
WILDAN POV
Wuih sudah subuh ini, tetapi Trimo dan Dimas masih bertahan di depan vila, sebenarnya apa maunya Trimo ini…
“Trimo, kalau kamu sudah selesai denganku, ya sudah pergi saja dari sini dan cari Rochman atau Totok, biarkan saya tinggal di sini”
“Dimas, kamu harus ikut aku….!”
“Buat apa saya ikut denganmu Djatmiko, saya kan sudah bilang, saya sudah tidak punya apapun, bahkan kalau kamu bunuh saya sekarang pun ya tidak masalah”
“Atau kamu mau kuasai vila itu dan suruh saya pergi dari sini ya tidak masalah juga”
“Kamu tidak akan mendapat apapun di vila, kamu hanya akan mendapatkan vila bagian atas saja, bahkan kamu tidak akan menemukan siapapun disini, mereka semua sudah pergi bersama Handoko dan Tembol”
Tiba-tiba aku dengar suara mobil dari bawah, suara mobil yang berjalan dengan tergesa gesa.
Waduh ini pasti Rombongan pak Tembol, mereka datang setelah Broni memberi kabar apabila Vila akan diserang oleh Trimo.
WILDAN POV END
“Nak Dogel kayaknya yang diparkir di depan itu adalah mobil Trimo, dan laki-laki yang ada di depan pagar itu pasti Trimo, bagaimana, apa kita tabrak saja orang itu nak?”
“Saya setuju pak saya sudah capek dan akan saya tabrak laki-laki yang ada di depan itu”
Dogel menginjak pedal gas semakin dalam, suara mesin mobil semakin meraung, mbak bashi yang ada di pangkuan pak Tembol menggeram marah.
Mereka sudah semakin dekat dengan mobil Trimo dan akhirnya mereka melewati mobil Trimo.
“Benar nak, itu Trimo bersama Dimas, dia sedang melihat ke arah kita, hati-hati nak….”
Dogel menginjak pedal gas dalam-dalam…
Mobil yang tadinya agak pelan sekarang semakin berjalan kencang…
Trimo dan Dimas hanya melihat mobil yang berjalan ke arahnya dengan kecepatan tinggi…
Dan akhirnya..
….BOUUGH….
Tubuh Trimo terpental beberapa meter di depan… tetapi dia masih bisa bangun…
“Tabrak lagi nak Dogel…!” suruh pak Tembol
Dogel menginjak pedal mobil dan sekali lagi menabrak tubuh Trimo yang makin gak karuan.
Dogel, pak Tembol dan Saeful turun dari mobil, mereka menghampiri Trimo yang sedang tertelungkup di tengah jalan
“Kenapa kalian menabrak?” kata Trimo yang masih tertelungkup
“Bukannya kamu seharusnya sudah mati!” bentak pak Tembol
“Kamu seharusnya tidak bekerja sama dengan Kaswadi untuk mencari kesenanganmu sendiri” kata pak Tembol lagi
“Hahahahaha ….. tubuh tidak berguna ini bisa kalian ambil saja lagi, saya tidak butuh tubuh dia lagi!” teriak Djatmiko yang kemudian keluar dari tubuh Trimo
Setelah Djatmiko keluar dari tubuh Trimo, berangsur-angsur Trimo tertunduk lemas dan akhirnya dia mati.
“Hahahah Dimas, tunggu saja saya akan datang kesini dengan kemenangan” Kata Djatmiko yang kemudian pergi dari mereka
Waktu subuh sudah datang, matahari semakin merangkak naik…
“Bagaimana dengan mayat Trimo ini pak?”
“Kita kuburkan di rumah sebelah vila saja anak-anak. Bukannya dia sudah dianggap mati oleh keluarganya” kata pak Tembol
Siang hari setelah menguburkan Trimo, mereka duduk-duduk di ruang tengah vila putih.
