
Mereka masih belum berani jalan karena diatas mereka masih ada 4 orang yang akan menuju ke vila putih, sementara itu matahari mulai menampakan sinarnya, sehingga cahaya matahari ini merupakan ancaman bagi mereka yang ada di sisi jurang saat ini
“Ton, Fatoni… aku kebelet iki. Tungguen aku dulu ya Ton” kata salah satu orang yang ada di atas sana
“Yo cepetan Blung!…, Gemblung dari kemarin awakmu kenapa mesti kebelet ngising sih. Kita ini mau melakukan sebuah misi, kalok awakmu ngisang-ngising tok ae yo kapan selesainya” kata salah satu orang lainya lagi
Orang yang dipanggil Gemblung itu tiba-tiba berlari ke arah depan, ke arah tepi jurang dimana dibawahnya ada beberapa sosok orang yang sedang menunggu keempat orang yang ada di jalan itu pergi heheheheh.
Orang yang dipanggil Gemblung itu ternyata melepas celananya dan kemudian dia jongkok dengan silit yang mulai menganga dan mengarah ke bawah lereng jurang, dimana dibawahnya ada mereka-mereka yang sedang menunggu keempat orang itu pergi dari sana.
Ketika Gemblung itu sudah siap ngeden dan dengan kosentrasi tinggi untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam perutnya, tiba-tiba ada suara….
….DHUAG!....
“Aaaaaahhkk!…athooooohhhh…!” yang dipanggil Gemblung itu berteriak dan mengaduh kesakitan!, tapi ndak cuma kesakitan, dia juga nggelundung ke dalam jurang!
“Kapok Koen!, rasain lemparan batu Novi Chok!, arep ngising kok gak liat-liat sih” teriak Novi kepada Gemblung yang sekarang nggelundung ke dasar jurang
Tidak perlu dijelaskan bagaimana atau apa yang terjadi, yang pasti yang bernama Gemblung itu terlempar dari tempat dia jongkok dengan kepala berdarah karena lemparan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa.
“Ayo lariiiiii” teriak pak Handoko setelah orang yang dipanggil Gemblung itu gemlundung ke dasar jurang dengan kapala yang berdarah karena lemparan Novi yang luar biasa.
“Hoooooiiii siapa kaliaaaan!” teriak salah satu dari tiga orang yang ada di jalan itu tanpa bisa mengejar karena mereka harus menolong teman mereka yang dipanggil Gemblung itu.
“Anak-anak Ayo kita lari lewat jalan saja, agar lebih cepat” kata pak Han yang memimpin mereka naik dari jurang ke jalan dan menuju ke pintu rahasia yang ada di depan vila putih.
“Mas Gilank gimana?” teriak pak Han kepada Gilank yang tertinggal karena kaki Gilank belum sembuh sepenuhnya
“Sudah cepat lari pak, jangan pikirkan saya, saya bisa selamatkan diri saya sendiri pak” teriak Gilank yang tertinggal agak jauh ketika dia kesulitan waktu naik dari tebing jurang menuju ke jalan yang menuju ke vila putih
“Pak Han, saya akan menolong GIlank pak, kalian tetap menuju ke lorong rahasia yang ada di jurang depan vila putih teriak WIldan kepada pak Handoko
Wildan keluar dari barisan dan kembali ke tempat Gilank sedang terduduk di sisi tebing jurang, sementara itu ketiga orang pencari harta karun yang lebih mirip dukun itu sedang sibuk dengan penyelamatan temanya si Gemblung yang nggelundung ke dasar jurang.
Keenam orang Ali, pak Han, Novi, Tifano, Broni, dan Saeful berlari menuju ke depan vila yang masih berjarak sekitar seratus meteran dengan jalan yang menanjak.
Sementara itu Wildan sedang memapah Gilank yang keadaanya belum sehat betul karena kaki kirinya masih sedikit pincang, sehingga tidak bisa digunakan untuk memanjat tebing jurang dan berlari cepat.
