
"Ada baiknya kita masuk lewat pintu depan saja rek, nanti sampai dalam kita buka semua jendela dan semua pintu agar suasana vila ini tidak nampak mengerikan, mumpung masih siang ini rek" Kata Ali memberikan Ide
"Iya mas, sekalian kita bersihkan vila ini sebisa kita mas, karena mungkin kita nantinya akan nginap disini mas hihihi" kata Novi
"Lhe lak ngawur Novi iki, ngapain juga kita nginap disini Nov, golek perkoro ae arek iki" sahut Tifano
"Ndak gitu mas Tif, kita kan ndak tau setelah puluhan tahun kemudian apa yang sebenarnya terjadi disini, karena kok rasanya ada yang suruh Novi untuk tinggal disini untuk sementara waktu mas"
"Ngene ae lho Nov, kita liat dulu keadaan didalam sana, kita bersihkan semampu kita dulu, kalau memang di dalam itu layak untuk ditinggali, ya kita bisa tinggal disini sambil menunggu kemunculan pak Tembol" Ali berusaha menengahi
"Aku setuju idene Ali rek, ayo kita periksa di dalam sana dan buka semua pintu dan jendela vila rek. Aku wis gak sabar pingin nostalgia di dalam vila itu rek heheheh" potong Gilank
Akhirnya mereka berdelapan sekarang menuju ke teras vila, teras vila siang ini bener-bener menampakan aslinya, tembok teras yang ndak karuan, keramik teras yang pecah dan lepas, dudukan teras tempat awal mula Wildan nganu Ibor juga retak dan sebagian pecah.
Gilank seperti biasanya sudah ndak sabar untuk masuk ke dalam vila. Dia kemudian maju ke depan pintu vila yang warna kayunya sudah ndak karuan, untungnya kayunya terbuat dari jati, sehingga pintu itu masih terlihat kokoh.
"Pintune tak buka yo rek" kata Gilank yang sudah ada di depan pintu vila
Ketika Handle pintu dia raih, dan dia tekan ke bawah, kemudian pintu vila akan dia tarik agar terbuka, tiba-tiba
"STOOOOP JANGAN BUKA PINTU ITU, ATAU KALIAN AKAN SAYA BUNUH" teriak suara laki-laki yang intonasinya sedikit bergetar dari arah taman vila
Suara itu kelihatanya berasal dari orang yang lebih tua dari mereka, dan sedikit bergetar, tapi cukup keras juga untuk mengagetkan kedelapan orang itu
"PERGI DARI SANA!.... VILA INI BUKAN UNTUK ORANG-ORANG YANG ISENG!" teriaknya lagi
Kedelapan remaja itu tolah-toleh, karena hanya ada suara tanpa ada wujudnya, suara itu kedengarannya berasal dari sekitar taman ini, cuman pemilik suara itu tidak nampak disini.
"Heh pak ojok wani silit wedi rai. Ayo tunjukan raimu kalau memang jantan pak" teriak Gilank
"Iya mas, gak kayak Novi, wani silit wani rai mas hihihihi"
"Kalau ndak keluar dari tempatmu sembunyi kami akan masuk ke dalam vila ini" kata Ali dengan suara yang tegas dan lumayan keras
"Ayo masuk ae, gak ada sahutan dari suara yang mbengok itu rek" ajak Wildan
"C*k Wil, kamu kan bukan hantu, gak usah gaya-gaya masuk ke sana c*k" potong Broni
__ADS_1
"Sik rek, tapi aku kok merasa agak kenal dengan suara yang teriak tadi rek. Coba kalian gali memori otak kalian beberapa bulan kebelakang" Kata Dani
"Novi yakin itu suara pak Tembol mas, tapi kenapa dia harus sembunyi sih, kenapa tidak mau keluar dari tempat dia sembunyi. Jangan-jangan pak Tembol memang sekarang sudah ndak waras mas hihihi"
"PAK TEMBOOOOL INI KAMI NOVI, DANI, ALI, BRONI, UKIK, TIFANO, WILDAN, DAN, GILANK PAK!" teriak Novi
Tetapi tidak ada sahutan dari sekitar vila itu. Yang ada hanya suara angin dan daun-daunan yang saling bergesek terkena angin.
"Ayo kita masuk saja rek, tetapi kita harus hati-hati rek, siapa tau di dalam sana ada jebakannya" kata Broni
"Wis yoooo rek, pak Tembol kami permisi mau masuk ke rumah putih paaaak" kata Ukik sambil tolah toleh.
"Pak Temboool, kami minta ijin mau masuk dan bersihkan vila ini pak, biar agak bersihan sedikit pak" kata Novi
"Monggo masuk... Masuk nak, hihihih" jawab Gilank
Akhirnya mereka nekat masuk kedalam vila, pintu vila mereka buka lebar-lebar agar cahaya matahari bisa masuk sedikit, agar di dalam sini tidak gelap menakutkan.
Keadaan seperti semalam ketika mereka berdelapan masuk ke dalam sini, tetapi siang ini lebih jelas lagi, keadaan yang porak-poranda dan banyak barang yang hilang juga.