“Tidak akan lama lagi Djatmiko akan ke hotel Waji” kata pak Tembol
“Memang aku arahkan dia kesana, karena sesuai dengan omongan Dogel, disana setelah mereka berkumpul di sana, maka akan dibinasakan oleh para mbah-mbah termasuk mbah Joyo” lanjut DImas
“Hanya saja yang bikin saya sakit telinga, Djatmiko ternyata membawa pasukan pembelot dari Soebroto. Dan sekarang Soebroto sudah tidak mempunyai kekuasaan apa-apa lagi”
“Dia mengajak saya untuk bergabung dan mengalahkan Mak Nyat Mani juga. Jadi menurut saya tujuan awal Djatmiko ini sebenarnya adalah menguasai daerah ghaib disini”
“Hanya saja setelah dia bertemu dengan Trimo, dia kemudian beralih untuk mencari barang berharga yang dicari oleh Rochman juga yang ada di dalam vila”
“Tadi dia sudah kusuruh untuk mencari Rochman, otomatis dia akan datang ke Asri apabila dia bisa mengendus energi Rochman disana” Dimas mengakhiri ceritanya.
“Bagaimana apabila tadi dia mengerahkan pasukan ghaibnya untuk menyerang vila ini?” tanya pak Tembol
“Ya tidak papa Mbul, malah saya persilahkan, karena saya yakin mas Petro sudah paham dengan kode saya tadi untuk segera mengungsikan mereka semua ke bawah tanah”
__ADS_1
“Mereka tidak akan mendapatkan apapun disini, jadi memang tadi saya persilahkan sembari saya ulur waktu agar para perempuan yang ada disini sudah mengungsi ke ruang bawah tanah”
“Hmm fatal juga Djatmiko ini, mulai sekarang apabila kita sedang berpencar, lebih baik perempuan-perempuan tinggal di ruang bawah tanah saja dulu hingga situasi aman” kata pak Tembol
“Sekarang tolong hubungi hotel Asri nak Saeful, tolong tanyakan bagaimana keadaan disana nak” suruh pak Tembol
*****
“AARRRGGH DIMANA NABIIIIIL!!!” teriak Suharto sambil berlari hendak memukul Dollah yang kaget dan diam saja
Ketika Suharto berlari menuju ke arah Dollah, salah satu dari polisi itu berhasil menjegal kakinya…
Suharto pun tersungkur di halaman belakang rumah.
“Tindih dan borgol dia” teriak polisi yang tadi menjegal Suharto kepada rekannya yang sudah siap di sampingnya
Akhirnya dengan pergulatan yang tidak sebentar, Suharto bisa ditaklukan dan diborgol.
“AARRRRGGGHH SAYA CUMA MAU KETEMU ROCHMAN SAJA, KENAPA HARUS DIBORGOL!” teriak Suharto sambil meronta ronta
“NABIIIL ROCHMAAAN TOLONG SAYAAA, SAYA MBOK GINTEEEEEN!!” teriak Suharto
“Siapa Nabil atau Rochman itu!?” tanya petugas polisi kepada Dollah
“Nabil bos saya pak, sedangkan Rochman saya tidak kenal” jawab Dollah ketakutan
“Sudah begini saja, kamu pak Dollah ikut kami untuk kami mintai keterangan tentang orang ini” kata petugas itu
“Lho kok saya pak, yang lihat orang gila ini masuk bukan saya, tetapi bapak itu” tunjuk Nabil kepad pak Han
“Heh… kamu ini yang bertanggung jawab di hotel, sedangkan bapak itu hanya tamu disini!... semua tentang keamanan hotel adalah tanggung jawabmu!” bentak petugas itu lagi
“Sudahlah pak Polisi, saya juga ikut saja pak, akan saya temani Dollah ini pak, karena saya yang pertama melihat ada orang yang masuk ke sini” kata pak Han
“Sekarang saya ganti baju dulu pak” kata pak Han kemudian menuju ke kamar 5+
“Mas Blewah, saya akan ke kantor polisi untuk memastikan Suharto benar-benar ditahan, kamu tunggu disini dulu saja mas, dan perhatikan yang namanya Tono”
“Karena tadi dia tidak ada disini , dia sedang mendapat tugas luar dari bossnya yang bernama Nabil kata Dollah tadi, dan kemungkinan besar Tono yang tadi mengejar tim pak Tembol”
Tentu saja teriakan Suharto tadi itu membuat penghuni kamar plus (+) pada keluar dan melihat apa yang sedang terjadi di taman belakang.
Dollah sedang menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi, tentu saja dengan versi nya Dollah dengan adanya penambahan disana sini hingga terlihat pihak Hotel tidak bersalah.