“Ayo Lank usahakan gerakan kakikmu, jangan cuma bisanya gerakan kuntila ngatjengmu saja chok!” teriak Wildan yang berusaha memapah Gilank yang terpincang pincang
“Yancoook Lank , kamu ini tak bantu Chok, tapi kuntilamu ojok nyocrok-nyocrok nang silitku chok!” teriak Wildan ketika kuntila ngatjeng Gilank mengenai lipatan silitnya hihihihi.
__ADS_1
“Asyuuuuu WIl, nek niat bantu gak usah kekehen cocot! Kuntilaku memang yo ngene iki, memang nasibku chok, dari mulai kita ada masalah dengan Dimas sampai dengan Totok aku selalu berkuntila ndangak chok” kata Gilank
Tapi biar bagaimanapun Wildan ini adalah teman yang setia kawan, mulai dari ketika di novel konser berdarah dia juga korbankan nyawa untuk selamatkan temannya yang bernama Ibor, lha sekarang di novel ini dia juga susah payah selamatkan Gilank.
Keenam orang teman Gilank dan Wildan sudah ada di depan jurang rumah putih, mereka siap untuk masuk ke dalam lorong rahasia yang ada disana. Tetapi mereka tidak segera masuk karena mereka harus menunggu Gilank dan Wildan yang masih perjalanan menuju ke arah mereka
Matahari sudah memacarkan sinarnya meskipun masih ada di ufuk timur, keadaan di sekitar vila putih pun beangsur angsur terang, tetapi Wildan dan Gilank belum juga sampai ke depan jurang tempat lorong rahasia berada
“Pak Han, ada baiknya kita tinggal saja kedua teman kita pak, saya yakin WIldan dan GIlank bisa masuk ke sana dengan selamat pak” kata Ali
“Jadi kita tinggal mereka berdua gitu mas Ali?” tanya pak Han
“Iya pak, saya kira teman lainya juga pasti setuju untuk meninggalkan mereka berdua pak, karena kita sedang dikejar oleh orang yang sedang mencari harta yang ada di sekitar sini pak” kata Ali lagi
“Bagaimana anak-anak, apakah kita tinggal saja kedua teman kalian” tanya pak Han
“Kita tinggal saja pak, nanti mereka juga akan masuk kesini juga pak, kita harus peringatkan pak Pho bahwa ada sekelompok pencari harta pak menuju ke sini” kata Broni
Akhirnya mereka meninggalkan Wildan dan Gilank, mereka masuk ke dalam lorong rahasia yang ada lereng jurang depan vila.
“Wil, kita ditinggal anak-anak masuk ke dalam lorong” kata Gilank yang terlihat nggilani dengan kuntila yang ndangak ndangak mentul mentul itu.
Ketika mereka berdua sedang berjalan di tepi jalan, tiba-tiba dari arah bawah terdengar suara mesin mobil yang sedang mengarah ke atas.
“Wil, itu ketoke mobil orang-orang yang tadi, ayo sembunyi dilereng jurang lagi ae WIl, ayo cepat Wil”
“Iya sik Lank tapi aku kan lagi mbantu kamu jalan, lha apa kamu bisa kita langsung ke sisi jurang, apa kamu bisa jalan ke sisi dalam jurang lagi Lank”
“Iso Wil….iso, ayo tuntun aku ke bagian jurang sana cepat! Selak keduluan mereka lihat kita Wil”
Akhirnnya Wildan dan Gilank berhasil turun ke sisi bagian dalam jurang yang banyak tanaman belukar dan pohon, sehingga mereka bisa sembunyi di sana hingga mobil itu melewati mereka berdua.
Suara mesin mobil dan suara roda yang terkena batu-batu disekitar jalan akhirnya melewati tempat sembunyi Wildan dan Gilank.
“Mereka sudah lewati kita Wil, aku yakin mereka pasti akan mencari kita Wil, karena kita sudah bikin kepala temanya berdarah darah heheheh”
“Lha nek ndak dilempar batu sama Novi, apa kamu mau di kasih tai yang keluar dari silitnya itu heheheh, ya ada benernya juga Novi iku Lank, tapi ya akibatnya kita akan dicari oleh mereka”
“Gimana kakimu Lank, kalau udah enakan kita naik ke atas lagi ya, tapi tolong kondisikan kuntilamu. Aku gak mau kalau lagi nuntun kamu tiba-tiba kuntilamu nyocrok nyocrok phanthatku chok” kata Wildan lagi
“Iyooooo tak pegangi iki kuntilaku chok, wis aman-aman, pokoke kamu ndak njengking ae hihihihi”
__ADS_1
“Janchok Lank, ojok jadi humu Chok! Awas yo sampek kuntilamu nyocroki silitku, tak lempar ke jurang awakmu chok!”
