
Pagi hari yang sejuk di dalam vila putih, tetapi sayangnya yang sudah bangun untuk pagi ini hanya pak Tembok dan pak Handoko. Sedangkan Dimas yang dari semalam pergi hingga pagi ini belum juga datang.
Semalam Dimas memang pamit akan menemui Suharto, tetapi hingga kini dia belum juga kembali.
“Dimas apa belum datang dari semalam kah pak Han?”
“Belum kayaknya, saya kan semalam tertidur di sofa ruang tengah ini” jawab pak Han
“Semalam dia kan mau temui Suharto yang sudah ndak waras kan, tapi harusnya hanya sebentar saja” kata pak Han
“Apa saya cari Dimas di depan sana?” tanya pak Tembol yang melangkah ke luar vila
“Ayo…. saya ikut juga, sudah lama saya ada di dalam vila ini, mumpung masih pagi kita bisa jalan-jalan ke depan vila”
Mereka berdua akhirnya keluar vila untuk mencari Dimas yang dari semalam belum juga pulang.
*****
Sarinah yang tadinya bersama dengan neneknya di dapur kemudian menuju kamar tempat tiga mahasiswa dan Novi yang sedang tidur, dia membuka kamar itu kemudian masuk ke dalamnya.
Sementara itu Saritem ibu Sarinah sedang membantu ibunya untuk menyiapkan kopi dan sarapan bagi penghuni vila, dia membiarkan anaknya Sarinah ke dalam kamar Novi, mungkin Sarinah sedang kangen dengan Novi.
Pagi yang cerah dan sejuk, Sarinah duduk di sebelah Novi yang tidur di karpet rumah, Sarinah duduk di sebelah kepala Novi yang kelelahan akibat apa yang terjadi semalam.
Sarinah mengusap wajah Novi, dia mengelus rambut Novi yang berwarna coklat dan agak berantakan kondisinya, dengan usapan lembut Sarinah mengelus Novi.
“Tante cantik capek ya…..”
Sarinah bergumam sambil mengelus pipi novi yang terlihat berkeringat akibat semalam dia memforsir tenaganya agar Kaswadi mengikuti energinya.
“Pipi tante cantik merah-merah, pasti sakit ya tante…..”
Sarinah tetap bergumam sambil terus mengelus pipi dan rambut Novi, tangan dan lengan kecil Sarinah dengan rasa sayangnya mengelus Novi hingga Novi membuka matanya.
Novi yang benar-benar lelah itu membuka sedikit matanya, dia nampak lelah sekali hingga matanya terlihat merah tidak seperti biasanya.
“Eh ada Sarinah..” Novi memaksa untuk tersenyumm kemudian dengan posisi tidur dia mengulurkan tangannya untuk meraih Sarinah dan mencium kening gadis kecil buah hati dari Suharto dan Saritem
“Tante kalau masih capek jangan bangun dulu….”
“Sarinah kesini karena kangen sama tante cantik teman mbah kung”
“Heheheh tante memang lelah Sarinah, tapi setelah ada kamu, rasa lelah tante tiba-tiba hilang dengan sendirinya”
Novi masih dalam posisi tiduran sambil bicara dengan Sarinah, perlahan-lahan Novi berusaha duduk tetapi mungkin karena terlalu lelah dia terjatuh ketika berusaha untuk duduk.
“Maaf ya Sarinah tante belum bisa duduk, tante capek sekali hingga untuk duduk saja susah”
“Tante cantik ndak usah duduk, biar Sarinah tungguin tante saja disini” kata Sarinah dengan tersenyum cantik
Suara Sarinah dan Novi akhirnya membangunka Winna, Chandra dan Chinta
“Wah ada Sarinah disini lagi nungguin tante Novi ya Sarinah” kata WInna yang sedang duduk di karpet
Kemudian berturut turut Chandra dan Chinta pun bangun. Ketiga perempuan itu juga senang dengan Sarinah, mereka bertiga menyapa dan menjawil gemes pipi Sarinah sebelum mereka keluar dari kamar.
