MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 218 (PERKATAAN DIMAS)


__ADS_3

WILDAN POV


“Mas Petro aku mau ke depan, mau lihat bagaimana keadaan Dimas”


“Jangan aneh-aneh kamu Wil, tapi nek kamu mau cari cara mendekatkan diri kepada Tuhan ya tidak papa, kamu ke sana aja”


“Nek misal wis dekat sama Tuhan tolong sampaikan kita butuh bantuan yo Wil hihihihihi” kata Petro


“Ooh nggateli iki mas Petro rek, aku sik belum mati mas asyuuuu!”


“Lha tadi jarene kamu mau ke depan sana, nek misale Trimo liat kamu ada disana terus kamu dibunuh kayak Kaswadi gitu  gimana Wil hehehe”


“Doakan aku selamet gitu lho mas, ojok ndungakno aku mendekatkan diri kepada Tuhan gitu rek hehehehe”


Aku pergi meninggalkan vila menuju ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan Dimas dan Trimo.


Aku lewat jalan yang tembus ke pagar yang berlubang di pojok vila. kemudian jalan melalui jurang hingga aku dekat dengan posisi Dimas dan Trimo.


*****


“Sudah tidak perlu berpikir lagi Dimas, lebih baik kamu pergi saja dari tubuh laki-laki gembel ini dan ikut dengan kami untuk menyerang Mak Nyat Mani”


“Bukankah dia dulu juga musuhmu kan, bahkan anak-anak yang kamu lindungi juga musuhmu, lalu apa yang membuat kamu mau melindungi tempat ini?” tanya Djatmiko yang ada di dalam tubuh Trimo


“Atau jangan-jangan kamu juga ingin menguasai sendiri apa yang ada di dalam sana hahahahah” kata Djatmoko atau Trimo


Sialan, sebenarnya apa yang dikatakan Trimo ini ada benarnya juga c*k, bisa jadi Dimas baik dengan kita karena ada maksud tertentu.


Dimas diam saja ketika Trimo mulai berkata hal yang paling membuat aku terenyuh, Dimas tidak berkata tidak atau menolak, tapi dia juga tidak mengiyakan apa yang dikatakan Trimo.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini!....


“Bagaimana Dimas,  harap kamu ingat, Soebroto sudah tunduk denganku, sekarang kita bikin tunduk Mak Nyat Mani juga”


“Apalagi dengan kamu bergabung dengan kami, maka kekuatan kita bisa untuk menguasai seluruh kawasan ini hahahaha”


“Hahaha Djatmiko.. atau Trimo, terserah kamu mau berkata apa, tetapi saya tidak peduli dengan kamu, kalau kamu mau kuasai vila ini ya silahkan, tetapi kamu akan mendapatkan perlawanan dari aku dan teman-temanku” jawab Dimas


WILDAN POV END


*****


Pak Han menuju ke halaman belakang vila lagi untuk melihat upaya tiga orang pegawai hotel yang sedang akan menyergap Suharto.


“Bagaimana pak Dollah , apa masih belum bisa menangkap orang itu? dan kapan polisi datang ke sini?”


“Sudah saya laporkan pak, dan untuk menangkap orang gila itu, biar pihak kepolisian sendiri yang menanganinya” kata Dollah


“Kapan polisi datang kesini, ingat sebentar lagi lampu taman mati, pasti akan lebih sulit menangkap orang itu”


Dollah tidak menjawab omongan pak Han, dia masih sibuk melihat orang yang sedang diincar .


“Woiiii pak Dollah dengarkan omongan saya!, kalau sampai subuh  lampu taman ini mati, apa yang akan kamu lakukan!” bentak  pak Han.


“Iya pak, sudah saya matikan otomatis lampu taman, sehingga lampu taman ini tidak akan mati!” kata Dollah tidak kalah keras bicara.


Nah akibat dari omongan Dolah dan pak Han yang begitu keras, akibatnya tamu yang menginap di kamar 4+ keluar dari kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Laki-laki setengah baya yang menginap di kamar 4+ berjalan menuju ke taman belakang.


