agak keras


“Mohon maaf sebesar=besarnya eeh pak Han nama bapak?, pegawai saya memang seperti ini, dia selalu melaporkan sesuatu yang belum jelas”


“Saya mohon pamit dulu, karena ada keperluan lain yang harus saya lakukan” kata Nabil dan kemudian pergi meninggalkan kami bertiga


Nabil pergi meninggalkan hotel dengan menggunakan mobil berwarna hitam yang berbeda dengan mobil yang dipakai ketika dia datang ke vila putih.


“Mas Tono…. apa yang tadi malam saya lihat  itu kan kurang begitu jelas, makanya saya tanya ke mas Tono, jadi bukanya saya lihat bahwa benar-benar ada orang lain” kata pak Handoko.


“Heheheh iya pak, tadi saya kesusu kasih kabar kepada pak Bos saya ya heheheh” kata Tono dengan cengengesan


“Tapi memang kalu ada orang tinggi kurus itu bukan manusia pak, itu sebangsa demit yang suka nyamar” kata Tono


“Ndak papa mas Tono, gimana tadi bos sampeyan waktu mbok kabari kalau saya lihat orang selain empat orang yang ke taman belakang itu?”


“Dia kaget pak, dia kayak kebingungan gitu pak, tapi setelah itu dia santai lagi”


“Ya jelas bingung lah mas Tono, kok ada orang lain yang ikut dengan kalian waktu itu”


“Ya sudah  mas Tono sampean istirahat saja dulu mas, kapan-kapan kita ngobrol lagi, saya mau antar tamu jalan-jalan dulu sekalian perpanjang menginap disini mas”


Pak Han dan Blewah jalan lagi menuju ke kamar 5+, sementara Tono pulang ke rumahnya setelah ada penjaga yang menggantikan dia untuk shift siangnya.


“Pak, sayang tadi saya tidak bisa lihat mata Nabil. Tapi saya yakin dia tadi sedang melihat ke arah saya terus pak. saya merasa ada sesuatu yang sedang mempelajari diri saya” kata Blewah


“Iya mas, meskipun saya tidak bisa melihat mata dia, tapi saya juga merasa dia sedang melihat ke arah mas Blewah terus menerus, mungkin dia curiga dengan Mirah yang ada di dalam tubuh mas Blewah”


*****


“Siang ini harus ada yang melapor ke vila putih tentang apa yang kita kerjakan disini, sekalian bilang ke mereka rencana kita selama disini” kata pak Han


“GIni aja pak, biar Novi dan mas Dogel saja yang kesana”

__ADS_1


“Kalau keadaan seperti ini kita harus punya telepon seluler mbak Novi. jadi kita tidak susah susah ke sana hanya untuk mengabari apa yang akan kita lakukan”


“Lha kalau disini enak pak, Novi bisa charges di hotel, lha yang ada di vila putih kan tidak ada listrik pak, bagaimana mereka mau ngecharge ponsel mereka apabila baterainya habis?”


“Begini saja, eehmm minta bantuan ke mas Saeful saja, jadi ponsel mereka di charges di masjid saja bagaimana?”


“Hehehe mas Saeful kan sudah ndak mau ketemu sama Novi lagi pak hihihi” kata Novi  tersenyum getir


“Pagi ini mbak Novi dan mas Dogel ke vila putih, dan tolong beli dua sim card untuk kita disini dan untuk mereka. nanti setelah sampai sana bicarakan apa saja rencana kita” kata pak Han


Kemudian suruh mereka untuk charger ponsel mereka di masjid tempat mas Saeful.


“Saya yakin mas Saeful akan membantu kalian, karena saat ini kita terbagi dua, disini dan di vila putih, kita harus saling kasih kabar satu sama lain mbak” kata pak han


“Ok pak, tapi saya sebelumnya mau ke rumah mbah putri saya dulu pak, siapa tau ada yang bisa kita pergunakan pak, sekalian saya mau menyambung batin saya dengan mbah saya dulu” kata Dogel


“Ndak papa mas, tapi bagaimana dengan mbak Novi?”


“Novi gak papa kok mas, ayo kita berangkat sekarang saja mas, supaya tidak terlalu sore sampai disini lagi”


*****


Di perjalanan menuju ke rumah mbah putri Dogel yang ada di kota Mjkt.


“Mbak Novi, eh sebenarnya saya ke rumah mbah ini karena saya ingin minta bantuan mbah Putri, dan biasanya mbah putri munculnya malam hari”


“Kalau seumpama saya ijin ke pak Han untuk pulang dan menginap di rumah kira-kira boleh apa ndak ya mbak?”


“Heheheh Novi sih ndak masalah mas, mau nginep sekarang juga ndak papa hihihi”


“Hoooeeee ndak  hahaha ya ndak sama mbak Novi lah, huuuuu apa kata orang kampung kalau lihat saya bersama perempuan cantik macam mbak Novi ini hihihi”


“Maksud saya ini saya ingin pulang sore hari sampai pagi hari  gitu mbak,hehehe”


“Pasti ya ndak masalah mas, kan tujuan nya juga karena mas Agus akan bertemu dengan mbah putri kan”


“Tapi apabila mas Agus mau ajak Novi kesana juga ndak masalah kok mas, Novi ini aman kok mas hehehe”


Perjalanan dari pct ke mjk cukup cepat karena pagi ini tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di sekitar jalur mereka. hanya saja ada sedikit ketersendatan ketika mereka masuk ke kota mjkt.


“Mbak Kita kan belum sarapan, mau gak makan soto di depan gang rumah?”


“Jelas mau mas, Novi sudah lama ndak makan soto”


“Yo wis nek gitu, sebelum masuk ke gang mbahku kita berhenti di bakul soto langganan dulu ya heheheh”


Setelah melewati makam pahlawan mobil berjalan pelan-pelan dan berhenti di sebuah warung soto ayam depan gang.


“lho mas Agus datang lagi hehehe, mau nginap di rumah mbah Putri lagi?” tanya penjual soto yang kenal dengan Dogel


“Nggak mas, kapan-kapan saja saya kesini lagi. Soto dua ya mas, sama es teh dua”


“Heheheh iku pacare mas Agus ta? kok ayu men mas”


“Ngawur ae, iku bosku cak!....bojone bosku wong angkatan, iso di samblek awakmu kapok koen heheheh”


“Oalah heheh sepurane mas Dogel, tak pikir wedok ayu iku pacare sampeyan”


Setelah selesai makan, aku dan Novi menuju ke rumah mbahku yang tidak jauh dari warung soto.


“Tadi yang jual soto itu bilang apa mas?”


“Dipikir mbak Novi itu pacar saya, saya bilang aja kalau mbak Novi itu bos saya hehehe”


“Ya sakjene ndak papa juga kok mas kalau mas Agus bilang Novi ini pacarnya mas Agus kok heheheh”

__ADS_1


Mas Agus ke rumah mbah Putri mau apa sih mas?”


“Hehehe yang pertama saya mau ambil uang dulu, karena saya sudah kehabisan uang soalnya mbak. Yang kedua saya mau berdiam diri sejenak di kamar mbah Putri”


__ADS_2