“Mbak…. maaf Novi belum bisa bantuin di dapur, tubuh Novi masih sangat lemah”
“Nggak papa Nov biar kami bertiga saja yang urus bagian dapur” kata WInna
“Di dapur ada ibu Sarinah dan nenek Sarinah kok mbak”Jawab Sarinah tiba-tiba
“Iya anak cantik… nanti kami akan bantu ibu dan neneknya Sarinah juga kok” Jawab Winna
Ketiga perempuan itu keluar kamar, sehingga yang ada di kamar menyisakan Sarinah dan Novi saja.
“Tante cantik, tadi malam Sarinah mimpi ketemu sama mbah kung, Tapi disebelah mbahkung ada mbah perempuan yang Sarinah ndak kenal”
“Trus kemudian mbahKung bilang kalau mbah perempuan itu adalah mbah Uti. Mereka berdua tersenyum kepada Sarinah. Tapi mereka tidak bicara apa-apa tante”
“Mungkin mbah kung Marwoto dan mbah Uti Suparmi kangen sama kamu Sarinah”
“Kok tante cantik tau nama mbah Uti itu adalah mbah Suparmi? memangnya tante cantik pernah ketemu dengan mbah Utinya Sarinah?”
__ADS_1
Novi berusaha duduk di karpet, tetapi gagal, dia terlalu lemah untuk mengangkat tubuhnya sendiri..
“Hehehe tante masih belum bisa duduk Sarinah, ndak papa kan tante sambil tiduran gini?”
“Tante jangan duduk dulu kalau belum kuat… tunggu Sarinah mau ambilkan teh hangat untuk tante dulu ya. Tadi ibu dan nenek lagi bikin teh kok”
Sarinah kemudian berdiri dan keluar dari kamar dengan setengah berlari menuju ke dapur untuk menemui ibunya dan neneknya.
Novi yang masih dalam keadaan lemah hanya bisa tiduran saja di karpet yang ada di kamar.
Tidak lama kemudian Sarinah datang, cara berjalan dia yang sangat pelan-pelan itu sangat lucu, karena di tangan dia ada satu gelas teh hangat yang dia bawa menggunakan nampan.
Sangat pelan dan berhati-hati hingga dia ada di depan Novi yang masih tergolek lemah.
“Aduuuuh Sarinah kok pinter ya, udah bisa bawa nampan lho hehehe”kata Novi yang masih dalam kondisi tiduran.
“Sarinah kan diajarin sama ibu Sarinah tante….”
Perlahan-lahan gadis kecil cantik itu menaruh segelas teh hangat di sebelah Novi.
Novi yang memang haus itu kemudian berusaha duduk agar bisa mengambil teh, setelah dipaksakan untuk duduk, akhirnya dia bisa duduk dengan tangan kirinya menopang tubuhnya.
Perlahan-lahan Novi meminum teh yang dibawakan oleh Sarinah…
“Terima kasih ya Sarinah cantik, Memang tante sedang haus sekali tadinya”
“Iya tante cantik, eh tante… tante tadi kan belum jawab, Tante kenal saya mbah utinya Sarinah ya?”
“Jelas tante kenal sekali Sarinah, tapi itu jaman dulu, waktu eehhmm gimana ya, sulit jawabnya adik cantik hihihih” Novi jelas kesulitan menjawab pertanyaan Sarinah
“Memangnya Sarinah kenapa to kok tanya tante ini kenal sama mbah Uti segala?”
“Karena dalam mimpi Sarinah, mbah uti itu sedang bersama dengan tante cantik dan teman-teman tante cantik yang ada disini itu”
“Hehehe mimpi itu bunga tidur Sarinah cantik, tapi memang benar mimpi Sarinah, karena tante dan teman tante itu dulu juga teman mbah Kung dan mbah uti”
Seketika Sarinah tersenyum ketika tau bahwa mereka yang ada disana, teman-teman Novi adalah teman mbah Uti Sarinah juga.
“Sarinah, memangnya di mimpinya Sarinah, mbah kung dan mbah Uti lagi ngapain?”
“Eh tante….Tante tau ndak kalau ayah Sarinah itu kalau dirumah, di kamar depan suka ngomong sama hantu”
“Ah masak sih Sarinah, memangnya Sarinah tau dari mana?” Novi mulai tertarik dengan cerita Sarinah
“Iya tante, semenjak ayah usir ibu dari rumah, terus di kamar ayah sering bicara sendiri, eh kalau ndak salah hantunya itu punya nama lho tante”
“Ah masak ada hantu punya nama sih nak, hantu kan udah mati mana dia itu punya nama?’ pancing Novi
“Beneran tante, mungkin hantunya itu perempuan soalnya namanya itu nama perempuan”
“Ah yang bener Sarinah hehehe, Sarinah emangnya tau dari mana kalau hantunya itu perempuan?”