“Ada apa ini pak, kok rame sekali bicaranya, sampai terdengar di kamar saya” kata bapak-bapak penghuni kamar 4+


“Ada orang gila masuk ke taman, dan sayangnya penjaga malam hotel ini tidak di tempat” kata pak Han dengan tegas


“S.. sudah kami a..ambil tindakan kok pak, b..bapak tenang saja dan segera masuk ke kamar saja” kata Dollah tergagap


“Bagaimana bisa hotel sebagus ini tidak ada penjaganya sama sekali, apalagi ada orang gila yang masuk ke dalam hotel, lalu bagaimana dengan keamanan penghuni hotel ini!” bentak tamu itu dengan suara yang keras.


“Te..tenang pak, pihak kepolisian sudah dalam perjalanan kemari, dan bapak tidak perlu takut, karena orang gila ini sudah kami tepung eh kepung” kata Dollah ketakutan


“Ya tidak bisa begini dong, kami sebagai penyewa kamar disini merasa tidak aman dengan keadaan seperti ini, apalagi ada orang gila yang masuk dengan mudah ke sini”


“Itu baru orang gila yang masuk, bagaimana dengan maling dan rampok yang punya pemikiran jauh lebih cerdas daripada orang gila itu!”


“Pagi ini keluarga saya akan saya pindah ke hotel yang lebih aman, dan akan saya berjanji akan saya ulas masalah orang gila yang masuk ke hotel ini!” kata orang itu kemudian dia kembali ke kamarnya.


Dollah tidak berkata apapun, dia kelihatannya bingung, dia jelas tidak tau apa yang akan dia lakukan.


“Pak Dollah, coba telepon polisi lagi pak, ini sudah menjelang subuh takutnya nanti makin banyak tamu yang akan melihat keberadaan orang gila ini” kata salah satu pegawai hotel itu”

__ADS_1


Dollah menuruti omongan pegawainya, dia pergi meninggalkan halaman belakang dan kemudian ke kantor tapi tidak tau juga apa yang dia akan lakukan di dalam kantor hotel, apakah dia memang akan menelpon polisi atau tidak.


Tapi untungnya sepuluh menit kemudian ada dua penegak hukum berseragam coklat yang masuk ke halaman belakang didampingi oleh Dollah.


Petugas itu membawa senter besar yang dia arahkan ke segala arah di sekitar halaman belakang.


“Dimana orang gila itu” tanya salah satu petugas


“Di dalam sana pak” tunjuk pegawai hotel


“Kamu yakin itu orang gila? bukan maling atau perampok yang melarikan diri ke sini?”


Tidak ada yang menjawab pertanyaan petugas itu, mereka hanya diam, karena memang mereka kan hanya melihat dengan sinar senter yang bercahaya redup.


“Ya sudah tunggu disini, mau orang gila atau maling atau rampok, kalau sudah masuk ke ranah orang lain tanpa ijin itu sudah tidak benar” kata petugas yang membawa senter


“Apa sudah kalian coba membujuknya agar keluar dari sana?” tanyanya lagi


“Sudah pak Tapi tidak ada reaksi sama sekali, menjawab pun tidak pak” kata Dollah


Kedua petugas itu berbicara kelihatannya sedang mengatur strategi untuk mengambil Suharto yang masih jongkok di dalam sana.


Satu orang petugas berjalan memutar ke belakang, sementara itu salah satu yang membawa senter terang itu terus menerus menyorotkan cahaya senter ke wajah Suharto


*****


Dogel, pak Tembol, dan Saeful menuju ke vila putih, karena keadaan di jalan sangat sepi maka Dogel bisa memacu kecepatan mobil sekencang dia mampu.


“Kita lewat pct saja pak, karena kalau kita lewat jalur tengah lumayan jauh karena jalurnya memutar”


“Terserah nak Dogel saja lah”


“Tetapi harus hati-hati mas , karena jalur yang setelah pct itu angker, apalagi di hutan yang dekat jembatan itu”


“Kok kamu bisa tau disitu angker mas Saeful?”


