
“Semenjak kejadian dengan Dimas sebenarnya saya dan Ginten tidak pernah bertemu lagi” kata mbah Woto mengawali ceritanya
“Hanya saja ketika kita berpisah, dan anak-anak Sutopo balik ke jamannya dan ketika sebelum kami kemudian pergi dari ruang bawah tanah…”
“Saya sempat mendengar pembicaraan antara Mak Nyat Mani dan Soebroto, mereka membicarakan sesuatu yang sangat berharga di vila putih”
“Tetapi saya tidak ambil pusing, karena tujuan saya dan istri saya Suparmi itu berbeda dengan mereka”
“Setelah kami keluar dari ruang bawah tanah vila putih dan berpisah, ya saya sudah tidak pernah lagi mendengar apapun tentang sesuatu yang ada di vila putih…”
“Hingga pada suatu hari setelah Suharto menjadi dewasa, dan secara tidak sengaja saya bertemu dengan Ginten yang pada waktu itu sedang berada di pemakaman desa”
“Istri saya waktu itu sudah meninggal…”
“Saya tidak tau apa yang dilakukan dia di pemakaman desa, yang saya lihat dia sedang duduk di pemakaman itu”
“Ketika saya bertemu dengan dia… awalnya dia baik, bahkan dia mau menjaga makam istri saya”
“Ginten juga sering ke rumah saya pada malam hari dan dia selalu cerita tentang sesuatu yang sangat berharga di dalam vila putih”
“Perhiasan emas, dan uang logam emas yang jumlahnya tidak terhingga, selain itu ada juga air yang mempunyai kekuatan magis”
“Air itu bisa digunakan untuk menghidupkan orang yang sudah mati. tapi saya tidak tau apakah makhluk ghaib yang bisa menjadi manusia ataukah hanya mayat yang bisa berubah menjadi hidup lagi”
“Karena dia hampir tiap malam datang dan meyakinkan saya, lama kelamaan saya risih juga”
“Lama kelamaan saya tertarik, saya tanya GInten bagaimana cara mencari dan mendapatkan itu”
“Ginten hanya bilang, gunakan anakmu, biar anakmu yang akan mencarikan barang itu”
“Saya tanya ke Ginten, bagaimana caranya agar anak saya yang mencarikan barang itu”
“kata GInten, caranya dengan menceritakan kepada Suharto anak saya tentang harta yang jumlahnya tak terhingga”
“Kemudian hampir tiap hari saya menceritakan kepada anak saya tentang harta itu”
“Hingga suatu saat ketika saya sakit dan saya merasa ajal saya akan datang, Ginten datang ke rumah saya pada malam hari”
“Dia minta ijin untuk masuk ke tubuh anak saya…”
“Dia meyakinkan saya, bahwa saya akan hidup kembali setelah anak saya mendapatkan air itu”
__ADS_1
“Mungkin karena keadaan saya waktu itu sudah lemah saya menyetujui usul Ginten”
“Dia perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh anak saya dan beradaptasi dengan tubuh Suharto”
“Ginten berjanji kepada saya akan menggunakan tubuh anak saya Suharto hanya untuk mencari air itu”
“Hingga kemudian saya pun meninggal”
“Oh iya ada yang lupa…. untuk mempermudah mencari benda itu saya diminta Ginten untuk mencari anak-anak Sutopo”
“Karena mereka ini yang memiliki peta ruang bawah tanah vila putih…”
“Saya menunggu anak-anak Sutopo datang menemui saya, saya yakin mereka akan datang kepada saya”
“Suatu ketika ada Tembol datang bersama beberapa orang yang saya tidak kenal, saya sudah senang, karena pasti sebentar lagi anak-anak Sutopo juga datang”
“Dan akhirnya mereka datang juga, tetapi sayangnya mereka datang bersama orang yang mengaku mencuri kotak itu, dan orang itu juga yang menghilangkan kotak berisi peta ruang bawah tanah vila”
“Sebenarnya saya mau marah dengan orang itu, tetapi saya tahan dan saya suruh anak-anak Sutopo untuk menemukan kotak yang berisi peta”
“Kembali lagi cerita setelah saya meninggal…”
“Setelah saya meninggal Ginten yang semula baik kepada saya, pelan-pelan berulah”
“Dia mengancam saya… dia mengancam saya akan menjual anak saya ke Rochman, dia juga menyembunyikan jiwa anak saya, hingga anak saya menjadi gila”
“Ginten tau kalau saya sangat menyayangi anak saya, dia berharap saya yang akan mencarikan air bagi dirinya, dengan menyandera anak saya”