“Ayah suka teriak teriak dan ngomong sendiri tante…”
“MBOK GINTEN…. PERGI KAMU DARI SINI, SAYA SUDAH MUAK SAMA KAMU!” kata Sarinah menirukan gaya Suharto sambil berkacak pinggang di depan Novi yang sekarang sudah bisa duduk
Novi kaget ketika mendengar nama Mbok Ginten yang disebutkan Sarinah tadi. Novi termenung sesaat dan berusaha mengingat apa yang terjadi waktu mereka berusaha menahan Suharto di makam umum.
Tidak ada mbok Ginten di dalam tubuh Suharto, bahkan mbok Ju sendiri tidak pernah menyebut adanya mbok Ginten disana kan. Lalu bagaimana bisa Suharto disana bersama mbok Ginten.
“Lalu apa lagi yang Sarinah dengar dari ayah Sarinah ketika itu nak?” kata Novi kemudian memeluk tubuh Sarinah dan memangkunya
“Banyak tante, Sarinah lupa. Tapi…. tapi eehh yang sering ayah sebut-sebut itu peta dan uang tante, Sarinah ndak paham sih tante, soalnya selalu ada kata peta dan uang nya”
“Oh begitu ya Sarinah, jadi ayah Sarinah kalau sedang berbicara dengan hantu yang bernama Mbok Ginten itu selalu berbicara tentang uang dan peta?” ulang Novi untuk mempertegas ucapan Sarinah
“Iya…. biasanya selesai ngobrol dengan hantu biasanya ayah kemudian pergi. Sarinah selalu nangis kalau ayah pergi, karena Sarinah ditinggal sendirian dirumah”
“Sarinah takut tante……..”
Novi memeluk dan menciumi Sarinah, ada bulir air mata yang keluar dari mata Novi, dia tidak sampai hati mendengar cerita anak sekecil Sarinah.
Hingga Sarinah sendiri bisa berkesimpulan apabila ayahnya bekerja sama dengan hantu untuk mendapatkan uang dan peta.
__ADS_1
“Sudah ya Sarinah, yang penting sekarang Sarinah sudah selamat ada di vila ini bersama dengan ibu dan nenek Sarinah. Jugaan disini kan ada tante dan teman-teman tante yang baik-baik semua,
“Tapi tante, Sarinah takut, karena waktu itu hantu perempuan itu selalu mendatangi Sarinah apabila ayah tiba-tiba pergi. Hantu perempuan tua itu menciumi tubuh Sarinah”
“Lha ini tante juga ciumin pipi sarinah, tapi sarinah ndak takut kan?”
“Tante kan cuma ciumin Sarinah saja, kalau hantu itu beda tante, setelah dia ciumin Sarinah, bekas yang dia ciumini itu selalu sakit dan luka-luka”
“Kayak ini tante…”
Sarinah menarik roknya setinggi pahanya….
“Tapi Sarinah tahan sakitnya, dan tidak akan beritahu kepada siapapun, karena ayah Sarinah selalu mengancam agar tidak memberitahu kepada orang lain”
“Masyaallah…..!!” sebut Novi yang kemudian menangis memeluk Sarinah
“Sudah… Sarinah disini akan aman karena ada tante yang akan melindungi Sarinah!... Tidak ada yang akan menyakiti Sarinah lagi, tante janji!”
“Sarinah, kamu apa bisa liha hantu yang ada di rumah itu?” tanya Novi lagi
“Hanya dia saja yang suka menampakan diri tante, dia bilang kalau dia games sama Sarinah kemudian dia juga bilang kalau dia adalah temannya mbah Wo” jawab Sarinah
Novi memeluk Sarinah dengan rasa sayang, sesekali Nov nangis, dia tidak mengira gadis kecil itu telah mendapat siksaan dari hantu perempuan yang bernama mbok Ginten.
Mbok Ginten yang dulu membantu mereka dalam memerangi Dimas.