“Saya dan mbak Novi kan pernah lewat situ, waktu itu saya membonceng mbak Novi mas”


“Oh … saya kok lupa ya, tapi memang disana itu angker mas, karena waktu anak-anak sutopo mengajak saya untuk survei vila kan lewat jalur situ” kata Dogel


“Motor Tifano yang berboncengan sama Broni menabrak sesuatu dan masuk jurang, untung mereka berdua selamat”


“Iya pak. Mereka akan menyewa untuk mengadakan acara musik. Sakjane saya dan anak BLuekuthuq diundang juga untuk main disana”


“Tapi karena kami masih sibuk dengan masalah lagu kami, akhirnya kami tidak bisa ikut acara mereka pak”


“Hehehe untung mas Dogel tidak ikut” kata Saeful


“Waktu itu kalau tidak salah mereka belum kenal sama mbak Novi ya pak?” tanya Dogel


“Iya mas, nak Novi ketemu mereka juga tidak sengaja, waktu itu nak Novi diculik beberapa penjahat tapi untungnya nak Novi bisa melarikan diri dan akhirnya ditolong oleh mereka”


“Oh jadi mbak Novi ini gabung dengan mereka secara tidak sengaja ya.  Saya pikir mbak Novi ini teman mereka, dan ada di vila itu bersama mereka semua” kata Dogel


“Tidak nak Dogel, waktu nak Novi kesana keadaan mereka sudah gak karuan nak”


Mobil mereka sempat melewati mobil yang ditumpangi Tono dan temanya yang terbalik, Tapi mobil mereka tidak berhenti, mereka terus saja jalan.


“Mereka berdua  jalan kemana ya mas heheheh, kita harus hati hati mas” kata Saeful


“Tenang Pul, bisa saja mereka berdua saat ini sudah sampai di Asri, dan sedang melaporkan keadaan mereka kepada Dollah heheheh”


Menjelang subuh mereka akhirnya tiba di pct, ketika melewati hotel Asri , Dogel memelankan mobilnya.


“Kok ada mobil polisi ya pak, coba telpon Tifano dan Broni Pul, tanyakan ada apa disana”


Saeful menghubungi Broni, untungnya diangkat juga oleh Broni…


“Onok opo Ful?” tanya Broni


“Mas di depan hotel ada mobil polisi… ada apa disana mas?”


“Oh itu polisi lagi nangkep Suharto yang sedang sembunyi”


“Suharto dianggap orang gila dan tidak waras yang berbahaya, makanya Dollah memanggil polisi”


“Lho penjaga hotel yang namanya Tono itu apa belum datang juga ta mas?” tanya Saeful


“Wah tidak tau Pul, kalau ada polisi berarti kan tidak ada penjaga keamanan disini”

__ADS_1


“Ya wis mas, kami  tak langsung menuju ke vila putih dulu”


Dogel menekan pedal gas mobil menuju ke arah atas melewati hutan yang mengerikan, hutan yang dulu sempat membuat motor Tifano masuk ke dalam jurang.


“Bismillah mas Dogel, kita masuk hutan yang angker” kata Saeful


“Iya Pul, lagian ini kan sudah menjelang subuh, apa masih ada setan yang gentayangan pada jam segini?”


Mobi terus menuju ke vila putih….


*****


WILDAN POV


“Dimas terus mengulur waktu, sebenarnya apa tujuan Dimas, apakah kalau sudah ada matahari terbit Trimo sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi” aku mulai berpikir tentang Trimo


Trimo saat ini masih bersama DImas di depan pintu pagar vila putih, sementara itu Dimas terus berbicara kepada Trimo seolah olah Dimas sedang berusaha mengulur waktu Trimo.