Tidak tau apa yang menyebabkan Suharto bisa diam dan hanya tersenyum ketika dikeler menuju mobil polisi.
Di Belakangnya pak Handoko dan Dollah mengikuti polisi itu untuk dimintai keterangan tentang Suharto ini.
*****
“Oh jadi Suharto sudah ditangkap polisi, sedangkan Handoko dan Dollah penanggung jawab hotel iku ke kantor polisi untuk memberikan keterangan… begitu yang terjadi?” tanya pak Tembol
“Iya pak, memang sengaja Suharto agar ditangkap polisi pak, agar dia tidak bertemu dengan Rochman, karena di dalam diri Suharto ada Mbok Ginten… gitu yang tadi dikatakan mas Broni pak” Kata Saeful
“Ya sudah… berarti satu masalah untuk sementara ini bisa diatasi, tinggal nanti bagaimana menaruh ketiganya di Hotel Asri saja” kata pak Tembol
“Belum pak, nanti habis ini mbak Novi dan mas Ali kan akan menuju ke rumah bapak dan ibu Warjito untuk membayar sewa toko pak” kata Saeful lagi
“Iya nak Saeful betul juga. Semoga mereka aman-aman saja disana nak”
“Siang ini kami istirahat disini dulu Dimas, rasanya capek sekali setelah dari tadi riwa riwi terus” kata pak Tembol
*****
“Mas Ali, Novi kok agak gimana gitu, rasanya agak canggung gitu mas mau ketemu sama pemilik toko. Semoga Rochman tidak ke sana mas”
“Iya Nov, aku juga agak gimana itu, takutnya ada Rochman datang juga”
Novi dan Ali sedang dalam perjalanan menuju ke toko Gemezzz dengan menggunakan motor matic milik Petro yang memang ditaruh di rumah mbah Putri.
Tetapi apakah nanti ada Rochman disana itu yang dikhawatirkan Novi dan Ali…
Tapi seperti biasa. mereka berdua santai saja hingga pagi ini pukul 08.00 mereka sudah sampai di toko Gemezzz yang masih ada beberapa pedagang yang berjualan di halaman toko.
Ketika mereka berdua sudah sampai, ternyata di depan toko sudah menunggu bapak dan ibu Warjito. mereka berdua berdiri di depan toko dengan wajah tersenyum.
“Assalamualaikum….” sapa Novi dan Ali bersamaan
“Waalaikumsalam nak Novi” jawab bu Warjito
“Ini suami saya..Totok Saefulah” kata Novi memperkenalkan Ali kepada mereka dengan nama Totok Saefulah
“Bu..motornya saya parkir dimana ini?” tanya Ali
__ADS_1
“Disini saja tidak papa kok mas, ayo kita ngobrol di rumah dulu sambil nunggu pedagang sepi dulu” ajak pak Warjito
Mereka menuju ke rumah bagian belakang toko gemezzz dimana bu dan pak Warjito tinggal.
“Jadi gimana ini mbak.. mas, jadi sewa di sini?” tanya pak Warjito
“Nah itu pak, suami saya mau lihat bagian dalam tokonya, karena kami perlu memikirkan bagaimana dekor ulangnya”
“Oh.. iya mbak tidak papa, dilihat dulu saja”
“Kalau menurut kami, bagian dalam toko itu tidak perlu di dekor lagi, karena masih bagus. Tapi kalau akan digunakan sebagai depot makanan memang perlu ada pembenahan dan tentu saja ada penambahan perabot” kata pak Warjito
“Sebenarnya Pemilik toko pak Totok ingin kesini juga, dia ingin bertemu dengan yang menyewa toko, tapi katanya pagi ini dia ada kesibukan, sehingga dia tidak bisa kesini mas”
“Oh tidak papa pak, bertemu dengan bapak dan Ibu saja sudah cukup kok” jawab Ali
“Gimana , rencananya akan digunakan untuk menjual makanan apa mas?” tanya pak Warjito
“Begini pak, saya dan istri masih diskusi, kita juga masih melihat kebiasaan orang sini, jenis makanan apa yang mereka suka, range harga berapa yang bisa menjangkau semua golongan dengan tidak merugikan kami sebagai pedagang”
“Tetapi yang penting kami sudah punya tempat disini, sehingga kami tidak bingung mencari tempat lagi”
Setelah ngobrol ngalor ngidul yang gak penting, akhirnya pukul 09.00 kedua orang tua itu mengajak Novi dan Ali melihat bagian dalam toko yang akan mereka sewa.