“Sarinah harus ingat disini hantu perempuan jahat itu tidak akan datang lagi, tidak ada yang berani kesini dan menyakiti Sarinah selama ada teman-teman tante disini”
*****
“Suharto biadab!.... bisa-bisanya dia mengumpankan anak semata wayangnya kepada mbok ginten!” cerita Novi kepada pak Tembol, pak Han dan Dimas.
Di ruang tengah yang sekarang sudah ada beberapa orang itu mendadak sepi setelah mendengar cerita Novi tentang Sarinah yang disiksa ayahnya.
“Di sekitar paha itu ada otot besar” kata Dimas
“Otot besar itu tempat mengalirnya darah yang sangat deras selain otot yang ada di leher, Kalau menurut ceritamu di sekitar paha bagian dalam ada beberapa bekas semacam gigitan hitam-hitam, berarti ginten menghisap darah anak kecil itu”
“Benar-benar biadab mengumpankan anak sendiri kepada setan penghisap darah, tetapi apa hubunganya Ginten dengan Suharto, apakah mereka berdua sudah lama bertemu?” tanya pak Han
“Ginten memanfaatkan Suharto untuk mencari air yang ada di dalam sini. Saya juga heran bagaimana Ginten bisa doyan dengan darah”
“Mbok Ju….” panggil pak Tembol
“Mbok Ju tau kan kalau disana ada Ginten, ayo jangan bohong mbok. Kami tau kalau Ginten itu saudara dari mbok Ju” kata pak Tembol
Mbok Ju hanya diam saja ketika pak Tembol mulai dengan perkataan tentang mbok Ginten, dia tau apabila disana itu ada GInten waktu mereka membebaskan Sarinah.
“Benar kan mbok Ju, disana ada Ginten kan” ulang pak Tembol
“Kalau mbok Ju hanya diam saja, berarti mbok Ju tau bahwa disana ada GInten, Sekarang mbok Ju tau kan apa yang dilakukan Ginten kepada anak kecil yang bernama Sarinah itu?”
Mbok Ju hanya diam tidak menjawab pertanyaan pak Tembol.
“Begini mbok Ju, asak mbok Ju tau sekarang Ginten sudah berubah, dia sudah doyan darah dan doyan tumbal, Jadi jangan mbok Ju lindungi Ginten itu” kata pak Tembol
“Iya pak, Waktu bebaskan Sarinah, ada Ginten di kamar Suharto, dia marah kepada saya, karena saya membiarkan kalian masuk ke rumah itu dan membebaskan Sarinah”
“Saya sempat bersitegang dengan Ginten sebentar hingga dia pergi dari rumah itu untuk memanggil Suharto”
“Saya sebenarnya juga marah dengan keadaan ini, tetapi saya hanya bisa diam ketika tau saudara saya Ginten ada di balik semua ini” kata mbok Ju
“Sarinah itu dipersembahkan Suharto untuk kakak saya sebagai pengorbanan bahwa Suharto adalah pengikut Ginten” kata mbok Ju dengan wajah menunduk
“Apakah Ginten itu dulunya adalah anak buah dari Sekar juga?” tanya pak Tembol semakin tidak sabaran
“Iya pak, dulu setelah selesai dengan urusan kalian dengan Dimas, Ginten ikut bersama Sekar di sekitar telaga, sedangkan saya tidak, saya tetap menjaga kotak milik pak Tembol hingga kalian suatu hari akan mengambilnya”
“Tapi kemudian Ginten merasakan darah, dia menerima tumbal yang diberikan manusia untuk urusan yang berkaitan dengan jabatan, kekayaan dan lainnya”
“Hingga akhirnya putri Sekar tau, dan mengusirnya dari telaga. Tetapi saya tidak tau bagaimana dia bisa bertemu dengan Suharto dan bagaimana dia bisa meminta tumbal kepada Suharto”
“Ya sudahlah… yang penting anak Suharto, istrinya dan mertuanya ada disini, mereka selamat disini sesuai dengan permintaan mbah Woto” kata pak Tembol lagi
__ADS_1
Sarinah yang malang, di paha bagian dalam ada bekas luka gigitan, ndak tau itu Ginten berubah menjadi ndrakula atau apa yang doyan menghisap darah.
Masih mending Novi, dia hanya doyan menghisap kuntila saja. Yang dihisap enak yang menghisap juga enak hihihi.