“Tetapi saya tidak mau menuruti apa yang dia inginkan, akhirnya saya pergi dan tidak menemui Ginten lagi”
“Dia yang saat itu sudah menyatu dengan tubuh anak saya pun akhirnya frustasi, dia menjadi gila… dia mengobrak-abrik makam saya dan makam istri saya”
“Sayangnya istri saya sudah ada di alamnya , sehingga tinggal saya saja yang berusaha mencari jalan keluar agar anak saya bisa diselamatkan”
“Hingga pada suatu saat saya berpikir untuk menemui Dimas yang ada di vila putih, tapi sayangnya Dimas tidak mau membantu saya untuk menemukan air itu”
“Dimas menyuruh saya untuk mencari anak-anak Sutopo dan meminta kepada mereka”
“Hingga pada suatu ketika saya dapat berita Ginten sudah ada disini, di Hotel ini. Saya berpikir bahwa Ginten akan menyerahkan anak saya kepada Rochman”
“Saya semakin bingung, karena apabila sudah ada di tangan Rochman, maka anak saya akan mati dan energinya akan dimiliki oleh Rochman, yang artinya Rochman akan menjadi setan yang luar biasa”
__ADS_1
“Kemudian saya dapat kabar apabila anak saya sudah terbebas dari Ginten, dan Ginten sekarang di tawan di suatu tempat, maka dari itu saya langsung menuju ke sini”
“Yang akan saya lakukan adalah mencari jiwa anak saya terlebih dahulu,... jiwa anak saya kemungkinan besar disembunyikan oleh Ginten”
“Makanya saya tidak mau menghancurkan Ginten dulu, karena dia yang menyembunyikan jiwa anak saya. Hal inilah yang menyebabkan saya tidak mau ada apa-apa dengan Ginten”
kemudian Marwoto terdiam, karena mungkin dia sudah selesai bercerita.
“Hehehe, ternyata saya belum bisa membaca pikiranmu Marwoto” kata pak Han
“Ya sudah lah Marwoto, sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan Ginten apabila dia sudah kamu lepaskan dari sana?” Tanya pak Han
“Saya belum tau, karena pasti tidak mudah untuk meminta jiwa anak saya yang disembunyikan oleh Ginten, dia pasti akan minta pertukaran yang pantas” kata Marwoto
“Dia pasti akan meminta pertukaran dengan air yang ada di ruang bawah tanah vila putih”
“Hmm iya Marwoto… posisimu sekarang serba salah”
“Dan untungnya hingga sekarang Rochman belum bertemu dengan Ginten, tetapi dia sekarang sedang mengejar ambulan yang membawa anakmu” kata pak Han
“Begini saja Marwoto, saya kasih saran untuk kamu… terserah kamu mau ikuti saran saya atau tidak…”
“Kamu sekarang bantu anak-anak dan pak Tembol, bantu anakmu agar terhindar dari Rochman. Sementara itu Ginten biar ada disini dia tidak akan bisa kemana mana selama ada disana, karena ada penjaga gaibnya”
“Eh tapi ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa masuk ke hotel ini, bagaimana kamu bisa menghindari dari para penjaga gaib?” tanya pak Han
“Saya punya memedi yang bisa mengalihkan mereka para penjaga tempat ini, setelah mereka teralihkan dengan teman saya, saya masuk ke sini” jawab Marwoto
“saranmu masuk akal, jadi lebih baik saya amankan anak saya Suharto terlebih dahulu, untuk Ginten tolong kalian kawal, jangan sampai dia bisa bertemu dengan Rochman”
“Tenang saja Marwoto, sekarang kamu cari mereka, saya yakin mereka saat ini belum masuk kota S”
Setelah mengucapkan terima kasih Marwoto pun menghilang dari hadapan pak Han, dia mencari anaknya yang sekarang bersama dengan Ali dan Novi, serta mbok Ju
“Mas Broni…tolong hubungi mbak Novi, bilang ke dia kalau Marwoto sekarang menuju kesana, tetapi dia niatnya membantu mereka untuk menyelamatkan anaknya” kata pak Han
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf, untuk mungkin sehari atau dua hari ini mungkin saya tidak update dulu, karena sore ini saya bedrest di rumah sakit. gantian dengan suami saya yang sudah pulih.
Mungkin akibat kecapekan, sehingga tadi pagi setelah menulis bab novel ini saya sempat pingsan…dan suami saya melarang untuk menulis dulu selama masa bed rest saya.
__ADS_1
Mohon maaf dan terimakasih