"Usahakan jendela-jendela itu bisa dibuka mas, agar udara di dalam sini bisa berganti dengan udara segar. Ingat mas, kita ini juga pemilik vila ini, jadi perlakukan vila ini dengan baik mas" kata Novi
"Apa yang harus kita lakukan Nov, hehehe, keadaan vila hancur berantakan koyok ngene, perabotan juga pada hancur, dan sama sekali tidak ada lukisan, foto atau hiasan hiasan" kata Tifano
"Koyoke vila ini pernah dirampok rek" lanjut Gilank
"Iyo Lank, berpuluh tahun tanpa ada yang mengurusi, pasti banyak yang merampok vila ini" tambah Ukik
"Tapi lebih baik kita coba masuk ke dalam kamar depan rek, kamar tempat Dimas pernah disana dengan segala percobaan anehnya rek" ajak Wildan
"Sik bentar Wil, kalian ingat ndak di dalam itu ada apa saja selain berbagai macam peralatan Dimas hehehe, ada dua mayat kan kalau ndak salah, mayat yang ada di dalam kotak" kata Tifano
"Ingat ndak waktu itu Ali yang kakinya kejatuhan sesuatu disana dan diselamatkan Kamidi, kemudian ada kotak yang baunya busuk dan ada darah yang keluar dari sana" kata Tifano
"Huiiik iya ya Tif, tapi kan ini sudah puluhan tahun lalu, pasti sudah ndak ada apa-apanya disana lah" tukas Wildan
"Lebih baik intip dulu aja dari pintu rahasia yang ada di diding itu mas, kalau pintu itu masih ada lho ya mas hehehe"
__ADS_1
"Kene, biar aku ae sing lihat kedalam, kalian memang penakut ecek-ecek kok c*k" kata Gilank kemudian mencari pintu rahasia untuk masuk ke dalam kamar depan
"Awas Lank, pintu itu ganjal pakek kakimu, biar gak nutup, kalau nutup ya kamu disana selamanya c*k" kata Broni
Saat ini mereka sedang sibuk untuk explore keadaan dalam vila, karena dipikiran mereka, nostalgia itu lebih penting dari pada keselamatan mereka. Mereka tidak memperhitungkan faktor keselamatan di dalam vila itu.
Padahal sudah puluhan tahun vila ini kosong, harusnya mereka lebih sangat berhati-hati ada didalam situ. Dan satu lagi, tentang suara larangan masuk vila dari suara tanpa sosok itu.
Suara agar mereka tidak masuk ke dalam vila, itu mungkin peringatan bagi mereka agar tidak masuk ke tempat yang berbahaya di situ.
Tapi biarlah mereka nostalgia dengan keadaan disana, saya sebagai penulis cukup mendengarkan saja cerita mereka dan saya tulis sesuai apa yang mereka katakan kepada saya.
Gilank mendorong sisi dinding dalam ruang tamu yang tembus ke dalam kamar depan, ternyata benar, dinding itu masih seperti dulu, dinding itu masih bisa dibuka.
"Hehehe masih bisa dibuka rek" kata Gilank yang mendorong sedikit pintu dinding itu. Gilank belum mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, tetapi hanya mendorong sedikit sekali.
"Eh Lank, ada baiknya jangan langsung dibuka, takutnya dari dalam keluar gas beracun atau apalah, karena kan kamar itu tidak pernah dibuka" Kata Dani yang dari tadi diam membisu
"Iya mas Gilank, lebih baik kita explore di sekitar ruang tamu, ruang tengah, dapur saja dulu, sama buka jendela yang ada di sekitar sini mas, agar udara segar masuk dulu mas. Setelah itu baru kita masuk ke dalam kamar satu persatu
Mereka tidak sadar kalau tingkah laku mereka sedang diawasi oleh seseorang yang sekarang ada di sekitar teras vila. Kedelapan remaja itu benar-benar tidak memperhatikan keadaan luar vila, karena mereka berdelapan sedang sibuk memperhatikan keadaan didalam.
Ketika kedelapan remaja itu akan membuka pintu belakang yang tembus dengan halaman belakang tiba-tiba orang yang ada di teras depan itu berteriak lantang.
"STOOOOOP, JANGAN DIBUKA!, KALIAN BISA CELAKA!" teriak orang yang ada didepan teras.
Seketika kedelapan remaja itu menoleh ke arah depan, ke arah teras. Tetapi karena di luar cahaya matahari sedang terang dan keadaan di dalam vila gelap mengakibatkan mereka tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di depan pintu vila itu.
"KELUAR KALIAN DARI DALAM RUMAH INI SEKARAAANG!" teriak laki-laki yang ada di depan pintu ruang tamu vila
"Kami pemilik vila ini, kami mencari pak Tembol saudara kami" teriak Gilank yang selalu dalam keadaan berani dan nekat
"SIAPA NAMA KALIAN SEMUA. SEBUTKAN SATU PERSATU!" teriak laki-laki yang sampai sekarang kedelapan remaja itu belum bisa melihat penampakan wajah dan tubuhnya, karena terhalang dengan silaunya matahari yang ada diluar.
"APA PERLUNYA SAMPEYAN TANYA NAMA KAMI"sahut Tifano yang kemudian mendatangi laki-laki yang sedang berdiri di pintu yang terbuka.
Hehehe mereka pasti menyangka kalau yang ada di luar itu adalah orang yang mirip pak Tembol, tetapi ada yang aneh dengan orang yang satu itu, tapi kita tunggu setelah Tifano mendekati dan mengajak omong laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu itu.
__ADS_1
Tifano dengan gagah dan penuh keyakinan mendatangi orang yang ada di depan pintu itu, dia merasa yakin apabila orang yang ada di depan pintu itu pak Tembol. Tidak hanya Tifano ketujuh teman dia juga yakin kalau yang ada di depan itu adalah pak Tembol hingga...