“Jadi sekarang kamu menolak bergabung dengan ku dengan alasan bahwa kamu sudah tidak punya ilmu apa-apa lagi?” tanya Trimo yang masih berdiri sementara sinar matahari mulai menguning di ufuk Timur


“Iya Djatmiko, saya sudah tidak punya apa- apa lagi, tubuh pun saya masih pinjam tubuh laki-laki ini” jawab Dimas


“Semua kelebihan saya, ilmu saya dan semua pengetahuan saya sudah diambil oleh anak buah saya yang bernama Rochman. Saya yakin kamu tidak bisa mengalahkan Rochman” kata Dimas


“Rochman… adalah Totok… totok adalah orang yang pernah melihat isi dari dokumen yang kutaruh di bank itu” kata Trimo yang ternyata masih bisa sadar dan bisa berpikir sebagai manusia


“Nah kamu tau juga kan Trimo, kalau kamu mau masuk kesini jelas kamu perlu Rochman kan, tapi saya ragu kalau kamu berani menghadapi  atau mengajak Rochman  hahahah” kata DImas


“Sudah jangan banyak bicara Dimas, sekarang mana Handoko, dia yang mencuri dokumen itu dariku!” kata Trimo yang ternyata masih ingat dengan pak Handoko


“Hahahah Handoko sudah tidak ada disini, dia sedang memburu Totok atau Rochman, kalau kamu tidak keberatan ya cari saja mereka berdua. Lumayan kan kamu bisa tangkap salah satu dari mereka”


“Dari mereka kamu bisa dapat informasinya, atau kamu ajak mereka berdua kerjasama, kan enak heheheh” kata Dimas dengan santainya


Waduuuh… kenapa Dimas kok malah ngasih tau hal ini, iki jenenge bunuh diri rek, tapi tidak mungkin lah DImas sampai sekejam itu, pasti dia punya sesuatu yang bisa digunakan untuk mengelabui Trimo.


Ehhm tapi bisa saja sebenarnya apa yang dikatakan Dimas itu ada benarnya, mungkin dia menyuruh Trimo untuk datang di hotel Asri, sementara disana kan ada Suharto juga.


Jadi apakah kini saatnya kita hancurkan mereka semua?


Bisa jadi ide Dimas ini benar, dan apabila mereka sudah ada di Asri maka akan ada bala bantuan yang akan menghancurkan mereka semua. itu masih kemungkinan sih.


“Dimana aku bisa cari mereka berdua Dimas?”


“Hehehe kamu kan sakti, masak mengendus energi Rochma dan Handoko saja tidak bisa sih, coba  kamu cari mereka berdua pelan pelan”


“Jadi saya tegaskan lagi ya Trimo atau Jadmiko… percuma kalau kamu ingin menguasai vila ini!”


“Kamu tetap tidak akan bisa menemukan apa yang kamu inginkan”


“Coba bayangkan….. saya saja yang sudah puluhan tahun ada disini saja belum bisa mendapatkan apapun, saya cuma penghuni vila bagian atas saja”


Janc******k! sakjane Dimas ini musuh dalam selimut atau apa sih!.


Kenapa dia malah bilang begitu, kenapa dia malah bilang kalau dia ada disini puluhan tahun dan belum mendapatkan apa yang tersembunyi disini?


Ndasku makin puyeng c*k!


WILDAN POV END


*****


“Bagaimana pak Polisi….ini sudah hampir menjelang subuh kok belum juga bisa menahan orang itu pak?” kata Dollah


“Sampean pikir nangkap orang gila semudah menangkap maling apa!, kalau begitu bantu kami dengan memancing dia keluar dari sana!” bentak polisi itu


“Kami berdua dari tadi sudah berusaha memancing dia agar keluar dari sana dengan berbagai cara termasuk melempar dia dengan batu, tetapi dia tetap saja bertahan disana kan” kata polisi itu lagi


“O..Oke  pak, sekarang apa yang bisa kami bantu?” tanya Dollah


“Bikin dia marah hingga dia keluar dari sana, kemudian kalau dia sudah keluar, biar kami yang menangkapnya”


Dollah mendatangi kedua pegawai hotel yang sedang duduk-duduk santai…


“Hei kalian berdua berdiri, jangan enak-enakan gitu ayo bantu saya!” bentak Dollah


“Ingat…akan saya beritahu bos Nabil apabila kalian santai santai saja!” kata Dolla lagi


Ketika Dollah berkata Nabil…. mendadak orang gila yang bernama Suharto itu bergerak… dia berdiri dari posisi jongkoknya.

__ADS_1


Dia berjalan pelan dan berteriak kepada Dollah sambil mengepalkan tanganya.


__ADS_2