
Mereka berjalan kaki menuju ke vila putih dari pertigaan jalan, keadaan sudah pagi menjelang subuh, sehingga dari ufuk barat terlihat sedikit sinar oren yang Indah.
“Pak Han, Novi kok merasa ndak enak ya pak. Ada yang membisiki Novi agar kita jalan di melalui sisi lereng jurang saja pak” kata Novi tiba-tiba
“Iya mbak Novi, saya juga merasakan hal yang sama dengan mbak Novi. Ayo, lebih baik kita jalan di sisi jurang saja anak-anak” aja pak Handoko yang kemudian menuntun anak-anak lainnya agar berjalan ke bagian sisi jurang yang ada di sebelah kanan mereka
Mereka jalan melalui sisi jurang yang lumayan terjal, hal ini karena baik pak Handoko atau Novi merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di depan mereka. Maksudnya di jalan yang akan mereka lalui itu.
Untuk diketahui, jarak antara tempat mereka sekarang dengan vila putih masih lumayan jauh, tapi mereka lebih memilih jalan melalui sisi bagian dalam jurang agar aman.
Beberapa belas meter kemudian, tiba-tiba GIlank yang sedari tadi hanya diam dan ada di posisi belakang mendengar sebuah percakapan atau suara.
“Stop pak, saya mendengar ada suara percakapan di atas kita pak” kata Gilank yang dengaren mau perhatian dengan keselamatan mereka
“Iya mas Gilank, Novi juga dengar kalau mas Gilank juga selalu ngatjeng hihihih” kata Novi tiba-tiba
“TJuk Nov!, serius iki, apa kamu ndak dengar apa-apa?” tanya Gilank lagi
“Yang dengar itu cuma kamu Lank, itu suara malaikat pencabut nyawa yang sedang berdiskusi bagaimana mencabut nyawamu sementara kuntilamu tetap ngatjeng gak karuan gitu hihihihi” kata Tifano
“Yanchoook Tif, aku ndak guyonan iki, temenan aku dengar ada suara orang yang sedang bicara di sekitar sini” ulang Gilank yang mulai emosi
“Iyooo iyooo Lank, tapi kok cuma kamu saja yang dengar Lank, apa teman lainya tidak ada yang mendengar suara yang tadi Gilank sebutkan ta rek?” tanya Wildan
“Apa mungkin kuntila ngatjeng Gilank itu sekarang menjadi antene ya rek, bisa menerima pancaran suara dari posisi yang jauh sekali, Hmmm gimana kalau kamu buka celanamu saja Lank, siapa tau kamu bisa makin jelas mendengar suara-suara yang jauh dari sini hihihi” kata Wildan lagi
“Mas Gilank dengar suara apa mas?” tanya pak Handoko yang tertarik dengan pembicaraan mereka
“Saya mendengar suara-suara pak, seperti orang yang sedang bicara, tapi masik samar-samar pak” jawab Gilank yang ada di posisi paling belakang
“Hmm coba telinganya mas Gilank dibebaskan dari rambutmu dulu mas, mungkin bisa terdengar lebih jelas mas” kata pak Handoko lagi
“Iya mas Gilank, coba rambut nggilanine itu di sibakkan dulu, siapa tau akan lebih jelas yang mas Gilank dengar itu
Gilank menuruti apa kata pak Handoko dan Novi, dia menyibakan rambutnya yang ngeruwel dan nggilani itu, sehingga telinganya yang hitam dan berminyak itu terlihat. Kok telinganya berminyak sih?. Jelas berminyak,wong Gilank tidak pernah mau mandi hihihihihi.