“Ayo kita ke toko mas, biasanya kalau jam segini yang jualan di depan sudah pada pindah kok heheheh”
“Tapi tidak masalah kan kalau pagi harinya di depan toko ada pasar kagetnya?”
“Tidak papa pak, asalkan mereka bersihkan juga sampah-sampahnya pak” jawab Novi
Pak Warjito membawa gantungan kunci yang sama dengan yang dibawa oleh Dogel.
Kemudian pak Warjito membuka pintu harmonika, dia buka lebar-lebar sehingga sinar matahari bisa masuk ke dalamnya.
Setelah pintu harmonika kemudian pintu kaca yang ada di dalamnya juga dibuka…
“Monggo masuk mas, monggo dilihat lihat dulu, di dalam sini ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi, mungkin ada karyawan yang akan menginap disini” kata pak Warjito berpromosi.
“Di belakang juga ada taman kecil yang akan kami bersihkan nanti apabila mas dan mbaknya jadi menyewa disini”
Novi dan Ali melihat lihat bekas toko gemezzz dengan teliti.
Tidak ada manekin sama sekali disini, tidak ada pakaian bekas juga disini, di dalam ruangan kaca ini bersih..
Hanya ada debu di lantai dengan jejak jejak kaki yang banyak sekali..
“Mari lihat bagian belakang toko ini mas….”
Novi dan Ali benar-benar memerankan peran mereka sebagai orang yang akan menyewa toko, dengan melihat tembok bangunan, menengok ke plafon…pokoknya persis seperti orang yang sedang menilai sesuatu.
“Nah ini ada dua kamar mas, yang satu sebelah kiri dan satunya di sebelah kanan dekat dengan kamar mandi itu”
“Oh yang dekat kamar mandi itu ya pintunya pak?” tanya Ali mempertegas pernyataan pak Warjito
“Betul mas, yang itu…. jadi enak karena bisa digunakan sebagai tempat tinggal juga mas” jawab pak Warjito
“Nah taman di tengah ini yang sudah semrawut ini akan kami bersihkan hingga rapi mas”
“Gimana mas. setuju dengan toko ini kan, Novi rasanya sudah cocok lho mas” kata Novi kepada Ali
“Iya sayang, aku juga cocok kok, kita bisa sewa sebulan dulu aja, nanti kita perpanjang bulan berikut nya, gimana yank” jawab Ali
“Iya mas, ndak papa….”
“Ya sudah pak Warjito,... untuk sementara ini kami sewa sebulan saja dulu, nanti akan kami perpanjang melihat kondisi dagangan kami dulu pak”
*****
Pak Handoko bersama dengan Dollah di kantor polisi untuk dimintai keterangan seputar orang gila yang masuk ke dalam hotel Asri.
Polisi meminta keterangan satu persatu tentang apa yang mereka lihat ketika orang yang dianggap gila itu masuk ke dalam hotel.
Setelah meminta keterangan mereka berdua, petugas kepolisian itu ingin ngobrol dengan mereka berdua sebelum mereka dipersilahkan pulang.
“Pak Dollah, sebagai penanggung jawab Hotel, apa benar bosmu itu bernama Rochman atau Nabil?” tanya polisi yang memeriksa mereka berdua tadi
“Bos saya namanya Nabil pak, sesuai yang saya katakan tadi waktu bapak memeriksa saya” jawab Dollah
“Jadi menurut cerita orang yang mengaku bernama Suharto dan Ginten, dia masuk tanpa izin ke dalam hotel karena ingin bertemu dengan Nabil atau Rochman” kata polisi itu
“Dia bilang Nabil atau Rochman itu satu orang, sebagai pemilik Hotel Asri. dan dia sebenarnya ingin sekali bertemu dengan bos anda”
“Menurut saya, orang itu mungkin stress, karena dia bisa diajak bicara dengan serius, tapi kemudian tiba-tiba dia berbicara aneh tentang masa lalu dan tentang sebuah vila”
__ADS_1