MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 215 (KEMARAHAN PAK HAN)


__ADS_3

Sementara itu di hotel Asri yang merupakan hasil Renovasi besar besaran secara gaib dari hotel Waji.


Pak Han bingung dengan sms yang dikirim oleh Novi.


Bunyi sms yang pertama adalah akan ada mobil berwarna hitam dengan dua penumpang yang akan ke sana dengan membawa beberapa karung dan plastik jumbo berwarna hitam.


Kemudian sms yang kedua tertulis bahwa mereka dikejar oleh mobil yang menguntit mereka dan sekarang mobil yang menguntit mereka sudah terguling.


Dan ada lagi tambahan sms  bahwa dua orang yang ada di mobil sekarang sedang jalan menuju ke arah hotel.


“Sebetulnya apa yang sedang terjadi dengan teman-teman kita ini” kata pak Han sambil membaca sms yang dikirim Novi


“Yang terakhir saja kita pahami pak, karena yang pertama dan kedua ini sepertinya kejadian yang sudah terjadi” kata Blewah


Pak Han ada di hotel Asri bersama Blewah, Tifano dan Broni, mereka tetap menunggu apabila terjadi sesuatu disana.


“Kita nunggu sampai  kapan orang yang menyusup di belakang itu pak?” tanya Blewah


“Jangan pergi dulu anak-anak, kita tunggu hingga ada petugas keamanan yang akan datang kesini” kata pak Han agak esmosi


“Gini saja, mas Blewah tunggu sini saja, saya akan ke kantor hotel karena kita nunggu sampai kapan orang yang ada di sana itu akan muncul”


Pak Han berjalan keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kantor hotel yang malam ini sudah sangat sepi, tujuan pak Han agar ada orang yang mengecek bagian belakang taman.


Perkiraan di bagian belakang ini ada Suharto yang sedang menunggu kedatangan Rochman. Dan tentu saja itu sangat berbahaya sekali.


Lalu tentang sms dari Novi yang memberi kabar ada dua orang pesuruh Rochman yang sedang berjalan kaki menuju ke hotel. Sayangnya Novi tidak menyebutkan siapa orang yang sedang berjalan menuju ke Hotel.


Karena tidak disebutkan itu akibatnya pak Han tidak tau siapa yang sedang jalan menuju ke hotel.


Pak han membuka pintu kantor hotel yang sudah temaram karena sebagian besar lampu sudah dimatikan.


“Kemana semua orang yang ada di hotel ini, kenapa tidak ada yang jaga malam disini, bahkan pos penjagaan yang ada di sebelah pojok itu juga sepi”


“PERMISIIIIII” teriak pak Han di meja resepsionis


Sayangnya tidak ada yang menjawab panggilan pak Han, bahkan beberapa kali pak Han memanggil orang yang harusnya  berjaga di meja resepsionis atau paling tidak jaga di depan, tapi tidak ada yang muncul sama sekali.


Berulang kali pak Han mengetuk ketuk meja kayu resepsionis dengan menggunakan asbak yang ada disana, tetapi tetap saja tidak ada satu orangpun yang keluar dari ruangan yang ada di belakang meja itu.


“Bankshat…. hotel asyu! kok bisa ndak ada orang sama sekali gini!”


Ketika pak Han hendak berjalan keluar dari kantol eh kantor hotel, tiba-tiba orang yang bertanggung jawab di hotel yang bernama Dollah itu keluar dari ruangan yang ada di ujung.