“Bagaimana mas, sekarang apakah jelas apa yang diomongkan?” tanya pak Han
“Nggak pak, malah tidak terdengar siapa-siapa pak” jawab Gilank yang berusaha memiringkan kepalanya agar dia bisa mendengar suatu suara
“Mungkin yang sedang ngobrol itu kutu-kutu yang ada di dalam rambutmu Lank ihihihi” potong Broni
“Cangkemmu Bron!, rambutku iki terpelihara dengan baik tjok!, gak ada hewan-hewan kecil yang mau tinggal disini tjok!” jawab Gilank emosi
“Sekarang coba tutupi tellingamu sama rambut itu mas Gilank” kata pak Han yang masih penasaran dengan kelakuan Gilank
__ADS_1
“Naaaaaah, sekarang terdengar lagi pak, banyak yang sedaang berbicara pak, malah salah satunya bilang kalau mereka harus bisa menemukan harta itu secepatnya ” kata Gilank
“Lhoooooo siapa itu yang bilang begitu mas Gilank, disini kan sepi, ndak ada siapapun, bahkan saya tidak bisa mendeteksi sesuatu di sekitar sini kecuali yang ada diatas jalan sana, kayaknya ada sesuatu yang kurang baik” kata pak Han lagi
“Jangan–jangan kesaktian mas Gilank ini ada pada kutu-kutu yang tinggal di rambutnya yang indah mewangi itu ya mas Gilank hihihi” kata Novi
“Wis, ojok guyon rek, pokoknya hati-hati rek, kita ada di tempat yang harusnya kita hindari “ kata Gilank lagi macam parnormal aja.
“Ya sudah kalau begitu, mas GIlank saja yang ada di depan, agar yang ada di dalam diri mas GIlank bisa mendeteksi yang aneh-aneh di depan kita” kata pak Handoko
Yah begitu itu GIlank, kadang dia itu senang kalau kita umbul , kita sanjung-sanjung hehehhe, tapi kadang ya pas gilanya muncul ya gak karuan lagi.
GIlank akhirnya maju di depan, dengan kondisi kuntila yang tetap ndangak bagaikan radar, dia akan mendeteksi apa yang ada di disekitar mereka.
“Huueegh, bau sekali sih, iki ambune opo sakjane rek” kata Broni yang ada di belakang Gilank ketika mereka mulai berjalan
“Jachok Bron, ya baunya jurang ini lah, mosok ambuku seeee chok!” kata Gilank yang ada di depanya
“Nek bau jurang itu bau tanaman dan daun busuk, tapi nek iki baunya bau kelek chok! Bauk kelek sing ireng dan akeh bolote chok!, Ojok ojok iki baukmu Lank!” teriak Tifano yang ada di belakang Broni
“Iya yak kok kayak bau ketek sih ini mas Hoeeeghh!” tambah Novi yang ada di belakang pak Handoko
“Sudah-sudah anak-anak,kita harus tenang agar mas Gilank bisa mendengar apa saja yang ada di depanya, biarkan mas GIlank konsentrasi anak-anak” kata pak Handoko yang ada di belakang Tifano sambil menutup hidungnya
“Ssssstt… ojok rame ae rek, aku mulai dengar sesuatu lagi iki rek, sekarang pendengaranku sangar rek” kata Gilank dengan nada sombongnya
“Novi juga merasakan pak, hmm menurut Novi lebih baik kita tunggu hingga matahari muncul saja pak, karena Novi takut kalau kita akan terjebak di depan itu pak, kita tidak tau apa yang ada di depan itu lagi pak, lagi pula kita tidak berani menyalakan lampu senter lagi pak” kata Novi
“Apa ndak sebaiknya senter ini kita nyalakan pak” tanya Tifano
“jangan mas Tif, takutnya ada yang lihat cahaya senter kita dari atas sana, dan akhirnya mereka akan mengejar kita mas” jawab pak Han
“Reeeek stop dulu reeeek, aku mendeteksi adanya mahluk mengerikan yang ada di depan kita rek” kata Gilank yang ada di posisi paling depan
“Yang deteksi itu kuntilamu atau yang ada di kepalamu Lank” tanya Broni yang ada si belakang Gilank sambil menutup terus menerus hidungnya.
“Ndasmu Bron, ya jelas yang ada di dalam kepalaku lah yang memberitahu kalau di depan kita ada sesuatu yang mengerikan” lanjut Gilank
Mereka berhenti berjalan dan berusaha menajamkan pendengaran,ada benarnya juga Gilank bicara seperti itu, karena pak Han dan Novi juga merasakan sesuatu yang aneh itu
“Mbak Novi, saya merasa ada yang aneh tepat di atas kita ini. Eh mas Saeful, apakah bisa mendeteksi apa yang ada diatas itu?” kata pak Tembol
“Saya belum bisa pak, masih kabur rasanya pak, atau gini saja pak, saya ke atas sana, dan melihat apa yang ada diatas kita itu. Bukanya saya belum pernah bertatapan atau berpapasan dengan musuh kalian?” kata Saeful
“Ya sudah mas Saeaful, coba mas Saeful naik ke atas sana, dan lihatlah apa yang ada diatas itu mas, kalau memang aman, kami akan ikut ke atas juga mas” kata pak Handoko
__ADS_1
“Hati-hati mas Saeful muaach” bisik Novi di telinga Saeful
“Aku kapan mbok bisiki gitu Nov, aku kan juga kepingin rek” bisik Gilank yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Novi.