“Gak…gak Wil, santai ae lho Wil. Pokoke dinikmati lak lama-lama jadi enak juga heheheh”
“Yanchoook Lank. Gak usah aneh-aneh. Wis diemo ae kamu, iki sudah ada matahari chok. Kita susah untuk sembunyi kalau sudah ada sinar matahari ngene lank
Mobil yang ditumpangi empat orang yang berpakaian mirip paranormal tetapi mencari harta itu sudah jauh dari posisi Wildan dan Gilank, jadi akan aman bagi mereka berdua keluar dari tempat persembunyiannya.
Sementara itu keenam orang sekarang sudah ada di ruangan biru, mereka sedang bersama dengan pak Pho, Dani, dan Ukik. Pak Handoko dan anak-anak bergantian bercerita tentang pembakaran keluron yang merupakan cikal bakal Totok untuk menjadi manusia seutuhnya.
“Haiyaaaa, untung Totok tidak kemali. Malam itu Mak Nyat Mani kesini lagi aaaa, dia menunggu Totok, lama sekali dia ada di halaman belakang belsama anak buah Totok yang lumahnya ada di sebelah vila ini”
“Tetapi setelah tunggu Totok lama sekali, balu Mak Nyat mani pelgi dali sini dengan malah malah aaa” lanjut pak Pho
“Ai yakin kalian pasti belhasil laaa, tapi mana teman kalian yang dua olang itu?” tanya pak Pho
“Mereka masih di luar pak, karena Gilank keadaanya kurang sehat, maka si WIldan menuntun Gilank di dekat jurang sana pak” jelas Ali
“Tapi bagaimana mengajak mereka masuk pak, sedangkan di halaman vila pasti sudah ada empat orang pemburu harta pak” kata pak Handoko
“Aaaaa itu soal mudah aaa, nanti ai kasih jalan untuk meleka beldua masuk kesini aaa, tapi untuk pembulu halta kallun itu kalau bisa kalian adu sama anak buah Totok saja, bial kalian tidak usah kelual tenaga, bial meleka beldua adu kesaktian aaa” jawab pak Pho
“Tapi yang peting kalian selamatkan dua teman kalian dulu aaa, balu kita pikilkan untuk melakukan sesuatu dengan yang ada di taman vila itu aaa” kata pak Pho lagi
*****
Sementara situasi pagi hari yang cerah di depan pintu gerbang vila…..
“Ghoblok!, kenapa kita bisa kehilangan orang-orang yang tadi lempar batu ke kepalamu Blung!, makane ta, kalau ngising itu ya yang hati-hati, jangan ngawur, dilihat dulu sekitarnya. Kalau kayak gini kan susah, sudah kepalamu bocor, badanmu bauk tai juga!” kata salah satu dari empat orang yang ada di depan pintu gerbang vila
“Sekarang kita harus cari tempat untuk menginap dan mendirikan tenda, nanti malam kita garap yang ada di vila ini, ndak salah kita sempat lihat peta yang dulu ditunjukan Trimo itu” kata orang yang memakai pakaian serba hitam dan memakai pengikat kepala
“Blung!, mobil parkirkan disana saja, itu sebelum vila kalau tidak salah ada tanah lapang, taruh sana saja biar tidak mencolok kalau dilihat penduduk sini” kata orang yang berpakain hitam, memakai sepatu boot ala rocker dan berambut gondrong rebondingan
*************
penulis ucapkan banyak banyak terima kasih untuk yang sudah baca dan yang sudah like dan yang sudah Komen novel yang ndak mutu ini.
mohon maaf. penulis belum bisa balas komentar kalian yang luar biasa bisa memberikan asumangat saya untuk tetap menulis.
semoga kalian yang mambaca novel ini diberikan berkah kebahagiaan . Dan penulis ucapkan banyak terima kasih.
__ADS_1