“Ada yang bisa saya bantu pak” kata Dollah dengan sedikit berteriak


“Hotel ini bagaimana sih, kenapa tidak ada orang yang jaga sama sekali, saya akan komplain ke pemiliknya, dan akan saya ulas tidak baik tentang  hotel ini” kata pak Han


“Maaf pak, maaf…. saya tadi sedang ada keperluan di belakang, mohon maaf pak. Eh ada yang bisa saya bantu pak?” kata Dollah agak bingung dengan ancaman pak Han


“Gini pak Dollah, di taman belakang ada orang yang masuk dengan tiba-tiba, dan kelihatannya itu orang yang tidak waras” kata pak Han


“Kenapa kok tidak ada penjaga malam yang biasanya itu!” bentak pak Han lagi


“Eh petugas keamanan kami sedang tugas luar pak, atas perintah dari pak Nabil sendiri”


“Lalu kalau ada penyusup atau ada maling atau apapun… bagaimana dengan kami sebagai yang menginap disini?”


“Jelas keselamatan kami terancam karena  petugas keamanan hotel pergi tanpa ada yang menggantikannya!”


“Saya sebagai penggantinya pak, hanya saja saya tadi ada keperluan di belakang sehingga keadaan disini kosong”


“Maaf apa benar di belakang ada penyusup? dan bagaimana bapak tau kalau di belakang ada orang asing yang masuk?” tanya Dollah seakan tidak percaya dengan omongan pak Han


“Pak Dolah kan tau kalau saya sudah beberapa hari ada disini, dan bapak tau kan kalau saya dan teman saya sedang menikmati keindahan hotel ini”


“Pak Dolah tau kan apa alasan saya menginap disini!”


“Karena saya butuh suasana yang berbeda!” bentak pak Han


“Pak Dolah tau kan kalau tiap malam saya jarang sekali tidur, hanya karena saya ingin menikmati sepinya, sunyinya, dan indahnya malam hari disini!”


“Sekarang pak Dollah harusnya paham bahwa saya pasti akan tau dan melihat apabila ada orang yang diam-diam masuk ke taman belakang”

__ADS_1


“Apalagi dengan pakaian yang tidak layak seperti para penyewa kamar di hotel ini!”


“Asal pak Dollah tau, setelah berapa hari saya disini, lama-lama saya hafal dengan tamu dan pegawai disini!”


“Sekarang apa tindakan pak Dollah apabila saya datang kesini untuk komplain keadaan disini?”


“Maaf pak, saya akan memanggil rekan saya dulu, kemudian akan saya cari orang yang tadi masuk ke hotel ini”


Pak Handoko hanya diam saja, dia tidak menjawab omongan Dollah.


Dollah berlari kecil menuju ke pintu tempat tadi dia keluar,  tidak lama kemudian dia mengajak dua orang pegawai di sana.


“Ayo pak, mari kita cari orang yang tadi menyusup ke bagian belakang hotel”


Mereka berempat termasuk pak Han menuju ke bagian belakang hotel untuk mencari orang yang kemungkinan besar adalah Suharto itu.


Di teras kamar 2+ Tifano dan Broni tidak menampakan diri agar tidak menjadi pertanyaan bagi Dollah nantinya. Tapi melalui celah jendela mereka melihat pak Han yang sedang berjalan ke arah belakang bersama dengan tiga orang.


Di kamar 5+  begitu juga Blewah  masuk ke dalam kamar agar tidak terlihat oleh orang-orang hotel.


“Dimana bapak lihat orang yang masuk ke dalam hotel ini pak” tanya Dollah


“Cari saja di sekitar bukit buatan dan pompa air, tadi  saya lihat dia ke arah sana” jawab pak Tembol


Tiga orang berpencar ke bukit kecil dan ke bagian belakang tempat pompa air yang rusak, termasuk ke dalam  tempat pompa air yang dekat dengan kolam renang.


Salah satu dari mereka membawa senter yang nyala lampunya tidak begitu terang, mungkin karena baterai senter itu sudah mulai habis.


Sedangkan pak Han hanya menunggu mereka di sekitaran taman belakang hotel. Ketiga orang itu dengan teliti masuk ke semua celah yang ada di bukit kecil buatan.


Hingga salah satu dari mereka berteriak..