“Iiiih jijik mas, mas Gilank mandi bersiiiih dulu, kemudianpotong dulu rambutnya,kemudian perawatan tubuh di salon Novi dulu sana, kalua dah harum baru Novi mau bisikin mas Gilank iiih” bisik Novi lagi
Saeful sudah naik ke atas dari posisi di lereng jurang, sementara teman lainya menunggu kabar dari Saeful yang sekarang sudah ada di pinggir jalan.
*****
Saeful sudah ada di jalan atas, ternyata di atas ada beberapa manusia yang sedang berdiri di tengah jalan, mereka berdiri di tengah jalan yang ada di atas mereka. Orang-orang itu sebagian berpakaian ala paranormal dengan pakaian hitam-hitam yang mencolok. Pokoknya ala paranormal kekinian lah
Saeful berjalan mendekati mereka, ternyata ada empat orang yang ada disana, keempat orang itu sedang berdiri dan menikamati rokok, mereka menggunakan satu buah mobil yang sekarang mereka parkir di pinggir tebing kiri.
“Wooiii mas” sapa salah satu dari mereka kepada Saeful yang berjalan pelan menghampiri mereka
“Sampean anak sini?” tanya orang yang memakai udeng dan berewokan
“Iya pak, saya orang Gebang bawah, saya mau ke atas cari demit buat peliharan pak hehehe, ada apa pak?” kata Saeful dengan santainya
“Sampeyan ini ada-ada saja mas. Eh, sampeyan tau tidak vila putih yang ada di daerah sini?” tanya orang yang berewokan dan memakai udeng dan ternyata berperut buncit luar biasa itu
“Oh tau pak, anak sini mana ada yang tidak tau dimana tempat vila itu pak, memangnya sampeyan mau apa kesana pak” tanya Saeful lagi
“Sudahlah jangan banyak tanya mas, tunjukan kepada kami saja dimana letak vila itu” kata laki-laki itu lagi
“Kalau mau ke atas harus hati-hati pak, bahaya disana, banyak yang tidak kembali setelah dari sana pak” jawab Saeful
“Saya orang sini yang sering melihat pendatang yang ke sana, saya sering peringatkan mereka juga, termasuk bapak juga karena di sana itu bahaya pak” jawab Saeful lagi
“Hehehe sudahlah tunjukan kepada kami, dimana letak vila itu, kami akan kesana setelah ini mas”
“Kalau begitu ikuti saja jalan ini lurus kedepan pak, nanti belok ke kiri, lurus saja, sebelah kiri sudah sampai ke vila itu pak” kata Saeful itu lagi
“Ya sudah mas, eh kamu mau kemana ini mas?” tanya orang itu lagi
“Saya kan sudah bilang mau cari demit pak, karena sebentar lagi sudah masuk waktunya Subuh dan akan ada adzan subuh, biasanya banyak demit-demit yang cari jalan pulang. Lhaaaaa itu waktunya saya berburu heheheh” Jawab Saeful asal
“Sampeyan ini ada-ada saja mas, nanti kalau ketemu demit sungguhan nangees heheheh” kata orang satunya yang kurus dan berkalung semacam tasbih tapi besar-besar
“Hahaha ya sudah lah pak, saya mau lanjutkan jalan ke atas dulu pak, dan harap hati-hati apabila ada di vila itu pak” kata Saeful yang kemudian berjalan ke arah atas
*****
Pak Handoko dan teman-teman masih ada di sisi jurang, sementara keempat orang yang tadi sempat ditemuin Saeful itu masih ada diatas.
__ADS_1
“Hmm kita harus tau dimana letak harta yang pernah diceritakan Trimo itu, sayang sekali dia keburu mati sebelum kita tau peta itu”
“Tapi, untung yang kita kirim di vila itu berhasil melihat ada orang yang sedang menggali di sana” kata salah satu dari empat orang yang ada di atas itu.