“Hei disini, di dalam tempat pompa air ada yang sedang jongkok”


Kedua orang yang salah satunya membawa senter itu menerangi tempat yang tadi diteriakan oleh pegawai hotel bahwa ada orang yang sedang sembunyi  di situ.


“SIAPA KAMU!” teriak Dollah


“Dia tidak mau keluar pak” kata salah satu dari mereka


“Sebentar, kalian awasi dulu, saya akan menelpon Tono, kenapa dia bisa lama sekali sampai kesininya”


*****


ALI POV


Rasanya ada yang tidak bener nih, aku merasa ada yang tidak seharusnya tentang Manekin mengerikan yang ada di dalam mobil.


Sayangnya kita sudah dekat dengan kota mjkt, karena mas Dogel membawa mobil ini dengan kecepatan tinggi. Harusnya aku lebih teliti lagi melihat aneka manekin yang ada disana.


“Eh pak Tembol… tadi waktu lihat karung dan plastik, apa pak Tembol juga lihat manekin yang mirip dengan seseorang?”


“Eh apa ya nak Ali, tadi kita kan hanya lihat cepat-cepat saja nak. dan tidak melihat  secara keseluruhan”


“Tadi ada satu manekin yang mirip dengan…eehm sebentar pak saya lupa, saya kayaknya pernah lihat deh… sik bentar pak”


Aku agak lupa dengan manekin yang tadi sempat membuat aku ingat dengan wajah seseorang, hingga sampai detik ini aku sama sekali tidak ingat manekin itu mirip dengan siapa.


“Mas Dogel…. tadi apa lihat satu manekin yang mengingatkan pada seseorang?”


“Nggak Li, memangnya mirip siapa?”


“Saya juga lupa mas, tadi saya lihat satu yang mirip kayak siapa gitu…. ah lupa….. ya wislah, nanti pasti ingat sendiri kok heheheh”


Tidak terasa mobil sudah masuk ke kota mjkt, aku dari tadi masih memikirkan tentang wajah manekin yang ada di mobil yang terguling tadi. Tapi aku lupa wajah siapa itu yang ada disana.


“Tunggu disini dulu, saya mau buka pintu rumah dulu” kata mas Dogel


Mas Dogel membuka pintu rumah, setelah itu dia mengajak kami untuk masuk ke rumah mbah putri, setelah itu dia memarkir mobil Novi di lahan yang ada di sebelah masjid.


Kulihat jam tanganku, saat ini sudah hampir pukul 03.00 pagi.


Kami harusnya bisa istirahat karena sudah beberapa hari ini istirahat kami kurang.

__ADS_1


Pak Tembol duduk di sofa ruang tamu mbah Putri, sementara Novi sudah masuk ke kamar depan, dia harus istirahat agar nanti pagi dia terlihat segar apabila datang ke rumah suami istri Warjito.


Kuhampiri pak Tembol yang masih duduk di sofa sambil termenung…


“Bagaimana pak, apa yang sekarang bapak sedang pikirkan?”


“Yah begini ini nak Ali, seperti jaman dulu waktu kita berperang melawan Dimas, saya kan selalu berpikir bagaimana caranya  agar kita tidak terkena masalah yang lebih berat hehehe”


“Pak Tembol apa punya ide untuk yang saat ini pak?”


“Untuk masa ini lebih berat dari pada dulu nak,  dulu kan musuh kita cuma Dimas, nah yang sekarang kan ada Rochman, ada Suharto, ada Trimo”


“Dan masing-masing punya kemampuan karena dirasuki oleh ghaib yang berasal dari masa lalu”


“Kalau menurut saya pak, Semua kita kumpulkan, kemudian kita hancurkan di suatu tempat”


Dogel yang tadinya ada di kamar mandi, kemudian ikut bergabung  bersama kami, sedangkan Saeful lebih senang ada di masjid, dia mungkin tidur atau apalah sambil menunggu waktu subuh tiba.


“Yah menurut saya, kita jalankan sesuai dengan kata-kata mbah putri pak, dan di rumah ini adalah tempat paling aman apabila ada sesuatu yang bahaya”


“Iya nak Dogel dan nanti juga akan ada bantuan dari mbah Joyo dan dua mbah mbah lainya. Itu memang baik, tetapi yang saat ini kita pikiran adalah bagaimana cara mengumpulkan mereka bertiga di hotel”


“Sebentar pak, tadi waktu kita ada di Waji atau Asri, pak Han kan bilang ada kemungkinan Suharto ada disana, kalau memang dia ada disana ya sudah sesuai pak”


“Memang sesuai nak Ali, tetapi… ada tetapinya….”


“Jangan sampai mereka bertiga bersatu dengan Rochman, karena bisa menimbulkan energi yang besar”


“Jadi biarkan mereka ada di Asri, tetapi jangan sampai mereka bertemu”


“Sekarang dengan kasus seperti itu apa pendapat kalian berdua?”


“Saya rasa benar pak … sulit untuk dilaksanakan, tapi hal ini seharusnya kita diskusi dengan pak Han dan Dimas juga”


“Ngene lho Li, sebenernya bisa kita ajak mereka ke hotel Asri, hanya saja disana itu kan ndak sembarang orang atau demit yang  boleh masuk, apalagi disana ada satpam gaibnya”


“Coba kamu tanya ke mbok Ju Li, mbok Ju lho sampek ketakutan ketika kita ada disana” kata Dogel


“Jadi tidak mudah untuk menyuruh mereka datang ke Asri, kerana disana penjagaannya ketat sekali, ada penjaga khusus manusia yang menyusup kesana dan juga ada penjaga gaibnya”


“Nak Ali tau ndak disana ada siapa? ternyata disana juga ada Bawok” kata mbok Ju tiba-tiba


“Hanya saja sekarang dimana bawok berada itu yang saya ndak tau, karena dia selalu berpindah tempat agar tidak ditangkap oleh penjaga disana”


“Iya sih mbok, sulit juga untuk memasukan mereka disana dan menyembunyikan mereka agar tidak bertemu dengan Rochman”


“Bagaimana dengan Suharto nak… apa  mungkin dia sekarang sedang dicari cari oleh Handoko dan penjaga hotel?”


“Tidak pak, penjaga hotel itu yang tadi mengejar kita heheheh”


“Kalau malam hanya dia saja satu satunya yang jaga pak, hal ini karena pemilik Hotel sudah yakin sekali bahwa hotel itu aman sekali!” kata mas Dogel


“Nah gini anak-anak dan mbok Ju, satu-satunya jalan adalah dengan mengusir penjaga gaib dan juga penjaga malam nya”


“Itu satu-satunya cara, tetapi  untuk mengusir mereka itu yang saya tidak tahu hehehe” kata mbok Ju


“Idenya pak Tembol itu masuk pak, hanya sajaaaaa….. bagaimana kita menyuruh Trimo atau Suharto untuk datang kesana waktu tidak ada penjaganya disana”kata Dogel


“Yah itu harus kita pikirkan lagi anak-anak….”


“Saya mau istirahat dulu nak, terus terang saya kok capek sekali ya hari ini “


Pak Tembol tidur di kamar belakang, sekarang di ruang tamu tinggal aku dan mas Dogel saja.


Kalau seandainya ada yang tanya, Ali apa kamu ndak capek dan ndak ngantuk?


Jelas akan aku jawab capek dan ngantuk sekali, tetapi mau gimana lagi, pokoknya bisa tidur hanya beberapa jam saja sudah seger lagi kok heheheh.


“Li, kalau kamu mau tidur, disini saja sama aku, itu sudah kusiapkaan karpet” kata mas Dogel


“Nanti mas, saya belum ngantuk, kalau capek sih iya, tapi ngantuknya belum”


ALI POV END

__ADS_1


__ADS_2